
"Aku sering ikut setiap ada pesta Queen Club. Yang menyediakan minuman itu semuanya aku." Steve menuturkan.
Ya Tuhan, ternyata aku tidak perlu jauh-jauh untuk mencari tahu tentang kebenaran Alexander. Temanku juga sepertinya bisa dimintai informasi tentangnya.
"Siapa pemilik Queen Club itu?" tanyaku lagi.
"Tuan Smith," jawabnya.
"Tuan Smith?"
"Ya. Dia adalah orang terkaya nomor tiga di kota ini. Bisnisnya banyak. Tapi yang terkenal di kalangan pebisnis adalah Queen Club." Steve menuturkan.
Astaga!
Saat itu juga aku tak percaya dengan yang kudengar ini. Ternyata pemilik dari Queen Club bernama Smith. Apakah itu berarti nama kepanjangan Alexander adalah Alexander Smith?!
Oh, Ya Tuhan. Jika ayahnya adalah orang terkaya nomor tiga di kota ini, mengapa Alexander harus sampai bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhan keluarganya? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Kenapa, Cecilia? Kau terlihat sangat terkejut." Steve merasa heran denganku.
"Steve, apa kau tahu siapa istri dari tuan Smith?" tanyaku lagi.
Dia menyandarkan punggung di kursi. "Aku tidak tahu. Tapi kudengar mereka sudah bercerai," jawabnya.
"Apa?!" Seketika jantungku semakin berdebar karena ingin mengetahui lebih lanjut lagi.
"Ya. Kudengar setelah menikahkan putri terakhirnya, tuan Smith resmi bercerai dari istrinya," katanya lagi.
"Apa kau tahu berapa jumlah anak yang dimiliki oleh tuan Smith?" Jantungku ini semakin tak karuan menunggu jawabannya.
"Em ...," Steve tampak berpikir, aku pun jadi semakin berdebar menantikan jawabannya. "Aku kurang tahu pasti ada berapa. Aku juga tidak tahu istrinya ada berapa. Tapi kalau tidak salah dia mempunyai putra bernama..."
"Bernama???"
"Bernama..."
"Cepat katakan, Bodoh! Aku menunggunya!" Kugebrak meja ini di depannya. Seketika dia pun terkejut.
__ADS_1
"Hei, Cecilia. Kau ini galak sekali. Aku kan sedang berpikir." Dia mengernyitkan dahinya, melihatku.
"Cepat! Aku butuh informasinya, Steve." Aku mencoba bersabar menunggunya.
Dia menggeleng-gelengkan kepala. "Kau tertarik pada ayahnya atau putranya? Atau jangan-jangan targetmu kali ini adalah ayahnya?" Dia mencurigaiku.
"Hei, Bodoh! Cepat beri tahu aku! Atau kalau tidak, tidak usah menyebut namaku lagi!" Aku menggertaknya.
Dia pun terlihat menurut padaku. Ternyata wanita kalau sudah marah menakutkan, ya?
"Putranya aku tidak tahu siapa namanya. Tapi kudengar dia baru datang dari luar negeri beberapa bulan yang lalu. Mungkin dia juga akan ikut datang ke sini." Steve mengira-ngira.
"Dari luar negeri? Memangnya ngapain dia di luar negeri?" tanyaku ingin tahu.
Steve berpikir keras. "Kalau tidak salah dia kuliah sekaligus bekerja di sana. Dia seorang arsitek." Steve mengingat-ingat.
"Apa?!! Arsitek?!!"
Bagai petir menyambar di siang bolong. Mungkin hal itu jugalah yang kurasakan saat ini. Aku tak menyangka jika informasi tentang Alexander bisa kudapatkan dari teman lamaku sendiri. Ternyata benar Alexander adalah anak dari pemilik Queen Club.
"Apakah namanya Alexander?" tanyaku memastikan.
"Alexander?" Steve mengingat-ingat lagi. "Sepertinya ... iya mungkin. Alexander Smith," katanya yang membuat informasi ini berhasil kudapatkan.
Jantungku berdebar kencang bukan main. Ternyata aku tidak sia-sia datang ke sini karena bisa mendapatkan informasi tentang Alexander. Dia ternyata memang benar anak dari pemilik Queen Club yang bernama Smith. Namun kata Steve, Alexander mengambil jalan yang berbeda dari ayahnya.
"Steve, apakah kau tahu—"
Tiba-tiba ucapanku terputus sebelum sempat meneruskannya. Mataku terbelalak saat melihat seseorang berbusana pantai pria berjalan ke arahku. Aku pun segera mengenakan kaca mata hitam agar dia tidak menyadari kehadiranku. Kutundukkan topi ini agar wajahku tidak dilihat olehnya. Aku takut kehadiranku disadari olehnya.
"Steve, diam! Jangan sebut namaku. Ada yang datang!" Aku memintanya.
Steve pun mengangguk. Dia seperti mengerti maksud ucapanku. Dia kemudian berpura-pura mendengarkan musik sambil memainkan ponsel selularnya. Bagaimanapun dia cukup tahu tentang pekerjaan lamaku. Karena dulu aku sering datang ke bar tempatnya bekerja untuk mencari informasi sekaligus minum bir gratis. Maklum, namanya Cecilia tidak mau rugi.
Dia semakin mendekat!
Aku pun pura-pura memainkan ponsel saat dua orang pria mulai melintasi tempat kami duduk. Kudengar mereka bercakap-cakap, membicarakan sesuatu saat melewatiku.
__ADS_1
"Saham Samudera Raya meningkat pesat setelah berhasil mengakuisisi Angkasa Grup. Pasar modal dikuasai oleh Jackson saat ini. Banyak investor asing berdatangan ke perusahaannya." Kudengar seorang pria berkata seperti itu kepada seseorang yang kukenal.
"Dia sudah mendapatkan arsitek handal? tanya pria yang kukenal itu.
"Sepertinya belum. Mungkin Jackson masih menggunakan jasa arsitek lamanya. Tapi tidak menutup kemungkinan akan melirik CV Permata Indah." Seseorang itu menyinggung perusahaan milik Alexander.
Pria yang kukenal itu adalah Hadden. Hadden berjalan bersama seorang pria yang tidak kukenal siapa. Mungkin itu adalah salah satu orangnya yang digunakan untuk memata-matai Jackson. Mereka pun meneruskan pembicaraan sambil berjalan menjauh dariku. Tapi, tiba-tiba saja Hadden menghentikan langkah kakinya. Dia seperti menyadari sesuatu.
Astaga! Astaga!
Sontak jantungku berdegup kencang saat melihatnya berhenti melangkahkan kaki. Aku takut dia menyadari kehadiranku di sini. Aku pun menggeser teropongku untuk melihat apa yang dia lakukan di belakang. Dan terlihat Hadden yang membalikkan tubuhnya ke arahku.
Astaga! Ya Tuhan lindungi aku.
Saat itu juga jantungku berdegup semakin kencang dan seperti hampir copot dari tempatnya. Dia seperti ingin melangkahkan kakinya ke arahku. Aku pun harap-harap cemas dia akan datang ke sini. Aku terus berdoa agar dia tidak menyadari kehadiranku di sini.
"Tuan?" Tiba-tiba seseorang di sampingnya menegur. "Anda baik-baik saja?" tanya seseorang itu kepadanya.
"Em, ya. Aku baik-baik saja."
Hadden segera tersadar. Dia kemudian kembali melanjutkan pembicaraannya. Kulihat dia tidak jadi berjalan ke arahku.
Hufft, untung saja.
Aku masih memposisikan kaca teropong ke arahnya untuk memastikan jika dia tidak berjalan ke arahku. Sepertinya aroma parfumku ini harus diganti saat menjalankan misi agar tidak ada yang menyadari kehadiranku. Aku pun mengurut dada karena hampir ketahuan olehnya.
Steve mendekat ke arahku. "Hei, bukankah itu tuan Hadden?" tanyanya berbisik.
"Kau tahu?" tanyaku pelan.
"Ya. Dia saingan bisnis tuan Jackson. Mereka selalu bersaing di tangga tertinggi pasar modal. Tapi, sepertinya tuan Jackson sedang merajai bulan ini." Steve mengungkapkan.
"Ya, mungkin saja." Aku merasa berbahaya jika tetap berada di sini. "Steve, kenalkan aku dengan para model Queen Club. Aku ingin berbaur bersama mereka. Aku takut ada yang menyadari kehadiranku di sini," pintaku padanya.
Steve mengangguk. Dia mengerti. Senang rasanya mempunyai seorang teman yang pengertian. Satu saja terasa sudah mencukupi.
Lantas aku pun segera mengikutinya ke belakang panggung. Aku ingin berkenalan dengan para model yang ada di sana. Semoga saja aku bisa mendapatkan informasi lainnya.
__ADS_1