Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Apa kabar, Sayang?


__ADS_3

Senin, pukul setengah tujuh pagi...


Suara deru kendaraan mulai terdengar di kamar apartemenku. Cahaya mentari pun seolah menyapa hangat tubuhku ini. Akhir pekan kemarin kulalui bersama seorang pria yang masih asing di hatiku. Tapi, aku rasa cukup bisa menikmati akhir pekan bersamanya. Ya, walaupun tidak sepenuhnya. Karena tetap saja hatiku masih simpang-siur memikirkan si pria berwajah muram itu.


Kemarin pagi-pagi sekali kami pulang, jadi tidak sempat untuk melihat kebun bunga milik ibu Alexander. Tapi sepertinya, informasi tentang anaknya sudah cukup kudapatkan. Ibunya sendiri yang menceritakan bagaimana Alexander kepadaku. Dan kini aku seperti mengerti sesuatu.


Alexander ternyata seorang arsitektur. Jadi pantas saja jika waktu itu aku melihatnya bersama Oliver di Angkasa Grup. Kemungkinan dia sedang membicarakan urusan pekerjaan dengan pria tua itu. Padahal awalnya kukira Oliver akan membeli model juga dari Queen Club. Tapi sepertinya, prasangkaku itu salah.


Sungguh aku tak menyangka jika Alexander adalah S3 Arsitektur. Dia kuliah di luar negeri dan sudah menerapkan ilmunya selama kurang lebih lima tahun terakhir. Dan dia telah berhasil mempunyai CV sendiri. Perusahaan menengah ke atas yang terpercaya menjalin kerja sama dengan banyak perusahaan besar. Dia memang hebat, begitu mandiri dan juga peduli. Tapi aku rasa dia terlalu baik untukku.


Kata ibunya, Alexander tidak pernah mempunyai teman wanita. Mungkin maksud kata teman di sini adalah pacar atau kekasih dalam persepsiku. Ya, aku pikir seperti itu. Karena memang saat aku datang, ibunya amat terkejut melihatku. Seperti melihat sesuatu yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Entah benar atau tidak, aku rasa tidak perlu mencari tahunya.


Kini sedikit demi sedikit aku mulai memahami apa yang terjadi. Bisa saja Alexander tidak ada hubungannya dengan peperangan ini. Kulihat dari wajahnya tersirat ketulusan yang murni. Tidak dibuat-buat atau sengaja direkayasa. Tapi, ini hanya asumsi sementara, belum tahu yang sebenarnya. Mungkin beberapa hari ke depan aku harus lebih banyak mencari tahu lagi. Sehingga bisa segera kutemukan titik temunya. Ya, semoga saja.


"Baiklah, mari kita kembali bekerja."


Hari ini hari Senin, hari di mana semua orang mulai sibuk bekerja. Begitupun dengan aku yang sedang menyiapkan diri untuk pergi ke kantor. Sepertinya keadaan hatiku sudah membaik dari sebelumnya. Aku pun jadi lebih semangat menjalani hari.


Kukenakan setelan seragam bisnis berwarna abu-abu dengan sepatu pantofel yang tidak terlalu tinggi. Rambut sengaja kusanggul agar terlihat lebih rapi. Aku juga mengenakan polesan make up yang ceria dengan warna oranye mendominasi. Tak lupa kubuat poni di rambutku agar terlihat lebih muda. Dan akhirnya aku siap menghadapi hari.


"Siapa ya?"


Tiba-tiba bel apartemenku berbunyi tepat pada pukul setengah tujuh pagi. Aku pun segera melihat siapa gerangan yang datang ke apartemenku. Dan ternyata ... Alexander.


"Tuan?" Aku terkejut melihatnya sudah rapi dengan mengenakan setelan jas yang warnanya sama denganku, abu-abu.


Apakah ini pertanda alam?


"Selamat pagi, Cecilia. Bolehkah aku mengantarmu pergi bekerja? Kebetulan hari ini kita searah." Dia menawarkan diri.


"Ap-apa?" Aku merasa seperti gelagapan menjawabnya.

__ADS_1


Entah mengapa Alexander selalu saja berhasil membuat otakku zonk. Mungkin karena kharisma yang dia miliki begitu besar sehingga membuatku jadi seperti ini. Atau mungkin benih-benih cinta itu sudah mulai bersemi di hatiku? Entahlah. Aku jalani saja yang ada.


"Sebentar, Tuan. Aku ambil tas dulu." Tanpa perlawanan aku pun menerima tawarannya. Kubiarkan Alexander mengantarkanku pagi ini.


Di perjalanan menuju Angkasa Grup...


Semangat pagi menyertai perjalanan kami ke sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan gedung. Alunan instrumental As Long As You Love Me ikut menyertai perjalanan kami. Ternyata Alexander sengaja memutarnya sambil bernyanyi di sampingku. Dan dia terlihat senang sekali.


"Tuan, suaramu begitu bagus," kataku.


"Eh, benarkah?" Dia tak percaya.


"He-em. Benar. Apalagi jika diam," kataku, ceplos begitu saja kepadanya.


"Hahahaha." Seketika dia tertawa, lalu menarikku agar lebih dekat dengannya.


"Tuan, nanti sanggulku rusak!" Aku memperingatkannya.


Kuakui jika kami semakin dekat. Aku pun mencoba untuk menepiskan jarak. Semakin jarak tertepiskan, semakin dekat hati ini. Kami pun mulai tidak malu-malu lagi, bersikap apa adanya.


Alexander ternyata lebih bisa diajak bercanda dibanding Jackson. Dia seringkali tertawa di depanku. Aku pun jadi merasa senang karena telah berhasil membuatnya tertawa. Rasanya ada kebahagiaan tersendiri bisa menghibur orang lain. Dan ya, hal itu tidak bisa dinilai dengan uang.


"Nanti sore kita karaoke, mau?" tanyanya, menawarkan.


"Eh?"


"Sudah lama aku tidak nyanyi. Kita pesan VIP room saja agar nyaman." Dia berkata lagi.


Seketika aku jadi berpikir yang aneh-aneh.


"Sedang memikirkan apa?" tanyanya. "Pasti curiga padaku, ya?" Dia menduga.

__ADS_1


"Em ...." Aku berpikir.


"Tenang saja. Aku pria baik-baik, Cecilia. Aku bukan buaya. Jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksanya." Dia meyakinkanku.


Sejenak aku merenungi kata-katanya, benarkah dia seperti itu?


"Em ... kita lihat saja nanti, Tuan. Aku belum tahu seberapa banyak pekerjaanku hari ini," kataku.


"Oh, baiklah. Aku akan menunggu kabar darimu." Dia pun mengerti.


Tak lama kami akhirnya sampai di halaman parkir Angkasa Grup. Alexander pun mematikan mesin mobilnya lalu segera turun dari mobil. Dia membukakan pintu untukku. Sontak aku pun terkejut dengan sikapnya pagi ini. Seolah-olah sedang menunjukkan rasa cintanya padaku.


"Terima kasih," kataku, setelah dia membukakan pintu mobil untukku.


Dia tersenyum lalu mengusap kepalaku. "Oh, ya. Ini alamat kantorku. Jika pulang cepat, mungkin kau mau mampir ke sini." Dia menyerahkan kartu namanya padaku.


Aku menyampirkan tas. "Terima kasih, Tuan. Tapi apa tidak mengganggu jika datang ke sana?" tanyaku khawatir.


Dia mencubit hidungku. "Jika kau yang datang, aku tidak akan keberatan, Cecilia." Dia tersenyum padaku.


Ya Tuhan, hatiku ....


Kusadari jika hati ini mulai condong kepadanya. Seringnya bertemu menjadi alasan kuat untuk kami bersama. Aku pun tersenyum kepadanya yang sudah sejauh ini berusaha untuk mendekatiku. Aku rasa hatiku mulai luluh. Apalagi saat melihat sinar bening matanya yang biru.


"Cecilia, aku—"


Ucapannya pun tiba-tiba terputus kala suara klakson mobil menyadarkan kami dari suasana yang semakin dekat ini. Kulihat ada mobil hitam yang datang lalu memarkirkan mobilnya di samping mobil Alexander. Seseorang dari mobil itu pun keluar, menginjakkan kakinya ke halaman parkir Angkasa Grup. Kulihat penampilannya begitu mewah. Dia mengenakan setelan jas berwarna hitam dan juga kaca mata hitam. Dia kemudian berdiri di hadapan kami.


Jackson?!!


Saat itu juga aku terkejut kala menyadari jika orang yang turun dari mobil itu adalah Jackson. Dia ternyata datang pagi-pagi ke Angkasa Grup. Membawa koper kerjanya lalu menutup pintu mobilnya dengan segera. Kedatangannya tentu saja memecahkan suasana yang sedang terjadi di antara kami. Saat itu juga aku terdiam dan membisu, seperti tidak bisa bergerak sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2