
Jam makan siang, Restoran Blue Sea...
Aku datang dan menceritakan permasalahan yang sedang kuhadapi kepada Angela. Kebetulan Angela sudah tidak sibuk sekarang, jadinya bisa leluasa bercerita. Dan ya, wanita yang sudah kuanggap seperti kakak kandungku ini merenungi setiap apa yang kuceritakan. Dia sepertinya sedang menimbang ulang sebelum menanggapi ceritaku. Aku sendiri duduk di sampingnya sambil menyeruput jus alpukat yang disajikan. Kami duduk bersama di sofa tamu ruang kerjanya.
"Jackson sudah menghubungimu untuk menjelaskan apa yang terjadi?" tanyanya kepadaku.
Aku menghela napas panjang. Aku tahu jika jawabanku pasti akan membuat Angela berpikir ulang tentang Jackson. Tapi, mau tak mau aku harus mengatakannya. "Belum," jawabku.
Kulihat Angela mengernyitkan dahinya. Dia seperti sedang berpikir keras mengenai alasan mengapa Jackson tidak menghubungiku. "Apa mungkin sekarang Zea sedang berganti peran denganmu, ya?" tanyanya, sambil menyentuh dagu dengan jari telunjuknya sendiri.
"Berganti peran?" Aku termenung sejenak. "Maksudmu ... dia menjadi diriku yang dulu?" Aku mencoba memastikan.
Angela menoleh ke arahku. "Ya. Bisa saja dia melakukannya. Bukankah Jackson pernah bilang jika peperangan sudah dimulai?" Angela seolah-olah meyakinkan jika Jackson masih sayang padaku.
"Lalu bagaimana dengan kejadian di ruangannya waktu itu?" Aku meminta tanggapan dari Angela.
Angela beranjak berdiri. Dia kemudian menuju meja kerjanya untuk mengambil sesuatu. "Aku kurang tahu. Tapi mungkin saja dia kesal padamu." Dia ternyata mengambil pena ajaibnya.
"Kesal?"
Lantas aku berpikir mengapa Jackson bisa kesal padaku. Apakah karena aku tidak bertahan di ruangannya saat itu? Atau karena ucapan Alexander di telepon? Tapi ... rasa-rasanya bukan itu alasannya. Atau mungkin saja Jackson mengejarku dan melihatku duduk bersama Alexander di taman?
Astaga!
Seketika aku tersentak. Tiba-tiba saja rasa khawatir melanda. Pikiranku langsung tertuju jika Jackson memergokiku duduk bersama Alexander di taman. Jangan-jangan karena hal itu dia kesal sehingga tidak menghubungiku sampai detik ini.
"Pena kamera ini lain kali letakkan saja di kamar tidurmu. Cukup berfungsi untuk merekam kejadian berhari-hari. Tapi, kau juga harus selalu mengeceknya. Jika memori sudah penuh, bisa segera dihapus." Angela memberikan kembali pena kamera miliknya padaku. Dia kembali duduk di sampingku.
__ADS_1
Sejujurnya aku masih menggunakan peralatan kerja dari Angela. Kebetulan Angela bisa dibilang toko serba ada. Dia hampir mempunyai semua peralatan pendukung untuk bekerja di bidang ini.
"Angela, aku takut jika Alexander berbuat macam-macam padaku. Aku belum tahu siapa dirinya." Kuungkapkan kekhawatiranku padanya.
Angela menyeruput jus melonnya. "Kau punya firasat dia bekerja sama dengan seseorang untuk mendekatimu?" tanyanya sambil melihatku yang duduk di sampingnya.
"He-em." Aku mengangguk.
"Seberapa lama kau bisa bertahan sebelum menyerah?" tanyanya lagi yang tidak kuketahui apa maksudnya.
Aku pun berpikir keras mengenai pertanyaannya.
"Cecilia-Cecilia, kau ini memang terkadang lama loading-nya. Apa karena Jackson yang membuatmu seperti ini?" Angela menyindirku.
Benar apa yang dikatakan Angela. Sekarang otakku jadi sulit berpikir logis semenjak cinta telah menguasai hati. Sekarang aku lebih banyak menggunakan perasaan dibanding logika. Kadang untuk berlaku kejam dan licik pun aku masih berpikir ulang. Aku khawatir jika anakku seperti diriku yang dulu.
"Wanita dan pria memang sama saja saat jatuh cinta. Pria yang bodoh karena tidak lagi memakai logikanya, begitu juga dengan wanita. Sesadis apapun dia akan lemah jika sedang jatuh cinta. Dia akan menjadi lembut dan selalu ingin tampil sempurna di depan pasangannya. Dan hal itulah yang terjadi pada dirimu sekarang, Cecilia." Angela diam-diam memerhatikan perubahan sikapku.
Aku mengangguk. Apa yang dikatakan Angela memang benar adanya. Aku selalu saja ingin tampil sempurna di depan Jackson. Aku juga jadi lebih lembut sekarang. Mungkin karena takut kehilangannya. Bisa dibilang cinta ini telah melemahkanku. Dan mungkin inilah yang dinamakan perubahan alami pada seorang perempuan saat jatuh cinta. Aku amat merasakannya.
"Untuk sementara ikuti saja alurnya. Jika Jackson diam, kau ikut diam. Jika dia mengacuhkanmu, maka kau juga seperti itu. Untuk sementara jadilah cermin baginya. Jika sudah tidak dapat menahan kesal, pastinya dia akan mengajakmu bicara sendiri. Untuk saat ini kau harus banyak bersabar, Cecilia." Angela menyarankan.
"Tapi ... bagaimana jika dia meninggalkanku?" Aku begitu cemas.
Angela memegang tanganku. "Pria yang benar-benar mencintaimu tidak akan pernah meninggalkanmu. Sesulit apapun masalah yang sedang kau hadapi, dia akan selalu menguatkanmu. Dan jika kau telah menemukannya, pertahankanlah. Aku yakin suatu hari nanti pasti kau akan menemukannya." Angela menenangkanku.
Aku tersenyum lalu memeluk Angela. "Terima kasih, Angela." Hatiku ini terasa tenang jika dikuatkan olehnya.
__ADS_1
Angela mengusap punggungku. "Kau harus yakin dengan pemilik skenario hidup ini. Penumpang pesawat saja bisa yakin kepada pilotnya walau tidak pernah berjumpa sekalipun saat perjalanan. Begitu juga dengan dirimu. Jangan khawatir, apapun yang terjadi pasti Tuhan sudah mengaturnya."
Entah mengapa aku merasa tenang dan damai sekali. Angela selalu bisa menenangkanku di setiap kesempatan. Dia juga selalu siap sedia untuk membantuku. Rasanya utang budi itu tidak akan pernah bisa kubayar. Begitu mahal kepedulian yang Angela berikan jika ingin dinilai dengan uang. Terlebih dia telah membantuku untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Ya, walaupun dengan pekerjaan seperti ini.
"Baik, Angela. Aku akan mengikuti semua saran darimu." Aku mengiyakan.
Angela melepaskan pelukan. "Ngomong-ngomong sudah mengerti apa yang kuucapkan tadi?" tanyanya mengingatkan.
"Em, yang mana?" Tiba-tiba aku lupa dengan perkataan sebelumnya.
"Hah ... astaga." Angela mengurut dadanya. "Cecilia." Dia kembali beralih kepadaku. "Seberapa lama kau bisa bertahan sebelum menyerah?" tanyanya mengulang.
Seketika otakku berpikir cepat, tiba-tiba saja mengerti apa yang dimaksudkan olehnya. "Mungkin satu menit," jawabku segera.
"Baiklah." Dia lalu mengambil sesuatu dari saku celananya. "Ini." Dia memberiku satu botol kecil parfum dengan gambar buah ceri di sampulnya.
"Ini apa?" tanyaku tidak tahu.
"Ini adalah parfum bius. Jika terdesak, semprotkan parfum ini ke wajah lawanmu. Dalam tiga detik dia tidak akan sadarkan diri. Tapi, kau harus ikut menahan napasmu selama tiga detik agar tidak ikut menghirupnya. Karena jika ikut menghirup, kau juga tidak akan sadarkan diri. Dan hal itu pasti akan sangat merepotkan." Angela menjelaskan padaku fungsi dari parfum kecil yang dia berikan.
"Em, baik." Aku pun mengerti.
"Satu botol hanya untuk lima kali semprot. Jadi jangan dibuang percuma." Angela berpesan lagi.
"Em, baiklah. Terima kasih." Aku ingin memasukkannya ke dalam saku blezerku.
"Eit, tunggu dulu." Dia menahanku. "Lima juta untuk satu botol parfum," katanya.
__ADS_1
"What?!!" Seketika itu juga aku terkejut bukan main. Ternyata harga dari satu botol kecil parfum ini amat mahal sekali.