
Beberapa menit kemudian...
Kami masih berada di helikopter. Dari sini bisa melihat betapa indahnya lampu perkotaan pada malam hari. Jackson seperti tidak ada lelahnya, dia selalu mengajak ku liburan. Mungkin karena sedang ada waktu senggang jadi dia ingin liburan bersamaku. Karena hari-hari biasanya dia sangat serius bak singa mengintai mangsa.
Semakin lama bersamanya, semakin kuat ikatan di antara kami. Mungkin karena kami sudah sama-sama dewasa jadi jarang sekali bertengkar. Atau mungkin karena akunya yang banyak mengalah jadi dia tidak mempunyai bahan untuk bertengkar. Tetapi tetap saja terkadang aku juga ingin dimanja. Dan aku harap jika waktu manjaku tiba, Jackson bisa memenuhinya.
"Banyak makan buah, jangan ngemil terus." Dia mengingatkanku.
"Aku lagi ingin ngemil, Tuan," sahutku.
"Tidak baik untuk kandungan. Makanlah buah," katanya lagi.
Seketika aku terdiam sambil menggigit keripik kentang ini.
Jadi dia merasa aku sedang mengandung anaknya? Oh, ya ampun. Apa yang harus kukatakan? Bagaimana jika dia tahu yang sebenarnya?
Aku tidak tahu harus bagaimana. Di pikiran Jackson pasti berpikir jika aku sedang mengandung anaknya. Apalagi? Dia menunjukkan kasih sayangnya sebagai penanggung jawab atas benih yang kukandung. Padahal benihnya sedang berjuang keras di dalam sana, belum tentu membuahkan hasil.
"Tuan, sepertinya kau telah salah sangka padaku." Aku mencoba jujur.
Dia menoleh. "Jangan banyak pikiran, biar aku saja yang berpikir. Tugasmu hanya menuruti apa kataku." Dia menegaskan kembali.
Kuhela napasku.
Hah ... kalau dia sudah berbicara seperti ini, aku seperti tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ya sudahlah, biarkan saja.
Jackson terus menerbangkan helikopternya menuju sebuah tempat yang tidak kuketahui. Tapi jika melihat dari jarum kompas yang ada di sini, helikopter ini mengarah ke arah barat kota. Entah mau ke mana, aku menurut saja. Toh, tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain menurut padanya. Serasa mati kutu saja.
Setengah jam kemudian...
Aku tidak tahu ada di mana, yang jelas saat turun dari helikopter ada sebuah vila di tengah pulau kecil. Tapi saat melangkahkan kaki masuk ke dalam, vilanya ternyata cukup besar dengan peralatan rumah tangga yang serba lengkap. Aku jadi penasaran ini di mana.
Mungkin karena malam penglihatanku jadi kurang jelas.
Jackson pun dengan santainya duduk di atas sofa. Dia menghidupkan puntung rokoknya. Kedatangan kami ke vila ini tidak membawa apapun, gila sekali. Tapi saat membuka pintu kulkas di dapur, ternyata sudah tersedia berbagai macam makanan. Sepertinya tadi Jackson menelepon seseorang untuk menanyakan kondisi vila ini.
"Tuan."
"Buatkan aku kopi, Cecilia." Dia memintaku membuatkan kopi.
Karena masih bingung bercampur mabuk udara, aku menurut saja padanya. Kubuatkan secangkir kopi lalu kuhidangkan ke atas meja. Dia lantas memberikan sebuah majalah kepadaku.
"Ini?"
"Itu majalah model dewasa," katanya padaku sambil menghisap puntung rokoknya.
"Hah?!" Aku merasa bingung, entah apa maksud Jackson memberikan majalah ini padaku.
"Jangan dekati pria kemarin jika tidak ingin dijualnya," kata Jackson lagi.
Aku semakin bingung. "Tuan, kau mengenal pria itu?" tanyaku, mencoba mencari tahu.
__ADS_1
"Ya."
Jackson hanya menjawab dengan kata ya. Aura kecemburuan itu mulai kurasakan darinya. Kalau sudah begini aku jadi bingung. Maju salah, mundur apalagi. Lantas kudekati saja dirinya. Seketika itu juga Jackson menjauhkan asap rokoknya dariku.
"Tuan, aku hanya milikmu. Kau masih belum percaya juga?" Aku merebahkan diri di bahunya dengan manja.
Dia merangkulku. "Yang sudah ada ikatan pernikahan saja masih bisa bersama orang lain, apalagi yang belum diikat?" Dia seperti sedang menyindir Zea di depanku.
Aku pun jadi ingin mengorek isi hatinya tentang Zea. "Tuan, ceritakan padaku mengapa kau bisa bersikap dingin kepada nyonya?" Aku ingin tahu.
Jackson melepaskan rangkulannya. Dia hanya menoleh sesaat kepadaku.
Hah, baiklah. Jika dia sudah dingin seperti ini lebih baik aku pergi saja.
Karena Jackson kembali berubah dingin, aku segera pergi darinya. Tidak ingin mencari keributan di tempat yang tidak kuketahui ini. Aku pergi saja ke lantai dua vila, sekalian ingin melihat pemandangan laut dari teras atas. Untuk sementara aku tidak memedulikan dirinya. Biarkan saja dia maunya apa.
Sepuluh menit kemudian...
Aku sedang menikmati indahnya lautan malam dari teras atas vila. Kunikmati angin yang menerjang tubuhku. Untung saja memakai jaket tebal sehingga tidak terlalu terasa dingin. Jika tidak, mungkin aku sudah masuk angin.
"Pulau ini adalah milikku." Tiba-tiba Jackson datang dan berkata seperti itu.
"Tuan?" Aku menoleh ke arahnya.
"Tidak ada yang tahu di mana pulau ini berada kecuali aku," katanya lagi.
Sejenak aku terdiam, menyadari sesuatu.
Saat itu juga aku tersadar jika hanya aku, wanita yang diajaknya ke sini.
"Kau ingin tinggal di sini?" tanyanya tiba-tiba seraya berdiri di sisiku.
"Tuan, mengapa menanyakan hal ini padaku?" tanyaku balik.
Dia lalu memutar tubuhnya ke arahku. "Ini." Dia memberiku satu kotak berwarna merah.
"Apa ini?" Aku merasa heran.
"Buka saja," pintanya.
Sikap dinginnya begitu menyebalkan. Jika bukan karena orang yang kucinta, pastinya sudah kulempar kaca. Sayangnya, dia segala-galanya.
Lantas aku membuka isi kotak tersebut di hadapannya. Dan ternyata isinya adalah...
"Kalung?"
Aku kaget saat melihat isi kotak merah yang Jackson berikan, ternyata isinya kalung. Kulihat ada secarik kertas di bawahnya yang berisi keterangan atas kalung ini.
Sepuluh gram emas dua puluh empat karat senilai sepuluh juta? Apa ini berarti Jackson melamarku?
Aku bingung bercampur kaget. Kuberikan kembali saja kotak berisi kalung ini kepadanya. "Tuan, aku minta cincin. Bukan kalung." Aku harap Jackson mengerti akan maksudku.
__ADS_1
Dia terdiam sejenak. "Kau ini tidak sabaran." Dia menatapku dingin.
"Tuan, hubungan kita sudah terlalu jauh. Jika kau terus menggantungku, maka jangan salahkan aku jika dengan yang lain!" Aku mengancamnya.
Entah setan apa yang merasuki, aku begitu berani padanya. Seolah-olah amat yakin jika Jackson tidak mau melepaskanku dan selalu ingin menempel denganku.
Jackson menarik tubuhku ke pelukannya. "Berani?" Dia menatapku tajam.
"Berani!" Aku nekat mengatakannya.
"Cecilia, mulutmu ini memang harus disumpal." Jackson berniat menciumku, seketika itu juga aku mendorongnya menjauh.
"Aku mau cincin. Titik!" Aku bersikeras padanya.
Kulihat Jackson menyilangkan kedua tangannya. "Oh, sudah berani melawan rupanya." Wajahnya terlihat kesal.
"Terserah!"
Aku membalikkan badan, membelakanginya. Aku ngambek kepadanya.
Jackson lantas berjalan mendekatiku. "Tunggu urusanku selesai," katanya yang sontak membuat hatiku riang tak terkira.
Tuan ...?! Jadi ... kau serius dengan hubungan ini?!
Betapa senang hatiku saat dia mengatakan hal itu. Kepastian akan hubungan ini akhirnya kudapatkan. Aku tersenyum senang lalu segera menghambur ke pelukannya. Kupeluk dirinya dengan sepenuh hatiku. Rasanya ingin sekali menangis sekaligus tertawa bersamaan.
"Sudah tenang?" tanyanya padaku.
Kulepas pelukanku lalu menatapnya. "Kenapa tidak dari dulu?" tanyaku.
"Apanya?"
"Yang tadi."
"Kau tidak sabaran, Cecilia."
"Aku kan perempuan."
"Aku juga lelaki."
"Terserahlah, Tuan."
Aku ngambek lagi. Kubalikkan badan, membelakanginya. Saat itu juga Jackson memelukku dari belakang.
"Sekarang kita tahu siapa sebenarnya yang terburu-buru." Dia menggigit telingaku.
"Ah!" Sontak aku menjauhkan telingaku darinya. "Kau nakal, Tuan!" seruku padanya.
"Tapi suka, kan?" Dia membungkam mulutku dengan kata-katanya.
Jackson lalu menciumku. Ciuman lembut dia berikan sambil memberi penekanan-penekanan kecil pada bibirku. Kusadari jika transaksiku membuahkan hasil yang kuidamkan sejak dulu. Aku juga sudah memutuskan untuk berhenti total dari pekerjaan yang selama enam tahun ini kugeluti. Aku ingin fokus hidup bersama Jacksonku, mengarungi bahtera rumah tangga dalam keabadian dan penuh cinta.
__ADS_1