
...Cecilia...
.........
...Bianca...
.........
"Cecilia, apa kau lakukan?!" Bianca berteriak tak terima.
Emosiku membeludak. Aku kesal, cemburu dan ingin membunuh. "Lu ngapain di sini, hah?!" Aku berapi-api.
Bianca membersihkan tubuhnya. "Harusnya gue yang nanya, lu ngapain kemari?!" Dia membuatku semakin kesal.
Aku menoleh ke arah Jackson yang duduk diam di kursinya. "Jack, apa yang terjadi? Apa ini alasanmu tidak menemuiku?" Hatiku sungguh kacau-balau melihat mereka.
Jackson diam. Pria berkemeja biru itu tampak santai seperti tidak terjadi apa-apa di depanku. Dia kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Jack, aku bertanya padamu! Kenapa kau diam saja?!" Aku semakin kesal padanya.
Bianca berjalan mendekatiku. "Hei, Cecilia. Sekarang gue yang bakal gantiin posisi lu di sini," katanya, membuatku geram setengah mati.
"Apa?!"
Aku tak percaya. Sungguh tak percaya dengan apa yang Bianca katakan padaku. Aku pun menoleh ke arah Jackson untuk meminta penjelasan darinya.
"Jack, apa ini benar?" tanyaku padanya.
__ADS_1
Jackson diam saja, seolah tidak melihat ada aku di sini. Hatiku sungguh sakit dengan sikap dingin dan acuh tak acuhnya. Rasanya aku ingin membunuhnya saja.
"Sudah sana pulang, Cecilia! Kau tidak dibutuhkan lagi di sini." Bianca memutar-mutar rambutnya di hadapanku. Dia berlagak berkuasa di sini.
Sungguh aku kesal bukan main. Hatiku sakit sekali. Ternyata Bianca ada di sini dan sedang menggoda Jackson. Aku tak tahu mengapa semuanya jadi begini.
"Jack, beri aku penjelasan! Jika hal ini yang kau inginkan, maka beri aku keputusan!" Aku meminta kepastian.
Jackson menghentikan aktivitasnya sejenak lalu menoleh ke arahku. Dia menatapku dengan tatapan dingin. Sepertinya dia sudah lupa apa yang telah terjadi pada kami sebelumnya. Dahinya berkerut seperti tidak menginginkan kedatanganku.
"Kau tidak dibutuhkan lagi. Pergilah," katanya yang membuat jiwaku runtuh seketika.
"Ap-apa?!!"
Aku tak percaya. Sungguh tak percaya jika Jackson akan berkata seperti itu. Apakah karena aku sudah tidak mengandung anaknya, sehingga dia berpikir tidak perlu bertanggung jawab lagi padaku? Atau dia sedang memainkan sandiwaranya di depanku? Sungguh aku tidak tahu. Rasanya saat ini aku kesulitan untuk berpikir jernih. Emosi menguasai seluruh jiwa dan ragaku.
"Oke. Baik. Aku hargai keputusanmu."
Walau berat kurasakan, mau tak mau aku harus menerimanya. Cukup sudah penantian dan kesabaranku dalam menghadapinya. Aku sudah lelah dan tidak ingin berlarut-larut dalam penantian. Aku masih punya harga diri sebagai seorang perempuan. Aku mampu untuk menjalani kehidupan tanpanya. Aku harus berjuang melawan rasa sakit di hatiku ini.
Jack ... lihatlah. Hari ini kau sakiti aku, suatu saat kau akan merasakan sakit yang lebih hebat dari yang kurasakan ini. Aku membencimu, Jack!
Langkah kakiku terdengar cepat saat meninggalkan ruangannya. Bianca pun terlihat menepis-nepiskan tangannya agar aku segera keluar dari ruangan. Hari ini keputusan pahit kudapatkan. Padahal bukan itu yang kunantikan. Jackson telah mengakhiri hubungan kami. Dan bodoh rasanya jika aku masih terus berharap kepadanya. Seakan tidak ada lagi pria di bumi ini.
Satu jam kemudian, di Restoran Blue Sea...
"Cecilia, sudah hentikan!" Angela menahanku untuk meneguk gelas anggur berikutnya.
"Aku tidak bisa, Angela. Aku tidak bisa." Aku terus meneguk anggurku.
"Cecilia, kau bodoh, Cecilia! Kau menghabiskan waktumu, menyiksa dirimu, sedang dia bersenang-senang di sana. Hentikan kataku!" Angela mengambil botol anggur beserta gelasnya dariku.
__ADS_1
Kami sedang duduk di ruangan yang berada di paling sudut restorannya. Di mana terdapat ruangan privat mirip seperti karoke keluarga. Aku pun menyetel musik kuat-kuat hingga tidak memedulikan lagi sistem pendengaranku. Aku frustrasi.
Ya, jujur saja aku frustrasi. Setelah dibuat menunggu lama, akhirnya aku mendapatkan keputusan yang menyakitkan. Sampai sekarang aku masih tidak percaya dengan apa yang Jackson katakan. Dia benar-benar kejam dan tidak berhati nurani. Aku pun dendam seumur hidupku.
"Jangan jadi orang bodoh, Cecilia! Masa depanmu masih panjang!" Angela menyingkirkan semua minuman lalu menggantikannya dengan air mineral.
Aku merebahkan punggung ke sofa. Aku lemas, tak berdaya. Rasanya ingin sekali berteriak sambil bertelanjang mengelilingi restoran ini. Hatiku sakit sekali.
"Hah ...." Aku yang hampir mabuk pun hanya bisa lemas menghadapi kenyataan.
Angela mendekatiku, duduk di sampingku. "Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Jackson. Jackson juga tidak memberi penjelasan apapun padaku. Dia hanya membalas pesanku dengan kata iya atau tidak. Sepertinya memang sengaja menghindariku, entah apa maksudnya." Angela menuturkan.
Aku datang ke restorannya dengan hati yang kacau-balau. Angela pun menyadari perubahan sikapku hingga membawaku ke ruangan ini. Lalu akhirnya aku memesan banyak minuman. Aku ingin melupakan semuanya.
Aku memegang kepalaku sendiri. "Semua sudah berakhir. Aku tidak bisa tetap di sini. Aku harus pergi, Angela. Pinjamkan aku paspor dan tanda pengenalmu. Aku ingin pergi," kataku yang sudah pusing sekali.
"Kau mau ke mana, Cecilia?" tanyanya prihatin.
"Aku mau pergi ke luar negeri. Aku tidak mau berada di kota ini lagi." Kata-kata itu terucap begitu saja.
Angela menarikku agar merebahkan kepala di pundaknya. "Adikku, bersabarlah. Anggap semua ini penebus dosa-dosamu. Mungkin Tuhan ingin memberikan yang terbaik untukmu." Angela berusaha menenangkanku.
Mendengarnya aku semakin menggila. Air mataku keluar dan rasa sesak seolah memenuhi seluruh rongga dadaku. Aku tidak kuat menghadapi hal ini. Jackson benar-benar kejam sekali. Dia tidak mengingat lagi apa yang telah aku lalui untuk sampai ke detik ini. Aku sangat membencinya!
"Sekarang tenangkan dirimu. Anggap saja tidak terjadi apa-apa hari ini. Kau pasti bisa." Angela memegang pipiku dengan kedua tangannya.
Aku tidak menjawab, aku segera memeluknya. Tak ada yang kupunya selain dirinya. Aku hanya sebatang kara di sini. Ditambah lagi ucapan terakhir dari pria itu, semakin merenggut jiwaku. Aku jatuh lagi. Namun, kali ini jatuh ke dalam jurang yang lebih dalam. Lalu siapakah yang bisa menolongku?
"Tapi aku tetap meminjam paspor dan tanda pengenalmu, ya." Aku meminta.
"Ya, baik. Nanti akan aku berikan. Tapi untuk sementara tenangkan dulu dirimu. Setelah merasa yakin dengan keputusanmu, aku akan memberikan semua hal yang kau butuhkan." Angela berjanji.
__ADS_1
Kutahu Angela kasihan padaku. Kutahu jika dia begitu peduli terhadapku. Dia sudah seperti kakak kandungku sendiri. Walau pada kenyataannya kami berbeda ayah dan ibu. Tapi ternyata perbedaan itu malah mendekatkan kami.
Lantas aku mengangguk, menuruti saran darinya untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Semoga saja aku bisa membuat keputusan yang benar untuk masa depanku. Ya, walaupun sekarang nyatanya aku sedang didera kepahitan.