Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Salahkah Aku?


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, di taman kota...


Aku tidak tahu harus ke mana, aku seperti kehilangan arah. Dan kini aku duduk di kursi taman seorang diri. Kursi taman yang tidak terlalu panjang tapi terbuat dari besi. Dan aku hanya duduk sambil merenungi nasibku. Tiada teman atau sahabat yang menemani.


Cecilia, mengapa hal ini bisa terjadi?


Kadang aku berpikir apakah kehidupan asmaraku dengan Jackson akan sesuai dengan harapan? Rasa cemas dan takut bercampur menjadi satu di benakku. Segala kemungkinan bisa saja terjadi pada hubungan kami. Dan aku seperti orang frustrasi jika sudah memikirkannya. Aku takut Jackson meninggalkanku begitu saja. Takut, takut sekali.


Aku tidak tahu hal apa yang sesungguhnya terjadi di kantor. Beberapa hari ini aku memang tidak ke Samudera Raya sama sekali. Setiap hari aku langsung berangkat ke Angkasa Grup dan pulang pada malam harinya. Kadang dijemput supir Jackson, kadang juga dijemput oleh Jackson sendiri. Tapi malam ini aku pulang lebih awal untuk memberi kejutan padanya. Tapi nyatanya, dia sedang bersama Zea di dalam sana. Jackson juga tidak mengabariku tentang kedatangan Zea hari ini.


"Apa yang harus kulakukan sekarang?"


Tidak tahu bagaimana baiknya, aku hanya bisa merenungi nasibku di sini. Kulihat taman kota sudah mulai ramai dikunjungi penduduk yang berdatangan. Banyak anak remaja yang datang untuk bermain skateboard. Dan beberapa di antaranya ada yang sedang berpacaran di kursi taman. Sedang aku ... aku tetap sendirian di sini. Tanpa keluarga, tanpa sanak famili.


"Ayo, Sayang. Kita belajar jalan, ya."


Kulihat ada sepasang suami istri datang bersama putri kecilnya. Mereka datang ke taman dengan menaiki sepeda biasa. Tapi, kulihat mereka begitu bahagia. Ayah dan ibu dari anak itu terlihat bekerja sama agar putrinya bisa cepat berjalan. Dan entah mengapa, air mataku jatuh begitu saja saat melihatnya. Aku merindukan ayah dan ibuku juga.


Ayah, ibu. Andai kalian ada, tentunya Cecilia tidak akan terluka seperti ini.


Kusadari jika aku amat membutuhkan tempat bersandar sekarang. Aku tidak mampu menopang hidup kala cinta itu mencabik-cabik hatiku. Aku kehilangan arah dan tujuan hidupku. Dan ingin sekali rasanya mengakhiri ini semua. Tapi, apa aku mampu? Aku sudah terlanjur terjerumus ke dalam peperangan dan tidak bisa lari lagi. Jalan satu-satunya adalah menghadapi kenyataan, apapun aral-rintangan yang menghadangnya. Aku tidak mempunyai pilihan selain itu.


"Hah ...."


Kuhirup dalam-dalam udara lalu kuembuskan perlahan. Aku mencoba menikmati malam ini sambil melihat bintang yang bertebaran di angkasa. Sebisa mungkin menerima kenyataan yang harus kuhadapi. Aku tidak boleh marah kepada mereka yang masih berstatus suami-istri. Siapalah aku ini? Pastinya akan tetap salah jika marah-marah kepada mereka. Karena aku bukan siapa-siapa. Aku hanya sebatas pekerja.


Status resmi belum kudapatkan dari Jackson. Aku juga tidak berhak marah kepada mereka walau sudah dekat sekali dengan Jackson. Aku harus tahu diri. Aku yang datang ke kehidupan mereka. Walaupun pada kenyataannya aku menjalankan misi. Tetapi tetap saja aku yang salah. Ya, aku salah jika sampai marah melihat kemesraan mereka.


"Sedang menangis?" Tiba-tiba ada seseorang yang menyapaku dari arah belakang.

__ADS_1


Aku segera tersadar begitu ada yang menyapa. Aku menoleh, melihat siapa gerangan yang datang. Dan ternyata, seorang pria berkemeja hitam dengan senyum khasnya menghampiriku. Dia memberikanku tisu.


"Tuan?" Aku tak percaya jika dia juga berada di sini.


"Boleh aku duduk di sampingmu?" tanyanya meminta izin.


Aku mengangguk, tanpa perlawanan.


Dia adalah Alexander. Lagi-lagi dia hadir di mana aku berada. Entah bagaimana ceritanya, dia bisa sampai ada di sini. Aku juga terkadang bingung, kami selalu saja bertemu di setiap kesempatan. Entah kebetulan atau memang sengaja direncanakan. Selama ini aku menutup diri darinya sehingga tidak bisa mengetahui apa-apa tentangnya.


"Kau tidak pantas menangis, Cecilia. Air matamu begitu berharga," katanya yang membuat hatiku tersentak.


"Tuan ...."


"Jangan terlalu fokus dengan satu orang sehingga mengabaikan orang yang menanti. Kau amat berharga, tidak pantas untuk disia-siakan." Dia berbicara yang membuat hatiku tersentak hebat.


"Tadi aku menelepon Clara. Kata Clara kau baru saja dari kantor. Dia melihat dirimu berlinang air mata." Alexander menceritakan.


Aku terkejut. "Anda tahu nomor pribadi Clara?" tanyaku ingin tahu.


"Tentu saja. Aku tahu nomornya untuk menanyakan tentangmu. Boleh, kan?" Dia tersenyum seraya memperlihatkan gigi-gigi kecilnya padaku. Senyuman yang begitu menawan dan menenangkan hati.


Ya Tuhan, apakah Alexander datang untuk mengobati lukaku?


"Kau masih menyimpan nomorku, bukan? Kenapa tidak menghubungiku jika sedang tidak membawa mobil. Aku bisa mengantarkanmu pulang," katanya, menawarkan diri.


Aku tertunduk, merasa tidak enak hati sendiri. Tak tahu apa yang harus kukatakan, selama ini aku tidak memedulikannya. Aku malu jika menerima jasa baik darinya. Dia selalu saja kuabaikan demi hubunganku dengan Jackson.


"Aku ... aku takut dimintai uang bensin, Tuan," sahutku begitu saja.

__ADS_1


"Hahahaha."


Alexander pun tertawa. Tawanya begitu renyah. Kulihat dia seperti tertawa lepas di sampingku. Aku jadi berpikir ulang jika semua ini hanya sebatas sandiwara. Aku pun jadi merasa semakin bersalah.


Apakah ini saatnya bagiku membuka hati untuknya?


Aku tak tahu mengapa semesta selalu saja mempertemukan kami. Namun, aku lebih tidak tahu ke mana akhir dari cerita ini. Semua yang terjadi masih menjadi misteri. Bahkan untuk melangkah pun aku merasa ngeri. Siapakah jodohku sebenarnya? Benarkah Jackson atau pria di sampingku ini?


"Cecilia ...,"


Tiba-tiba Alexander mengusap-usap kepalaku. Entah sadar atau tidak, dia melakukannya padaku. Saat itu juga hatiku merasa terenyuh akan sikapnya. Aku merasakan kasih sayang darinya. Aku pun terdiam sambil memerhatikannya yang masih tertawa di sampingku.


Tuan, kau itu manis dan juga tampan.


Alexander adalah pria sempurna secara fisik. Ia juga manis dan menawan pandangan. Terlepas dari usaha ayahnya, aku rasa tidak bisa menghakimi seseorang hanya dari pekerjaan ayahnya. Alexander ya Alexander, ayahnya ya ayahnya. Lain kepala pasti lain cara berpikir. Dan aku berharap Alexander tidak seperti apa yang dikatakan oleh Jackson.


"Cecilia, kau ternyata lucu." Dia berusaha menghentikan tawanya.


"Tuan, kau sudah sikat gigi, bukan?" tanyaku, tiba-tiba dia pun berhenti tertawa.


"Apa aroma mulutku tidak enak?" Dia menutup mulutnya dengan cepat, seperti percaya begitu saja dengan kata-kataku.


Saat itu juga aku tersenyum. Senyum pertama kali setelah sakit hati karena Jackson. Alexander pun melihatnya. Dia terdiam di sampingku. Entah apa yang dia pikirkan, aku mencoba untuk membuka hati ini. Tidak ada salahnya, bukan?


.........


...Alexander...


__ADS_1


__ADS_2