Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Kadang Suka Kadang Duka


__ADS_3

Malam harinya...


Taburan bintang di langit seakan menyambut kepulangan kami sehabis berlibur hari ini. Bulan bersinar dengan terang menghiasi malam yang cerah berbintang. Secerah hatiku karena telah menghabiskan waktu bersamanya. Dengan seorang pria berwajah muram dan dingin. Tapi, kini aku malah kepincut dengannya.


"Hati-hati."


Jackson membantuku turun dari pesawat. Kini dia tampak lebih segar dan cerah setelah tidur siang di dadaku. Sore tadi dia baru bangun dan langsung mengecup pipi ini. Jackson menjadikanku bantal guling tanpa malu lagi.


Menjelang petang kami akhirnya bersiap-siap untuk pulang. Kami terbang dari pantai yang penuh kenangan. Kami memutuskan untuk segera kembali ke kota setelah berlibur seharian. Liburan yang meninggalkan sejuta kenangan di mana hanya ada aku dan Jackson di sana. Dengan hati yang riang aku pun turun dari helikopter bersama Jackson. Kami lalu bergandengan tangan sepanjang jalan sampai masuk ke dalam lift gedung, mesra sekali.


Jackson seperti tidak keberatan dengan sikap manjaku. Dia seperti benar-benar menerimanya. Entah benar atau tidak kesungguhan hatinya dalam menerima sikapku ini, tapi sampai di sini saja aku sudah merasa amat bahagia. Setidaknya bisa berpura-pura menjadi kekasihnya. Gila memang, seperti tidak ada pria lain di muka bumi ini. Tapi ya bagaimana kalau cinta sudah bicara?


Jackson memiliki tubuh yang amat proposional. Dia manly sekali. Tinggi tubuhnya sekitar 180cm dengan bola mata biru yang menawan. Jadi wajar saja jika aku tergila-gila padanya. Terlebih ternyata dia memiliki kepribadian yang tak kusangka. Aku pikir dia akan selalu bersikap dingin kepada setiap orang. Tapi setelah melalui hari ini bersama, semua persepsi tentangnya hilang begitu saja.


Di pantai kami layaknya sepasang kekasih yang sedang memadu kasih. Berpegangan tangan sambil menikmati deburan ombak yang berkejaran. Jackson pun sudah tahu aku phobia ketinggian, dia masih saja sempat-sempatnya membuatku berteriak histeris. Dia menggendongku di atas bahunya sehingga membuatku hampir pingsan karena takut jatuh. Akhirnya kuacak-acak saja rambutnya karena kesal tidak juga diturunkan. Dan anehnya Jackson tidak marah sama sekali, dia malah tertawa melihatku yang ketakutan jatuh.


"Hahaha. Maaf-maaf."


Dia lantas menarikku ke dalam pelukannya. Kami berjalan menyusuri pantai saat hari menjelang petang. Dia membuatku kesal sekaligus bahagia yang bersamaan. Entahlah, mungkin saja kami sudah sama-sama gila sekarang.


Hari ini aku bisa melihat Jackson tertawa lepas. Senyum manis nan tulus bisa kurasakan dari dirinya. Indah sekali hari ini. Mungkin jika takdir tidak mempersatukan kami, aku akan mengenangnya di dalam hati. Walaupun selalu ada sepercik harapan di tengah kegelapan. Aku masih berharap keajaiban itu akan terjadi.


Kini kami baru saja sampai di lantai satu gedung dengan membawa sejuta kenangan yang manis. Namun, saat akan membuka pintu keluar, tiba-tiba saja langkah kakiku terhenti. Jantungku berdegup kencang saat melihat seorang wanita bergaun hitam menatap tajam ke arahku.


"Nyo-nyonya?!"


Lekas-lekas kulepaskan pegangan tanganku dari Jackson. Suasana sekitar pun berubah mencekam saat kehadiran wanita itu di tengah-tengah kebersamaan kami. Dia berjalan mendekatiku seraya menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Pengkhianat!"


Satu tamparan keras akhirnya kuterima. Seketika pipiku terasa panas sekali. "Nyonya?!" Aku terkejut mengapa dia menamparku.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan, Zea?" Jackson merentangkan tangannya untuk melindungiku.


"Cih! Ternyata ada sepasang insan yang sedang asik berlibur sampai melupakan istrinya. Pantas saja jika suamiku tidak mau pulang ke rumah. Ternyata ada seorang pelakor yang menggodanya."


Wanita bergaun hitam itu melirik ke arahku. Dia benar adalah Zea, istri dari Jackson sendiri. Aku tidak tahu mengapa dia bisa ada di sini. Tamparan darinya sungguh menyakitkan hatiku.


"Nyonya, bukannya Anda sendiri yang memintaku untuk—"


"Diam! Wanita murahan sepertimu tidak pantas untuk menjawab pertanyaanku!" Dia menatapku tajam.


Aku menunduk. Kutahu jika telah melakukan kesalahan karena pergi dengan suami orang. Tapi bukankah dia sendiri yang memintaku untuk menggoda suaminya? Aku merasa Zea seperti sedang mencuci tangan di hadapan Jackson. Dia mengkambinghitamkan aku.


"Cecilia tidak salah. Aku yang mengajaknya." Jackson berkata seperti itu kepada Zea.


"Suamiku, sungguh kau amat tega padaku, Sayang. Dua tahun ini ternyata kau bermain di belakangku." Zea seperti sedang bersandiwara di hadapan Jackson. Entah benar atau tidak.


Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Zea. Tiba-tiba saja dia datang ke kantor dan melihat kami yang baru saja pulang sehabis liburan. Dan aku juga tidak mengerti mengapa dia sampai menamparku.


Jika dia cemburu, mengapa dia memintaku untuk menggoda suaminya? Jika dia sedang bersandiwara, alasan apa yang membuatnya melakukan hal ini? Aku tidak tahu apakah Jackson sudah bertindak atau belum. Tapi rasa-rasanya Zea sedang ingin mencuci tangan dari perjanjian yang telah dia buat bersamaku.


Tak ada yang bisa kukatakan selain itu. Kubawa barang-barangku lalu bergegas pergi. Tak tahu apa yang mereka bicarakan, aku berusaha tidak peduli. Aku berjalan cepat saja ke arah pintu gerbang gedung untuk menunggu taksi yang lewat.


"Cecilia!" Namun, tak lama Jackson mengejarku. "Aku antar kau pulang," katanya.


Jackson langsung menarik tanganku agar mengikutinya ke mobil. Dia lalu membukakan pintu mobilnya untukku. Aku pun hanya bisa terdiam tanpa berkata apa-apa. Sungguh aku terkejut dengan kedatangan Zea yang memergoki kami sehabis liburan bersama. Ini tidak ada di skenario perjanjian kami sebelumnya.


Di perjalanan...


Kunikmati perjalanan pulang dengan hati yang terluka. Rasa panas masih terasa di pipiku ini. Terlebih sakitnya masih bersemayam di hati. Jackson pun sesekali melihat ke arahku sambil melajukan mobilnya. Dan aku hanya tertunduk di sampingnya.


"Cecilia, ini risiko pekerjaan. Jangan diambil hati." Jackson seperti berusaha menenangkanku.

__ADS_1


Aku menoleh ke arahnya, lalu kembali menunduk. Aku tahu jika ini adalah risiko yang harus kutanggung. Tapi tetap saja hatiku tidak bisa menerimanya. Zea sendiri yang memintaku untuk menggoda suaminya, tapi kenapa malah dia yang marah?


"Cecilia." Jackson kembali menegurku.


Aku hanya diam, tidak berkata apa-apa. Aku terus saja diam sambil menikmati perjalanan yang terasa hampa. Sampai akhirnya malam mengantarkanku kembali ke apartemen. Jackson pun masih menemani dan membantuku membawakan barang-barang. Dan ya, aku tetap tidak berkata apa-apa padanya. Atau mungkin lebih tepatnya belum sanggup mengucapkan sepatah kata karena ditampar Zea.


Di apartemen...


Akhirnya aku sampai juga di apartemenku. Hari ini yang tadinya terasa begitu bahagia seketika berubah menjadi duka setelah kedatangan Zea. Sepanjang jalan pulang aku hanya diam di sisi Jackson. Jackson pun sesekali melihat ke arahku sambil berusaha menenangkan. Mungkin dia merasa bersalah karena telah mengajak ku pergi hari ini.


Entah apa yang terjadi, sebelum-sebelumnya Zea tidaklah seperti ini. Dia bahkan memberikan bonus yang besar setelah berhasil menjebak Jackson. Ya, walaupun pada akhirnya bonus itu tidak kuterima sepeser pun karena Jackson mengambilnya waktu itu. Tapi malam ini dia menamparku tanpa ada pembicaraan sebelumnya. Sungguh aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Tuan, kau pulang saja. Istrimu membutuhkanmu." Aku segera ingin menutup pintu setelah Jackson mengantarkanku.


"Cecilia." Dia menahan pintu apartemenku. "Aku ingin bicara sebentar padamu," katanya dengan raut wajah bersalah.


"Maaf, Tuan. Aku lelah. Aku ingin beristirahat," kataku lagi.


Jackson segera mendorong pintu, aku pun terdorong ke dalam. "Cecilia, ini risiko dari pekerjaan. Kau jangan mengambil hati." Dia seperti ingin menenangkan lagi.


Aku tersenyum palsu di hadapannya. "Terima kasih telah mengingatkanku, Tuan. Tapi baiknya kau pergi. Ada yang menunggumu pulang," kataku.


Aku memasang wajah seceria mungkin, berusaha menutupi rasa sakit di hati ini.


"Cecilia." Jackson seperti ingin menggapaiku.


"Pulanglah, Tuan. Tempatmu bukan di sini," kataku lalu membelakanginya.


Aku tidak mau wajah sedihku sampai terlihat olehnya. Dadaku sungguh sesak malam ini. Rasa-rasanya air mataku ingin jatuh karena terkena tamparan Zea.


Tak tahu apa yang dipikirkan Jackson. Dia kemudian berkata, "Baiklah. Aku pulang," katanya lalu kudengar langkah kakinya pergi.

__ADS_1


Seketika itu juga aku membalikkan badan untuk melihatnya. Dan ternyata Jackson benar-benar pergi dari apartemen ini, meninggalkanku sendiri dengan hati yang penuh luka karena ucapan istrinya. Aku sadar diri ini siapa, tapi aku membutuhkan tempat untuk mengadu sekarang. Sedang Jackson benar-benar telah pergi dariku.


Tuan, kau bagai bintang yang tidak bisa kuraih.


__ADS_2