
Rapat awal tahun PT Samudera Raya...
Perusahaan ini adalah perseroan terbuka. Setahuku harus mempunyai tiga ratus pemegang saham baru bisa dikatakan sebagai Tbk. Tapi entah mengapa Jenny bilang semalam jika hanya hitungan jari pemegang saham yang ada di perusahaan ini. Sungguh membingungkan sekali.
Kini seluruh kepala divisi mengikuti rapat awal tahun perusahaan. Di meja bundar, di sebuah ruang khusus telah dibagikan lembaran dokumen perusahaan. Jackson meminta seluruh kepala divisi membaca baik-baik lembaran dokumen tersebut.
Aku sendiri duduk di dekat kursi Jackson. Aurel juga ada di sini, begitupun dengan Clara. Tentunya Andreas juga ikut datang. Suasana rapat terasa amat serius saat membahas grafik perkembangan perusahaan. Jackson menunjukkan jika dirinya bukan hanya seorang bos besar, melainkan juga pemimpin yang handal. Tidak kusangka dia bisa sewibawa ini, tidak seperti saat berada di atas ranjang bersamaku. Dia begitu manja dan juga lembut, aku sudah seperti bantal gulingnya.
"Tahun ini gross margin harus mengalami kenaikan signifikan. Target 10% dari tahun sebelumnya. Karena biaya perawatan yang dikeluarkan juga besar." Jackson menuturkan kepada jajarannya.
"Tuan Jackson, untuk Januari apakah divisi operasional sudah dapat berfungsi?" tanya salah seorang kepala divisi.
"Untuk bulan ini kita targetkan seluruh alat berat diservis maksimal. Aku sudah menelepon vendor terpercaya untuk mengatasinya. Negosiasi juga sudah dilakukan. Kita bisa memulai operasional pada minggu ke tiga Januari." Jackson menjelaskan.
Kepala divisi tersebut mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan proses akuisisi Angkasa Grup?" tanya Andreas yang membuatku terkejut dengan isi pertanyaannya.
"Proses tetap berjalan. Aku akan mengutus Aurel dan Cecilia untuk melakukan pengawasan di sana." Jackson mengatakan.
Apa?!!
Aku terperanjat dengan pernyataan Jackson, dia membawa-bawa namaku. Tak menyangka dia akan bertindak secepat ini. Padahal dua hari yang lalu baru saja bilang ingin meminjam namaku untuk memegang beberapa persen saham di Angkasa Grup. Tapi kini sudah menegaskan jika aku akan ke sana untuk membantu proses percepatan akuisisi. Ini di luar dugaanku.
Jadi ini alasan Aurel meminta maaf padaku? Dia akan satu tim denganku saat mengawasi proses akuisisi Angkasa Grup? Ternyata Jackson lebih cepat bertindak dari perkiraanku. Dia benar-benar tidak bisa ditebak.
Sebagai seorang bawahan tentunya tidak bisa menolak tugas dari atasan. Tapi sebagai wanitanya, aku berhak menanyakan mengapa dia secepat ini memintaku untuk ke Angkasa Grup. Aku jadi curiga, hal apa yang mendasarinya? Apakah dia ingin aku menjauh? Atau dia sudah mulai bosan denganku? Atau peperangan ini mengharuskan aku menjaga jarak darinya?
Cecilia, ingat pesan Jackson tadi. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Jangan terbawa perasaan. Peperangan sudah dimulai. Bantu dia, bukan malah berpikiran negatif tentangnya.
__ADS_1
"Bahan bakar sedang mengalami kenaikan, Tuan. Jika meminimalisir biaya angkut, apa tidak terlalu membebani biaya perawatan?" Salah seorang kepala operasional bertanya kepada Jackson, memecah lamunanku.
"Aku sudah mengecek nota bensin bersama Clara. Aku rasa jarak tempuh bisa lebih diperpendek sehingga tidak terlalu menguras biaya. Bahan material yang diangkut juga bisa lebih disesuaikan. Tinggal kerja keras para tukang yang membongkar barang." Jackson berkata lagi.
"Itu berarti upah pekerja akan semakin bertambah?" tanya kepala divisi lainnya.
"Jaminan pekerja proyek diberikan seutuhnya. Samudera Raya tidak pernah mengambil keuntungan sedikitpun atas hak pekerjanya. Besar tenaga yang dikeluarkan, besar gaji yang didapatkan. Tinggal bagaimana pekerja itu mengatur dirinya sendiri." Jackson menambahkan.
Seluruh jajarannya mengangguk. Arahan dari Jackson sepertinya bisa diterima dengan baik oleh semua timnya.
Aku rasa memang ada permainan nota bensin di sini. Entah mengapa aku curiga karena biaya angkut perusahaan meledak di bulan November kemarin. Aku memang belum menanyakan langsung kepada Aurel ataupun Clara. Tapi mungkin saja suatu saat nanti akan kutemukan penyebabnya. Ya, terlepas dari melonjaknya harga bahan bakar.
"Aku pikir jika kita bisa meminimalisir biaya angkut, target gross margin bisa didapatkan. Dan jika tahun ini berhasil mencapai target, aku akan memberikan bonus besar kepada semua karyawan," kata Jackson lagi.
Tiba-tiba saja rasa mual kembali menerjangku saat rapat awal tahun masih berlangsung. Sebisa mungkin kutahan dengan menghirup minyak kayu putih yang kubawa. Aku memang sudah berjaga-jaga sebelumnya karena tidak ingin memecah suasana rapat yang sedang berlangsung.
Belasan menit kemudian...
Aduh, aku sudah tidak tahan.
"Selamat bekerja." Jackson beranjak dari duduknya sambil merapikan bahan rapat di atas meja.
Semua jajarannya merapikan lembaran rapat, lalu satu per satu keluar dari ruangan. Aku sendiri sudah tidak dapat menahan rasa mualku. Aku segera pergi ke toilet, meninggalkan Jackson yang masih merapikan bahan rapatnya. Aku menerobos jajaran Jackson yang keluar dari ruangan lalu menuju toilet kantor. Sesampainya aku pun segera memuntahkan rasa mualku di wastafel.
Kenapa rasanya mual sekali tetapi tidak ada yang keluar?
Kulepaskan semua rasa mualku. Kepalaku tiba-tiba terasa pusing karena terlalu banyak menekan diafragma. Berkali-kali seperti mau muntah, tapi tidak ada sesuatu yang kukeluarkan. Keringat dingin pun mulai bercucuran dari keningku, membuat tubuhku terasa begitu lemas. Lalu akhirnya pandangan mataku mulai kabur.
"Cecilia!" Ternyata Jackson mengejarku sampai ke toilet.
__ADS_1
"Tuan ...."
Segera aku menoleh ke arahnya yang baru saja datang, membuka pintu toilet. Tak lama rasa pusing berat menerjangku. Lalu perlahan-lahan kesadaranku hilang. Dan aku tidak ingat apa-apa lagi.
Beberapa saat kemudian...
Aku terbangun. Saat kubangun kulihat pemandangan begitu familiar di depanku, seperti sedang berada di rumah sakit. Cairan infus terasa mengalir ke tubuhku. Kepalaku pun masih terasa pusing.
Perlahan-lahan aku bangun lalu duduk di kepala kasur. Dan kulihat ternyata benar jika sedang berada di rumah sakit.
Astaga ... aku pingsan.
Rasa mual yang menerjangku begitu kuat hingga tidak mampu lagi menahannya. Lalu akhirnya aku tidak tersadarkan diri. Untung saja Jackson cepat datang tadi. Jika tidak, aku sudah jatuh di depan wastafel kamar mandi.
Sungguh baru kali ini aku mengalaminya. Rasanya sangat tersiksa sekali. Aku tidak tahu kenapa, tapi rasa-rasanya pembuahan sudah terjadi di dalam rahimku. Entahlah, aku pun tidak tahu.
"Tuan, saya sarankan untuk tidak melakukan hubungan intim selama tiga bulan ke depan. Kandungan nona sedang kurang baik, dikhawatirkan akan mengalami keguguran." Sayup-sayup kudengar suara seorang wanita dari balik tirai pembaringanku.
Keguguran? Jangan-jangan?!
Sebisa mungkin aku turun dari kasur lalu menguping pembicaraan yang terjadi. Kuintip dari balik tirai, ternyata Jackson sedang berbincang bersama seorang dokter perempuan. Dia amat serius mendengarkan setiap perkataan dokter.
"Apa tidak bisa dipercepat? Tiga bulan waktu yang sangat lama." Jackson seperti menolak saran dari dokter.
Sontak aku ingin tertawa saat mendengar perkataan Jackson yang menolak saran dari dokter. Dia seperti tidak sanggup untuk menahan diri selama tiga bulan dariku. Kulihat dahinya berkerut dengan tampang dingin kepada dokter itu. Jackson meminta alternatif lain.
"Untuk sementara kita hanya bisa menunggu perkembangan selanjutnya, Tuan. Jika nona mengalami menstruasi, itu berarti pembuahan gagal terjadi. Tapi jika selama seminggu ke depan dia tidak datang bulan, maka bisa dipastikan Anda akan menjadi seorang ayah." Dokter itu menerangkan.
Kulihat Jackson menelan ludahnya. Dia seperti amat menginginkan anak dariku, tapi dia juga tidak bisa menahan hasratnya berlama-lama. Kuakui jika dia adalah tipikal pria romantis yang peduli terhadap orang di sekitarnya. Hanya saja bawaan pekerjaan membuatnya bersikap dingin, muram, dan terlihat sadis. Aku mencoba melihatnya dari sudut pandang lain.
__ADS_1
Ini berarti kandunganku lemah, ya? Harus sampai tiga bulan menunggu?
Aku merasa pesimis dengan keadaanku. Tapi aku tidak boleh menyerah begitu saja. Mungkin ada baiknya jika aku menanyakan keinginan Jackson terhadapku. Sebenarnya apa yang dia inginkan? Benarkah dia ingin mempunyai anak dariku?