Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Kau Milikku!


__ADS_3

"Tu-tuan?!!"


Kutatap sekeliling atap klub ini, dan ternyata hanya ada kami berdua saja. Entah bagaimana ceritanya, dia tiba-tiba sudah berada di sini, di belakangku saat menelepon Angela tadi.


Jangan-jangan dia mendengar semua percakapanku? Tapi, bukannya dia tidak ada tadi?


Aku berharap suara itu bukanlah suaranya. Namun ternyata, memang benar suara Jackson. Dia menghampiriku saat menelepon Angela. Dan kini aku bingung, alasan apa lagi yang harus kubuat untuk mengelabuinya? Jackson bukanlah pria bodoh. Mungkin dia sudah tidak percaya lagi dengan semua perkataanku. Aku jadi hanya bisa menjadi kucing liarnya saja. Selain itu aku belum menemukan cara untuk melepaskan diri dari kekejamannya.


"Cecilia-cecilia." Dia menyebut namaku berulang. "Apa kau pikir bisa dengan mudah melarikan diri dariku?" tanyanya dengan tatapan membunuh. "Asal kau tahu, kau tidak akan pernah bisa lari ataupun kabur begitu saja. Kau ... milikku!" katanya dengan intonasi yang amat meyakinkan.


"Tu-tuan ...."


Entah apa maksudnya, terkadang aku ambigu untuk mengartikan kata-kata darinya. Aku jadi takut salah menilai lagi yang mana akan membuatku malu dan membuyarkan fokus pikiranku. Andai aku mempunyai kekuatan untuk menembus hati seseorang, pastilah sudah kulihat isi hatinya. Aku ingin tahu isi hatinya tentangku. Siapakah aku di matanya? Benarkah dia mempunyai perasaan padaku? Atau hubungan malam itu hanya sebagai pelampiasan hasrat terpendamnya?


"Kita pulang!"


Dia segera berbalik setelah mengucapkan dua patah kata itu. Tanpa memedulikan bagaimana aku yang terpaku karena kata-katanya. Tapi, untuk sementara ini lebih baik kuperbaiki saja sikapku padanya. Merendah sedikit atau banyak pun tak apa, untuk menyelamatkan nyawaku yang cuma satu-satunya. Aku tidak ingin mati sia-sia di tangannya. Di tangan seorang pria yang telah merebut keperawananku.


Beberapa saat kemudian...


Kami pulang bersama dengan menaiki kapal pesiar milik dari bos klub yang kami kunjungi. Aku pun masih mengenakan gaun yang tadi. Jackson tidak ingin aku mengenakan pakaian kantoran lagi. Entah mengapa, sepertinya aku memang sudah dianggap sebagai peliharaannya.


Sepanjang pulang menuju dermaga, aku dan Jackson duduk di dalam kapal sambil menikmati hidangan yang disediakan. Tapi kami sedari tadi berdiaman, tidak berbicara sepatah katapun. Hingga akhirnya kami sampai di dermaga.


"Tuan, tunggu aku!"


Sesampainya di dermaga, Jackson segera meninggalkanku. Dia berjalan duluan, seperti benar-benar ingin menyiksaku. Rasanya lelah sekali, sampai harus melepas sepatuku ini. Dan saat masuk ke dalam mobil, kakiku terasa lecet-lecet semua.


"Jalan!" katanya kepada supir.


"Kita ke mana, Tuan?" tanya supir sambil melajukan mobil.

__ADS_1


"Apartemen Cecilia," katanya yang membuatku terperangah.


"Tu-tuan, kenapa ke apartemenku?" Aku terperanjat saat dia bilang ingin ke apartemenku.


"Kau tidak ingin diantar?" Dia bertanya balik.


Hawa membunuh kurasakan dari setiap intonasi bicaranya. Aku pun jadi menelan ludah sendiri. Kutahu jika Jackson sedang marah padaku. Dan suasana seperti ini tidak boleh kubiarkan terlalu lama. Sebisa mungkin aku tidak membuatnya marah lagi, entah bagaimana caranya. Aku harus bisa mengambil hatinya karena sudah tertangkap basah. Andai tidak tertangkap, mungkin aku sudah menjauh darinya. Toh, perasaanku padanya belumlah terlalu dalam. Aku baru saja menyukainya.


Kenapa mengantuk sekali, ya?


Baru saja mobil melaju beberapa puluh meter dari dermaga, rasa kantuk datang menerjangku. Aku jadi tidak kuat untuk tersadar lebih lama. Akhirnya, aku pun nekat untuk merebahkan diri padanya.


"Tuan, pinjamkan aku pangkuanmu sebentar, ya?"


Aku berkata seperti itu sambil merebahkan kepalaku di atas pangkuannya. Aku tidur di kursi belakang mobil, sedang dia masih membaca pesan masuk di ponselnya. Dan kulihat dia diam saja, tidak menjawab apapun perkataanku. Lantas kuusap pahanya bak bantal guling yang nyaman. Aku tidak peduli dengan apa yang akan dia lakukan saat aku tertidur nanti. Aku sudah ngantuk dan capek sekali.


Beberapa jam kemudian....


Ternyata aku benar-benar lelah. Saat bangun kulihat sudah berada di tempat tidur dengan gorden jendela yang tertutup. Kulihat jam di dinding ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat. Rasa-rasanya aku kebablasan tidur.


Lantas aku bangun lalu mandi menggunakan air hangat. Kulihat tubuhku masih mengenakan gaun yang tadi tanpa terbuka sedikitpun. Sepertinya Jackson benar-benar menjagaku sampai tiba di sini. Ya sudah. Lebih baik segera kusegarkan tubuhku ini.


Selepas mandi, kukenakan daster biru polos tanpa lengan setinggi lutut. Aku memang selalu mengenakan daster dengan tali di bahu saat sendiri. Ya mungkin karena memang sudah terbiasa memakai tengtop, jadi sukanya daster seperti ini.


Kuhanduki rambut lalu menyisirinya. Aku keluar dari kamar berniat menyeduh teh untuk menghangatkan badan. Tapi, saat melihat ke arah ruang tamu, aku terkejut bukan main melihat dirinya sedang berbicara di telepon dengan kondisi laptop yang masih hidup. Ternyata Jackson belum pulang dari apartemenku.


Mau ngapain dia malam-malam di sini?


Lantas aku berjalan mendekatinya. "Tuan, Anda belum pulang?" tanyaku terus terang.


Dia menoleh ke arahku lalu mengakhiri teleponnya. "Kau sudah bangun." Dia masih mengetik sesuatu di laptopnya.

__ADS_1


"Tuan, Anda seharusnya—"


"Buatkan aku teh, Cecilia. Bisa?" tanyanya dengan nada memaksa.


Seketika itu semua perkataan dalam pikiranku hilang dalam sekejap. Aku tidak ingin dia menginap di tempatku malam ini. Tapi, dia masih juga ada di sini.


Bagaimana ini? Jika dia di sini kejadian itu bisa terulang lagi!


Kuputar otak dengan cepat sambil beranjak menuju dapur. Kubuatkan dua cangkir teh hangat untukku dan untuknya. Lantas aku ke kamar mandi sebentar untuk meminta bantuan Angela, sebelum teh itu kuhidangkan kepada Jackson.


Di kamar mandi...


"Angela, cepat angkat teleponku!"


Aku gupek bukan main malam ini. Jackson masih berada di apartemenku. Aku tidak ingin semuanya terulang kembali. Cukup sekali saja aku mengalaminya dan tidak ingin terjadi dua-tiga kali. Aku harus menjaga batasan dengannya. Terlebih dia masih berstatus suami dari seorang wanita.


"Halo?"


Setelah lama menunggu, akhirnya Angela menjawab telepon dariku. Nada suaranya terdengar serak, mungkin dia baru saja terbangun sekarang.


"Angela, tolong aku!" Aku meminta padanya.


"Cecilia, ada apa?!" tanyanya dari seberang.


Kuceritakan keadaanku sekarang padanya. Dan Angela pun segera merespon cepat hal yang kuceritakan ini. Tapi ternyata, dia tidak bersedia untuk membantuku.


"Cecilia, aku tidak ingin menyinggung Jackson. Dia bisa marah dan hal itu akan berimbas padaku jika hal ini sampai ketahuan." Angela keberatan untuk membantuku.


"Please, tolong aku, Angela. Aku tidak tahu harus bagaimana. Dia masih berada di apartemenku. Aku tidak ingin dia di sini. Bisa-bisa hal itu terjadi kembali."


Tidak ada alasan lain mengapa pria tidur di tempat wanita jika tidak menginginkan hal itu. Jadi aku meminta dengan segenap hati kepada Angela agar menolongku. Karena jika tidak, Jackson akan kembali menyiksaku dengan permainannya.

__ADS_1


"Baiklah, tapi aku menelepon saja. Tidak ke sana," katanya lalu memberi tahu rencana apa yang akan kami lakukan.


Lantas aku mengiyakan dan menuruti semua saran darinya. Dan setelah selesai, kumatikan teleponku terlebih dahulu lalu kembali ke meja dapur. Kubawakan teh untuk Jackson sambil memegang ponselku. Tak lama Angela pun menelepon. Di depan Jackson kuhidupkan speaker agar terdengar olehnya.


__ADS_2