
"Em, enak sekali." Alexander membuyarkan lamunanku dengan kata-kata pujiannya.
"Yang masak Cecilia, ibu hanya membantu." Ibunya menanggapi.
"Hah? Benarkah?" Alexander seperti tak percaya. Dia langsung melihat ke arahku.
Aku tersenyum. Hanya bisa tersenyum saat merasakan kenyamanan ini. Dimana rasa kekeluargaan itu begitu kuat kurasakan. Aku benar-benar rindu pada ibu. Rasanya ingin sekali dia ikut hadir bersama ayah lalu duduk di sini. Tapi, sepertinya itu hanya delusi akan mimpi indahku. Nyatanya aku belum bisa mewujudkannya.
"Cecilia, menginap di sini saja, Nak. Hujan belum reda, perjalanan juga amat jauh ke kota. Ibu khawatir malah terjadi apa-apa bila dipaksakan pulang." Ibu Alexander menyarankan.
Nak?
Saat itu juga hatiku seolah bergetar mendengar ibu Alexander memanggilku dengan sebutan Nak. Entah mengapa aku merasa kami sudah dekat sekali.
"Jangan takut, Cecilia. Ibu tidak gigit, kok." Alexander menambahkan perkataan ibunya.
Seketika itu juga ibu Alexander meletakkan sendok makannya. "Dasar anak kurang ajar! Kau pikir ibu apa, hah?!" Ibu Alexander melempar anaknya dengan serbet makan. Alexander pun segera lari dari hadapan kami.
"Ampun, Bu!"
Dia meminta maaf kepada ibunya. Namun, sang ibu terus mengejar lalu memukul anaknya. Saat itu juga aku tertawa melihat tingkah mereka. Keduanya tampak dekat sekali, bak teman saja. Dan aku rasa aku juga menginginkannya.
Pukul delapan, selepas makan malam....
Kami baru saja selesai makan malam. Dan kini ibu Alexander sedang mengantarkanku menuju kamar yang ada di lantai dua. Di luar memang sedang hujan deras, jadi dia memintaku untuk menginap di sini. Ini juga demi keselamatan kami.
__ADS_1
Rumah ibu Alexander terdiri dari dua lantai. Lantai atas terdapat dua kamar tidur yang bersebelahan dengan kamar mandi terpisah. Di sini juga terdapat teras luar yang lumayan besar. Dan ternyata di bawah teras ada kolam renang mininya. Jadi kalau malam bisa melihat pantulan sinar bulan dari kolam yang ada di bawah. Sungguh indah sekali.
"Sekarang sudah hampir setengah sembilan malam. Cecilia tidur di sini saja, ya. Ibu khawatir jika pulang malah kenapa-kenapa. Jalanan di sini kurang baik kalau malam." Ibu Alexander menceritakan.
Aku tahu jika ibu Alexander perhatian padaku. Tapi rasanya ini sedikit berlebihan. Baru saja kenal sudah langsung menginap, rasanya kurang sopan. Tapi kalau dilihat-lihat, memang hujan belum berhenti sedari tadi. Suara petir juga ikut menggelegar di angkasa. Mungkin tidak ada salahnya jika aku menginap dulu di sini.
"Em, Bu. Tapi Cecilia tidak enak hati jika menginap." Aku jujur padanya.
Kami akhirnya sampai di depan kamar yang ada di lantai dua. "Tidak apa, Nak. Alexander juga baru kali ini membawa seorang wanita ke rumah. Pastinya dia amat khawatir jika terjadi apa-apa. Beristirahatlah. Ini kamar kakak dan adik Alexander dulu. Sudah ibu bersihkan." Ibu Alexander begitu perhatian padaku.
Seketika hatiku pun tersentak mendengar penuturannya. Rasanya aku tidak mempunyai alasan untuk menolak kebaikannya ini. Aku pun mengangguk saat melihat ketulusan dari wajahnya.
"Terima kasih, Bu."
Entah mengapa tanganku bergerak sendiri untuk memeluk tubuh wanita paruh baya ini. Tetes demi tetes air mataku pun ikut jatuh membasahi pipi. Bersamaan dengan itu kulihat Alexander naik ke lantai dua dan melihat kami yang sedang berpelukan. Aku pun segera melepaskan pelukanku dari ibunya.
Ibu Alexander mengusap wajahku. Dia memberiku kunci kamar yang akan kuinapi. Dia kemudian pergi dari hadapanku seraya memberikan senyuman. Lalu kemudian melewati putranya yang terdiam terpaku di tangga. Saat itu juga dia memukul pantat anaknya.
"Aw, Ibu!" Alexander pun berteriak saat sang ibu memukul pantatnya.
"Jangan nakal!" kata ibunya sambil menuruni anak tangga.
"Iya-iya." Alexander pun menanggapi sambil mengusap-usap pantatnya.
Entah mengapa air mataku seakan enggan berhenti kala melihat kedekatan mereka. Sungguh aku juga menginginkan hal itu terjadi padaku. Kasih sayang dan kehangatan seorang ibu. Tapi kapan? Kapan aku bisa merasakan kebahagiaan akan kasih sayang dan kehangatan keluarga? Aku hanya sebatang kara di sini. Hanya Angela lah yang masih bertahan bersamaku, sedang pria yang kucintai entah di mana. Sampai saat ini dia belum juga menghubungiku.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian...
Hujan menjadi saksi atas kesedihanku. Saat ini aku sedang berdiri di teras lantai dua rumah ibu Alexander. Tak lama Alexander datang membawakan segelas susu hangat untukku. Aku pun menerimanya dengan senang hati. Kami akhirnya berdiri di dekat pagar teras sambil memegang gelas susu masing-masing. Menatap indah pemandangan desa dari sini.
"Cecilia, apa terjadi sesuatu padamu?" Pria bermata biru ini bertanya padaku.
Aku menggelengkan kepala lalu meneguk susu yang diberikan olehnya. "Aku tidak kenapa-kenapa, Tuan. Aku baik-baik saja." Aku berusaha tersenyum padanya.
Alexander meletakkan gelas susunya ke meja teras. Dia kemudian membalikkan tubuhku agar menghadapnya. "Kau menyembunyikan sesuatu, Cecilia. Jangan berbohong. Kau menangis, bukan?" Dia menatapku. "Katakan padaku, kesedihan apa yang sedang melandamu?" tanyanya penuh ketulusan.
Aku bisa melihat ketulusan yang tersirat dari wajahnya. Dia seperti sungguh-sungguh ingin mengetahui hal apa yang terjadi padaku. Aku rasa dia juga harus tahu bagaimana keadaanku yang sebenarnya.
"Tuan, aku ... merindukan rumah," kataku lalu butiran air mata itupun jatuh kembali tanpa pamit.
"Cecilia." Saat itu juga Alexander memelukku.
Aku masih memegang gelas susu. Gelas susu ini seolah menjadi penjaga jarak di antara kami. Tapi, kehangatan tubuhnya bisa kurasakan saat memelukku. Aku rasa aku mulai membutuhkannya. Mungkin saja aku juga sudah mulai ketergantungan padanya.
Tak lama dia melepaskan pelukannya. Sepertinya dia berniat untuk menenangkan hatiku. Dia memegang kedua pundakku seraya menatapku dalam sekali. "Sebenarnya apa yang terjadi, Cecilia?" tanyanya, menunjukkan rasa perhatiannya padaku.
Kuusap air mataku lalu meneguk susu kembali. Aku pun beranjak meletakkannya ke atas meja. Tapi, sebelum sempat Alexander sudah membantunya. Dia membantuku meletakkan gelas susu ini. Lalu kemudian kembali beralih padaku.
"Cecilia, aku bertanya padamu." Dia mengulang kembali akan hal yang ditanyakan olehnya.
Aku menarik napas dalam, mencoba mengalihkan hal yang sebenarnya terjadi padaku. "Tuan, aku rasa ... kita sudah terlalu jauh." Aku menunduk, tidak berani menatapnya.
__ADS_1
"Maksudmu?" Dia bertanya lagi, memintaku untuk menatapnya, tetapi aku selalu saja menghindar. "Cecilia, kumohon. Katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Dia memegang kedua pundakku lagi.
Aku pun mengangkat wajah untuk melihatnya. Melihat sinar bening bola mata birunya yang terkena pantulan cahaya lampu. "Tuan, aku rasa kita terlalu dekat. Tidak seharusnya kita seperti ini. Bukankah kita hanya sekedar teman?" tanyaku dengan nada yang lemah.