
Hadden melihat tanganku yang baru saja menyentuh miliknya. Aku benar-benar panik sehingga tidak lagi sempat berpikir jika hal tadi amat terlarang untuk kulakukan. Bekas sentuhannya pun masih terasa sampai saat ini. Dan kulihat pria bermantel hitam yang ada di atas tubuhku beranjak bangun.
"Cecilia, kau nakal sekali."
Kulihat Hadden tertawa di depanku. Sepertinya hal yang kulakukan barusan itu lucu. Padahal aku memang tidak sengaja mengenai miliknya. Aku benar-benar panik tadi.
"Tuan, maaf. Aku tidak sengaja," kataku polos.
"Kau ini, apa ingin merasakannya?" Dia seperti menggodaku.
Lantas aku berpikir, jika satu per satu pria yang kutemui belakangan ini semakin ganas dibandingkan sebelumnya, itu berarti transaksiku bersama Zea langsung mempertemukanku dengan dua pria berkualitas tinggi. Hadden juga cukup luar biasa. Dia pria mapan dan gentleman. Namun, Hadden memang lebih tua jika dibandingkan dengan Jackson. Entah umur berapa sebenarnya. Aku khawatir akan menyinggung jika langsung menanyakannya.
"Apakah ini sebuah ajakan tau paksaan?" Aku balik bertanya padanya.
Dia lalu menggelengkan kepalanya seraya tersenyum, entah mengapa. Senyuman yang kulihat seperti tulus dari hati. Entahlah, aku tidak mau terjebak dengannya. Hadden bukanlah orang sembarangan, dia pintar mengendalikan hati seseorang. Bisa saja dia sedang bersandiwara di depanku saat ini.
Bersamaan dengan itu, kudengar ponselnya berbunyi. Kulihat Hadden menerima sebuah pesan teks. Kulirik pesan itu dan ternyata dari Oliver, pemilik Angkasa Grup. Lantas kufokuskan pandanganku pelan-pelan. Aku pun bisa membaca isi pesan itu. Ternyata Oliver mengajak Hadden makan siang di Restoran Blue Sea besok siang.
Eh? Ngapain Oliver menghubungi Hadden? Bukannya Angkasa Grup sebelumnya sudah diakuisisi oleh Jackson dengan harga satu triliun, ya? Jangan-jangan ...?!!
Aku merasa ada keadaan yang tak beres di sini. Pemilik Angkasa Grup menghubungi Hadden untuk makan siang bersama. Padahal bisa dibilang dia bekerja untuk Jackson sekarang. Tapi mengapa menghubungi Hadden? Aku pun jadi curiga terhadap kedua orang ini.
"Sampai di mana tadi?"
Hadden segera menghapus pesan itu. Tapi sayangnya sudah terlanjur terbaca olehku. Aku pun pura-pura saja tidak melihatnya. Bukan Cecilia namanya jika tidak bisa berpura-pura. Di hadapan seorang Hadden aku juga bisa melancarkan aksi mata-mataku.
"Sampai aku bertanya, ajakan atau sebuah paksaan?" tanyaku lagi.
__ADS_1
Hadden melepas mantelnya lalu diberikannya kepadaku. "Pakailah ini, jangan sampai buahmu layu," katanya yang membuatku menelan ludah.
Dasar buaya!
Aku tahu benar apa maksudnya. Dia juga memandangi apa yang ada di bawah leherku. Mungkin dia tertarik melihatnya. Dua bukit ranum yang begitu menantang pandangan kini terbalut daster tipis yang menerawang.
"Aku harus pergi, Cecilia. Senang bisa bercanda denganmu malam ini." Dia kemudian menghidupkan puntung rokoknya seraya beranjak pergi. Sedang mantelnya masih dipakai olehku.
Sebenarnya ada apa dengan Hadden dan Oliver?
Aku melepas kepergian Hadden tanpa banyak bertanya. Dia orang yang sibuk dan juga mempunyai banyak urusan. Tapi kejadian malam ini seperti memberi lampu hijau kepadaku. Lantas aku berpikir, ke mana harus mencari perlindungan terkuat agar selamat? Hadden atau Jackson?
Beberapa jam kemudian...
Aku sampai mengantuk-ngantuk menunggu Jackson pergi dari apartemenku. Dan kulihat kini sudah pukul satu. Aku juga tidak melihat ada mobil Jackson yang diparkirkan. Mungkin dia sudah benar-benar pergi sekarang.
Lantas aku segera kembali ke apartemenku. Aku ingin beristirahat sejenak di kamar. Hari ini sungguh melelahkan setelah diekspos olehnya. Jackson memang benar-benar gila. Jika ada kesempatan untuk lari, maka sudah pasti akan kulakukan. Sayangnya aku belum mendapatkan kesempatan itu.
Malam ini bintang menjadi saksi atas apa yang terjadi antara kami dan juga Hadden. Tak bisa kubayangkan jika keduanya bertemu saat berada di posisi seperti ini. Aku tidak ingin menambah masalah lagi. Sudah cukup sudah aku merasa lelah karena perjanjianku dengan Zea. Rasanya aku ingin kabur saja.
Esok harinya...
Hari ini aku berniat datang lebih awal ke Restoran Blue Sea. Kebetulan restoran ini adalah milik Angela dengan bantuan suaminya sekarang. Kudengar restoran ini dikhususkan untuk membantu para politisi dan selebriti untuk mengumpulkan informasi. Dan tentunya di antara ruangan akan ada tempat yang saling terhubung dan juga misterius. Lantas aku mengirimkan pesan kepada Angela sebelum datang ke sana.
Kukenakan blus putih dengan celana dasar hitam ketat yang panjang. Tak lupa kupoleskan make up yang menantang hari ini. Ya untuk berjaga-jaga jika sampai ketahuan oleh Hadden. Aku bisa beralasan ingin menemui klien jika sampai tertangkap basah olehnya. Tapi semoga saja tidak.
Sungguh aku penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Hadden bersama Oliver. Yang kutahu Hadden adalah saingan bisnis Jackson. Pasti ada sesuatu di antara Oliver dan Hadden sampai membuat janji temu di tempat tertutup seperti itu.
__ADS_1
"Selesai."
Lantas setelah semuanya siap, aku bergegas menuju Restoran Blue Sea. Angela pun sudah membalas chat-ku. Katanya dia menungguku di ruang kerjanya yang ada di restoran. Ya, sudah. Lekas-lekas aku turun ke lantai satu lalu mengendarai mobilku menuju restoran Angela. Hari ini aku siap beraksi kembali.
Sesampainya di restoran...
Jackson belum menghubungiku juga sampai saat ini. Mungkin dia marah padaku karena semalam kabur darinya. Tapi, aku sih tidak peduli. Atau mungkin lebih tepatnya berusaha untuk tidak peduli. Aku harus memikirkan diriku sendiri. Dia saja tidak memikirkan bagaimana perasaanku. Jadi ya sudah, saat jauh darinya aku adalah Cecilia yang asli. Saat dekat aku memainkan sandiwara di depannya, seolah-olah aku benar-benar mencintainya.
"Angela, kau sibuk?"
Kini aku tiba di ruang kerja Angela. Ruangan berukuran 3x3 meter yang berada di sudut restoran. Di ruangan ini juga terdapat banyak sekali arsip. Angela menangani sendiri administrasinya di restoran ini. Ya, walaupun dia mempunyai banyak bawahan.
"Cepat sekali kau datang, kau mau minum apa?" tanyanya seraya beranjak berdiri.
Lantas aku diarahkan olehnya ke sofa tamu. Sofa kecil yang hanya bisa memuat tiga orang. Aku pun segera menuturkan tujuanku datang ke sini. Seketika itu juga Angela terkejut mendengar ceritaku. Dahinya berkerut, alis matanya tersambung. Dia menelan ludahnya saat mengetahui permasalahan yang kuhadapi sekarang.
"Cecilia, mengapa kau bisa sampai terjebak ke dalam lingkaran seperti ini?"
Angela bertanya padaku. Kuakui jika dia begitu peduli padaku. Persahabatan kami yang sudah lama menimbulkan ikatan batin yang begitu kuat. Saat aku merasa kesusahan, dia juga ikut susah. Tapi saat aku gembira, dia juga ikut gembira. Angela sudah seperti kakak kandungku sendiri.
"Entah, aku bingung harus bagaimana. Menurutmu baiknya gimana?" Aku bertanya padanya.
.........
...Visual Tokoh Hadden...
__ADS_1