
"Cecilia, kita sudah hampir sampai."
Tak berapa lama kemudian Angela membuyarkan lamunanku. Saat itu juga kulihat kembang api begitu ramai menghiasi langit malam. Kini kami sudah memasuki pelataran kuil. Kami pun segera memarkirkan mobil lalu keluar untuk melihat festival. Dan kulihat Angela menggandeng mesra suaminya.
Mereka mesra sekali.
Ada rasa sedih saat menyadari jika aku masih sendiri. Tapi hal itu kucoba tepiskan dari hatiku. Aku tidak boleh terbawa perasaan demi pekerjaaan. Walaupun tidak dapat kupungkiri jika aku menginginkan kedamaian itu. Kedamaian bersama pasangan hidup selamanya.
Kami lalu berjalan-jalan di sekitaran kuil untuk melihat apa saja yang ada di sini. Acara festival yang diadakan hanya setahun sekali ini memang begitu ramai. Halaman kuil dipadati oleh pengunjung yang datang. Sampai-sampai aku harus mengandeng tangan Angela agar tidak ketinggalan olehnya. Lampion berwarna-warni menghiasi sepanjang jalan kuil ini.
"Tahun depan kau sudah harus membawa gandengan ya, Cecil." Angela bicara padaku.
"Eh, kenapa?" tanyaku sambil berjalan bersamanya.
"Agar kau tidak lagi menggandeng tanganku," katanya yang sontak membuatku malu. Segera saja kulepas tangannya.
"Em, maaf." Aku jadi tidak enak hati sendiri.
"Hahaha." Angela tertawa. "Sudah saatnya punya gandengan, jadi tidak merepotkan orang. Iya kan, Sayang?" Angela mengejekku, dia lalu mengandeng tangan suaminya.
Sejujurnya aku juga ingin punya gandengan. Tapi masalahnya, pria yang mendekatiku pasti semuanya buaya. Tidak ada yang benar-benar mencintaiku. Aku jadi pesimis jika hanya akan dimanfaatkan sedang aku sudah sayang sungguhan.
"Kita pulang, ya. Lelah juga berkeliling." Suami Angela tiba-tiba meminta pulang.
Eh?!!!
Sontak aku terkejut. Baru juga setengah jam berjalan-jalan sudah mau pulang.
Angela menoleh ke arahku. "Cecilia, aku pulang duluan. Tak apa, ya? Suamiku sudah meminta. Tahu sendiri kan mau ngapain?" Angela seperti mengejekku secara tidak langsung.
"Tapi, Angela. Baru setengah jam. Aku belum mengitari semuanya." Aku keberatan Angela pulang terburu-buru.
"Kau sudah besar, Cantik. Sudah, ya. Sampai nanti." Angela melambaikan tangannya padaku. Dia pergi begitu saja.
Entah mengapa malam ini malah jadi seperti ini. Tadinya Angela begitu bersemangat mengajak ku ke sini. Tapi baru setengah jam sampai, dia sudah berpamitan. Aku jadi hanya bisa melihat kepergian keduanya dari hadapanku. Mau tak mau aku pun diam membisu melihat mereka berlalu.
Eh, ada telepon?
__ADS_1
Tak lama kurasakan getar bercampur dering dari ponselku. Lantas kuambil ponsel dari dalam tas kecil yang kubawa. Dan kulihat jika Jackson lah yang menelepon. Segera saja kuangkat telepon darinya.
"Halo?" jawabku.
"Di mana?" tanyanya singkat.
"Aku masih di kuil, Tuan. Aku sedang melihat festival di—"
Belum sempat meneruskan kata-kata, dia sudah mematikan teleponnya. Aku pun jadi bingung padanya, entah apa maunya. Namun kemudian, dia mengirimiku pesan.
/Aku sudah di depan pintu kuil./
Apa?!!
Sontak aku terkejut. Aku seperti bermimpi menerima pesan darinya. Aku terpaku di tempat lalu menampar pipiku sendiri. Tak percaya jika Jackson sudah ada di depan kuil. Lantas aku segera berlari melewati lautan manusia menuju ke arah pintu masuk kuil. Dan kulihat Jackson turun dari mobil. Saat itu juga aku terpana melihat ketampanannya.
Ya Tuhan, dia benar-benar datang.
Malam ini dia mengenakan jaket kulit berwarna cokelat. Pakaiannya modis sekali. Aku hampir tak percaya jika itu dirinya.
Apakah itu benar-benar Jackson?
Apakah ini pertanda untukku?
Tak tahu mengapa. Aku merasa ada yang aneh malam ini. Sepertinya semesta telah memberikan tandanya kepadaku akan penantian yang tidak pernah kuungkapkan ini. Kulihat Jackson mengeluarkan bungkus rokoknya. Dia mengambil satu batang rokok untuk dihisap, sedang aku masih terpaku melihat kedatangannya di sini. Dia seperti tahu di mana keberadaanku.
"Dokumen ada di dalam mobil," katanya sambil menghidupkan puntung rokok.
"Tuan, apakah tidak ingin berjalan-jalan dahulu?" tanyaku tanpa ragu.
Dia diam sambil menjepit rokok di mulutnya. Lantas aku berdendang lalu mengelilinginya dengan tarian yang kubisa. Mungkin mirip seperti tarian pemeran wanita kepada prianya di film India. Dan kulihat Jackson mengikuti ke mana arahku menari, dia memutar tubuhnya melihatku. Dia sepertinya sangat senang malam ini.
"Lumayan juga tarianmu." Dia mengeluarkan sebuah kartu dari dalam jaket kulitnya. Dia menggoyangkan kartu itu di depanku. "Aku akan memberikanmu uang, Cecil. Karena kau menyukai uang." Dia berkata seperti itu padaku.
Lantas aku berhenti menari. Di saat itu juga Jackson menarikku ke dalam pelukannya.
"Apakah Tuan ingin menjadikanku simpanan?" tanyaku manja.
__ADS_1
"Kau mirip seseorang," jawabnya sambil menatapku tepat di mata.
“Aku bukan tandingan Tuan Jackson dalam hal strategi, tapi aku sangat menyesal menerima permintaan dari nyonya Zea karena tidak mengetahui kemampuan diriku sendiri.” Aku mengakui kesalahan di depannya.
Kulihat dia memandang ke kejauhan. Entah apa yang dia pikirkan.
"Tuan?" Aku menyapanya lagi.
"Kita ke kuil sekarang. Kita lihat pertunjukan," katanya sambil mengandeng mesra diriku, masuk ke dalam kuil.
Kami akhirnya berjalan bersama masuk ke kuil ini. Membeli lentera dan membuat permohonan di depannya. Aku berharap orang yang ada di sisiku adalah jodoh abadi untukku. Aku merasa tidak ada pria lain yang lebih menarik selain dirinya. Mungkin kini perasaan di hatiku sudah tumbuh untuknya.
Tuan, mengapa kita dipertemukan dalam kondisi seperti ini? Tahukah kau bagaimana perasaanku? Aku sedih, Tuan. Sedih karena kau tidak bisa kumiliki. Hanya dirimu yang bisa menjelajahi seluruh lekuk tubuhku. Tidak ada satupun pria selain dirimu. Tapi mengapa kau bersikap seperti menarik ulur hatiku? Mengapa kau tidak bisa memberikan aku status? Lalu aku ini sebenarnya siapa di hatimu?
Aku cukup sadar diri siapa aku di dalam cerita ini. Sebuah transaksi mempertemukanku dengan Jakson Baldev yang kata istrinya sendiri dia tidak tertarik pada wanita. Aku jadi berpikir mengapa dia sampai melakukan hal itu jika tidak ada rasa tertarik sedikitpun dari hatinya. Atau kejadian malam itu hanya sekedar hasrat belaka? Tapi terkadang pertanyaan lain muncul, mengapa dia berlaku lembut sesudahnya dan kembali marah saat menangkap basah pertemuanku dengan Zea?
Sungguh, aku ingin sekali mengetahui isi hatinya tentangku. Aku ingin tahu apa yang ada di dalam hatinya. Benarkah dia menganggapku hanya sebagai peliharaan saja? Atau dia memiliki sedikit rasa padaku? Aku ingin mengetahuinya itu.
"Tuan, lihat di sana!"
Aku berdiri di sisi kanannya sambil menonton pertunjukan. Kulihat dia hanya tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangan. Lantas kugandeng saja tangannya dengan mesra. Kurebahkan kepalaku di bahunya sambil menonton pertunjukan yang ada. Kurasa Jackson memperhatikanku yang tengah manja padanya.
"Habis ini kau harus bergantian menuruti kemauanku," katanya.
Aku mengangkat kepala dari bahunya. Kami pun bertatapan dengan sangat dekat. "Mau ke mana?" tanyaku sambil masih menggandeng tangannya.
"Ikut saja. Jangan banyak bertanya." Dia seperti tidak ingin menerima penolakan dariku.
Aku mengangguk lalu kembali menyandarkan kepala di bahunya. Tidak peduli apa yang dia pikirkan, malam ini kubiarkan berlalu begitu saja. Aku merasa sudah seperti mempunyai gandengan, walau nyatanya masih berstatus suami orang.
Maafkan aku diriku.
Setelah menonton pertunjukan di kuil, Jackson membawaku pergi. Malam ini dia menyetir mobilnya sendiri. Di dalam mobil aku pun masih manja padanya. Tanpa peduli lagi siapa aku, siapa dirinya. Aku hanya mengikuti kata hati saja.
.........
...Cecilia dan Jackson...
__ADS_1