
Aku masih diam, pasrah pada keadaan. Jika dia memang jodohku, dia akan kembali. Tapi jika bukan, maka akan ada pengganti. Namun, satu hal yang pasti, aku tidak kuat bila terus tersakiti. Terlebih yang menyakitiku adalah orang yang kucintai. Aku terlalu lemah untuk menanggung derita karena luka di hati. Jadi kuputuskan untuk mengakhiri semua ini.
Jackson menghentikan langkah kakinya saat memegang gagang pintu. Aku pun yang berada di dekatnya menunggu dia pergi. Tapi, tiba-tiba saja tubuhku tertarik ke depan. Aku pun melihat apa yang terjadi. Dan ternyata Jackson lah yang menarik tubuhku ini. Di saat itu juga dia menciumku.
Di-dia ...?!
Jackson ternyata tidak jadi keluar dari apartemenku, melainkan menutup pintunya kembali. Dia menarik tubuhku agar mendekat ke tubuhnya, lalu menciumku. Saat itu juga aku mencoba melawan. Tangan kananku mendorong dadanya, tapi saat itu juga dia memegang tanganku. Aku pun mencoba mendorongnya dengan tangan kiriku, tapi tangan kiriku juga dipegang olehnya. Sehingga aku tidak bisa berontak sama sekali.
Aku masih berusaha menjauhkan wajahku, tapi dia terus saja mendekati. Hingga akhirnya aku tidak bisa mengelak lagi. Hangat napasnya pun mulai kurasakan menerpa pipi ini. Aku seperti tak berdaya untuk melepaskan diri.
Jack ... apa maksudmu?
Detik demi detik kulalui bersama pria yang kucintai. Hisapan, sapuan lembut dari bibirnya seolah memintaku kembali. Ternyata hati ini tidak dapat berbohong jika masih membutuhkannya. Dan kini dia sedang menyapu lembut bibirku, memberi penekanan kecil seolah menegaskan jika aku miliknya, dia milikku. Dia juga memegangi kedua tanganku agar tidak pergi.
Jackson tidak memberi kesempatan bagiku untuk melarikan diri. Dia menyalurkan seluruh perasaannya melalui ciuman ini. Beberapa sapuan lembut dari bibirnya pun mampu menepiskan perasaan kesal di hatiku. Dan hisapan kecilnya itu seolah menyerap seluruh amarahku. Hatiku terasa luluh di hadapannya. Aku tak kuasa untuk menolak ciumannya.
Amarahku mulai meredup lalu perlahan-lahan hilang terbawa waktu. Bersamaan dengan itu tetes air mataku jatuh membasahi pipi. Kuakui jika aku amat mencintainya, tanpa peduli lagi siapa diriku ini. Lambat laun aku merasa kembali memutar waktu. Di mana hanya ada aku dan dirinya di semesta ini. Jackson telah berhasil meluluhkanku kembali.
Jack, bisakah kita terus seperti ini? Kau tahu, hanya dirimu yang kucintai ....
Jackson melepaskan ciumannya. Menatapku dengan lembut saat bibir kami menjauh. Dia kemudian mengusap air mataku.
"Aku tahu kau mencintaiku, Cecilia. Apa yang kau ucapkan, lain dengan apa yang ada di hatimu. Kau marah padaku karena cemburu, kan? Mengakulah Cecilia. Karena aku juga cemburu melihatmu bersama Alexander," katanya.
Sebuah pengakuan dia buat di hadapanku.
"Sekarang ungkapkanlah apa yang ada di hatimu. Aku akan mendengarkannya tanpa menyela," pintanya.
__ADS_1
Aku terperanjat kaget mendengar Jackson berkata seperti itu. Ternyata bukan hanya aku saja yang cemburu, melainkan dia juga. Aku akui jika memang cemburu. Hatiku terasa sakit kala melihat pose Zea di depannya waktu itu. Jiwaku seperti menuntut ganti rugi atas apa yang telah dia lakukan padaku. Tapi, detik ini hal itu seakan sirna terbawa waktu. Jackson telah mengakui rasa cemburunya. Dia cemburu melihatku dekat dengan Alexander.
Ini kesempatan bagiku untuk menanyakan hal yang terjadi kemarin.
Lantas aku mencoba untuk menerima pernyataannya. Aku pun mulai menanyakan hal-hal apa saja yang mengganjal di hatiku.
"Jack, apa kau tahu kejadian yang menimpaku setelah melihat kalian di ruangan itu?" Aku bertanya padanya.
Jackson mengangguk. "Aku juga tahu siapa pelakunya," katanya dengan amat yakin.
"Siapa?" tanyaku seraya memperhatikan bola mata persiknya.
"Zea. Zea yang menyuruh orangnya untuk mengacak-acak rumahmu." Jackson memberi tahu.
"Apa?!" Seketika aku terperanjat kaget.
Aku terdiam sejenak, memikirkan kata-katanya. Ternyata beberapa hari terakhir ini Jackson masih memedulikanku. Terbukti dengan dia mengetahui apa yang terjadi setelah aku melihatnya bersama Zea. Dan hatiku terenyuh mendengar kesaksiannya. Dia masih seperti yang dulu, dalam diam memperhatikan.
"Lalu, bagaimana dengan berita di majalah bisnis itu?" tanyaku lagi.
Jackson menghela napasnya. "Aku masih menyelidikinya. Tapi kemungkinan ada kerja sama antara Hadden dan Zea dalam berita itu. Pihak majalah saling melempar kesalahan untuk mengakuinya. Dan aku rasa mereka sedang bersatu untuk menjatuhkanku." Jackson menceritakan.
Seketika itu juga aku teringat dengan Alexander. "Lalu bagaimana dengan Alexander? Apakah dia ada hubungannya dengan hal ini? Bisakah beri tahuku kepada siapa Alexander berpihak?" tanyaku lagi.
Jackson mengusap wajahku. "Kau pasti tidak akan percaya. Tapi kau harus mengetahuinya, Cecilia." Dia mengatakannya dengan lembut. Sepertinya amarah di dalam hatinya juga sudah mereda.
"Katakan saja," pintaku.
__ADS_1
Jackson menatapku dengan hati-hati. "Dengarkan baik-baik, Cecilia. Hadden lah yang meminta Alexander untuk mendekatimu," katanya yang seketika membuat detak jantungku berpacu cepat.
Ap-apa?! Astaga!!!
Saat itu juga aku tak percaya dengan apa yang dikatakan Jackson kepadaku. Sungguh tak percaya jika Hadden lah yang meminta Alexander untuk mendekatiku.
"Bagaimana kau bisa mengetahui semua ini, Jack?" tanyaku padanya.
Dia menghela napas. "Tidak terlalu sulit bagiku untuk mengetahui apa yang tersembunyi. Tapi bisa kupastikan peperangan ini akan dimenangkan olehku." Dia begitu yakin.
Aku terdiam, menunduk. Tidak tahu harus berkata apa.
"Cecilia." Dia menyebut namaku seraya memegang lembut pipi ini.
Aku mendongakkan kepala, melihat wajahnya.
"Aku memang sulit untuk dimengerti. Tapi ... bisakah kau diam hanya di hatiku?" tanyanya yang membuat seluruh keegoisanku runtuh.
"Jack ...."
Saat itu juga aku terpaku. Tubuhku seakan terkunci mendengar kata-katanya. Jackson ternyata masih peduli padaku. Dia mengharapkan hubungan kami terus berlanjut. Tersirat ketulusan dari mata persiknya itu. Ternyata aku telah salah sangka padanya.
"Peluk aku, Cecilia."
Dia kemudian merentangkan kedua tangannya di depanku. Saat itu juga aku menghambur ke pelukannya. Aku memeluknya, memeluk erat ayah dari janin yang kukandung ini. Kuakui jika aku amat mencintainya. Aku tidak ingin ada yang lain lagi. Aku ingin serius menjalani hubungan ini sampai akhir nanti. Aku ingin melabuhkan bahtera rumah tangga bersamanya.
Jack, aku harap ini benar-benar dari dalam hatimu.
__ADS_1
Lantas air mataku terjatuh, kembali membasahi pipi ini. Aku menangis terharu dan juga bahagia karena mendengar kata-katanya. Aku rasa yang kubutuhkan hanyalah dia, tidak yang lain. Dan aku berharap Jackson juga sama sepertiku.