
Esok harinya...
Sinar menyilaukan menyadarkanku dari alam mimpi. Perlahan-lahan terbangun seraya membuka kedua mata ini. Sangat silau hingga harus menutupi mata dengan lengan kiriku. Kusadari jika hari sudah pagi, atau mungkin sudah menjelang siang saat ini.
"Aduh ... jam berapa, sih?"
Kulihat diriku tengah tertidur di tempat yang asing. Rasa-rasanya semalam bukan di kasur ini aku merebahkan diri, melainkan di kasur lain. Tapi entah mengapa saat terbangun, aku tidak lagi berada di kasur semalam.
"Ini ...?!"
Tak beberapa lama kemudian, kusadari jika kasur yang kutiduri adalah kasur milik Jackson. Tidak salah lagi jika aku telah tidur di kamarnya.
"Eh! Dia sudah mengizinkanku tidur di kasurnya?"
Kulihat juga pakaianku. Betapa kaget saat melihat tubuh ini tidak lagi mengenakan gaun pesta semalam. Kini aku mengenakan kemeja putih lengan panjang dan juga celana dasar hitam yang sedikit kebesaran. Rasa-rasanya ini juga bukan milikku.
Pasti milik Jackson.
Entah mengapa sesaat setelah menyadari, aku jadi tersenyum sendiri. Ternyata Jackson begitu sayang padaku. Dia mengangkatku dari kamar sebelah lalu ditidurkan di dalam kamarnya. Dia juga mengganti pakaianku dengan pakaiannya. Serasa kami sudah amat dekat dan tidak ada jarak lagi.
Tuan, kau mengganti pakaianku. Bagaimana dengan dalamanku?
Aku penasaran. Rasa kepo tiba-tiba muncul dari dalam pikiran. Aku pun cepat-cepat mengintip pakaian dalamku sendiri. Aku khawatir jika Jackson juga menggantinya dengan pakaian dalam miliknya. Namun ternyata ... tidak. Aku masih mengenakan milikku.
"Hah ...."
Aku sedikit lega saat tahu pakaian dalamku tidak ikut diganti. Lantas aku beranjak bangun untuk melihat keadaan sekitar. Dan ternyata, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ini pertanda jika aku telah bangun kesiangan.
"Astaga! Aku tidak kerja?!"
Aku panik saat melihat jam di dinding kamarnya. Cepat-cepat masuk ke kamar mandi lalu membasuh wajah ini. Dan kulihat wajahku polos sekali. Make up semalam sudah luntur semua. Mungkin Jackson juga yang membersihkannya.
__ADS_1
Ya Tuhan ....
Aku merasa telah memenangkan pertarungan. Perubahan sikap Jackson menunjukkan kemenangan besar untukku. Tapi, aku tidak boleh berpuas hati dulu. Masih ada urusan yang harus diselesaikan sebelum menyatakan jika aku benar-benar telah menang. Sidang perceraian Jackson dan Zea masih belum digelar. Dan aku harus tetap bersabar menunggunya. Aku percaya Jackson akan menepati janjinya padaku.
"Ya sudahlah. Sudah telat juga. Aku kirim pesan saja padanya."
Lantas setelah membasuh wajah, aku mencari tas pestaku di kamar. Kuambil ponsel yang ada di dalam tas dan kulihat ada satu pesan masuk dari Jackson untukku. Lekas saja aku membacanya.
/Istirahat dan jangan keluar sebelum kupinta./
Pesan darinya seolah mengisyaratkan jika dia ingin aku baik-baik saja. Dia sampai rela tidak membangunkanku agar aku bisa beristirahat di apartemennya. Dan ya, mungkin aku memang harus beristirahat. Aku habis lelah karena dikerjainya semalam.
Ternyata dia pengertian.
Mungkin Jackson merasa kasihan setelah mengerjaiku habis-habisan. Makanya dia tidak membangunkanku saat pagi datang. Sungguh tidak biasanya Jackson seperti ini. Ini pertama kalinya bagiku tidur di kasurnya. Pertama kalinya aku memakai pakaiannya. Dan yang lebih tidak bisa kupercaya, dia sendiri yang memakaikannya ke tubuhku.
Sebenarnya dia pria yang romantis. Dia juga tahu bagaimana seharusnya memperlakukan wanita.
Jujur saja dekat dengannya memang membutuhkan kesabaran yang lebih. Jackson kadang tidak bisa ditebak. Dia juga cepat bertindak dari yang kukira. Selama ini aku pikir dia santai-santai saja di kantornya. Tapi ternyata, hidupnya sangat sibuk dengan berbagai macam urusan. Dan mungkin akulah wanita beruntung yang bisa menemani kesibukannya.
Sebenarnya aku ingin sekali mencari tahu apa saja yang ada di apartemennya. Sayangnya kamera CCTV ada di mana-mana. Aku khawatir Jackson nanti malah akan mencurigaiku.
"Akhirnya bisa bersantai juga di apartemennya. Buat kopi sajalah."
Lantas kulangkahkan kaki menuju meja teh yang ada di dekat dapur. Kuseduh kopi hitam yang entah apa mereknya lalu kutambahkan sedikit gula. Kubawa kopi ini kemudian duduk di sofa ruang tamunya. Aku bersantai sejenak, merelaksasikan pikiran sebelum beraktivitas kembali. Semoga saja setelah kejadian semalam keadaan kami jadi lebih baik lagi.
"Senyumnya ...."
Entah mengapa saat menyeruput kopi, kejadian semalam teringat kembali di benakku. Jackson terlihat begitu bahagia setelah menyalurkan rasa kesalnya. Dia duduk di sofa berseberangan sambil memperhatikanku yang tengah mengurut pantat, karena sehabis dipukuli olehnya. Namun, kalau dipikir-pikir rasanya memang tidak sakit, malah inginnya nambah lagi.
Dasar, Cecilia. Sukanya yang main kasar.
__ADS_1
Semalam aku menggerutu di depannya. Aku marah dan dia hanya tersenyum. Dia menghidupkan puntung rokok lalu mengembuskan asap rokok itu sambil menatap ke arahku. Dia memperhatikanku yang tengah berdiri, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Saat itu juga aku bergidik melihat tatapan nakalnya.
"Lebih baik dipukul daripada menghisap, bukan?" tanyanya tanpa merasa berdosa sama sekali.
"Tuan!"
Saat itu juga aku ingin sekali memakinya. Namun, tidak jadi. Melihat senyumannya yang langka membuat hatiku jadi luluh sendiri.
"Senyuman yang menawan."
Jackson telah memilikiku. Duniaku seperti telah dikuasai penuh olehnya. Saat dia berkata seperti itu, aku hanya bisa mendengus kesal. Dan kulihat dia lagi-lagi tersenyum sambil mengembuskan asap rokoknya ke depan.
"Sudah sana tidur!" Dia lalu memintaku untuk segera tidur setelah puas memukuli pantatku.
Mudahnya dia berkata seperti itu. Padahal hampir saja kerja kerasnya mengalami kegagalan. Aku pun hanya bisa menurut, berjalan menjauh darinya lalu mencari kamar lain untuk beristirahat.
Kukunci segera pintu karena khawatir dia akan menggerayangiku. Namun nyatanya, tidak. Mungkin dia menyimpan baik-baik pesan dokter agar tidak menjamahku selama tiga bulan ke depan.
"Andai ini jawaban dari doaku, aku ingin hidup bersamanya sampai akhir nanti."
Kutatap langit-langit ruang tamu. Terbayang perjalanan yang telah kulalui bersamanya. Aku berharap Jackson adalah jawaban atas doaku selama ini. Ya, walaupun masih ada urusan yang harus diselesaikan. Aku akan menunggunya sampai hari bahagia itu tiba untukku.
"Paket!"
Tiba-tiba suara bel terdengar bersamaan dengan teriakan seseorang. Aku jadi kaget saat menyadari jika ada yang datang menjelang siang ini ke apartemen Jackson. Tak lama suara ketukan pintu berulang kali pun kudengar.
"Paket!!!" Suaranya semakin kencang saja.
"Siapa, ya?"
Lantas aku beranjak bangun untuk membuka pintu, melihat siapa gerangan yang datang. Tapi entah mengapa saat hampir di dekat pintu, jantungku berdebar tidak karuan. Rasa khawatir tiba-tiba muncul dan membuatku ragu untuk membukakan pintu.
__ADS_1
"Buka tidak-ya?"
Aku bingung, takut bercampur aduk. Aku khawatir jika yang datang bukanlah paket, melainkan jebakan. Aku harus tetap berhati-hati di manapun berada, sekalipun itu sedang di apartemen Jackson. Karena kejahatan tidak mengenal tempat, melainkan karena ada kesempatan.