
...Visual Tokoh Angela...
.........
Di ruang kerja Angela...
"Angela."
Aku segera menyapa Angela begitu tiba di ruangannya. Kulihat dia sedang sibuk di depan meja kerja dengan raut wajah yang muram. Sepertinya Angela prihatin setelah mendengar percakapan Hadden dan Oliver. Dia melepas earphone dari telinga sambil mengembuskan napas lelahnya.
"Masalah semakin rumit, Cecilia. Aku tidak mengerti mengapa kau bisa sampai terjebak di masalah seperti ini." Angela beranjak dari duduknya.
Aku mendekatinya. "Angela, aku rasa bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan diri dari jeratan Jackson," kataku lalu mengikutinya ke sofa tamu.
"Ya, aku rasa juga begitu." Angela duduk di sofa, aku pun ikut duduk di sampingnya. "Pasti ada solusi di setiap masalah. Dan aku rasa memang kesempatan baik bagimu untuk bernegosiasi dengan Jackson. Pastinya Jackson akan menimbang usahamu karena telah membantunya." Angela menuturkan.
Aku memang mempunyai rencana lain setelah mendengarkan percakapan Hadden dan Oliver. Pikiranku dan Angela sama, yaitu memanfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan diri dari Jackson. Jika aku bisa menolong Jackson keluar dari bahaya yang ditimbulkan pengkhianatan Oliver, pastinya Jackson akan merasa segan untuk menuntutku dari jeratan hukum, atas perjanjian bersama Zea.
"Kalau begitu aku minta tolong simpan rekaman ini sampai aku membutuhkannya," pintaku kepada Angela.
"Kau bisa mengandalkanku, Cecilia. Jaga dirimu." Angela berpesan padaku.
Lantas aku segera berpamitan kepada Angela untuk menjalankan rencana selanjutnya. Aku mempunyai rencana lain terhadap hal ini.
Semoga saja usahaku membuahkan hasil dan membuat Jackson melepaskanku.
Kulangkahkan kaki sambil menghirup udara dalam-dalam. Aku berharap bisa secepatnya terbebas dari lingkaran setan ini. Sungguh aku tidak tahu harus bagaimana lagi selain menjadi bunglon di hadapan mereka. Kulakukan saja apa yang aku bisa.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian...
Kini aku berada di kedai kopi yang ada di sebelah restoran Angela. Di sini menjual berbagai macam kopi lokal maupun impor. Lantas aku memesan secangkir kopi hitam tanpa gula. Pahit memang, tapi katanya yang pahit itu adalah obatnya. Jadi aku berharap rasa pahit dari kopi ini bisa membantu otakku berpikir dengan baik.
Saatnya menelepon Andreas.
Kuambil ponsel dari tas lalu segera menelepon Andreas. Aku pun mendengar nada tunggu berulang sampai akhirnya teleponku diangkat olehnya.
"Halo?" Ternyata Andreas mengangkat teleponku segera.
"Tuan, bisakah kita bertemu? Aku mempunyai berita penting untukmu," kataku dengan penuh semangat.
"Kau di mana, Cecilia?" tanyanya segera, seperti sedang sibuk dengan banyak urusan.
"Di kedai kopi yang ada di sebelah Restauran Blue Sea," jawabku singkat.
"Baik. Aku ke sana sekarang." Dia lalu mematikan teleponnya.
Lantas sambil menunggunya datang, aku streaming drama Korea dulu. Sudah lama tidak menonton drama, jadi alangkah baiknya menyenangkan pikiran dengan drama komedi yang romantis ini. Tentunya sambil menunggu Andreas datang.
Empat puluh menit kemudian...
Akhirnya yang ditunggu juga datang. Selingkuhan Zea menghampiriku dengan mengenakan setelan jas berwarna abu-abu dan aksesoris jam tangan mahal di pergelangan tangan kanannya. Dia segera duduk di depanku sambil berbasa-basi sebentar. Setelahnya, kami segera ke inti pertemuan kali ini ditemani secangkir kopi robusta.
“Tuan, saat ini Angkasa Group adalah milik PT. Samudera Jaya. Direktur Jackson akan melawan Hadden demi membeli Angkasa Group karena bernilai tinggi. Kalau Tuan Andreas dapat lebih dulu menguasai Angkasa Group sebelum tuan Jackson, mungkin saja ke depannya bisa digunakan untuk mengancam tuan Jackson.” Aku menjelaskan inti pertemuan kali ini.
Aku mencoba meyakinkan Andreas jika berada di pihaknya. Tentunya menghadapi seorang penjahat harus menyamar juga sebagai penjahat. Begitupun dengan menghadapi seorang pengkhianat, harus bersikap sebagai pengkhianat. Dan bukan Cecilia namanya jika tidak bisa menjadi bunglon. Asal selamat dari keganasan mereka, apapun akan aku lakukan.
Semoga Andreas yakin jika aku berada di pihaknya.
__ADS_1
Kulihat Andreas mengernyitkan alisnya karena mengetahui Angkasa Group dikendalikan oleh kantor pusat. Mungkin dia berpikir tidak mudah untuk menguasai Angkasa Grup seperti yang kukatakan. Lantas kutambah keyakinannya jika dia bisa menguasai Angkasa Grup. Aku berlagak seperti benar-benar berada di pihaknya.
"Tuan Andreas, aku punya kesempatan untuk mendapatkan stempel milik Jackson. Aku rasa jika Tuan mendapatkan stempelnya, mudah bagi Tuan untuk menguasai Angkasa Grup," kataku lagi.
Andreas terdiam. Tapi kurasa dia amat tertarik untuk menguasai Angkasa Grup karena bisa dijadikan bahan untuk mengancam Jackson di kemudian hari. Tapi, Andreas bukanlah tipikal pria yang gegabah. Dia menimbang ulang akan tawaranku.
"Ini terlalu berisiko tinggi, Cecilia." Dia ragu akan saran dariku.
"Bukankah sama saja mencari bahaya jika berhadapan langsung dengan direktur Jackson?" tanyaku, meyakinkannya jika saran dariku adalah yang terbaik.
"Cecilia, apa kau tidak mengerti tentang hukum di dunia bisnis? Penyalahgunaan kekuasaan dan curang itu melanggar hukum." Dia amat ragu padaku.
Aku tersenyum merendahkan di hadapannya, lalu mendekatkan sedikit tubuh ini. "Tuan, di dalam dunia bisnis semua cara halal digunakan. Asal keuntungan besar didapat, kenapa tidak? Lagipula apa Tuan akan menyia-nyiakan kesempatan yang jarang ini? Prospek Angkasa Grup ke depannya sangatlah bagus. Hanya saja mereka mengalami kesalahan di manajemen sehingga hal itu membuatnya bangkrut." Kuutarakan apa yang kuketahui padanya.
Kulihat Andreas menarik ekspresi keraguannya. "Kau luar biasa, Cecilia." Dia lantas memujiku. "Tapi, aku tidak percaya kau bisa mendapatkan stempel itu," katanya seraya menggabungkan kedua tangan di depanku.
Aku beranjak berdiri. "Aku yakin bisa mendapatkannya, Tuan. Tapi jika aku berhasil, tentunya tidak ada yang gratis di dunia ini." Aku berjalan mendekati seraya mengusap pelan bahunya.
Kulihat Andreas tersenyum. Mungkin dia berpikir jika aku berada di pihaknya. Dia lalu berdiri dan berhadapan denganku. Kulihat ekspresinya begitu puas.
"Baiklah. Aku akan memberikan bonus besar jika kau berhasil mendapatkan stempel itu. Sampai nanti, Cecilia." Andreas beranjak pergi dengan meninggalkan kartu kreditnya di atas meja. Tak lama PIN-nya pun aku terima lewat pesan.
Baiklah. Selanjutnya.
Aku tahu tidak dapat terburu-buru saat berada di lingkaran ini. Aku harus tetap berhati-hati dan setahap demi setahap melancarkan aksi. Aku harus berhasil menyelamatkan diriku dari keganasan mereka. Setelah itu barulah pergi sejauh mungkin.
Setelah berpisah dengan Andreas, aku masuk ke mobil lalu menuju apartemen Jackson. Hari ini aku akan menemuinya untuk urusan pekerjaan. Bagaimana nanti, itu urusan belakangan. Aku harap kesungguhanku dalam membantunya bisa membuat Jackson melepaskanku dari jeratan hukum atas perjanjian yang kubuat dengan Zea. Ya, semoga saja. Aku sudah muak berada di situasi seperti ini.
Sesampainya di depan apartemen Jackson...
__ADS_1
Aku memencet bel berulang kali untuk memastikan jika Jackson ada di dalam. Tak lama Jackson pun membukakan pintu apartemennya untukku. Dan kulihat dia baru saja mandi. Rambutnya masih basah dan pakaiannya belum tertutup sempurna. Kemeja birunya belum terkancing. Dan ya, tubuhnya memang begitu menggoda. Jackson amat tampan dan juga seksi. Dia manly sekali.