
Makan malam...
Tepat pukul tujuh malam, semua kerabat dekat keluarga Liandra duduk di depan meja makan. Meja makan ini begitu besar dan panjang. Aku sendiri kebingungan harus duduk di mana kalau bukan Jenny yang mempersilakan. Akhirnya aku duduk di dekat Jenny yang mana di seberangku ada Hadden, Zea dan Jackson. Sedang di sampingku, beda dua kursi ada Andreas.
Ini benar-benar menegangkan.
Semua musuh Jackson berkumpul menjadi satu. Hingga akhirnya Jenny beranjak pergi untuk menyambut kedatangan seorang pria yang sudah berumur. Mungkin itu adalah Peter.
Jika benar Jackson memberikan Jenny untuk Peter, berarti dia tega sekali. Usia Jenny masih terbilang muda, tapi kenapa diberikan kepada Peter yang sudah tua. Aku jadi heran dengan Jackson. Apa maksudnya, ya?
Semua hadirin di depan meja makan berdiri untuk menyambut kedatangan pria tua itu. Aku pun ikut berdiri hingga akhirnya pria itu duduk di kursi tengah. Jenny kemudian menuangkan air minum untuk pria tersebut.
Tidak salah lagi, itu Peter.
Aku diam dan sesekali melihat ke arah Zea yang tampak muram. Di sisi kirinya ada Jackson dengan tampang dingin. Jackson amat berbeda saat berada di atas ranjang bersamaku, dia begitu hangat. Tidak seperti sekarang yang begitu dingin. Dan aku mencoba memaklumi hal itu.
Baiklah, mari kita mulai peperangan ini, Cecilia.
Batinku mencoba menguatkan agar tegar menghadapi hal yang terjadi. Sebisa mungkin kutunjukan jika aku biasa-biasa saja di hadapan mereka. Walau nyatanya Zea begitu tidak menyukai kedatanganku ke sini. Dia terlihat menahan kesal saat mengetahui aku juga datang. Tapi tak apalah, memang tidak ada pilihan lain selain mencari tahu sendiri akan kebenaran yang terjadi. Semoga saja sedikit demi sedikit aku bisa mengetahuinya sehingga hal yang kuusahakan ini tidaklah sia-sia belaka.
"Silakan duduk, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya."
Pria tua itu meminta kami duduk.
Kami akhirnya duduk, bersamaan dengan para pelayan yang berdatangan, membawakan hidangan pembuka untuk kami. Dan kulihat banyak salad buah dalam mangkuk yang dibawakan. Aku rasa jika sedang lapar, melahapnya hanya dalam hitungan detik saja.
Jaga keanggunan dirimu, Cecilia. Ini bukan rumahmu.
"Terima kasih sudah datang. Senang sekali bisa bertemu. Silakan dicicipi."
Aku pikir pria tua itu bersikap arogan kepada setiap orang. Namun nyatanya, dia begitu bersahabat, ramah dan low profile.
Lantas aku segera membuka menu makan malamku. Tanpa sengaja aku melihat ke arah Hadden yang ternyata selalu memperhatikanku. Dia terus saja melihatku, seperti enggan mengalihkan pandangan. Entah mengapa dia seperti itu, aku pun jadi risih sendiri. Namun, sebisa mungkin aku menutupi perasaan risih ini darinya.
Sepuluh menit kemudian...
__ADS_1
Hidangan utama disajikan. Gelas-gelas kaca mulai menghiasai meja makan. Meja makan ini ditempatkan di ruang utama keluarga, sehingga tampilannya begitu mewah dan juga nyaman.
Lilin-lilin merah dihidupkan, anggur merah dituangkan. Beberapa hidangan laut disajikan ke tengah-tengah kami. Dari aromanya seperti masakan restoran yang mahal. Wajar saja, yang memesan juga bukan orang sembarangan.
"Tuan Jackson dan Nona Zea kapan punya momongan?" Salah satu wanita bersanggul menanyakan hal itu kepada sepasang suami istri yang duduk di seberangku.
Zea berdehem. "Doakan saja. Secepatnya. Ya, Sayang?" Zea beralih kepada Jackson.
Jackson hanya diam.
"Cepatlah punya momongan agar ada yang meneruskan perusahan, Nona Zea." Wanita lain menambahkan.
Zea tersenyum tipis. "Aku juga inginnya begitu, Bi. Tapi bagaimana, ya. Sulit sekali menemui suamiku." Zea berkata seperti sedang bersandiwara di depan Peter dan kerabat dekatnya.
Entah mengapa atmosfer sekitar berubah menjadi canggung saat ada yang bertanya kapan keluarga Liandra mempunyai penerus perusahan. Zea langsung menjawabnya dengan mengatakan jika sulit untuk menemui Jackson. Seolah-olah sedang menyindir Jackson dengan mencari-cari kesalahannya di depan kerabat yang hadir. Sontak seisi meja makan terdiam, bersamaan dengan lirikan tajam Zea yang mengarah kepadaku.
Dia sudah menabuhkan genderang perang.
Kutahu jika Zea bukan lagi menjadi nyonya yang mempekerjakanku, namun sudah menjadi musuh. Dia pasti menaruh dendam karena waktu itu Jackson membelaku. Padahal kalau dipikir-pikir, harusnya dia sadar diri jika dia sendiri yang menyuruhku untuk menggoda suaminya. Jadi jangan salahkan aku jika Jackson benar-benar tergoda.
Tuan ...?!
Aku terkejut mendengar Jackson membalas ucapan Zea. Suasana makan malam semakin canggung karena adanya pernah dingin antara Zea dan Jackson. Seluruh kerabat dekat yang hadir pun hanya diam sambil menyantap makan malam. Mereka tidak berani berbicara apapun.
"Sayang, kau bisa meminta bantuanku. Aku pasti akan membantumu. Jangan meminta bantuan asistenmu." Zea melirikku tajam, dia menyindirku.
Jackson menoleh sesaat ke Zea. "Bagaimana bisa jika kau terlalu sibuk dengan peliharaanmu?" tanya Jackson dengan santainya.
Bagai petir di siang bolong. Jackson membalas sindiran Zea dengan kata-kata yang menohok. Dia membalas sindiran Zea dengan menyindir Andreas. Sontak Andreas berdehem. Dia seperti tersedak makanannya sendiri. Suasana makan malam semakin bertambah runyam kala perang dingin antara suami istri ini. Aku sendiri hanya bisa diam tanpa berbicara sepatah katapun.
"Zea, bantulah Jackson. Seorang suami pasti amat senang bila dibantu istrinya." Pria tua yang ternyata benar bernama Peter itu menengahi perang dingin ini.
"Baik, Ayah. Nanti aku akan mengusahakannya." Zea memberikan senyum palsunya.
"Lalu bagaimana dengan perkembangan usaha kalian?" tanya Peter lagi, dia berhenti sejenak dari suapan makan malamnya.
__ADS_1
"Perkembangan sangat bagus, Ayah." Jackson menjawabnya, seolah sedang pamer kepada Hadden. Namun, Hadden seperti tidak peduli. Dia terus saja melihat ke arahku. Aku jadi pusing sendiri dilihatnya.
Ngapain sih dia melihatku terus? Tidak ada kerjaan lain apa? Dasar buaya!
Tak tahu mengapa, pikiranku selalu saja buruk kepadanya. Saat Jackson mengatakan dia buaya, ditambah lagi penegasan dari wanita yang malam itu bersamanya, seolah-olah membenarkan jika Hadden tidak bisa menetap pada satu wanita. Terlebih kuketahui sendiri jika usia pernikahannya tidaklah lama. Menguatkan perkataan Jackson tentang Hadden waktu itu.
"Syukurlah. Kalau begitu kita selesaikan makan malam lalu segera berkaraoke ria." Peter amat bersahaja di hadapan kerabat dekatnya.
Aku merasa ada benarnya apa yang dikatakan oleh Jackson tentang Peter waktu itu. Ternyata Peter tidaklah searogan yang aku pikirkan. Biasanya orang-orang kaya bertindak seenaknya, tapi hal itu tidak kudapatkan dari pria tua ini. Atau memang akunya yang terlalu cepat menilai? Entahlah, kita lihat saja nanti.
Selepas makan malam...
Suasana makan malam jadi runyam karena perang dingin antara Jackson dan Zea. Dan kini sepasang suami istri itu tengah bergandengan tangan dengan mesra di hadapan kerabat dekatnya. Aku sendiri duduk di sekitaran kolam renang bersama Jenny. Sedang Peter tengah mengobrol bersama Hadden dan Andreas.
"Maaf ya, makan malamnya tidak berjalan dengan baik." Jenny berkata padaku.
Kami duduk di meja hadirin yang ada di pinggir kolam, ditemani hidangan ringan yang disajikan. Aku pun hanya bisa mendengarkan apa yang diucapkan Jenny karena suasana hati dan pikiranku sedang tidak menentu. Maklum saja, di ujung sana Jackson sedang digandeng mesra wanita lain, bukan diriku. Walaupun istrinya sendiri, entah mengapa aku merasa sakit hati.
"Tidak apa-apa, Nona." Aku menyebut Jenny dengan kata nona.
Jenny tersenyum. "Aku tidak tahu apa yang terjadi di keluarga ini jika belum mencoba masuk ke dalamnya." Jenny seperti sedang menceritakan kisah hidupnya padaku.
"Maksud Nona?" tanyaku ingin tahu.
"Aku pikir pemilik 25% saham dari PT Samudera Raya itu sangat arogan seperti kebanyakan pengusaha lainnya. Tapi ternyata tidak." Jenny menceritakan.
Dua puluh lima persen saham? Itu berarti ...?
Informasi bagus kudapatkan malam ini. Ternyata Peter adalah pemilik 25% saham PT Samudera Raya. Ini kesempatan baik bagiku untuk mengorek lebih dalam tentang Jackson dan Peter.
"Memangnya ada berapa orang pemilik saham di Samudera Raya, Nona?" tanyaku lagi.
Jenny dengan anggunnya meneguk secangkir teh hijau yang disediakan. Dia lalu menatap kekejauhan kemudian kembali melihat ke arahku. Seperti menyiratkan jika ada sesuatu hal yang sedang ditutupinya.
"Pemilik saham PT Samudera Raya tidaklah banyak, Nona. Bisa dihitung dengan jari. Tapi semuanya orang-orang terpilih," kata Jenny lagi.
__ADS_1
"Kalau tuan Jackson sendiri?" Aku mencari tahu.