Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Kaget


__ADS_3

...Clara...



.........


Sesampainya di kantor...


Kami tiba di kantor tepat pada pukul 7.30 pagi. Jackson pun langsung masuk ke ruangannya. Ada beberapa hal yang harus dia susun sendiri untuk rapat nanti sore, dan meminta untuk tidak diganggu siapapun. Sehingga semua telepon masuk dialihkan kepadaku.


Baru saja duduk di kursi, Clara datang dengan wajah berseri-seri. Dia memberikan dokumen untuk kuantar pagi ini. Tapi kuberi tahu dirinya jika Jackson sedang tidak bisa diganggu. Jadi dokumen dari Clara tertahan di laciku.


Clara lalu menarik kursi, duduk di sampingku. Pagi ini dandanannya tampak berbeda sekali. Tumben-tumbenan mengenakan celana dasar hitam panjang, biasanya dia selalu mengenakan rok sebatas lutut.


"Ada apa?" tanyaku seraya membersihkan meja kerja dengan tisu.


"Cecilia, aku ingin meneruskan yang kemarin," katanya.


"Masalah dansa?" tanyaku lalu duduk di kursi.


"He-em." Clara seperti sangat berharap aku datang.


Entah apa yang terjadi, Clara seperti ngebet sekali ingin mengajak ku datang ke pesta dansa perusahaan Hadden. Aku jadi curiga jika hal ini ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Aku juga harus tetap berhati-hati kepada Clara karena tidak tahu dia berada di pihak mana. Walaupun dia sudah menceritakan bawaan Jackson, tetapi tetap saja aku harus waspada.


Di dunia bisnis ini apa saja bisa terjadi. Teman jadi lawan, lawan jadi teman. Tergantung siapa yang lebih menguntungkan. Maka dari itu aku tidak pernah tertarik dengan dunia seperti ini. Aku lebih memilih pekerjaan yang jual-putus saja. Sekali transaksi hasilnya besar dan tidak berkesinambungan seperti bekerja di dunia bisnis.


Lantas aku ingin mengorek informasi dari Clara sebelum jam kantor tiba. "Memangnya ada apa di sana?" tanyaku, sambil mengambil sachet kopi dari laci.


"Aku tidak punya teman untuk datang ke sana, Cecilia. Sedang kalau sendiri malu," katanya polos.


Clara memang polos sekali. Mungkin aku bisa memercayainya. "Lalu?" tanyaku.

__ADS_1


"Aku ingin mencari jodoh di sana. Biasanya tuan Hadden mendatangkan semua pebisnis di acara perusahaannya. Kali-kali aku dapat." Dia tersenyum semringah di depanku.


Astaga ... jadi ini alasannya mengajak ku datang? Dia ternyata ingin menjadikanku umpan bos besar yang ada di sana?


Aku jadi tersenyum terpaksa kepadanya lalu menuang serbuk kopiku ke dalam gelas. Aku diamkan saja dirinya karena ajakannya tidak mengenakkan buatku.


"Ayolah, Cecilia. Aku bilang dari sekarang agar kau bersiap-siap. Mungkin mau memesan baju dulu," katanya memohon.


Aku beranjak berdiri, menuju dispenser air panas yang ada di seberang mejaku. Clara pun mengikuti. Dia begitu kukuh ingin mengajak ku ke pesta dansa.


"Tidak ada yang gratis. Kau berani membayarku berapa?" tanyaku sambil mengaduk kopi yang kubuat.


"Kau mau apa?" Dia balik bertanya. "Tapi jangan mahal-mahal, ya. Kan belum ada hasil." Dia nyengir tak karuan di depanku.


Pagi ini aku merasa atmosfer di sekitarku berubah menjadi sangat aneh. Clara seperti tahu jika pekerjaanku yang sebenarnya adalah seorang wanita penggoda. Tapi ya jelas saja dia tahu, waktu itu kan Bianca mengumumkannya lewat secarik kertas yang disebarkan ke seluruh karyawan di gedung ini.


Aku menghela napas panjang. "Tanggal berapa?" tanyaku lagi.


Lantas aku berpikir.


"Jangan lama-lama berpikir ya, Cecilia. Nanti akunya terburu tua dan belum dapat jodoh." Dia lalu pergi meninggalkanku.


Eh? Apa maksudnya berkata seperti itu? Memangnya usianya berapa? Atau jangan-jangan dia menyindirku?


Pagi ini ada-ada saja ulah Clara yang memintaku untuk datang ke pesta dansa perusahaan Hadden. Aku tidak tahu Jackson akan membolehkannya atau tidak. Aku juga belum pasti ada acara apa nanti. Tapi kata orang sih, tolong-menolong dalam kebaikan akan membuahkan kebaikan. Mungkin dengan membantu Clara mencari jodoh, aku juga bisa dapat jodoh. Jadi ya sudah, sementara fokus ke pekerjaan dulu, baru yang lainnya. Aku akan menimbang ulang ajakan Clara ke pesta dansa perusahaan Hadden.


Sore harinya...


Tepat pukul empat sore seluruh jajaran divisi PT Samudera Raya berkumpul di ruang rapat. Aku menemani Jackson dalam memaparkan hasil kinerja tiap divisi. Aku ikut mencatat hal apa saja yang kuanggap penting untuk dilaporkan. Aku juga membantu Jackson mengambilkan peralatan yang dia butuhkan. Aku bersikap seprofesional mungkin dalam pekerjaan.


"Samudera Raya mengalami minus gross margin pada bulan November. Apakah ada kendala di operasional?" tanya Jackson kepada jajarannya.

__ADS_1


Satu per satu jajaran operasional menuturkan mengapa hal itu bisa terjadi. Kulihat Andreas hanya diam sambil mendengarkan penjelasan setiap kepala divisi. Dia juga sesekali melirik ke arahku, seolah mengingatkan akan tawaran darinya. Tapi aku juga diam saja, hanya fokus kepada rapat dan tidak memedulikannya. Saat bekerja ya bekerja. Seprofesional mungkin kutunjukan di hadapannya.


Lantas Jackson memperlihatkan layar proyeksi tentang naik-turun keuntungan perusahaan dalam satu tahun belakangan. Aku sendiri hanya bisa memperhatikan seberapa besar perusahaan mengalami peningkatan. Tapi sayang di bulan November kemarin harus mengalami penurunan.


"Bursa saham sedang melonjak karena pasokan bahan bakar berkurang. Aku harap kita dapat meminimalisir biaya angkut untuk menutupi penurunan bulan kemarin. Kalian mengerti?" tanya Jackson kepada jajarannya.


"Mengerti." Jajarannya menjawab serempak.


Tiba-tiba saja aku jadi penasaran dengan pengeluaran biaya kemarin. Kenapa bisa begitu besar, tidak seperti bulan-bulan sebelumnya? Aku jadi curiga jika ada permainan nota bensin di sini, sehingga biaya angkut melonjak tinggi.


Aku harus mencari tahu.


Lantas rapat diteruskan hingga menjelang petang. Aku sendiri fokus menemani Jackson hingga rapat selesai. Ke manapun dirinya akan kutemani. Aku sudah terlanjur cinta padanya. Pada si bos bermuram wajah yang ternyata mesum sekali.


Malam harinya...


Jackson mengantarkanku pulang sehabis rapat sampai ke depan pintu apartemen. Tapi, dia segera pergi karena ada hal yang harus diurusnya. Entah berkenaan dengan apa, tapi sepertinya dia akan melakukan sidak dana pasar dengan timnya. Ya semoga saja hasilnya memuaskan.


Aku sendiri segera mandi untuk melepas lelah dari aktivitas hari ini. Dan kini baru saja bersantai di atas kasur setelah mengenakan baju tidur bermotif beruang madu. Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam waktu setempat. Jadi ya sudah, aku pun berselancar ria di internet untuk menghibur hatiku sesaat.


...


Lama sudah jika browsing di internet. Sampai-sampai tidak mengenal waktu sudah jam berapa ini. Dan kulihat kini sudah hampir pukul sepuluh malam. Sudah tiba bagiku untuk beristirahat. Namun, tak beberapa lama kudengar bel apartemenku berbunyi. Lantas aku segera melangkahkan kaki menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


Jangan-jangan si mesum?


Dengan hati riang gembira aku melangkahkan kaki menuju pintu. Kubuka pintu apartemenku lalu kulihat siapa yang datang. Dan ternyata yang datang adalah...


"Nyonya?!"


Aku terkejut saat mengetahui jika Zea lah yang datang. Wanita berdres kimono biru, bermotif bunga itu datang dengan wajah sinisnya. Sontak jantungku berdegup kencang melihat kedatangannya.

__ADS_1


__ADS_2