
Sore harinya...
Langit terang mengantarkan kepulangan kami ke kota. Setelah liburan, Jackson langsung mengantarkanku pulang ke rumah dan memintaku untuk segera beristirahat. Perhatian kecil darinya membuat hatiku berbunga-bunga. Dia juga mengecup keningku sebelum pergi. Rasanya bahagia sekali.
Jackson segera pergi selepas mengantarkanku karena harus menemui kliennya. Dia akan membahas dana pasar tentang negoisasi harga bahan baku bangunan. Untuk lebih jelasnya sih aku kurang tahu, karena Jackson juga tidak banyak menceritakan. Tapi selepas sampai tadi, dia ditelepon dan segera berangkat. Semoga saja hasil negoisasinya memuaskan untuk kedua belah pihak.
PT Samudera Raya menggunakan bahan baku berkualitas tinggi yang harganya hampir dua kali lipat dari bahan baku biasa. Tentunya biaya pembangunan akan lebih besar. Tapi, istilah ada harga ada kualitas itu memang benar adanya. Terbukti sampai saat ini belum pernah terdengar keluhan dari pihak luar tentang kualitas bangunan perusahaan. Semuanya memuaskan sehingga Jackson sering kali memenangkan tender di berbagai tempat. Itu semua karena dia amat mengedepankan kepercayaan, terlepas dari keuntungan besar yang didapat.
"Hah ... lelah sekali."
Kini aku sedang merebahkan diri di atas kasur berseprai ungu. Perlahan memejamkan mata sambil mengingat-ingat kejadian yang telah dilewati hari ini. Lagi-lagi si pria berwajah muram yang ternyata mesum sekali itu melambungkan tinggi angan dan harapanku. Semoga saja hal yang kuidamkan sejak dulu segera menjadi kenyataan dan berujung kebahagiaan. Melabuhkan bahtera rumah tangga bersama orang yang kucintai, Jackson Baldev.
Tuan, jangan nakal di sana.
Aku sudah cukup matang untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Dan aku tidak akan memikir dua kali untuk menjawab ajakan pernikahannya. Pastinya segera kuterima tanpa menanyakan hal ini dan itu. Karena aku mencintainya, mencintai Jacksonku.
"Cecilia, maukah kau meni—"
"Mau, Tuan. Mau. Sudah jangan banyak bicara. Kita segera ke kamar saja."
Hahaha, khayalanku.
Beberapa saat kemudian...
Aku masih ngantuk sekali, namun suara petir itu membangunkanku. Tidak tahu sudah jam berapa sekarang, tiba-tiba saja aku terbangun karena mendengar suara petir yang menggelar. Lantas aku mencoba membuka kedua mata, dan kulihat jam di dinding ternyata sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Ya ampun, aku ketiduran lama sekali.
Sepulang dari vila milik Jackson, hari masih terang. Mungkin sampai tadi sekitar pukul empat sore. Dan kini sudah pukul delapan malam saja. Aku belum apa-apa. Mandi belum sempat, makan apalagi. Beberapa hari ini begitu melelahkan sekali.
"Mana ya ponselku?
Lantas kucoba mengecek ponselku. Siapa tahu ada pesan dari Jackson untukku. Dan ternyata ... tidak ada.
Kasihan sekali dirimu, Cecilia.
Hatiku kecewa saat melihat tidak ada pesan darinya. Sebagai wanita yang sedang jatuh cinta, pastinya bunga-bunga asmara bermekaran indah bak taman surga. Inginnya dikabari setiap saat, sedang apa, di mana, dan bersama siapa. Tapi mungkin hal itu tidak bisa kudapatkan dari Jackson. Sedari tadi dia belum juga menghubungiku, membuatku khawatir saja.
__ADS_1
"Eh, ada banyak panggilan tak terjawab?"
Kucek panggilan masukku, dan ternyata ada banyak panggilan tak terjawab. Kupikir dari Jackson, namun ternyata dari Alexander.
Ada apa ya dia meneleponku?
Karena tidak enak hati sudah ditelepon belasan kali, lantas aku menelepon baliknya. Bagaimanapun dia pernah menolongku, jadi tidak ada salahnya jika sekedar menelepon untuk menanyakan mengapa dia meneleponku sampai belasan kali. Mungkin sedang benar-benar membutuhkan bantuanku.
"Cecilia."
Tak lama Alexander menjawab panggilan telepon dariku. Kudengar banyak suara wanita di sana yang entah sedang berbicara apa. Aku jadi teringat dengan perkataan Jackson semalam.
"Jangan dekati pria kemarin jika tidak ingin dijualnya."
Aku tidak tahu apa maksud perkataan dari Jackson semalam. Tapi jika mendengar banyaknya suara wanita dari seberang, hal itu membenarkan perkataan Jackson tentang Alexander.
"Tuan, kau meneleponku?" tanyaku terus terang.
Alexander seperti sedang berjalan ke tempat yang lebih sepi. "Cecilia, apa kabar dirimu?" tanyanya padaku.
"Em, Tuan. Ada apa meneleponku?" Aku langsung ke inti pembicaraan mengapa dia meneleponku.
"Bertemu? Em, ada apa ya, Tuan?" tanyaku lagi.
Aku merasa heran dengan pria yang menolongku ini. Dia seperti ingin bertemu secepatnya denganku, entah apa alasannya.
"Cecilia, banyak hal yang ingin kubicarakan. Tapi lebih baik melalui pertemuan." Alexander sangat berharap dapat bertemu denganku.
"Em, maaf, Tuan. Aku sedang sibuk sekali. Mengenai traktiran kemarin, kirimkan saja nomor rekeningnya, ya. Nanti aku akan menransfernya." Aku mencoba membayar utang yang sempat tertunda, sebelum ditagih olehnya.
"Cecilia, apa maksudmu? Kau pikir aku ingin mengajakmu bertemu karena ingin meminta traktiran? Cecilia, kau begitu merendahkanku." Dia seperti kecewa berat padaku.
Seketika aku jadi tidak enak hati padanya. "Tuan, maaf. Em, aku tidak ada maksud seperti itu, sungguh. Maksudku—"
"Tidak perlu. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Kapan ada waktu? Beberapa malam ini aku sering mimpi buruk. Hatiku juga tidak tenang. Dan di dalam mimpi itu ada dirimu. Jadi, berikan janji temumu padaku." Alexander sangat berharap aku mau bertemu dengannya.
Sungguh aku jadi bingung dengan ajakannya ini. Terlebih dia membawa-bawa mimpi tentangku. Ada rasa penasaran sekaligus khawatir untuk mengetahui mimpi apa itu. Tapi aku juga tidak bisa bertemu dengannya. Jackson sudah mewanti-wanti sejak semalam. Aku takut terjadi sesuatu pada hubungan kami jika memaksakan diri untuk bertemu.
__ADS_1
"Tuan." Kuhela napas panjang. "Em, maaf sekali. Aku sedang sibuk akhir-akhir ini. Aku tidak bisa bertemu denganmu. Jika secara tidak sengaja, mungkin bisa. Tapi jika disengaja aku belum mempunyai waktu luang." Aku menolak ajakannya secara halus.
Tak kudengar perkataan apapun dari Alexander setelah berucap seperti itu. Mungkin dia kecewa atau mungkin sedang memikirkan hal lainnya. Aku tidak tahu. Yang kutahu hanya berusaha menjaga hati Jackson agar hatiku juga dijaga olehnya. Selebihnya aku tidak berani bertindak tanpa izin dari pria berwajah muram itu.
"Cecilia, sepertinya kau amat berharga." Dia berkata dengan suara yang terdengar parau.
"Tuan?" Aku jadi bertanya-tanya sendiri dia kenapa.
"Baiklah. Terima kasih." Dia lalu memutuskan sambungan teleponnya.
"Tuan, halo?" Aku segera meneruskan pembicaraan untuk menahannya. Tapi sepertinya Alexander benar-benar kecewa padaku.
Astaga, aku harus bagaimana?
Aku belum tahu siapa Alexander sebenarnya. Tapi Jackson sudah memperingatkan sedari awal agar menjauh darinya. Itu berarti ada sesuatu yang Jackson ketahui tentang Alexander, namun belum mau menceritakannya padaku. Entah apa itu.
Ya, sudahlah. Biarkan saja.
Lantas aku juga tidak ingin ambil pusing. Aku bergegas bangun lalu segera mandi, membersihkan tubuh dari aktivitas yang begitu melelahkan. Setelahnya memasak mie instan di dapur untuk mengganjal perutku yang mulai keroncongan. Pikiranku tentang Alexander kutepiskan sejenak. Toh, tidak ada hubungan khusus di antara kami. Jadi biasa saja.
Satu jam kemudian...
"Hah ... kenyangnya."
Aku baru saja melahap satu mangkuk penuh mie rasa soto. Rasanya enak sekali, apalagi jika disantap saat hujan seperti ini. Cocok dan mantap betul.
Jackson ke mana, sih? Kok belum menghubungiku?
Perutku sudah kenyang, dan akhirnya bisa kembali fokus ke masa depan. Lantas kucek ponselku untuk melihat ada pesan dari Jackson atau tidak. Dan ternyata ... tidak.
Cecilia-Cecilia, seakan tidak ada laki-laki lain saja di dunia ini.
"Eh, dia menelepon?"
Panjang umur buatnya. Baru saja dipikirkan, Jackson sudah meneleponku. Hatiku pun jadi riang gembira. Segera saja kuangkat telepon darinya.
"Halo, Sayang."
__ADS_1
Kuangkat telepon seraya berucap kata sayang padanya. Aku harap Jackson juga membalas kata sayangku. Aku sudah rindu jika sejam saja tidak ada kabar darinya. Maklum, bunga-bunga cinta sedang bermekaran. Dan hal itulah yang kurasakan sekarang bersamanya.