Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Teka-Teki


__ADS_3

...Cecilia...



.........


Jackson terkesan berat untuk mengucapkannya, seperti tertahan di tenggorokan. Aku pun masih setia menanti hal apa yang ingin dia ucapkan padaku. Semilir angin malam ini seolah menjadi saksi betapa berat kata-kata itu keluar dari mulutnya. Entah mengapa, aku pun tak tahu.


Dia mau bicara apa sebenarnya?


Embusan angin malam terasa kasar menerpa rambutku yang dibiarkan tergerai. Aku pun menyingkapkan rambut ini ke belakang telinga dengan masih menatap pria di hadapanku. Kudengar helaan napasnya begitu berat, dadanya juga naik-turun sendiri. Tak lama kemudian dahinya ikut mengeluarkan keringat.


"Jack, kau baik-baik saja?"


Aku cemas melihatnya seperti ini. Mungkinkah kata cinta itu yang ingin dia ucapkan kepadaku? Sehingga sampai membuatnya berkeringat dingin. Entah mengapa aku malah merasa lucu menghadapnya. Mungkin benar jika aku adalah wanita pertama dalam kehidupannya. Tentunya setelah ibunya di sana.


"Cecilia." Kulihat dia menelan ludahnya.


Aku masih menunggu. Tapi pria di hadapanku ini seakan kaku tertahan waktu. Tak tahu apa yang ingin dia ucapkan, tapi aku berharap kata-kata penyerahan dirinya padaku. Aku ingin sekali diperlakukan bak putri dimana sang pangeran mengemis cinta kepada putri tersebut. Aku pun berharap Jackson memperlakukanku seperti itu.


Dia kemudian mengambil napas panjang. "Cecilia, aku—"


Tiba-tiba saja dering ponselnya terdengar dan menyadarkan kami jika ada panggilan yang masuk. Jackson lantas segera melihat panggilan dari siapa itu. Dia kemudian berjalan menjauh.


"Halo?" Dia mengangkat teleponnya. "Apa?!" Terlihat wajahnya amat serius, dia tampak terkejut. "Baik. Aku segera ke sana." Jackson pun terlihat gusar di depanku.


"Jack?" Aku mendekatinya, ingin segera tahu apa yang terjadi sebenarnya.


Dia terlihat berat mengatakannya. "Cecilia, aku harus pergi. Nanti kita bicarakan lagi." Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku.

__ADS_1


"Tapi, Jack—"


"Saat senggang kita akan berlibur. Tapi tidak untuk beberapa hari ini. Aku banyak sekali urusan. Kau beristirahat saja, ya. Apartemen ini sangat bagus, nanti aku yang akan mengganti pembayarannya." Dia berjanji.


"Jack ...." Seketika hatiku pun jadi sedih kembali.


"Baik-baik di sini," katanya lalu mengecup keningku.


Saat keningku dikecup, saat itu juga aku menyadari betapa besar cinta yang ada pada kami. Harusnya aku lebih mawas diri dan tidak mudah terpengaruh orang lain. Kuakui rasa sakit karena diabaikan itu membuatku tidak bisa membedakan mana yang kenyataan, mana yang delusi. Tapi untung saja Jackson segera datang sebelum aku terhanyut lebih dalam lagi. Dia memang pangeran berkudaku.


"Jack, hati-hati."


Aku pun ikut mengantarkannya sampai ke depan pintu. Dia kemudian melambaikan tangannya tanpa berbalik ke arahku. Kulihat dia menerima telepon kembali. Entah telepon dari siapa, tapi sepertinya amat penting hingga harus meninggalkanku di sini.


Mungkin saja ada kaitannya dengan Hadden atau Zea, atau mungkin juga Alexander. Entahlah. Aku harus tetap berhati-hati saat ini karena semuanya masih menjadi misteri dan belum terbukti.


"Bertahanlah, Sayang."


Aku tahu saat ini tidak bisa melakukan apapun selain menuruti instruksi dari Jackson. Jackson juga seakan tidak ingin membebaniku dengan masalah yang terjadi. Dia bergerak sendiri tanpa meminta saran dariku. Mungkin ada baiknya jika aku banyak berdoa untuk keselamatannya. Semoga dia baik-baik saja di manapun berada, karena aku menantikan kepulangannya.


Jack, semoga berhasil.


Lekas-lekas aku menutup pintu setelah melihat kepergian Jackson dari apartemenku. Kukunci lalu kututup pintu dan jendela apartemenku. Aku ingin segera beristirahat malam ini. Aku sudah lelah apalagi sekarang sedang berbadan dua. Aku harus tidur lebih awal dan tidak boleh begadang lagi. Dan ya, aku segera membersihkan diri sebelum terlelap dalam mimpi.


Baiklah, mari kita beristirahat.


Kini yang kubisa hanya berharap semuanya baik-baik saja. Aku ingin hidup bahagia tanpa merasa ketakutan akan ancaman orang lain. Semoga saja aku bisa mendapatkan hal itu suatu hari nanti. Aku ingin kebebasan yang mutlak sehingga tenang dalam menjalani kehidupan. Dan aku berharap Jackson bisa memberikannya.


Beberapa hari kemudian...

__ADS_1


Hari ini hari Sabtu. Akhir pekan yang kurindukan bersama pria yang kucintai. Tapi, beberapa hari ini aku belum bisa bertemu Jackson karena dia masih sibuk dengan banyak urusan. Dia bilang sih akan menemuiku jika waktunya sudah senggang. Dan ya, aku mencoba menunggunya.


Beberapa hari terakhir semenjak kejadian di ruang karaoke itu, Alexander selalu mengajak ku bertemu. Tapi aku juga selalu menolaknya dengan alasan banyak pekerjaan. Dan sudah dua hari ini dia tidak menghubungiku. Mungkin dia merasa lelah karena terus mengejarku, atau mungkin dia mendapat misi lain dari Hadden. Entahlah, aku juga tidak tahu.


Kuakui jika Alexander hampir saja mencuri hatiku. Beberapa hari bersamanya tentu tidak bisa kulupakan begitu saja. Tapi, semenjak Jackson mengatakan Hadden yang menyuruhnya untuk mendekatiku, seketika perasaanku musnah untuknya. Aku tidak lagi mempunyai alasan untuk dekat-dekat dengannya. Karena kami berada di pihak yang berlawanan.


Jujur saja aku masih syok mendengar kabar tentangnya. Tapi, aku mencoba menerima kenyataan yang dituturkan Jackson padaku. Walaupun pada kenyataannya sangat disayangkan jika hal yang dilakukannya kemarin hanya sekedar sandiwara belaka. Apalagi dia sampai mengikutsertakan ibunya. Aku jadi merasa miris sendiri. Tapi semoga saja dia bahagia di sana, terlepas dari apa yang telah dia lakukan padaku.


Wow, tujuh ratus milyar?!!


Saat ini aku sedang berada di kantor Angkasa Grup karena Jackson memintaku untuk mengecek laporan perusahaan tahun yang lalu. Dan tanpa sengaja aku melihat jumlah nominal laporan keuangan yang ditujukan untuk CV Permata Indah. Yang mana nominalnya besar sekali.


Ratusan milyar diberikan kepada perusahaan tersebut. Aku tak menyangka jika kerja sama mereka menghasilkan nominal yang amat besar. Benar-benar luar biasa.


Alexander sendiri adalah kepala dari CV Permata Indah. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang arsitektur kelas menengah ke atas. Dia memiliki lima orang arsitek di kantornya. Dan kata ibunya sih CV itu murni didirikan olehnya. Awalnya aku memang tak percaya. Tapi setelah melihat jumlah nominal sekali transaksi, aku memercayainya.


Saat ini aku harus mencari tahu apakah benar nominal sebesar ini hanya diberikan kepada perusahaannya? Aku rasa nominalnya terlalu besar. Mungkin aku harus menyelidikinya dengan menanyakan langsung kepada pemilik Angkasa Grup sebelumnya, Oliver.


"Aku telepon saja."


Lantas aku menelepon Oliver, dan ternyata dia segera mengangkat telepon dariku. "Halo?" jawabnya dari seberang.


"Tuan Oliver, bisakah kita bertemu sebentar?" tanyaku padanya.


"Em, aku sedang berada di luar, Nona. Mungkin akan kembali sepuluh menit lagi," katanya.


"Oh, baiklah. Kalau begitu aku tunggu di kantor saja," kataku.


"Baik." Dia pun mengakhiri panggilan teleponnya.

__ADS_1


Oliver akhir-akhir ini sibuk. Dia jarang ada di kantor sehingga sulit untuk kutemui. Tapi aku rasa hari ini bisa sedikit berbincang dengannya. Ya, semoga saja aku bisa mendapatkan informasi tentang kebenaran hal yang diceritakan Jackson padaku. Aku harap dapat menemukan jawabannya.


__ADS_2