
"Aku sebatang kara di sini, Tuan. Aku tidak tahu ayah dan ibuku. Sedari kecil aku tinggal di panti asuhan. Dan saat beranjak remaja, panti asuhan tempat tinggalku digusur karena lahannya akan dibangun hotel berbintang. Kami akhirnya berpencar dan bertahan hidup masing-masing. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Angela. Dia membantuku berjuang mengarungi hidup yang keras ini." Aku menceritakan latar belakangku padanya.
Kulihat dia mengangguk seperti memahami posisiku saat ini. Aku berharap dia mempunyai sedikit rasa kasihan padaku sehingga melepaskanku dari jeratan hukum. Sungguh aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Angela. Aku tidak mungkin merepotkannya lagi.
"Uang yang kau dapat dari pekerjaanmu tentulah tidak sedikit. Kau bahkan bisa mendapat ratusan juta bahkan milyaran dalam satu kali transaksi. Tapi, kenapa terus melakukan pekerjaan ini? Apa tabungan yang kau miliki belum cukup juga?" tanyanya seperti menyudutkanku.
Jackson menikamku dengan kata-katanya. Tersirat dari pertanyaannya yang menuduhku menyukai pekerjaan seperti ini. Dia tidak percaya dengan kesungguhanku jika semua hal yang kulakukan demi pekerjaan. Aku bisa mengerti akan maksud dari kata-katanya itu.
"Tuan, yang kuhidupi bukan hanya diriku sendiri. Setelah membayar semua utang kepada Angela, aku masih harus menghidupi adik-adikku di panti. Mereka mempunyai nasib yang sama denganku," jawabku sambil tertunduk di hadapannya.
"Kandung?" tanyanya singkat.
"Bukan." Aku lantas mengangkat kepala, melihatnya. "Mereka membutuhkan aku," jawabku segera.
Jackson menghela napasnya. "Jadi kau merasa sudah punya sehingga berani menghidupi orang lain?" Dia tidak berhenti bertanya padaku.
"Tuan, sungguh. Aku memberi bukan karena kaya, tapi karena aku tahu bagaimana rasanya tidak punya. Kehidupanku sebelum ditolong Angela sangatlah dramatis. Aku sekolah pun karena mendapat bea siswa tidak mampu. Jadi, di saat aku memiliki sedikit uang, aku ingin berbagi. Apa itu salah? Sedang aku tahu persis bagaimana susahnya hidup tanpa orang tua."
Kembali, aku ingin menangis di hadapannya. Aku tidak tahu mengapa Jackson menanyakan semua hal ini padaku. Aku tidak tahu ada alasan apa di balik semua ini. Dia tidak bisa kutebak.
"Aku amat menyesal karena telah menerima pekerjaan ini dari nyonya Zea, setelah mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya. Aku mohon maaf, Tuan. Tolong maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jika kau mengampuniku, aku berjanji ini yang terakhir. Aku akan pensiun dari pekerjaanku." Kuutarakan isi hatiku padanya.
"Pensiun?" Dia beranjak berdiri.
"Tuan." Aku pun ikut berdiri. "Sungguh ini yang terakhir. Kau adalah pria terakhir bagiku. Tolong maafkan aku." Aku berjalan mendekatinya.
Kupeluk Jackson dari belakang. Seketika kurasakan aroma parfum yang memabukkan dari tubuhnya. Kulingkarkan kedua tangan ini di perutnya. Jackson pun menoleh sedikit ke arahku yang menyandarkan kepala di punggungnya. Malam ini tidak ada satu pun yang kusembunyikan lagi darinya.
"Aku harap apa yang kau katakan malam ini benar adanya, Cecilia." Dia melepaskan tanganku yang melingkar di perutnya. "Aku antar kau pulang sekarang," katanya lalu berlalu, melewatiku.
__ADS_1
Jackson seperti tidak percaya padaku, padahal aku telah mengatakan hal yang sesungguhnya tentang diriku ini. Mungkin karena banyak kebohongan yang telah kubuat, sehingga dia tidak dapat percaya begitu saja dengan apa yang kukatakan. Ya, aku pun harus sadar diri, aku tahu aku salah. Tapi, aku juga tidak ingin selalu seperti ini. Aku ingin hidup bebas seperti burung yang berterbangan di angkasa, tanpa takut ada yang memburunya. Dan aku harap Jackson bisa memberikan kebebasan itu.
Malam ini akhirnya perbincangan kami berakhir. Aku pun segera menyusulnya yang sudah berjalan duluan di depan. Kami keluar dari gedung dengan membawa makanan untuk dibawa pulang. Jackson lalu melajukan mobilnya ke apartemenku. Dan ya, sepanjang perjalanan aku hanya duduk diam di sampingnya. Jackson juga tidak berbicara sepatah kata pun kepadaku.
Sesampainya di apartemen...
Aku mempersilakan Jackson masuk ke dalam sambil berusaha tersenyum padanya. Jackson pun segera masuk lalu duduk di sofa tamu, sedang aku segera membuatkan teh untuknya. Kali ini kubiarkan Jackson bermalam di sini jika dia memang menginginkannya. Aku tidak akan lari lagi.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak bisa menebak isi hatinya. Setelah membuatkannya teh, segera kuletakkan di atas meja lalu mempersilakannya minum. Jackson pun meneguk teh buatanku dengan meniupnya terlebih dulu. Kami lalu duduk berseberangan di sofa tamu apartemen ini.
"Berapa DP yang diberikan Zea kepadamu?" tanyanya, memecah suasana yang begitu canggung.
"Dua puluh juta, Tuan. Tapi sudah terpakai setengahnya," jawabku jujur.
"Jika kau mengembalikannya, apa Zea akan membiarkanmu lolos begitu saja?" tanyanya padaku.
Aku terdiam seraya tertunduk. "Aku tahu itu tidak mudah." Aku seperti menemui jalan buntu akan masalah ini.
Sontak aku terkejut.
"Kau ingin aku mengampunimu, bukan?" tanyanya kembali.
Aku mengangguk pelan di depannya.
"Besok bekerjalah. Datang ke kantor sambil membawa surat perjanjian itu jika kau memang benar-benar ingin aku memaafkan kesalahanmu dulu. Setelah itu, aku akan membantumu bebas dari Zea." Dia mengatakan hal yang mengejutkan bagiku.
"Tuan, apa ini serius?!" Seketika raut wajahku senang mendengarnya.
Dia mengangguk. "Tapi ada satu syarat." Dia mengangkat jari telunjuknya di depanku.
__ADS_1
"Satu syarat? Apa itu, Tuan?" tanyaku segera.
"Kau harus menurut padaku. Apapun yang aku katakan. Bisa?" tanyanya dengan nada penekanan, seolah aku harus mengiyakannya.
Aku seperti tidak mempunyai pilihan saat ini. Jackson menjanjikan kebebasan untukku. Itu berarti dia akan menyelamatkanku dari keganasan istrinya sendiri. Tapi, aku sudah terlanjur melangkah jauh. Apa hal ini tidak akan membahayakan kami untuk ke depannya?
"Tuan, jika mampu aku akan memenuhinya. Jika tidak, tolong beri keringanan padaku." Aku memohon padanya.
Dia beranjak berdiri. "Aku bukan tukang bohong sepertimu, Cecilia. Aku juga tidak suka memainkan drama sepertimu. Kau harus lebih banyak mengenalku." Dia berjalan menuju pintu.
"Tuan!" Aku menahan kepergiannya seraya berdiri dari duduk.
Dia berbalik ke arahku.
"Terima kasih," kataku padanya.
Kulihat Jackson tersenyum tipis. Dia lalu berjalan menuju pintu. Tapi, dia menghentikan langkah kakinya setelah hampir menggapai gagang pintu. Lantas dia berbalik ke arahku.
"Cecilia, kemarilah," pintanya, aku pun segera mendekatinya.
Dia menatap wajahku, kami bertatapan dengan amat dekat. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku pun memejamkan mata saat hangat napasnya kurasakan. Aku pasrah jika dia akan mencium bibirku saat ini juga. Tapi ternyata ... aku salah.
Tuan ....
Satu kecupan mendarat di keningku, membuat hatiku tersentak karena tindakannya. Dia mengecup keningku lama sekali sambil memegang kepala ini dengan lembut. Saat itu juga kurasakan hangat kasih sayang dari dirinya.
"Beristirahatlah," katanya, setelah mencium kening ini, dia tersenyum tipis padaku lalu pergi berlalu.
Tanganku tanpa sadar ingin menahan kepergiannya, tapi belum sempat kulakukan. Jackson sudah pergi dan menutup pintu apartemenku dari luar. Dia pergi dengan meninggalkan kesan mendalam. Sebuah kesan yang membuatku merasa jika dia benar-benar menyayangiku. Andai aku salah, biarlah. Asal selamat dari yang lainnya.
__ADS_1
Tuan, apakah hal yang tadi kau lakukan itu tulus dari hatimu?
Malam ini ada sesuatu yang berbeda kurasakan darinya. Sesuatu itu muncul dari dalam hatiku. Andai ini jawaban dari doaku, aku berharap dia bisa menerima keadaanku apa adanya. Namun, jika hanya sensasi emosional sesaat, aku berharap dia tulus melakukannya. Dia adalah satu-satunya pria yang berhasil meruntuhkan pertahananku, Jackson Baldev namanya.