Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Berdebar


__ADS_3

Sesampainya di Restoran Blue Sea...


Jam di mobil menunjukkan pukul setengah tujuh malam saat aku tiba di halaman parkir restoran ini. Kulihat pemandangan menjelang malam tidaklah seramai tadi. Hiruk-pikuk kendaraan mulai berkurang dan jalanan juga terlihat lebih lebar. Biasanya pukul lima sampai enam sore memang harus mengalami kemacetan karena jam pulang kantor.


Dari kantor tadi aku berangkat pada pukul setengah enam jadi tidak terlalu mengalami kemacetan. Sekalian menunggu Jackson menyelesaikan urusannya hari ini. Tapi ternyata, dia masih ada urusan yang harus ditangani. Jadi ya aku pulang duluan saja. Jackson juga seperti tidak bisa diganggu di dalam ruangan.


Kini kupandangi restoran milik sahabatku dari halaman parkir depan. Aku berdandan dulu sebelum bertemu dengan Hadden. Kuambil parfum dari dalam tas lalu kusemprotkan ke seluruh tubuh agar lebih percaya diri. Hadden adalah seorang bos besar, sama seperti Jackson. Tidak mungkin aku menemuinya dalam kondisi acak-acakan.


Selesai menyemprotkan parfum, kumatikan mesin mobil lalu mengambil ponsel dari dalam tas. Aku berniat menelepon Angela untuk menanyakan keberadaannya. Jika dia masih di restoran, mungkin saja aku bisa meminta bantuannya.


"Halo?" Teleponku ternyata segera diangkat oleh Angela.


"Angela, kau di mana? Aku di depan restoranmu," kataku.


"Cecilia, aku sudah di rumah sejak pukul lima tadi. Ada apa?" tanyanya dengan nada khawatir.


Kutahu jika Angela begitu peduli padaku. "Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya saja Hadden memintaku bertemu di restoran ini," jawabku.


"Di restoran? Ruangan nomor berapa?" tanyanya antusias.


"Aku tidak tahu. Dia tidak memberi tahuku ruangan nomor berapa. Sepertinya dia ingin menyambutku langsung." Aku sambil memoleskan lipglos berwarna pink ke bibir.


"Hati-hati, Cecilia. Setiap kata yang kau ucapkan bisa menjadi senjatanya. Jaga dirimu." Angela berpesan padaku.


Aku tersenyum, merasa senang karena Angela begitu perhatian padaku. Aku seperti mempunyai seorang kakak yang begitu peduli dan mengkhawatirkan keadaanku.


"Doakan aku, ya. Kalau begitu selamat bermalam dengan suamimu." Aku berniat mengakhiri telepon ini.


"Kau juga, selamat bermalam dengan kesendirianmu." Dia seperti mengejekku.


"Angela!" Aku pun kesal mendengarnya.

__ADS_1


"Hahaha." Dia lantas tertawa. "Hati-hati, Cecilia. Terus berhati-hati." Dia mengingatkan kembali.


"Baik, terima kasih. Sampai nanti." Aku mengiyakan lalu segera mematikan sambungan telepon kami.


Saat ini harus kuakui jika hanya mempunyai Angela seorang. Pertemuanku dengan Angela waktu itu mungkin karena Tuhan kasihan padaku. Aku bekerja serabutan hanya untuk bisa makan sehari-hari. Tempat tinggal pun harus berteduh di bawah belas kasihan orang, bersama dengan tunawisma lainnya.


Sungguh mengenaskan sebelum bertemu dengannya. Tapi setelah bertemu dengan Angela, aku bisa sekolah dan juga belajar di bidang ini. Dia mengajariku bagaimana mencari uang dengan mudah dan aku amat ketagihan melakoninya.


Dulu aku sering ikut Angela bertemu dengan nyonya-nyonya yang mempekerjakannya. Sampai akhirnya Angela berani melepasku saat usiaku sudah cukup matang untuk bekerja sendiri di bidang ini.


Aku masih ingat pertama kali bekerja saat usiaku baru saja berumur dua puluh tahun. Dan ciuman pertamaku direbut seorang duda kaya yang entah ke mana dia sekarang. Aku dipekerjakan oleh wanita yang ingin menjadi istrinya untuk mengusir wanita-wanita lain yang ada di dekatnya. Saat itu imbalan pertamaku dua puluh juta, besar sekali untuk ukuranku waktu itu.


"Baiklah, sudah siap."


Seiring berjalannya waktu, imbalan yang kuterima semakin lama semakin besar karena kinerjaku memuaskan. Tak jarang aku mendapatkan bonus berlipat ganda karena berhasil menyelesaikan tugas kurang dari waktu yang disepakati. Tapi, hal itu tidak berlaku saat menghadapi Jackson. Aku harus mengalami banyak kendala di sini.


Aku pikir Jackson sama seperti pria-pria sebelumnya yang mudah dirayu dan dibujuk. Tapi nyatanya dia sangat sulit ditaklukkan. Dia tidak seperti pria hidung belang yang mudah kutangani. Pertahanannya sangat kokoh dan sulit untuk ditembus. Sialnya, setelah berhasil menembus pertahanannya, pertahananku juga harus ikut runtuh. Dia seperti tidak mau rugi sama sekali.


Di mana mobil Hadden?


Aku keluar dari mobil sambil membawa tas, tapi tidak kulihat ada mobil Hadden di sini. Mobil yang diparkirkan di depan restoran belum terlalu banyak.


"Cecilia."


Tiba-tiba saja kudengar suara itu. Jantungku berdegup kencang saat mendengarnya. Suara yang kukenal tiba-tiba terdengar dari jarak dekat. Lantas kubalikkan badan ini untuk memastikan siapa yang menyebut namaku. Dan ternyata memang Hadden. Dia sudah ada di belakangku.


"Tuan, Anda dari tadi di sini?" Aku bertanya seraya tersenyum untuk menutupi rasa grogi di hati.


"Lama sekali. Sedang apa?" Sepertinya dia ingin tahu apa yang aku lakukan di dalam mobil.


Sontak aku merasa jika Hadden mengintaiku sedari tadi. Jangan-jangan dia juga mendengar percakapanku dengan Angela? Astaga, gawat!

__ADS_1


Sebisa mungkin aku bersikap biasa saja padanya. Lantas kutebarkan senyuman termanis yang kupunya untuk menutupi kecanggungan ini.


"Aku berdandan dulu tadi. Kita segera masuk?" tanyaku sambil melirik ke arah restoran.


"Mari." Dia kemudian merangkul lenganku.


Saat itu juga tercium aroma peppermint dari tubuhnya yang tidak kusukai. Tapi demi kebebasanku, aku harus berlagak seperti Cecilia yang dulu. Sebisa mungkin memainkan peran sampai kebebasan itu kudapatkan.


Kami akhirnya berjalan bersama, masuk ke dalam restoran ini. Pria paruh baya di sampingku memang tidak bisa dipungkiri jika memiliki kharisma yang luar biasa. Terbukti dengan banyaknya wanita yang berhasil ditaklukkan olehnya. Selain uang, tentu ada hal lain yang bisa dia berikan kepada setiap wanitanya. Tapi sayang, kepastian akan pernikahan itu tidak bisa dia berikan.


"Tuan, kita mau ke ruangan mana?" tanyaku, saat sudah berada di dalam restoran yang terlihat masih sepi.


"Kita ke ruangan nomor dua dari ujung." Dia menjawabnya sambil menunjuk posisi ruangan itu berada. Sontak membuat jantungku berpacu cepat.


Astaga! Dia mau ke ruangan nomor dua dari ujung? Jangan-jangan?!!


Kutelan ludahku seraya mengambil napas panjang. Aku berusaha bersikap biasa saat mengetahui di ruangan mana Hadden ingin mengajak ku mengobrol. Ternyata ruangan yang dia pilih adalah ruangan saat aku menguping pembicaraannya bersama Oliver. Sungguh jantungku dag-dig-dug tak karuan. Aku takut mata-mataku kemarin diketahui olehnya.


Ya Tuhan, tolong aku.


Lantas kami segera masuk ke ruangan yang dituju. Hadden pun duduk tepat di mana aku duduk kemarin. Napasku mulai terasa berat, khawatir dia mengetahui mata-mataku. Jangan-jangan hari ini juga dia ingin menangkapku karena telah menguping pembicaraannya kemarin.


Ini gawat!


Tak beberapa lama pelayan datang menawarkan pesanan, dengan segera aku memesan makanan yang kuinginkan tanpa mengkhawatirkan berapa mahal harganya. Di depanku sudah ada Hadden, pastinya dia bisa membayar apa saja yang kupesan. Toh, aku juga menjadi Cecilia yang materialistis seperti dulu. Jadi ya sekalian, sambil menyelam meminum air. Asal jangan sampai kembung saja.


"Ada yang ingin aku bicarakan, Cecilia," katanya, setelah daftar pesanan kami diterima pelayan restoran.


"Tentang apa, Tuan?" tanyaku segera.


"Tentangmu," katanya, yang membuat jantungku berdetak kencang.

__ADS_1


__ADS_2