Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Jangan Bosan Meyakinkan Aku


__ADS_3

Pergantian tahun...


Aku dan Jackson berdendang bersama di dekat pantai malam ini. Kami membakar ikan sambil menunggu pergantian tahun tiba. Lampu teras vila membantu penerangan sekitar pantai. Kami pun begitu menikmati momen indah yang amat jarang terjadi.


Jackson ternyata bisa bermain gitar. Aku tak menyangka dibalik sisi muramnya ternyata dia seorang pria yang romantis. Dan kini dia sedang menyenandungkan lagu cinta untukku. Tak ayal hati ini semakin berbunga-bunga saja karenanya. Jackson memberikan kebahagiaan yang selama ini aku idam-idamkan. Rasanya sulit sekali dipercaya.


Aku sendiri menari di hadapannya. Malam ini sudah seperti film India saja. Di mana pemeran wanita menari untuk menarik perhatian si pemeran pria. Sampai akhirnya Jackson memutuskan untuk menari bersamaku.


Tubuh maskulinnya, otot kekarnya, sukses menopang tubuhku. Kami menari bak sepasang penari erotis. Jackson sendiri seperti terhanyut dengan tarian yang kami mainkan. Dia berulang kali ingin menciumku, tapi selalu saja tidak berhasil. Kasihan sekali.


Andai Zea tahu jika ternyata Jackson seperti ini, pastinya dia menangis menyesal.


Udara dingin seolah tidak menghalangi kemesraan kami. Semakin dingin udara, semakin hangat kurasakan kebersamaan ini. Pada akhirnya aku menciumnya. Kucurahkan semua perasaan yang ada di hati. Kini hal yang kulakukan bukanlah sebatas akting, melainkan seirama dengan perasaan di hatiku. Jackson juga tampak begitu serius menjalani hubungan ini.


Sejujurnya rasa takut ditinggalkannya itu masih saja ada. Bayang-bayang ucapan Zea tentang Jackson terkadang menyelinap di antara kebahagiaanku. Tapi, aku berusaha percaya kepada Jackson. Hatiku berkata jika semua usahanya sungguh-sungguh untukku.


"Cecilia."


"Hm?"


Kami memutuskan untuk beristirahat setelah lelah menari. Tapi istirahat ala bos besar bukan istirahat sembarangan. Melainkan aku duduk di atas pangkuannya dengan kedua paha yang dilebarkan. Jackson sendiri yang menuntunku untuk seperti itu. Lantas kupegang lembut wajahnya dengan kedua tanganku. Kami pun bisa saling merasakan hangat napas masing-masing. Wajah kami berdekatan sekali.


"Aku ingin lagi," katanya yang membuatku terkejut.


"Apa?! Ingin lagi?!" Lekas-lekas aku bangkit dari pangkuannya, berusaha menjaga kondisi dari lelah yang bertubi-tubi.


"Cecilia ...." Dia menahanku.


"Tuan?"


"Mau sampai kapan main kejar-kejaran?" tanyanya seperti menyudutkanku.


"Aku ...."


"Aku apa?" Dia menatap kedua bola mataku.


"Tuan, apa kau hanya menginginkan tubuhku?" Aku memberanikan diri bertanya padanya.


"Astaga ...." Dia segera mendorongku hingga bangkit dari pangkuannya. "Kita pulang saja sekarang." Dia seperti marah padaku.


"Tuan." Aku jadi tidak enak hati sendiri padanya.


Dia berbalik, mengambil napas dalam lalu bertolak pinggang di depanku. "Cecilia, kau ingin apa lagi? Belum cukup semua bukti yang kuberikan?" tanyanya, menyiratkan kekesalan.


"Tuan, bukan maksudku untuk—"


"Kau ingin cincin untuk membuktikannya? Sekarang juga?" Dia bertanya lagi dengan wajah kesalnya.


Entah mengapa aku jadi merasa bersalah dengan pertanyaan yang kuajukan malam ini. Padahal aku hanya ingin disayang sepenuh hati. Bukan ingin memancing pertengkaran darinya.

__ADS_1


"Tuan." Aku segera menghambur ke pelukannya. "Maaf," kataku, sambil mencoba mendengarkan alunan merdu detak jantungnya.


Aku tahu Jackson tipikal pria yang memegang ucapan. Aku juga tahu jika dia tidak suka mengulang-ulang pernyataan. Tapi entah mengapa aku takut sekali kehilangannya. Apalagi dia masih berstatus suami dari Zea. Rasa takut itu masih sering menghantuiku.


Tuan, aku mencintaimu. Maafkan kebodohanku.


Jackson masih diam. Kutahu dia marah padaku. Tapi aku hanya seorang wanita yang ingin dimengerti. Aku ingin Jackson tidak bosan-bosannya meyakinkan hati ini. Terlebih hubungan kami sudah terlalu jauh dijalani.


"Cecilia." Dia menyebut namaku dengan intonasi menahan kesal.


Aku mendongakkan kepala, menatap wajahnya. Jika tidak memakai alas kaki seperti ini, tinggi tubuhku hanya sebatas telinganya saja.


"Tuan ...."


Dia kemudian menatap kedua bola mataku seraya memegang lembut wajah ini dengan kedua tangannya. "Perubahan yang terjadi pada diriku sudah menunjukkan kemenangan besar untukmu. Apalagi yang kau inginkan?" tanyanya yang membuatku merasa bersalah.


"Maaf, Tuan." Aku segera meminta maaf padanya.


Jackson menghela napasnya lalu memelukku. Kurasa dia juga merasa bersalah karena telah meminta hal itu lagi, sehingga menyebabkan aku jadi salah paham padanya. Harusnya aku juga mengerti tanpa perlu dikatakan apa alasannya.


"Ya, sudah. Kita kembali ke vila saja." Dia lalu menarik tanganku.


"Tidak mau." Aku menolaknya seraya terdiam di tempat.


"Kenapa tidak mau?" Jackson menatap heran diriku.


"Aku ... ingin," kataku malu-malu.


"Tuan, aku—"


"Mmmhhh ...."


Jackson langsung menciumku. Dia seperti mengerti bagaimana aku yang sesungguhnya. Dia menciumku begitu saja. Kusadari jika kami saling membutuhkan, yang harusnya tidak perlu malu-malu lagi untuk mengungkapkan.


Lantas kubalas ciumannya. Tak lama dari itu tangannya mulai menelusup ke dalam bajuku, lalu perlahan mengangkatnya.


"Tuan, mmmhh!" Aku mencoba menyudahi ciuman ini.


Dia kemudian berhenti menciumku. "Kenapa?" tanyanya seraya menatapku.


"Sudah tidak tahan, ya?" Aku menggodanya.


Jackson tertawa. Dia lalu menjitak kepalaku dengan kepalan tangannya. "Baby, kau telah berhasil membuatku gila. Aku tidak akan pernah melepaskanmu." Dia lalu menggendongku.


"Tuan, mau ke mana?!" Dia memutar tubuhku saat berada dalam gendongannya lalu berjalan menuju suatu tempat.


"Panggil aku baby," pintanya.


"Baby?"

__ADS_1


"Ya, seperti itu." Dia tersenyum penuh makna padaku.


Lantas Jackson mencium bibirku sambil menggendong, menuju suatu tempat. Dan ternyata dia mengajak ku bermain air di pantai malam ini.


Dia sudah gila.


Jackson menidurkanku di atas pasir pantai lalu mulai menyalurkan hasratnya. Ternyata pria berwajah muram ini begitu mesum sekali. Dan akhirnya dia melepaskannya di tengah malam, di hamparan pasir pantai, diselingi ombak yang berkejaran. Jackson bergerilya di atas tubuhku.


Dua jam kemudian...


Tenaga Jackson seolah tidak pernah habis. Sehabis di pantai, dia mengajak ku bermain di kamar mandi. Dan kini kami kelelahan setelah melewati beberapa babak bersama. Dia benar-benar gila.


Astaga ... aku kan tidak boleh capek. Tapi hari ini begitu menguras tenagaku.


Jackson masih memelukku, kami berada di atas kasur sambil berpelukan. Dia merebahkan kepalanya di dadaku, seolah tidak ingin lepas dan jauh dariku. Cinta ini memang telah membuat kami gila.


"Cecilia."


"Hm?"


"Kau merasa lucu setelah mengetahui sifatku?" tanyanya seraya mendongakkan kepala, melihatku.


Aku tersenyum. "Aku sudah terlanjur cinta. Bagaimana, ya?" Aku jujur saja padanya.


"Kau benar-benar mencintaiku?" tanyanya seperti ingin memastikan kembali.


Aku mengangguk.


"Cecilia." Dia menyebut namaku lagi.


"Hm?"


"Tunggu saja waktunya. Tapi selama menunggu jangan pernah mencoba untuk mencari yang lain." Dia seperti bertitah padaku.


"Memangnya mau cari yang seperti apalagi? Kau begitu sempurna, Tuan." Aku memujinya.


Jackson tersenyum. "Kau merasa puas saat bersamaku?" Dia seperti ingin mengorek lebih dalam keintiman kami.


"He-em." Aku mengangguk.


"Apa harus diperbesar lagi?" tanyanya tiba-tiba.


"Hah? Apa?!!" Aku terkejut.


"Ya, kali-kali ingin diperbesar lagi." Dia tertawa sendiri di depanku.


Kucubit saja hidungnya. "Sudah besar mau diperbesar lagi? Yang benar saja!" Aku menggerutu.


Dia tersenyum seraya menampakkan gigi-giginya. Jackson begitu manis sekali.

__ADS_1


Segitu saja seperti tidak muat, ini mau diperbesar lagi. Perutku sudah terasa penuh karenanya.


Entah mengapa pembicaraan kami begitu vulgar malam ini. Kami memang sudah terlanjur basah dan malu-maluin, tapi tidak begini juga. Pembahasan ini terlalu vulgar untuk dikonsumsi.


__ADS_2