
Beberapa hari kemudian...
Rasa rindu dan penasaran sudah tidak bisa terbendung lagi. Sampai detik ini Jackson belum juga menghubungiku, membuatku kesal dan rindu setengah mati. Aku harus mencari tahu ada apa gerangan ini. Aku tidak boleh diam saja dan terus-terusan menunggu. Aku butuh kepastian.
Pagi ini kondisi tubuhku sudah lebih membaik dari sebelumnya. Obat antibiotik juga sudah habis dan perutku sudah tidak terasa sakit lagi. Aku juga lebih banyak minum air putih dan konsumsi buah-buahan sekarang. Alhasil tubuhku menjadi segar kembali. Aku pun segera bersiap-siap untuk menemui pria berwajah muram itu. Aku amat merindukannya.
Kulihat jam di dinding ruangan sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Aku juga sudah mandi dan mengeringkan rambutku. Segera saja kukenakan setelan seragam bisnis berwarna peach. Polesan make up minimalis dengan warna oranye ikut mendominasi wajahku. Aku siap untuk mencari tahu kenapa Jackson belum juga menghubungiku sampai sekarang. Aku penasaran sekali.
Parfum ajaib dari Angela selalu kubawa ke mana saja. Tapi tidak kuletakkan di dalam tas melainkan di saku celana agar mudah mengambilnya. Kejadian kemarin cukup menjadi pelajaran bagiku jika parfum ini tidak bisa jauh-jauh, karena aku sangat membutuhkannya. Apalagi untuk keadaan mendesak dan tak terduga.
Lantas kusemprotkan parfum aroma kesukaanku. Aroma cokelat hitam yang pekat ke sekujur tubuh. Aku pun siap memberikan kejutan padanya. Aku akan datang hari ini ke Samudera Raya. Aku sudah bisa menyetir mobil sendiri, jadi aku akan mengendarai mobil untuk menuju ke sana.
Segera saja aku keluar dari apartemen lalu mengunci pintunya. Kulangkahkan kaki menuju parkiran gedung ini. Hari ini aku akan menemui si pria berwajah muram itu, Jackson Baldev.
Di perjalanan...
Aku masih setengah perjalanan menuju ke Samudera Raya. Dan kini sedang menerima telepon dari Angela. Angela mengabarkan jika dia sudah berhasil mendapatkan tiket masuknya. Tapi cuma satu. Itu berarti aku harus menyelidikinya sendiri.
"Jadi acaranya hari Minggu pukul sepuluh pagi?" tanyaku pada Angela di telepon.
"Iya. Acaranya satu harian. Semua akomodasi sudah kupersiapkan. Jadi kau tenang saja," katanya.
"Bayar lagi tidak?" tanyaku khawatir.
"Hahaha. Jika berhasil suruh priamu yang membayarnya. Siapapun itu aku minta bayaran dua kali lipat." Angela mencandaiku.
"Hah, dasar." Aku pun mengurut dada sendiri.
__ADS_1
Kuakui jika Angela mulai pelit sekarang. Timbul rasa penasaran mengapa dia bisa bersikap seperti itu. Sebelum-sebelumnya dia sangat loyal bahkan seringkali menraktirku. Tapi kenapa dia pelit sekali?
Apa dia sedang hamil, ya?
Aku pun jadi berpikir jika dia sedang hamil. Tapi saat itu juga aku berpikir kembali, apa bisa pria yang sudah lewat usia lima puluh tahun memberikan anak? Rasanya kecil kemungkinan akan terjadi. Tapi, jika Tuhan sudah berkehendak memang tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
"Kau jadi menemui Jackson?" tanyanya kemudian.
"Iya. Aku sudah hampir sampai di kantornya," jawabku sambil membelokkan setir mobil ke kiri.
"Hati-hati, Cecilia. Jika ada Zea, lebih baik pergi saja. Kau juga harus siap menerima kenyataan. Apapun yang kau lihat nanti, itu adalah jawaban dari kebimbanganmu selama ini. Kau harus kuat dan tegar menghadapinya." Angela menguatkanku.
"Ya. Aku rasa tidak bisa hanya diam untuk menunggunya datang. Sudah beberapa hari dia tidak ada kabar sama sekali. Hal ini membuatku curiga jika ada yang disembunyikan olehnya. Aku juga tidak mau dibuat menunggu terus seperti ini," kataku.
"Bagus! Kita tunjukkan bagaimana kekuatan seorang wanita. Semoga beruntung, Cecilia." Angela mendoakanku.
"Tiketnya hanya berupa barcode. Nanti kukabari lagi. Aku memang sudah mendapatkan tiketnya, tapi kesulitan log in untuk konfirmasi. Nanti aku isikan datamu dulu agar sesampainya di sana data tanda pengenal dan sistem sama." Dia menjelaskan.
"Serumit itu ya?" tanyaku lagi.
"Ya, begitulah. Acaranya memang sangat tertutup dan tidak bisa sembarang orang yang masuk. Sabar, ya. Aku akan mengusahakannya segera. Jangan khawatir." Angela meyakinkan.
"He-em. Baiklah. Kalau begitu kuteruskan perjalananku. Terima kasih, Angela. Sampai nanti." Aku pun berniat mengakhiri panggilan kami.
"Sampai nanti. Tetap semangat!" katanya lalu sambungan telepon kami pun terputus.
Kemarin-kemarin aku memang berdiskusi via telepon dengannya tentang rencanaku ini yang ingin menemui Jackson. Dan Angela amat setuju dengan rencanaku. Dia mendukungku untuk meminta kepastian atas hubungan ini. Dia ingin aku bahagia tanpa membuat kesalahan yang bisa menjadi boomerang nantinya. Sehingga akhirnya aku memutuskan untuk menemui Jackson.
__ADS_1
"Ah, akhirnya sampai juga."
Tak lama berselang, aku pun sampai di depan gedung Samudera Raya. Aku tidak peduli lagi dengan apa yang kulihat nanti. Jackson sudah dua kali membuatku menunggu. Aku harus bertindak untuk menghargai diriku sendiri. Apapun yang terjadi, aku harus siap menerimanya. Aku tidak boleh lemah dan menunjukkan ketergantungan padanya. Karena dia bisa saja semakin mempermainkanku dengan janjinya.
Beberapa menit kemudian di Samudera Raya...
Aku baru saja memarkirkan mobilku di lantai dasar gedung. Sengaja memilih parkiran di dalam agar tidak ketahuan jika aku datang. Lantas aku bergegas keluar dari mobil lalu menuju lift untuk sampai ke ruangannya. Aku pun meneleponnya saat berada di dalam lift. Namun, panggilanku tidak ada yang dijawab olehnya.
Aku kesal. Jujur saja sangat kesal dengan sikapnya seperti ini. Dia bilang sungguh-sungguh padaku. Tapi dia selalu membuatku terus menunggu. Hingga akhirnya datanglah batas akhir kesabaranku. Aku ingin meminta kepastian darinya. Aku tidak bisa terus diabaikan seperti ini.
Astaga ... sudah lima kali meneleponnya tapi tidak juga dijawab?
Hatiku kesal, dadaku juga berdebar kencang. Entah mengapa hari ini aku deg-degan untuk menemuinya. Lama sudah kami tidak bertemu, aku ingin sekali melampiaskan rindu. Tapi dia tidak juga menemuiku. Sebenarnya aku ini dianggap apa olehnya? Apa hanya sebatas pelampiasan hasrat semata?
"Selamat pagi, Nona Cecilia."
Akhirnya aku sampai juga di lantai di mana ruangan Jackson berada. Aku pun bertemu dengan berapa karyawan Samudera Raya yang menyapaku. Aku pun tersenyum kepada mereka lalu terus melangkahkan kaki menuju ruang kerja Jackson. Dan akhirnya aku semakin mendekati ruangan itu.
Apapun yang kulihat, aku harus siap. Aku tidak boleh pergi sebelum mendapat keputusan tentang hubungan ini.
Aku bertekad dalam hati tidak ingin selalu digantung seperti ini. Lalu akhirnya aku pun sampai di depan pintu ruang kerjanya. Melewati karyawan Samudera Raya yang tengah sibuk bekerja. Dengan segera kubuka pintu untuk melihat keberadaannya. Dan ternyata...
Astaga!
Saat itu juga aku terkejut melihat Bianca ada di ruangannya. Wanita itu seperti membelit tubuh Jackson dengan lekuk tubuhnya. Mirip seperti apa yang kulakukan saat pertama kali menggoda Jackson dalam menjalankan misiku. Apakah ini hukum karma untukku?
Lantas aku segera berjalan cepat ke arah Bianca yang berada di dekat Jackson. Aku tarik bajunya sampai dia memundurkan langkah kakinya ke belakang dengan cepat. Seketika Jackson dan Bianca menyadari kehadiranku.
__ADS_1