
...Jackson...
.........
Jackson datang sambil merokok. Sesampainya di hadapan kami, dia segera mematikan puntung rokoknya dengan menginjak berulang kali. Dia seperti orang yang sedang kesal tapi berusaha tetap tenang. Mungkin saja kedatangannya kali ini ingin menyakitiku lagi. Bukankah dia belum puas jika lawannya belum jatuh? Dan mungkin sekarang aku sudah dianggap menjadi lawannya.
Jarak kami mungkin hanya sekitar tiga meter saja. Alexander pun mengalihkan pandangannya ke Jackson setelah tahu pria berwajah muram itu datang. Tapi kali ini tatapan Alexander amat berbeda. Aku merasa ada energi besar di dalam tubuhnya yang setiap saat bisa meledak. Sepertinya energi itu digunakan untuk melindungiku agar tidak tersakiti lagi.
"Tuan Jackson, ada urusan apa Anda kemari?"
Alexander menanyakan maksud kedatangan Jackson ke belakang panggung. Tatapan matanya menyiratkan ketidaksukaan atas kedatangan Jackson ke sini. Sepertinya Alexander cemburu saat masa laluku datang kembali.
Jackson melipat kedua tangannya. Dia menatap rendah ke arah kami, seolah-olah sedang terjadi sesuatu yang menjijikkan di sini. Aku pun sebisa mungkin memposisikan diri untuk tenang dan tidak terbawa perasaan. Seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya antara aku dan Jackson.
"Em ... aku hanya sekedar lewat dan tanpa sengaja mendengar suara jeritan seorang perempuan. Aku pikir sedang ada pesta di sini. Maka dari itu aku ingin menontonnya."
"Kau!"
Alexander terlihat geram. Ia tidak terima dengan perkataan Jackson. Kata-kata Jackson seolah menyiratkan jika aku sedang dikerjai oleh banyak pria hidung belang di sini. Kurasakan api amarah itu mulai merasuki jiwanya. Alexander seperti ingin memberi Jackson pelajaran dengan beberapa pukulan keras. Tapi saat itu juga aku segera menahan tangannya. Aku tidak ingin terjadi keributan di sini.
"Model yang sedang bersamamu masih mempunyai sangkut paut denganku, Tuan Alexander. Bisakah kau melepaskannya agar dia menyelesaikan urusannya terlebih dahulu denganku?" tanya Jackson dengan congkaknya.
__ADS_1
Alexander menelan ludah, seperti sedang berusaha menahan amarah di jiwanya. Aku pun segera berpikir cepat untuk mengakhiri pertemuan tak diinginkan ini. Aku tidak mau berurusan lagi dengan pria berwajah muram itu. Cukup sudah hidupku hancur karenanya. Aku tidak ingin mengulang kesalahan kembali.
Lantas kuarahkan pandanganku ke arah Jackson. Kupegang erat tangan Alexander di sisiku. Kutunjukkan jika aku sudah move on darinya.
"Em maaf, Tuan. Apakah kita pernah mengenal sebelumnya?" tanyaku yang seketika membuat Jackson membelalakkan matanya.
Jackson terlihat terkejut. Begitu juga dengan Alexander yang segera menoleh ke arahku. Sepertinya dia tidak habis pikir dengan keberanianku mengatakan hal itu kepada Jackson. Aku sendiri tidak peduli apakah Jackson sakit hati atau tidak. Aku tidak ingin memperpanjang urusan ini. Yang sudah ya sudah. Kini tiba saatnya bagiku untuk meraih kebahagiaan yang sempat tertunda. Aku tidak ingin mempunyai urusan lagi dengannya.
Jack ... jangan ganggu aku lagi.
Gestur tubuh Jackson menyiratkan jika dia terkejut dengan sikapku. Namun, dia tetap berusaha tenang sambil terus memperhatikanku. Aku sendiri tidak peduli padanya. Aku lebih memedulikan Alexander dibandingkan dirinya. Karena saat ini Alexander lah yang lebih pantas untuk kubela dan kusayangi. Bukan dirinya.
"Oh, begitu." Jackson pun hanya berkata seperti itu sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Aku beralih kepada Alexander, tak peduli dengan Jackson. "Dear, ayo kita pergi dari sini. Katanya ingin membelikan aku cincin," kataku dengan amat manja kepada Alexander.
"Cecilia?" Alexander seperti ingin bertanya padaku.
"Apa, Dear? Nanti saja kita lanjutkan, ya."
Aku pun merebahkan kepala di lengan Alexander. Tak peduli dengan apa yang Jackson lakukan di belakangku. Aku harus terus melangkah ke depan dan tidak boleh hanya diam di tempat. Karena masa depanku ada di tanganku sendiri. Dan aku harus memperjuangkannya demi kehidupan yang lebih baik lagi.
Lima menit kemudian...
__ADS_1
Aku terus saja melangkahkan kaki bersama Alexander keluar dari area belakang panggung. Dan kini kami hampir tiba di area parkir pesta pantai. Kulihat seluruh area parkir sudah dipenuhi oleh mobil-mobil bermerek nan ekslusif milik para pengusaha kaya yang datang. Tak jarang juga kulihat plat nomor kendaraan dari luar daerah yang memarkirkan mobilnya di sini. Sepertinya acara ini memang acara besar yang disuguhkan untuk memanjakan fantasi para pengusaha kaya hidung belang. Terbukti dengan isi acaranya yang vulgar sekali.
Awal acara kami diminta berlenggak-lenggok di atas panggung sambil menunjukkan pesona kepada para tamu undangan. Hingga tiba sesi ke dua yang meminta kami untuk mengenakan bikini. Entah sesi apa selanjutnya, aku tidak sanggup membayangkannya. Membayangkan berbikini di hadapan banyak orang saja sudah membuatku merasa malu sendiri. Apalagi jika sampai diminta lebih. Cukup sudah aku mengetahui acara ini.
Untung saja Alexander cepat datang untuk menolongku. Jika tidak, hancur sudah masa depanku. Padahal aku bukanlah model dari Queen Club. Keberadaanku di sini karena sedang mencari tahu tentang Alexander yang sebenarnya. Tapi ternyata segala sesuatu memang mempunyai risiko tersendiri. Seperti risiko yang hampir kutanggung hari ini.
Kini aku sedang menggandeng mesra tangan Alexander sambil merebahkan kepala di lengannya. Kurasakan jika hatiku sudah mulai bertaut kepadanya. Dan aku rasa tidak lama lagi kami bisa saling mengetahui kepribadian masing-masing.
Rasa sayang dan benih cinta yang bermekaran menjadi alasan kuat untuk melanjutkan hubungan ini. Aku juga berharap Alexander tidak mengecewakanku seperti apa yang telah Jackson lakukan dahulu. Aku sudah lelah untuk memulai hubungan yang baru. Aku ingin satu dan serius menjalaninya sampai akhir nanti. Semoga saja Alexander adalah jawaban dari doaku selama ini.
"Cecilia."
"Hm?"
"Kau bawa mobil?" tanyanya saat kami sudah sampai di area parkiran pesta pantai.
Aku mengangguk. "Kau sendiri?" Kulihat wajahnya seperti sedang menahan kesal.
"Aku tidak bawa mobil. Aku dijemput tadi," jawabnya.
"Dijemput?" Kulepaskan pegangan tangan ini darinya.
"Iya. Dijemput." Dia seperti enggan menceritakan yang sesungguhnya. "Aku saja yang bawa mobilmu. Sepertinya setelah ini kita harus lebih banyak bicara." Dia mengatakan keinginannya.
__ADS_1
Aku mengangguk lalu menyerahkan kunci mobilku padanya.
Kami kemudian langsung masuk ke dalam mobil tapi tidak segera melajukannya. Sepertinya ada hal yang ingin Alexander bicarakan padaku. Dari raut wajahnya tersirat ingin mengatakan sesuatu, entah apa itu. Tapi sepertinya masih berhubungan dengan kejadian yang baru saja terjadi. Aku pun menunggunya siap bicara padaku.