Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Kita Mulai


__ADS_3

"Tuan, bagaimana tipikal wanita idamanmu?" tanyaku mulai mengikuti alur cerita kami.


Dia tersenyum, menundukkan pandangannya lalu kembali melihatku. "Bagaimana jika aku bilang sepertimu. Kau mau padaku?" tanyanya seperti setengah serius.


"Em ...," Aku berpikir cepat untuk mengetahui isi hatinya. "Kau hanya melihatku dari penampilan luarnya saja, Tuan. Kau akan kecewa," kataku, menanggapi pertanyaannya.


"Hahaha." Dia tertawa. "Kita makhluk visual, Cecilia. Semua memang berawal dari mata. Jika mata sudah berkata iya, mengapa tidak dilanjutkan agar turun ke hati?" tanyanya yang sontak membuatku terdiam.


Aku berusaha untuk mencari tahu isi hatinya. Tapi dia malah membalikkan kata-kataku. Seolah-olah aku sedang terperangkap oleh kata-kataku sendiri. Dia ternyata tidaklah sebodoh yang kukira. Mungkin pintarnya 11-12 dengan Jackson.


"Tuan, aku dengar Queen Club kedatangan model-model cantik. Apa tidak ada yang menarik pandanganmu?" tanyaku, mulai beraksi.


Alexander terdiam sejenak. Kedua bola matanya bergerak memperhatikanku. Entah apa yang ada di pikirannya, sepertinya dia terkejut dengan pertanyaanku.


"Aku tidak pernah ke sana," katanya yang membuatku tak percaya. "Aku hanya melihat yang ada di depan mataku. Untuk apa mencari yang lain?" Dia seolah membalikkan pertanyaanku.


Aku terdiam sesaat. Sepertinya Alexander sedang menutupi sesuatu dariku. Dari jawabannya tersirat jika dia tidak ingin aku mengetahui tentang tempat itu. Tapi, aku malah semakin penasaran. Ingin sekali bertanya langsung tentang kebenaran hal yang dikatakan Jackson waktu itu.


"Hoooaam." Aku pun pura-pura menguap. "Aku sudah ngantuk, Tuan. Besok lagi, ya. Aku mau beristirahat." Aku berniat mengakhiri percakapan kami.


Dia mengangguk. Terdiam sebentar sambil memandangiku. "Jangan dinonaktifkan ponselnya. Nanti aku telepon satu jam sebelum berangkat. Kebetulan apartemen kita tidak terlalu jauh," pesannya sebelum sambungan video call ini terputus.


Aku mengangguk. Dia kemudian mengucapkan selamat istirahat untukku. Aku pun membalas ucapannya seraya tersenyum. Tak lama panggilan video call kami terputus. Aku rasa tinggal menunggu waktunya saja akan mengetahui segalanya.


Esok harinya...


Pagi ini aku terbangun pada pukul tujuh lewat lima belas menit. Tapi tidur lagi sampai akhirnya pukul delapan baru bangun kembali. Itu juga karena dering telepon Alexander membangunkanku. Jika tidak, kemungkinan bisa terus tidur sampai menjelang siang nanti.

__ADS_1


Aku memang sedang mengandung. Dan kalau diizinkan akan menjadi seorang ibu. Tapi saat ini status diriku masih lajang, belum punya pasangan. Dan mungkin karena hal itu aku masih bangun siang saat libur.


Aku masih merasa sendiri, tidak ada yang perlu diurusi. Jadinya bermalas-malasan. Mungkin berbeda jika sudah menikah nanti. Bangun pagi, digempur sampai pagi. Akhirnya tidak pernah bisa tidur lagi. Jadi selagi masih sendiri, kenapa tidak kunikmati hidup ini?


"Aku masih langsing ternyata. Belum kelihatan mengandung."


Kini aku sedang berkaca di depan cermin. Kulihat tubuhku masih langsing dan perutku juga belum menampakkan ada tanda-tanda kehamilan. Jadi sepertinya aku masih bisa mengenakan pakaian apapun. Kata orang sih kehamilan akan terlihat jika sudah memasuki usia tiga bulan. Entah benar atau tidak, aku juga tidak tahu.


Hari ini Alexander akan menjemputku untuk menemaninya berselancar. Mungkin dia ingin lebih dekat denganku. Dan setelah menimbang ulang, akhirnya aku penuhi tawarannya. Tapi tidak ikut surfing, melainkan hanya duduk manis di pinggir pantai sambil menenangkan pikiran.


Setelah patah hati, kuputuskan untuk membuka lembaran baru. Sekalian aku juga ingin tahu siapa Alexander yang sebenarnya. Semalam sih dia mulai membuka dirinya kepadaku. Dan aku ingin tahu lebih jauh tentangnya. Toh, tidak ada yang melarang. Sampai saat ini Jackson juga tidak menghubungiku. Mungkin dia sedang sibuk bersama Zea di sana. Entahlah, aku tidak mau tahu.


"Pakai lengan panjang saja."


Kukenakan tengtop putih dibalut blezer berwarna krim. Sedang bawahannya kupakai celana berbahan dasar jeans yang lentur. Hari ini aku juga memakai sepatu sandal yang tidak ada haknya. Karena kami akan pergi ke pantai, bukan kondangan. Jadinya santai saja.


Salah rasanya jika aku hanya berdiam diri untuk menunggu Jackson datang. Aku punya hak untuk hidup senang tanpa ada yang melarang. Dia saja seenaknya berbuat seperti itu kepada Zea, tanpa memikirkan bagaimana perasaanku. Entah jika kemarin aku tidak datang, mungkin sudah lain lagi ceritanya.


Sudah jangan julid sama hubungan orang.


Lantas kusemprotkan parfum ke beberapa titik tubuh. Tak lupa kupoleskan juga make up girly pada wajahku. Kini aku sudah siap untuk berlibur bersama Alexander. Dengan tak lupa membawa parfum ajaib dari Angela yang kuletakkan di saku celana. Ya, aku harus tetap berjaga-jaga karena bagaimanapun aku wanita yang punya batas kemampuan untuk melawan. Jadinya harus selalu berantisipasi.


"Eh? Dia sudah datang?"


Tak lama bel apartemenku berbunyi. Aku pun segera mengambil tas kecilku sebelum beranjak keluar apartemen. Dan saat membuka pintu, ternyata benar Alexander yang datang. Tapi hari ini dia tampak berbeda. Dia kasual sekali.


"Selamat pagi, Putri Cecilia." Dia menyebutku sebagai putri.

__ADS_1


"Tu-tuan ...?" Aku pun tersipu malu mendengar perkataannya.


"Kau sudah siap? Aku sudah membawa peralatan berselancar," katanya seraya tersenyum padaku.


"He-em." Aku mengangguk. Dia pun tersenyum.


Segera kukunci apartemenku dari luar. Aku pun mulai melangkahkan kaki bersama Alexander menuju lantai dasar. Aku berjalan di sisi kirinya sehingga terlihat seperti sepasang kekasih sungguhan. Aku pun hanya bisa tersenyum-senyum sendiri saat berdekatan dengannya. Mungkin saja aku mulai terlena karena gagal cinta. Ya sudahlah, jalani saja.


.........


...Alexander...



.........


Satu jam kemudian, sesampainya di pantai...


Sepanjang perjalanan kami hanya saling mencuri pandang. Alexander pun sesekali tersenyum sambil menyetir mobilnya. Kulihat dia juga membawa papan selancarnya di belakang. Mungkin dia memang menyukai olahraga yang satu ini. Bermain-main dengan ombak tinggi.


Hari ini Alexander mengenakan kaus oblong berwarna abu-abu keunguan, jeans hitam dan sepatu ketsnya. Dia tampak berbeda sekali. Biasanya dia selalu tampil formal, tapi hari ini dia amat trendy. Mungkin memang sengaja mengenakan kaus oblong agar lengan kekarnya terlihat. Entahlah, setiap pejantan mempunyai cara tersendiri untuk menarik perhatian betinanya. Dan mungkin hal itu jugalah yang dilakukan Alexander sekarang. Dia mencuri perhatianku dengan penampilan kasualnya.


"Kita sudah sampai, Cecilia."


Tak lama berselang kami akhirnya tiba di sebuah pantai yang ada di selatan kota. Pantai ini memang mempunyai laut lepas yang indah. Katanya sih memang dikhususkan untuk berselancar dan olahraga laut lainnya. Jadinya Alexander tidak salah memilih tempat untuk surfing. Ya, terlepas dari tiket masuknya yang mahal.


Kulihat keadaan pantai tampak mulai ramai dipenuhi turis-turis asing. Dan banyak dari mereka yang berpakaian mini. Sebelumnya aku pernah mendengar pantai ini dari Angela. Katanya memang dikhususkan untuk turis mancanegara. Jadi wajar saja jika tiket masuknya juga mahal. Yang datang orang-orang dari luar negeri.

__ADS_1


__ADS_2