Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Kamu Dan Kamu


__ADS_3

"Ti-tidak, Tuan. Maksudku jangan jauh-jauh jalannya. Biar kudanya saja yang ke sini," kataku, menanggapi pertanyaannya.


Dia tersenyum tipis. "Kau lemah, Cecilia."


"Hah? Apa?!"


"Kau lemah. Jalan jauh pun tidak sanggup." Dia menghardikku.


Arrghh...


Hatiku kesal bukan kepalang. Baru saja baikan dia sudah memulai keributan. Rasa-rasanya Jackson memang harus kuberi pelajaran. Seenak jidatnya menghardikku.


Awas saja, Jackson Baldev. Suatu saat aku akan membalas semua ejekanmu ini.


Lantas tak beberapa lama seorang penjaga datang, membawakan kuda hitam untuk kami. Aku pun masih diam di sisi Jackson sambil menggerutu sendiri. Terkadang aku tidak menyukai ucapan pedasnya. Dia sama sekali tidak berperasaan.


"Tuan, ini kudanya." Seorang penjaga menyerahkan kuda hitam kepada kami.


"Ya," katanya kepada penjaga itu. "Ayo, Cecilia. Naik!" pintanya.


Eh?!


Jackson segera naik ke atas kuda, sedang aku dibiarkannya begitu saja. Dia benar-benar tidak berperasaan. Tahu sendiri aku belum pernah menaiki kuda, tapi dia malah membiarkanku tanpa mengajari bagaimana cara menaiki kuda ini.


"Tu-tuan, aku takut," kataku, saat melihat tingginya pijakan yang harus aku naiki.


"Naik saja, ada aku."


"Tap-tapi—"


"Cecilia, menurutlah. Percaya padaku."

__ADS_1


Sebuah kalimat perintah sekaligus permintaan untuk percaya, kuterima darinya. Jackson seperti tidak ingin aku ragu akan dirinya yang bisa kupercayakan untuk menjaga keselamatanku.


Lantas aku mencoba menuruti keinginannya, menaiki kuda dengan dibantu olehnya. Jackson memegangi tanganku agar tidak terjatuh. Dengan hati berdebar aku pun memijakkan kaki ke atas pijakan kuda. Dan ternyata rasa takut itu hanya sebatas ketakutan saja. Dengan keberanian dan usaha yang sungguh-sungguh, akhirnya aku bisa melawan rasa takutku sendiri. Aku bisa menaiki kuda tanpa terjatuh. Semua ini tentunya tidak terlepas dari dukungan Jackson untukku.


Tuan, kadang-kadang kau ini ada baiknya.


Lantas Jackson mulai melajukan kudanya. Dia mengajak ku berkeliling puncak dengan menaiki kuda ini. Seperti seorang pangeran dan putri kerajaan saja, romantis sekali. Dada bidangnya bisa menjadi sandaranku yang manja. Sesekali aku melihat ke arahnya yang sedang menikmati pemandangan dari atas kuda. Saat itu juga dia melirik ke arahku dan aku hanya tersenyum kepadanya.


Aku begitu terpesona dengan ketampanannya. Tak hanya tampan, Jackson juga hartawan. Dia memiliki kepribadian yang begitu aku sukai. Sikap dinginnya kepada wanita mencerminkan jika dia adalah lelaki yang setia. Dan aku harap hanya denganku saja dia bersikap hangat. Aku tidak ingin kehilangan Jacksonku.


Entah sampai kapan perjalanan panjang ini akan kami lalui. Tapi yang jelas aku berharap suatu hari nanti bisa memiliki Jackson sepenuhnya. Ya, mungkin saja bisa jadi istri ke duanya jika dibolehkan. Itupun kalau dia tega padaku. Toh, Zea pun sudah bersama Andreas. Bukannya cukup adil jika aku bersama Jackson?


Tuan, baru kusadari ternyata hanya dirimu yang bertahta di hatiku. Kini hanya dirimu, aku hanya menginginkanmu. Bisakah kau berlaku sama padaku?


Angin sejuk menemani perjalanan kami mengelilingi vila puncak ini. Aku kembali bisa merasakan kebahagiaan saat bersamanya. Kuharap kebahagiaan ini abadi, sampai nanti sampai mati. Aku mencintai Jacksonku.


"Kenapa tersenyum sendiri?" tanyanya dari belakang.


"Hahaha. Kau ini membantah saja." Dia seperti gregetan padaku.


"Tuan, aku selalu menurut padamu. Sesekali tidak apa kan membantah?" Aku sok santai di depannya.


"Ingin kugigit?" tanyanya seraya berbisik di telingaku.


Segera kujauhkan telingaku darinya. Saat itu juga kami saling bertatapan di atas kuda. Jackson lantas memegang perutku, sedang satu tangannya memegangi tali kuda.


"Cecilia, tunggu saja waktunya," katanya lalu menciumku.


Tuan ....


Seakan tidak bisa bergerak, Jackson menciumku di atas laju kuda yang begitu pelan. Dia menghisap bibirku sambil memegang perutku ini. Dia seperti tidak lagi peduli jika ada orang yang melihatnya. Mungkin dia sedang kecanduan sekarang. Kecanduan akan cintaku.

__ADS_1


Hari ini kami memutuskan untuk berkeliling puncak dengan menaiki kuda hitam yang besar. Jackson ternyata bisa melajukan kuda dengan amat pelan, sehingga aku bisa melihat pemandangan indah dari depan kedua mata tanpa takut terjatuh. Dia kembali menjadi dirinya yang asli, bukan kasar seperti tadi. Jackson berlaku lembut lagi padaku.


Setelah mencium bibirku, dia mencium bahuku. Dia menyampirkan rambut ini ke samping lalu menciumi sekujur bahuku. Tentu saja aku kegelian saat terkena kumis tipisnya itu. Dan kulihat dia seperti senang melihatnya.


Dia lalu memelukku sambil memberatkan kepalanya di kepalaku. Seolah sedang menyalurkan perasaan yang belum sempat diucapkan. Aku pun mencoba mengerti akan hal itu. Aku akan menunggunya menjadi milikku.


Malam harinya...


Dinginnya angin malam menerpa tubuhku. Segelas susu hangat menemani setiap hela napasku yang sedang menikmati pemandangan dari balik kaca jendela kamar. Awan mendung menghiasi langit yang penuh bintang. Perlahan tapi pasti langit mulai menghitam. Tak ada lagi terang bulan, tak ada bintang yang bersinar. Tetes demi tetes air hujan membasahi rerumputan.


Aku baru saja makan malam bersama Jackson. Selepas berkeliling kami berendam di dalam bathtub. Tidak melakukan apa-apa, hanya sekedar bermain busa. Sepertinya Jackson menepiskan hasratnya terlebih dulu karena baru saja membuatku menangis. Aku pun memanfaatkan kesempatan ini untuk beristirahat sejenak dari hati yang berharap.


Sampai detik ini Jackson belum memberikan status padaku. Jangankan status, kata cinta juga belum diucapkan. Aku seperti menjadi simpanannya saja. Tapi tak apalah, mungkin hanya slot itu yang tersedia untukku saat ini. Aku juga tidak ingin terlalu terhanyut dalam penantian. Aku nikmati saja hidup yang sekarang.


Jackson kini sedang bekerja. Dia membawa laptop dan tengah sibuk mengetik-ngetik sesuatu. Banyak laporan yang harus diperiksa untuk melangkah ke depan. Terutama berkenaan dengan proses akuisisi Angkasa Grup. Jackson terlihat sungguh-sungguh ingin memilikinya.


Terlepas dari kesibukan Jackson, aku sempat kepikiran dengan Alexander. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah kami pergi tadi. Kulihat dia menelepon seseorang yang tidak kuketahui siapa itu. Tapi sepertinya, Alexander sedang melaporkan sesuatu setelah Jackson menarikku ke luar kedai.


Jackson memang seorang pencemburu akut. Dia juga egois, mau menang sendiri dan selalu ingin dituruti. Kadang aku kesal dengan sikapnya. Tapi bodohnya, aku selalu saja luluh saat dia berlaku lembut padaku. Cinta ini memang membutakanku.


Di pandangan mataku Jackson tidak ada duanya. Sekalipun sudah kedatangan Alexander yang bisa dibilang menarik, aku biasa-biasa saja terhadap pria itu, belum ada rasa tertarik untuk dekat walaupun dia seperti membuka peluang untukku. Hati dan pikiranku sudah terisi oleh Jackson, Jackson, dan hanya Jackson seorang.


Mungkin aku membutuhkan psikiater untuk menangani hal ini. Kata pujangga sih cinta itu penyakit. Yang mana setiap orang yang dihinggapi tidak ingin sembuh darinya. Dan aku telah merasakannya sendiri.


"Cecilia, kemarilah." Jackson memanggilku.


Pria berkemeja putih itu memintaku untuk mendekatinya. Kulihat raut wajah Jackson amat serius saat ini.


"Ada apa, Tuan?" tanyaku sambil meletakkan gelas susu ke atas meja.


"Kau tertarik memiliki saham di Angkasa Grup?" tanyanya tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2