
Sesampainya di apartemen Jackson...
"Masuk!"
Kata itu yang kudengar dari mulutnya, bukan malah permintaan maaf. Dia menarikku masuk ke dalam apartemen dengan kasar. Aku pun hanya bisa menurut, tanpa bicara. Lagipula tidak akan mungkin bisa menang melawannya.
Sabar, Cecilia ....
Jackson melepas jasnya begitu aku duduk di sofa. Dia melemparkan jas itu ke sampingku, seolah sedang memberi tahuku jika masih marah. Aku pun hanya bisa terdiam tanpa bicara atau bertanya. Berusaha cuek sambil menahan amarah.
Ya, wajar saja jika aku marah. Wanita mana yang tidak marah diperlakukan begitu kejam oleh prianya? Dia sudah kuanggap sebagai priaku semenjak kejadian itu. Tidak sepantasnya dia berlaku seperti ini kepadaku.
Mau apa lagi dia?
Dia berdiri di hadapanku sambil membuka satu per satu kancing kemejanya, kemudian melepaskan sabuk celana. Entah apa maksudnya, aku tidak ingin peduli.
"Ambilkan aku anggur!"
Jackson duduk di sofa lalu mengambil rokoknya. Dia duduk di sofa yang berseberangan denganku. Dia benar-benar gila. Masih bisa-bisanya menyuruhku untuk mengambilkan anggur setelah apa yang dia lakukan malam ini.
Jackson, aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan membuatmu jatuh bertekuk lutut dan mengemis cintaku. Lihat saja nanti!
Sungguh aku kesal bukan main. Rasanya ingin membalas kekejamannya. Tapi, aku juga sadar jika belum bisa berbuat apa-apa saat ini. Aku belum mempunyai kekuatan untuk membalas perbuatannya. Dia masih menjadi raja. Lain lagi jika aku sudah menjadi ratu. Mungkin bisa dengan mudah memerintahnya.
"Hei, telingamu masih bisa mendengar?" Dia bertanya sambil menghidupkan puntung rokoknya.
Arrrghhh ... rasanya ingin kuacak-acak saja wajahnya. "Baik, Tuan."
Akhirnya aku menurut, menuju ke kulkas lalu mengambilkan botol anggur untuknya. Mungkin dia ingin mabuk malam ini. Semoga saja dia tidak bangun sampai pagi.
Kuletakkan botol anggur ke atas meja beserta pembuka tutupnya. Kuhidangkan layaknya pelayan kepada sang raja. Kulirik sekilas dirinya yang tengah memperhatikanku. Dia menatapku dengan isi pikiran yang tidak kutahu.
"Silakan, Tuan." Aku kembali duduk di sofa yang berseberangan darinya.
Dia membuka tutup botol anggurnya sendiri. Mungkin tidak tega jika memintaku untuk membukakannya. Malam ini aku sudah banyak dikerjai olehnya. Kalau sampai karena tutup botol dia juga marah, itu berarti Jackson benar-benar ingin berpisah denganku. Mencari kesalahan agar aku tidak betah lalu pergi menjauh darinya.
"Kau sadar apa kesalahanmu malam ini, Cecilia?"
Dia bertanya sambil menghisap puntung rokoknya. Dengan santai dia menghirup dalam-dalam asap rokok itu tanpa memedulikan aku. Jackson sangat kejam jika sudah marah. Jangankan membantah, melihatnya saja tak kuasa.
__ADS_1
"Maaf, Tuan."
Aku tak ingin banyak bicara, aku merendah saja. Kuakui kesalahanku ini di hadapannya. Karena kutahu jika terus membela diri tidak akan berarti apa-apa. Jackson tidak ingin dibantah, setiap perkataannya adalah titah.
"Kau pergi ke sana tanpa pamit padaku. Kau pergi tanpa peduli ada yang mencemaskanmu. Aku sudah bilang, beristirahatlah di rumah. Tapi kenapa masih membantah?" tanyanya, pertanda pidato panjang akan segera dimulai olehnya.
Aku menunduk. Bingung mau bicara apa.
"Apa kau tidak bisa disayang? Kau masih ingin bebas seperti kucing liar di luar sana? Tidak cukupkah hanya aku yang memuaskanmu? Sampai harus pergi ke kumpulan orang-orang itu?" tanyanya lagi.
Aku tertegun mendengar ucapannya. Tersirat jika dia menyayangiku.
Dia menoleh ke arahku, memerhatikanku yang sedang menunduk ini. "Lihat pakaianmu! Apa pantas wanitaku pergi tanpaku dengan pakaian seperti itu?! Begitu terbuka dan menggoda pandangan pria. Apa kau ingin menjual dirimu?!" tanyanya yang membuatku tersentak kaget.
"Tuan, aku tidak—"
"Kau ingin bilang tidak ada maksud untuk menjual diri dengan berpakaian seperti itu? Lalu apa maksudmu berpakaian terbuka di depan banyak pria? Jelaskan padaku, Cecilia!"
Kurasakan kekesalan di hatinya terlampiaskan saat kata per kata dia ucapkan padaku. Kini kusadari jika dia ingin benar-benar menjagaku. Namun, caranya saja yang berbeda dari kebanyakan pria. Dia membuatku lelah terlebih dahulu sampai aku ingin menyerah. Namun nyatanya, dia begitu peduli dibalik sikap kasar nan kejamnya itu.
"Maafkan aku, Tuan." Aku tertunduk, merasa bersalah.
Jackson meneguk anggurnya. Dia membuang sisa pembakaran puntung rokoknya ke dalam asbak. "Jika kau ingin menjual diri, katakan berapa hargamu padaku? Aku akan membayarnya sepuluh kali lipat dari harga yang kau tawarkan." Dia membuat hatiku tersentak.
Aku senang bercampur bahagia saat mengetahui Jackson benar-benar memedulikanku. Tapi aku juga sedih dengan ucapannya, seolah-olah aku ini berniat menjual diri. Padahal aku hanya miliknya seorang.
Tuan ....
Kusadari dia berkata seperti itu karena aku tidak menurut. Tapi, kata-katanya sangat kejam sekali. Seakan-akan aku wanita yang bisa bergonta-ganti pria setiap malam. Padahal kenyataannya hanya bersama dirinyalah aku menggila.
"Kemari," katanya, membuyarkan lamunanku.
"Tuan?" Aku terkejut dengan panggilannya.
"Kemari, cepat!" katanya lagi.
Aku menurut, beranjak bangun lalu mendekatinya.
"Duduk di sampingku," pintanya.
__ADS_1
"Hah?!"
"Kau tidak mendengar kata-kataku?" Dia seperti marah kuperlambat.
Aku menelan ludah. Rasa-rasanya ada hal tak beres akan dia lakukan padaku. Entah benar atau tidak, aku juga tidak tahu. Aku duduk saja menuruti permintaannya.
"Sudah, Tuan." Aku duduk di sampingnya.
Dia kemudian mematikan puntung rokoknya. "Menungging," katanya lagi.
"Hah?! Apa?!" Aku terbelalak kaget.
"Cepat!" Dia memintaku lagi.
Raut wajah Jackson seperti tidak sabar ingin melakukan sesuatu. Aku disuruh menungging di sampingnya. Entah apa yang akan dia lakukan.
"Kau ini lama sekali!"
"Tuan!"
Jackson akhirnya menarik tubuhku ke atas pangkuannya. Aku ditelengkupkan dengan kedua tangan yang dipegangi olehnya. Aku takut sekali.
"Cecilia, inilah batas kesabaranku untukmu."
"Ap-apa—aaaa! Tuan, sakit!"
Aku terkejut dan merasa sakit saat Jackson melayangkan tangannya ke pantatku. Dia ternyata memukul pantatku.
"Tuan, hentikan!"
Dia memukul pantatku berulang kali saat aku telungkup di atas pangkuannya. Dia seperti amat gemas. Dan kini telapak tangannya masih memukuli pantatku.
"Masih mau bandel?" tanyanya sambil terus memukul pantatku.
"Tidak, Tuan. Maaf, aaaa!"
"Ini akibatnya jika membantah." Dia terus memukul pantatku.
"Tuan, hentikaaan! Maafkan akuuuu!"
__ADS_1
Dan akhirnya malam ini Jackson benar-benar menghukumku. Dia memukuli pantatku seolah sedang memukul bantal yang sedang dijemur. Tapi entah mengapa, aku malah merasa senang. Aku merasa disayang olehnya.
Tuan, aku tarik kembali ucapanku. Aku tidak menyesal mencintaimu.