
Saham? Kenapa dia menanyakan hal itu padaku?
Aku tidak tahu ada maksud apa Jackson menanyakan hal itu. Tapi sepertinya ada sebuah strategi yang sedang diatur olehnya untuk mengalahkan musuh-musuhnya, termasuk juga Hadden.
"Em, Tuan. Aku tidak punya uang untuk membeli saham," jawabku sambil berdiri di sampingnya.
Jackson menatap kembali layar laptopnya. "Jika kau berminat, tidak perlu memakai uang. Cukup membayarnya dengan kerja keras," katanya sambil mengetik-ngetik sesuatu di laptop.
Dia menginginkanku menjadi seorang pebisnis?
Sebenarnya aku tidak mengerti ranah bisnis. Yang kutahu cuma trik menggoda pria, selain itu tidak tahu. Jadi saat Jackson menawarkan padaku, aku seperti tidak dapat mengatakan apa-apa. Maklum saja bukan bidangku. Di kantor juga tugasku hanya membacakan, menulis, mengetik dan membuat laporan tentang aktivitas hariannya. Selebihnya dikerjakan oleh Clara. Jadi sebenarnya pekerjaanku ini lebih ke pribadi Jackson sendiri. Melayani bos si muram wajah.
"Tuan, aku tidak tahu bagaimana cara bermainnya. Aku pikir-pikir dulu, ya." Aku takut mengecewakannya.
Kulihat Jackson menoleh kepadaku. "Bagaimana ingin menjadi Nyonya Baldev jika tidak berani?" katanya.
"Ap-apa?!"
Entah mengapa aku merasa persyaratan menjadi istrinya sangat berat sekali. Aku merasa Jackson seperti menuntutku agar menyanggupi tawarannya. Sedang aku takut mengecewakan karena tidak bisa memberikan hasil yang memuaskan.
Bagaimanapun di dunia bisnis selalu mengedepankan keuntungan. Dengan keuntungan bisa menggaji karyawan dan memenuhi biaya operasional. Sedang aku tidak mengerti sama sekali tentang hal itu.
"Em, Tuan. Aku tidur duluan, ya. Selamat bekerja." Aku menghindar saja darinya.
Aku tidak peduli dia mau berpikir apa. Lebih baik aku segera tidur agar mataku tidak sembab lagi dan kembali cantik seperti sediakala. Aku tidak ingin menambah urusan karena urusanku saja yang ini belum selesai. Ya, sudah. Kutinggal dia tidur, kebetulan hujan sudah datang untuk menemaniku terlelap.
Esok harinya...
Pagi hari aku terbangun dan kulihat Jackson tertidur di sampingku. Kupandangi wajahnya saat sedang tertidur seperti ini. Dia seperti kelelahan sekali. Aku pun berniat untuk mengusap wajahnya, tapi tidak jadi. Karena khawatir akan menganggu tidurnya. Lantas aku beranjak bangun untuk melihat keadaan di luar pagi ini.
Semalam kami tidak melakukan apa-apa. Mungkin Jackson khawatir aku ilfeel padanya karena telah membuatku menangis. Aku pun mencoba mengerti. Toh, hidup bukan hanya sekedar untuk memuaskan hasrat semata. Ada hal yang lebih penting dilakukan untuk menunjang kehidupan masa depan.
"Baru jam lima."
Kulihat jam di ponsel masih menunjukkan pukul lima pagi. Lantas aku berolahraga sejenak di teras luar, menghirup udara pagi yang begitu bersih. Semoga saja paru-paruku bisa selamanya sehat sehingga bisa terus bernapas untuk menemaninya.
__ADS_1
Cecilia, masih pagi. Jangan berkhayal!
Kuakui jika hati dan pikiranku hanya ada Jackson seorang. Jackson telah berhasil menguasai duniaku. Sampai-sampai aku tidak sadar jika hal yang kulakukan ini amat berisiko. Terlebih surat perjanjianku bersama Zea sudah dipegang olehnya. Aku sekarang seperti terikat dan tidak bisa lepas begitu saja. Mungkin ini salah satu caranya agar aku tidak bisa lari.
Segarnya.
Kugerakkan tubuhku, kurenggangkan otot-otot yang tegang. Kuhirup dalam-dalam udara segar. Kunikmati detik demi detik olah pernapasan sampai semburat merah terlihat di angkasa. Ternyata aku membutuhkan meditasi sesaat untuk menenangkan pikiran dan hatiku yang lelah. Dan ya, hal itu kudapatkan setelah mencoba menyatu dengan alam.
Beberapa menit kemudian, ponselku berdering. Kudengar dering ponselku hingga membuatku beranjak bangun dari meditasi. Kulihat siapa yang menelepon dan ternyata Alexander.
Astaga! Dia meneleponku?!
Aku tidak percaya jika Alexander akan meneleponku pagi-pagi. Lekas-lekas kujauhkan ponselku dari Jackson agar dia tidak mendengar dering ponselku. Aku bersembunyi di balik dinding teras lalu mematikan nada deringnya. Aku khawatir akan terjadi keributan jika Jackson tahu Alexander meneleponku.
Ada apa, ya? Kenapa dia meneleponku?
Rasa penasaran mengusik pikiranku. Namun, aku mencoba berpikir logis. Mungkin saja Alexander hanya ingin menanyakan kabarku sehingga menelepon pagi-pagi. Toh, Jackson sedang bersamaku. Jika menerima telepon darinya, berarti sama saja dengan membangunkan singa tidur. Jadi kulanjutkan saja meditasiku sambil menunggu Jackson terbangun dari alam mimpinya.
Beberapa jam kemudian...
Entah apa yang sedang ada di dalam pikirannya. Mungkin ada baiknya jika aku bertanya langsung saja padanya.
"Tuan, apa ada yang aneh denganku?" tanyaku yang risih diperhatikan olehnya.
Dia meletakkan cangkir tehnya. Tersirat dari wajahnya seperti merasa heran denganku. "Kau berani sekali bertemu dengan pria yang baru dikenal dengan pakaian yang terbuka seperti itu." Dia seperti menyindirku.
Benar dugaanku jika dia merasa heran denganku. Kulihat pakaian yang kukenakan sejak kemarin, sepertinya biasa-biasa saja, tidak ada yang aneh. Tapi entah mengapa dia seperti menyindirku saat mengenakan blus putih dengan bagian bahu terbuka ini.
"Tuan, ini pakaian anak muda. Apa aku sudah tidak pantas mengenakannya?" tanyaku yang gantian heran padanya.
"Kemari," pintanya. Aku yang duduk di seberangnya pun mendekati.
Jackson lalu menatap bajuku. Dia memperhatikan dadaku lalu kembali menatap wajahku. "Cecilia, kau sangat indah. Tapi apa keindahan itu harus diperlihatkan kepada pria lain?" tanyanya yang sontak membuatku terkejut.
"Tu-tuan ...?!"
__ADS_1
"Jangan dekati pria itu. Kau mengerti?" tanyanya bernada perintah.
Aku tidak tahu ada maksud apa dari larangannya ini. Kenapa sampai mengaitkan dengan pakaian jika hanya ingin memperingatkan agar aku tidak dekat dengan Alexander. Rasa-rasanya sedikit aneh. Bukan kah di dunia bisnis wanitanya berpakaian terbuka? Apalagi hal ini menurutku biasa saja.
Jackson terkadang berlebihan. Dia over protektif padaku.
Lantas kugelengkan kepala karena tidak bisa menerima pendapatnya. Kulihat Jackson masih memperhatikanku tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun. Aku juga jadi kesal sendiri saat mengingat statusku sekarang.
"Tuan, kapan beri aku kepastian?" tanyaku, karena merasa kesal.
Wanita mana yang tidak kesal, dikekang, dilarang, tapi tidak diberi kepastian. Jackson sudah berlebihan dalam mengaturku. Seolah-olah aku ini istrinya. Padahal aku membutuhkan kebebasan maka dari itu aku menurut padanya. Tapi, dia malah banyak melarangku.
"Kau ingin apa?" Dia malah bertanya balik padaku.
"Tuan, aku ingin status darimu. Kau begitu bodoh, ya!" Akhirnya aku mengeluarkan kekesalanku padanya.
"Cecilia!!!"
Upss ... sepertinya aku keceplosan dengan sengaja.
Lantas Jackson langsung menindihku. Dia mendorongku hingga jatuh ke sofa. Dia juga melepaskan sabuk celananya di depanku. Entah apa maksudnya.
"Cecilia, kau ini semakin kurang ajar!" Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam celananya.
Astaga! Astaga! Kenapa dia melakukan hal ini?! "Tuan, apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!"
Aku merasa dia akan melakukan sesuatu yang aneh-aneh kepadaku. Tubuhku dikunci oleh kedua paha kekarnya dan dia berada di atas tubuhku. Kedua tanganku berusaha melepaskan diri, tapi pahanya semakin mengapit tubuhku. Aku jadi tidak bisa bergerak sama sekali.
"Hisap!" pintanya setelah sesuatu itu dikeluarkan olehnya.
"Tidak mau!" Aku pun menolaknya.
Seketika itu juga Jackson menghukumku. "Mulutmu ini memang harus disumpal, Cecilia!" Dia marah lalu berkehendak sesuai hatinya.
"Tidak! Mmm ... tidak mau! Mmm ...."
__ADS_1
Jackson benar-benar tidak bisa jika tidak dituruti. Dia memaksaku untuk menuruti kemauannya. Dan akhirnya aku pun tidak bisa melawan. Dia benar-benar gila. Pria berwajah muram yang begitu mesum. Dan aku membencinya!