
Atmosfer sekitar berubah drastis kala Jackson membuka kaca matanya di depan kami. Dia seolah sedang menunjukkan betapa keren dan mewahnya penampilan yang dia miliki. Pria berwajah muram itu kemudian menatap ke arah Alexander dengan tatapan yang menyiratkan kebencian. Aku pun hanya bisa menelan ludah karena khawatir mereka akan berkelahi.
"Mobilmu menyulitkan mobilku untuk parkir, Tuan." Dia menegur Alexander terlebih dulu dibanding aku yang jaraknya lebih dekat dengannya. "Lain kali bawa halaman sendiri agar tidak menggunakan halaman orang." Dia berbicara lagi. Nada bicaranya terkesan amat jutek.
Sontak aku melihat ke sekeliling untuk membuktikan kebenaran yang dikatakan oleh Jackson. Dan kulihat halaman parkir Angkasa Grup ini ternyata cukup luas, mungkin bisa menampung 20-30 mobil dalam waktu bersamaan. Sedang sekarang hanya ada mobil Jackson, Alexander dan satu mobil yang entah milik siapa. Tapi mengapa Jackson sampai berkata seperti itu? Apakah ini kata-kata kiasan darinya?
"Oh, maaf. Aku tidak tahu jika mobil Anda terlalu besar, Tuan. Aku pikir masih muat." Alexander pun membalasnya tanpa segan.
Alexander seolah tidak takut kepada Jackson. Dia bak pejantan yang siap bertarung dengan pejantan lainnya untuk memperebutkan sang betina. Jackson pun menatap tajam ke arah Alexander seakan ingin melenyapkannya dalam sekejap.
"Kau lebih tidak tahu bagaimana pemilik mobil itu." Jackson mendongakkan kepala, seolah menantang Alexander.
Astaga ....
Saat itu juga jantungku berdetak semakin kencang. Aku amat khawatir jika terjadi perkelahian di sini. Yang mana tentunya tidak bisa kubiarkan. Karena bisa-bisa malah akan membuat heboh dunia perbisnisan.
Siapa yang tidak tahu track record Jackson? Para pengusaha kelas atas pasti tahu bagaimana cara bermain pria yang satu ini. Sedang Alexander sendiri katanya adalah anak dari pemilik Queen Club. Pastinya mereka juga mengenalinya.
Lantas aku berpikir cepat. Lekas-lekas berjalan ke arah Jackson tanpa memedulikan ada Alexander di belakangku. Aku pun berniat membawakan koper yang dipegang olehnya. Dengan senyum semringah aku menawarkan diri untuk membantu.
"Tuan, biar aku bawakan kopernya," kataku seraya tersenyum.
__ADS_1
Jackson melihatku sesaat. Ekspresi wajahnya datar menatapku. Entah apa yang ada di pikirannya, dia kemudian berkata, "Nggak perlu repot," katanya lalu membalikkan badan. Dia pun pergi berlalu dari hadapanku.
Tuan ....
Seketika itu juga hatiku seperti teriris. Jackson pergi begitu saja tanpa memedulikan perasaanku. Padahal aku berniat untuk membantunya. Namun nyatanya, dia malah mengabaikanku. Rasanya aku ini seperti tidak berarti lagi di matanya.
Tuan, sampai kapan kau akan terus seperti ini? Pergi semaumu dan kembali jika ada perlu.
Semilir angin pagi seolah menjadi saksi atas luka yang ditorehkan Jackson kembali. Dia bersikap tak peduli padaku. Seolah-olah aku tidak ada harga di matanya. Lalu jika sudah begini, aku harus apa?
Aku terdiam di tempat sambil menunduk sedih selepas melihat kepergiannya. Dia masuk ke dalam gedung Angkasa Grup tanpa memedulikanku yang berada di sini. Aku tidak tahu harus berbuat apa agar dia kembali padaku. Aku merasa sedang menemukan jalan buntu.
Apakah aku sebegitu hina di matanya? Atau apa karena dia sudah kembali bersama Zea sehingga melupakanku? Rasanya aku tidak kuat berlama-lama seperti ini. Aku ingin lari dari kenyataan. Melupakan semua kenangan indah yang telah tercipta.
"Cecilia."
"Tuan." Aku membalikkan badan, menghadapnya.
Angin pagi ini terasa menusuk sampai ke kulit, bahkan hingga menembus jantungku. Aku seperti kehilangan arah, kehilangan cahaya hidupku. Di manakah harus kucari cinta itu agar bisa terus bertahan hidup? Aku amat membutuhkannya, membutuhkan cinta yang membuatku semangat menjalani hidup. Tapi cinta itu seakan lenyap terbawa angin, dan tidak akan kembali lagi. Aku merasa harus segera pergi sebelum terluka lebih parah lagi.
"Cecilia, kau baik-baik saja?" tanyanya sambil menatap serius wajahku.
__ADS_1
Terbesit keinginan untuk menangis di pelukannya. Tapi, hal itu tidak mungkin kulakukan saat ini. Di sini adalah tempat terbuka yang dapat memicu pihak media mengambil gambar kami. Jadi sebisa mungkin kutahan diri, kutegarkan hati dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa padaku. Ya, walaupun pada kenyataannya hatiku amat sakit sekali.
"Tuan, aku masuk dulu. Terima kasih sudah mengantarkanku." Aku berpamitan padanya.
"Cecilia." Dia menahanku, memegang tangan ini. Aku pun berbalik kembali menghadapnya. "Aku menunggumu," katanya, seolah memberi kekuatan agar aku tidak berputus asa.
Alexander masih setia menungguku.
Sungguh hatiku terenyuh karena sikapnya. Andai aku lebih dulu bertemu dengannya, tentunya hidupku tidak akan sekacau ini. Mungkin saja aku sudah bahagia dan tidak ada air mata lagi. Tapi, jalan takdir menuliskannya seperti ini. Aku harus bertemu dengan Jackson dulu, baru bertemu dengan Alexander. Mau tak mau aku pun harus menerimanya.
"Terima kasih, Tuan."
Aku mengangguk lalu melepaskan tangan darinya. Aku berjalan masuk ke dalam gedung Angkasa Grup sambil menahan sesak di dada. Rasa-rasanya aku tidak kuat menahan air mata, aku ingin menangis saja. Tak percaya jika pagi ini harus mengalami hal yang menyakitkan lagi. Pria yang kucintai kembali mengabaikanku.
Satu jam kemudian...
Satu per satu pemilik saham Angkasa Grup berdatangan ke ruang rapat. Hari ini Jackson akan mengadakan rapat serah terima Angkasa Grup kepada pihak Samudera Raya. Yang mana secara tidak langsung Angkasa Grup akan menjadi anak dari perusahaan besar ini. Dan Jackson berhak penuh atasnya.
Jackson adalah pemilik 50% saham Samudera Raya. Mau tak mau hal itu menjadikannya sebagai seorang bos besar sekaligus pimpinan di perusahaan. Semua kendali dipegang olehnya dan dia bisa berbuat apa saja, tanpa peduli berhadapan dengan siapa. Dia juga memintaku untuk ikut memegang saham di Angkasa Grup agar tidak memberi ruang kepada Hadden untuk memiliki saham di sini. Dan aku hanya bisa menurut, tidak dapat membantahnya. Mungkin saja aku ini tidak lebih dari sekedar boneka.
Apapun julukan yang ditujukan padaku, aku tetaplah Cecilia yang mempunyai hati dan terkadang terbawa perasaan sendiri. Aku tidak tahu ada motif apa dibalik semua ini. Apakah Jackson benar-benar mencintaiku atau hanya sekedar memanfaatkanku? Aku tidak bisa menebak isi hatinya. Aku terlalu bodoh untuk mengartikan sikapnya. Yang kubisa hanya terus menunggu dan menunggu.
__ADS_1
Kuakui jika posisiku sekarang lebih rumit jika dibandingkan yang dulu. Tapi, aku masih berharap kesempatan untuk bebas itu bisa kudapatkan. Entah dari siapa, aku akan menantinya.