Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Gundah


__ADS_3

Esok paginya...


Pagi-pagi kamarku diketuk berulang kali. Kuintip jam di dinding kamar pun masih menunjukkan pukul lima pagi. Aku masih mengantuk untuk membukakan pintu. Tapi, pintu terus saja terketuk sehingga mau tak mau aku bangun. Dan sambil mengucek mata, aku melangkahkan kaki menuju pintu. Kubuka lalu kulihat siapa gerangan yang mengetuk pintu sedari tadi.


"Hoaaammm." Aku menguap seenaknya. "Astaga?!!"


Seketika aku terbelalak saat melihat Alexander tengah berdiri di depan pintu. Ternyata dialah yang sedari tadi mengetuk pintu kamarku. Otakku pun jadi berpikir cepat lalu akhirnya menyadari sesuatu. Ternyata aku ini masih berada di rumah ibunya.


"Ya ampun!"


Lantas kututup pintu kembali. Wajah polosku yang baru saja terbangun akhirnya ketahuan olehnya. Saat itu juga laju napasku tidak beraturan. Aku malu sekali. Kusadari jika aku lupa sedang berada di mana.


"Cecilia! Mengapa pintunya ditutup kembali?"


Dadaku naik-turun menahan malu. Sedang Alexander berteriak dari luar menanyakan mengapa aku menutup pintu. Aku pun mencoba mengatur ulang napas ini. Sepertinya baru saja terkena dehidrasi sehingga tidak dapat berpikir dengan jernih. Lekas-lekas kurapikan rambut dan wajahku lalu membuka pintu kembali.


"Em, Tuan." Aku tersenyum tak jelas di hadapannya.


"Hahaha, Cecilia-Cecilia." Alexander pun tertawa sambil menutupi mulutnya. Dia kemudian mengusap-usap kepalaku.


Tuan ....


Saat itu juga aku merasa sangat disayang olehnya, entah benar atau tidak. Tapi kusadari jika aku ini ternyata baperan orangnya. Walaupun sudah mencoba menggunakan logika, tetapi tetap saja perasaan itu tidak bisa disingkirkan. Ya, maklumlah. Namanya juga perempuan.


"Cecilia, kita mau kembali ke kota sekarang atau nanti?" tanyanya, memecah lamunanku.


"Em ...." Aku berpikir.


"Hujan sudah reda. Kalau berangkat sekarang bisa sampai di kota sebelum pukul tujuh pagi. Atau ingin melihat pemandangan di pedesaan dulu?" tanyanya.


Pagi-pagi aku terbangun. Pagi-pagi juga Alexander yang kulihat. Ke mana si muram wajah itu? Apakah dia benar-benar telah melupakanku?


"Em, Tuan. Aku masih lemas. Aku belum tersadar penuh," kataku, secara tidak langsung memintanya untuk menunggu.


Dia mengangguk. Lalu kemudian...

__ADS_1


"Tu-tuan, apa yang kau lakukan?!"


Aku tersentak saat melihatnya berjongkok membelakangiku. Dia ternyata ingin menggendongku.


"Silakan naik, Tuan Putri," katanya yang sudah siap untuk kunaiki. Dia menepuk-nepuk punggungnya agar aku lekas naik.


Tuan, kau ini membuat hatiku galau saja.


Aku menelan ludah. Tak percaya dengan apa yang dilakukannya pagi ini. Alexander begitu memanjakanku. Sampai-sampai dia mau menggendongku untuk sampai ke lantai satu. Rasanya aku ingin lari saja. Lari dari kenyataan yang membuat hatiku gundah-gulana.


"Tu-tuan, aku jalan saja. Aku bisa jalan sendiri."


Segera kuambil tas kecilku dan semua barang yang kubawa, sebelum menuju ke lantai satu. Aku rasa jika terus-menerus menerima kebaikannya, lama-lama hatiku bisa salah alamat. Jadinya aku berjalan sendiri saja.


Maaf, Tuan.


Terserah apa yang dipikirkan olehnya, lebih baik mencegah daripada mengobati hati yang terlanjur jatuh hati. Aku tidak mau patah hati lagi. Cukup Jackson seorang yang menorehkan luka di hati ini.


Perjalanan pulang...


Ibu Alexander seperti setuju putranya denganku. Tapi, aku merasa amat bersalah kepadanya. Baik ibu maupun putranya pasti belum mengetahui siapa diriku. Aku takut mereka akan kecewa jika sudah mengetahui siapa aku sebenarnya. Terlebih sekarang aku sedang mengandung anaknya Jackson.


Aku tahu disesali tak mungkin, ditangisi apa lagi. Nasi telah menjadi bubur, tinggal mencari kerupuk dan abonnya saja agar bisa disantap. Begitu juga dengan hal yang terjadi padaku. Tinggal mencari solusi dari permasalahan yang sedang kuhadapi. Haruskah aku pergi untuk melupakan semuanya? Atau tetap bertahan sampai menunggu status resmi? Sampai detik ini pun aku masih bingung untuk menentukan langkah, apalagi Jackson seakan tidak peduli.


Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah kejadian di ruangannya itu. Apa mereka kembali bersama atau memang sedang sibuk dengan banyak urusan. Ingin rasanya aku mencari tahu, tapi lagi-lagi statusku tidak memungkinkan. Sehingga aku hanya bisa menunggu dan terus menunggu.


Kini aku sedang berada di dalam perjalanan pulang bersama Alexander. Pria bersweter krim di sampingku ini sesekali melihat ke arahku sambil tersenyum. Sepertinya dia bahagia setelah menghabiskan akhir pekannya bersamaku.


"Mulai hari ini boleh kita lebih dekat lagi?" tanyanya seraya menoleh ke arahku.


Aku terdiam, bingung.


"Cecilia." Dia memegang tanganku. "Aku serius," katanya, lalu kembali fokus menyetir mobil.


Aku bingung harus menjawab apa. Alexander juga sepertinya tahu jika aku mempunyai hubungan khusus dengan Jackson. Tidak mungkin tidak. Apalagi majalah bisnis kemarin sempat memberitakan kedekatan kami.

__ADS_1


"Tuan, sebenarnya kau tahu bukan tentang berita yang ada di majalah bisnis itu?" tanyaku menyelidik.


Alexander menoleh ke arahku. "Oh. Tentangmu dan Jackson?" tanyanya.


"He-em." Aku mengangguk.


Dia tersenyum. "Aku tahu jika kalian mempunyai hubungan lebih dari sekedar rekan kerja. Tapi, aku rasa statusku lebih unggul darinya, Cecilia." Alexander seolah mengingatkan status Jackson yang masih menjadi suami orang.


Aku menghela napas lalu mengembuskannya perlahan. "Tuan, aku tidak ingin kau kecewa. Kau belum tahu masa laluku. Aku tidaklah sebaik yang kau kira," kataku lagi.


Kulihat dia lagi-lagi tersenyum. Sepertinya Alexander tidak memedulikan masa laluku. Yang dia inginkan hanya bersamaku.


"Kita jalani masa depan bersama, itu sudah cukup untuk menutupi masa lalu," katanya lalu membelokkan setir mobilnya ke kanan.


Semakin lama perasaan di hatiku semakin porak-poranda tak menentu. Hatiku seakan sudah bisa memberikan ruang untuknya. Aku tidak tahu ini pertanda apa, tapi kujalani saja. Aku berharap suatu hari nanti akan kutemukan jawabannya.


Aku masih berharap Jackson kembali padaku, walaupun harapan itu seperti tidak tahu diri sama sekali. Bagaimanapun hanya dirinya yang sudah menjelajahi setiap inchi dari tubuhku ini, sehingga tubuhku menuntutnya untuk mempertanggungjawabkan semua yang telah dia lakukan. Terlepas dari isi hatinya, benarkah dia mencintaiku?


Tuan, cepat beri aku keputusan. Aku tidak ingin berlama-lama dalam penantian. Aku tidak ingin menggantung seperti ini. Jika memang memutuskan untuk berpisah, maka biarkan aku bahagia bersama Alexander. Dia sepertinya siap untuk menggantikanmu sepenuhnya.


Mentari pagi ini mulai terbit di ufuk timur, menandakan jika hari baru telah dimulai. Cahayanya pun menyinari perjalanan kami kala memasuki ibu kota. Sebuah kota yang menyimpan kenangan mendalam untukku.


Sesampainya di apartemen nanti aku akan segera beristirahat dari rasa lelah hati dan pikiranku. Mungkin hari ini akan kuhabiskan waktu dengan tidur dan bermalas-malasan di kamar. Tentunya tanpa ada yang menemani karena aku memang sendiri. Ya, inilah kehidupanku. Susah-senangnya hanya aku yang tahu.


.........


...Cecilia...



.........


...Alexander...


__ADS_1


__ADS_2