Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Tawaran


__ADS_3

"Tidak ada yang gratis di dunia ini, Cecilia. Jadi kau harus membayarnya," terang Angela.


Aku mengerutkan dahi di depannya. "Kenapa sekarang kau jadi perhitungan sekali denganku, Angela?!" Aku tidak terima.


"Hahaha." Angela tertawa. "Kau sudah mampu sekarang. Cepat bayar!" Dia menagihku.


Kutelan ludahku. Rasa-rasanya begitu gila jika parfum yang hanya sebesar jari kelingking ini dihargai sampai lima juta. Apalagi hanya bisa digunakan untuk lima kali semprot. Itu berarti satu kali semprot satu juta. Mahal sekali.


Ya Tuhan, apa tidak ada yang lebih murah lagi dari ini?


Dengan sungkan aku mengeluarkan kartu debit dari dalam dompetku. Sepertinya setelah ini aku harus mencari mangsa yang baru. Gaji sebulan terkuras hanya untuk parfum ini. Aku tidak rela sama sekali.


"Ini." Akhirnya kuserahkan kartu debitku kepada Angela.


Angela tertawa. Dia kemudian menuju meja kerjanya untuk menggesek kartu debitku di mesin EDC. Dia lalu memintaku untuk memasukkan PIN-nya. Dan ya, apalah daya. Walau tak rela aku tetap harus membayarnya.


"Kau hanya punya waktu tiga puluh menit sebelum lawanmu tersadar dari bius parfum ini," pesannya, lalu struk pembayaran keluar dari mesin.


"Hah, ya." Dengan malas aku menanggapinya.


Petang harinya...


Aku baru saja mandi dan kini sedang menghanduki rambut di depan cermin besar yang ada di kamar. Kukenakan daster hitam tanpa lengan dan setinggi lutut. Aku ingin berantai sejenak dari aktivitas yang melelahkan. Kebetulan sepulang dari restoran Angela, aku langsung kembali bekerja. Dan ya, sebelum petang aku juga sudah pulang. Jadi sesampainya di apartemen, aku langsung mandi.


Tidak usah berbadan, polos saja.


Apartemenku ini begitu mewah. Semua perabotan tersedia lengkap di sini. Dari mulai satu set meja tamu, kitchen set, meja makan, peralatan memasak, sampai perlengkapan cuci-mencuci, semua ada di sini. Entah berapa juta yang harus Alexander keluarkan untuk membayar apartemen dalam satu bulan ke depan. Aku rasa isi dompetnya juga patut diperhitungkan.


Kini aku hanya menggunakan pelembab wajah dan juga lotion pada tubuhku. Aku tidak berdandan karena tahu jika Jackson tidak akan datang ke sini. Sampai saat ini pun dia sama sekali belum menghubungiku. Tapi aku rasa dia sudah membaca laporan final akuisisi yang kuberikan. Ya, semoga saja. Tinggal dia sendiri yang meminta kepada seluruh pemegang saham untuk menandatangani serah-terima perusahaan.

__ADS_1


Proses percepatan akuisisi ternyata tidaklah sesulit yang kubayangkan. Aurel memang bisa diandalkan. Dia mengerti benar bagaimana proses administrasi dari awal sampai akhir. Katakanlah jika dia sudah mahir di bidang ini.


Aurel tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan prosesnya. Dan akhirnya seluruh administrasi Angkasa Grup telah diselesaikan olehnya. Tentunya dia juga mendapatkan bantuan dari para karyawan Angkasa Grup sendiri. Wajah juteknya itu ternyata bisa digunakan untuk memimpin proses akuisisi.


Mungkin karena hal itulah Jackson masih mempertahankannya sampai sekarang. Terlepas dari pekerjaan sampingan yang Aurel miliki. Sepertinya Jackson tidak memedulikan pekerjaan sampingan karyawannya selama bisa bekerja dengan baik. Jackson itu orangnya acuh tak acuh, namun terkadang diam memperhatikan. Dan ya, mungkin karena hal itu juga aku menyukainya.


Lapar sekali.


Selepas mandi, perutku tiba-tiba saja merasa lapar. Maklum terakhir makan pukul dua belas siang saat berada di restoran Angela. Dan sekarang sudah pukul enam petang. Jadi wajar saja jika perutku ini mulai keroncongan. Apalagi saat ini aku tengah berbadan dua. Jadinya lapar sekali.


Lantas kuambil dompet untuk membeli makanan di luar. Tapi, tiba-tiba saja bel apartemenku berbunyi. Sepertinya aku kedatangan tamu petang ini.


Siapa ya?


Aku berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata...


"Tu-tuan?!" Aku kaget saat melihat Alexander datang ke apartemenku.


Dia memperhatikanku. Aku pun segera tersadar jika belum mengenakan rompi. Kulihat pandangan matanya menyiratkan keterkejutan saat melihatku memakai daster ini.


"Em, sepertinya kau lupa jika aku akan datang kemari," katanya sambil terus memperhatikanku. Kurasa dia juga terkejut melihat penampilanku yang polos. Tanpa make up atau lipstik sedikitpun.


Alexander tersenyum melihatku. Dia juga memerhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Senyumnya itu menyiratkan sesuatu, seolah tak percaya bisa melihatku berpenampilan seperti ini.


"Tuan, em ... aku ... lupa."


Aku menelan ludah. Benar-benar lupa jika Alexander akan datang kemari. Aku pikir yang memencet bel tadi adalah bellboy apartemen. Tapi ternyata malah dirinya. Sungguh aku jadi kikuk saat berhadapan dengannya.


"Aku bawakan roti untukmu, Cecilia. Kau mau memakannya bersamaku?" tanyanya sambil mengangkat roti itu ke depanku.

__ADS_1


Aku pun tersenyum tak jelas di hadapannya. Malu dan juga ragu menerima kedatangannya.


"Boleh aku masuk?" tanyanya, menyadarkanku jika kami masih berada di depan pintu.


Lantas aku mengangguk, mempersilakannya masuk ke dalam apartemenku. Toh, dia juga yang membayar apartemen ini. Masa iya kutolak masuk?


"Tuan, mau minum apa?" tanyaku seraya menemaninya menuju sofa tamu.


"Apa saja. Tapi jangan kopi," jawabnya.


"Em, baiklah. Tunggu sebentar." Aku pun beranjak ke dapur.


Aku memang membeli beberapa cemilan dan pakaian sebelum pulang ke apartemen. Tapi, aku tidak sempat membeli makanan berat untuk disantap malam ini. Jadinya aku masih lapar. Mungkin saja porsi makanku bertambah sekarang, karena tidak hanya aku saja yang makan. Ya, maklumlah. Namanya juga ibu hamil.


Beberapa menit kemudian...


Alexander datang ke apartemenku dengan mengenakan kemeja hitamnya. Mungkin dia amat menyukai warna hitam sehingga selalu saja melihatnya mengenakan warna hitam. Dan kini aku sedang duduk di sofa yang berseberangan dengannya. Aku mengenakan rompi agar bahu dan lenganku tidak terlihat, karena khawatir dia akan berpikiran aneh-aneh saat melihatku hanya memakai daster. Jadinya kututupi saja.


"Teh aroma melatinya manis," katanya setelah meneguk teh yang kuberikan.


"Iya." Aku pun tersenyum segan di depannya.


Alexander lalu memperhatikan keadaan sekitar apartemen ini. Ia beranjak berdiri, menuju jendela apartemen. Dia kemudian membuka tirai jendela apartemenku.


"Uang sewa rumah yang dulu sudah kulunasi. Seluruh pakaianmu juga sedang di laundry. Mobilmu sudah dicuci. Seluruh tempat di rumah sewa kemarin juga telah diperiksa polisi." Dia menuturkan sambil melihat pemandangan kota dari balik jendela apartemenku.


Aku menelan ludah mendengar kata-katanya. Ternyata dia begitu peduli padaku. Sampai-sampai harus turun tangan langsung untuk membantuku. Rasanya apa yang dikatakan Jackson waktu itu tidak benar. Aku rasa dia mengatakan seperti itu agar aku tidak tertarik pada Alexander. Benar atau tidaknya, aku tidak tahu. Karena saat ini aku hanya bisa menduganya.


"Besok akhir pekan, Cecilia. Mau berlibur bersamaku?" tanyanya seraya membalikkan badan ke arahku.

__ADS_1


__ADS_2