Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Was-Was


__ADS_3

Aku sendiri mulai menikmati kebahagiaan ini bersamanya. Alexander membebaskanku melakukan apa saja di apartemennya. Dia juga memintaku untuk beristirahat sambil merelaksasikan pikiran. Bagaimanapun belum lama ini terjadi peristiwa yang amat tidak kuinginkan. Tapi, biarkanlah berlalu apa yang sudah terjadi. Kini saatnya bagiku untuk menata kehidupan baru.


Luka di hatiku berangsur-angsur pulih karenanya. Alexander tanpa ragu menunjukkan kasih sayangnya padaku. Tidak ada lagi yang perlu kuragukan darinya. Tinggal kesiapan mental kami menjelang hari-hari bahagia itu tiba.


Kebetulan saat ini Alexander masih mempunyai beberapa kontrak kerja. Jadi dia memintaku untuk menunggunya sampai selesai. Sedang dia sendiri akan secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya. Dia tidak ingin saat hari bahagia itu tiba masih menyisakan pekerjaan untuknya. Kutahu jika dia amat bertanggung jawab dalam pekerjaannya.


"Eh? Aurel menelepon?"


Nada dering All That I Need terdengar dari ponselku. Ternyata Aurel meneleponku lagi. Mungkin ada sesuatu hal yang ingin dia bicarakan padaku. Aku pun dengan segera mengangkat telepon darinya.


"Halo?" jawabku.


"Cecilia."


"Ya?"


"Gajimu sudah ditransfer penuh. Apakah kau sudah mengeceknya?" Ternyata Aurel ingin menanyakan gajiku sudah sampai atau belum.


"Oh ... aku belum sempat mengeceknya, Aurel. Tapi apakah masih pantas aku menerimanya?" tanyaku memastikan.


"Kau mengundurkan diri pada akhir bulan, Cecilia. Kau berhak mendapatkan gajimu." Aurel menerangkan.


"Oh. Kalau begitu terima kasih banyak. Nanti aku akan mengeceknya," jawabku.


"Baiklah." Percakapan kami sepertinya akan segera berakhir. "Cecilia." Tetapi dia menegurku kembali.


"Ya?" Aku pun masih antusias menanggapinya.


"Ada ... sesuatu yang ingin kukabarkan padamu," lanjutnya.


"Tentang apa?" Aku meneguk segelas susu yang ada di atas meja makan.


"Tentang tuan Jackson," jawabnya.


Seketika aku terdiam mendengarnya.


"Tadi tuan Jackson ke sini dan dia mencarimu," cerita Aurel.


"Mencariku?"


"Ya. Tuan Jackson datang ke Angkasa Grup lalu mencarimu. Tapi kami semua diam, tidak menjawab pertanyaannya. Dia kemudian masuk sendiri ke ruang kerjamu. Di saat itu juga dia menemukan surat pengunduran dirimu." Aurel menceritakan.


"Lalu?" tanyaku serius.


"Dia merobek surat pengunduran dirimu, Cecilia. Sepertinya dia marah karena kau mengundurkan diri dari Angkasa Grup." Aurel menduga.

__ADS_1


Entah mengapa aku merasa Jackson mulai penasaran terhadapku. Atau dia ingin membalas rasa sakit karena tak kuanggap kemarin?


Aku menghela napas panjang. "Aku sudah tidak ada hubungan apapun dengannya, Aurel. Jika ingin membicarakan tentangnya, aku masih banyak pekerjaan." Aku ingin mengakhiri panggilan ini.


"Tunggu, Cecilia." Dia menahanku untuk mematikan teleponnya. "Tuan Jackson sepertinya sedang mencarimu sekarang. Aku harap kalian baik-baik saja setelah kejadian kemarin. Aku mendoakan yang terbaik untuk kalian." Aurel menuturkan.


Aku menelan ludah. Cerita dari Aurel ini entah mengapa membuat hatiku merasa was-was saja. Aku sudah cukup tahu bagaimana Jackson bekerja. Dan mungkin apa yang dikhawatirkan Alexander kini sedang terjadi. Jackson tengah mencariku saat ini.


"Terima kasih, Aurel. Semoga yang terbaik menyertaimu juga," kataku. "Eh, aku sedang membuat kue. Kutinggal dulu, ya. Sampai nanti." Aku pun berniat mengakhiri panggilan ini.


"Em, baiklah. Sampai nanti, Cecilia." Dia kemudian menutup telepon kami.


Aku menarik napas panjang. Sebenarnya sudah tidak peduli dengan Jackson dan segala hal yang terjadi padanya. Tapi entah mengapa setelah mendengar cerita Aurel, membuatku merasa was-was sendiri. Jackson sedang mencariku saat ini. Jangan-jangan dia juga mendatangi apartemenku?


Jack, sebenarnya apa yang kau inginkan? Belum puas kah kau menyakiti hatiku?


Lantas aku menarik napas dalam agar bisa kembali tenang. Aku bergegas menuju dapur untuk mengangkat kue yang sudah matang. Aku mencoba untuk tidak memedulikan cerita yang baru saja kudengar. Namun, tak berapa lama kemudian ponselku kembali berdering.


"Siapa, ya?"


Aku pun lekas-lekas ke meja makan untuk mengambil ponselku. Dan kulihat ternyata Angela lah yang menelepon.


Astaga, jangan-jangan?!


"Cecilia."


"Ya?"


"Apa kau baik-baik saja?" Nada pertanyaan Angela terdengar khawatir.


"Em, ya. Aku baik-baik saja. Kenapa Angela? Apa terjadi sesuatu padamu?" tanyaku balik.


"Kau masih berada di apartemen kemarin?" Dia seperti mencemaskan keadaanku.


"Em ... tidak. Ada apa? Kau seperti cemas sekali?" Aku mulai curiga.


Angela terdiam sejenak. Dia kemudian berkata, "Cecilia, Jackson baru saja kemari. Dan dia mencarimu," katanya yang membuat jantungku berdetak kencang seketika.


"Apa?! Dia ke restoranmu?!" Sontak aku merasa takut sendiri.


"Ya. Dia mencurigaiku menyembunyikanmu. Sepertinya dia sedang mencarimu sekarang. Aku harap kau berhati-hati di sana. Jackson sepertinya marah sekali," tutur Angela lagi.


Aku merasa aneh dengan sikap Jackson yang tiba-tiba seperti ini. Bukankah dia yang mengusirku? Dia juga sudah tidak membutuhkanku. Lalu kenapa dia sekarang mencariku? Oh, ya Tuhan. Lindungi aku.


"Angela, hubungan kami sudah berakhir? Untuk apa dia masih mencariku?" Aku tak habis pikir.

__ADS_1


Kudengar Angela menarik napas panjang. Dia kemudian menceritakan maksud kedatangan Jackson ke restorannya. Aku pun mendengarkan dengan saksama. Saat itu juga aku merasa ketakutan.


Jadi ini sifat aslinya?


Aku tidak habis pikir dengan hal yang dikatakan Angela. Ternyata Jackson datang ke restoran lalu mengancam Angela. Dia merasa Angela telah menyembunyikan keberadaanku darinya. Entah apa maunya, sepertinya aku harus segera menghubungi Alexander saat ini.


Satu jam kemudian...


Aku menghubungi Alexander dan memintanya untuk makan siang di apartemen. Aku sudah menyiapkan kejutan kecil untuknya. Aku pun sudah berdandan secantik mungkin. Hari ini aku ingin merayakan ulang tahunnya.


"Cecilia?"


Yang ditunggu akhirnya datang. Ternyata dia datang tepat pada jam istirahat kantor. Aku pun bergegas membawakan kue buatanku untuknya.


"Selamat ulang tahun. Semoga panjang umur..."


Dia masih berada di dekat pintu. Aku pun menyanyikan lagu ulang tahun sambil membawakan kue black forest buatanku ini, dengan satu lilin kecil di atasnya. Alexander pun terkejut dengan hal yang kulakukan.


"Cecilia?" Pria berkemeja putih itu tak percaya dengan kejutanku.


"Selamat ulang tahun, Dear. Genap sudah usiamu ke tiga puluh tahun. Semoga sukses meraih cita dan cinta." Aku mendoakannya.


Aku tiba di hadapannya sambil membawa kue ulang tahun ini. Dan kulihat bola mata birunya seperti digenangi air mata yang hampir tumpah. Dia tampak terharu dengan hal yang kulakukan.


"Dari mana kau tahu hari ulang tahunku?" tanyanya, seperti tak percaya.


Aku pura-pura berpikir. "Kemarin-kemarin ada yang memberikan dompetnya padaku. Jadi aku melihat semua isinya." Aku berkata jujur.


Dia tersenyum lalu mengusap-usap kepalaku. "Terima kasih, Cecilia." Kulihat dia hampir meneteskan air matanya.


"Sudah jangan sedih. Sekarang ucapkan permohonanmu. Aku tunggu," kataku lalu dia pun mengangguk.


Kubiarkan Alexander berdoa di hadapanku. Aku berharap kejutan kecil dariku ini bisa membekas di hatinya. Aku juga berdoa agar dia selalu sehat dan sejahtera. Karena hanya doa yang bisa kuberikan untuknya. Untuk seorang pria yang sudah mulai mengisi hatiku, Alexander Smith.


.........


...Cecilia...



........


...Alexander...


__ADS_1


__ADS_2