
Malam harinya...
Hari ini aktivitas begitu padat. Begitu selesai menemani Jackson menemui Oliver, kami langsung kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaan harian. Aku juga diminta Jackson membuat laporan pertemuan hari ini. Dan ya akhirnya bisa selesai juga sebelum jam pulang tiba. Dan kini aku baru saja sampai di apartemenku. Tapi si pria berwajah muram ini malah ikut ke sini.
Kami sampai di apartemen pukul setengah delapan malam. Rasanya lelah juga jika sudah bekerja harus menunggu dia menyelesaikan urusannya. Jackson memperingatkanku agar tidak pulang sebelum dia pulang. Dia sungguh egois sekali.
Sekarang aku merasa seperti terkekang olehnya. Ke mana-mana harus mendapatkan persetujuan darinya dulu. Dia tidak mengizinkanku untuk menemui siapapun. Entah takut kehilangan atau khawatir aku diambil orang. Tapi baiknya dia memberikanku status sebelum melarangku ini dan itu.
"Kau punya anggur, Cecilia?" tanyanya seraya menghidupkan puntung rokok.
"Tidak punya. Aku bukan seorang peminum," kataku ketus padanya.
Dia memperhatikanku dengan saksama lalu duduk di sofa. "Rubahku sudah berani ketus padaku rupanya." Dia mengembuskan asap rokoknya.
Jackson seperti mengingatkan siapa diriku. Padahal tidak perlu diingatkan aku juga sudah sadar diri. Tapi yang namanya lelah ya tidak bisa disembunyikan. Aku pun pergi ke dapur untuk membuatkannya teh. Kubuat dua cangkir teh dengan cemilan seadanya lalu kusediakan ke atas meja.
"Adanya hanya ini, Tuan. Silakan," kataku lalu bergegas pergi.
Seketika itu dia menarik tanganku. "Mau ke mana?" tanyanya yang membuatku hampir jatuh.
"Aku mau mandi," jawabku singkat.
"Oh, jadi ingin mengajak ku mandi?" Dia malah bertanya seperti itu padaku.
Aku mengernyitkan dahi. Entah ucapanku yang salah atau Jackson yang sudah gila dalam mengartikan kata-kataku. Aku hanya bilang ingin mandi, bukan ingin mengajaknya mandi. Tapi kenapa dia bisa mengartikannya seperti itu?
Mungkin karena terlalu lelah telinganya sampai bermasalah.
"Tuan, aku mau mandi. Tidak mengajakmu mandi. Jangan GR!" kataku seraya berdiri tegak di hadapannya.
Lantas aku segera pergi, masuk ke dalam kamarku. Bersamaan dengan itu terdengar dering ponsel dari dalam tas yang kubawa. Aku pun melihat siapa yang menelepon, dan ternyata Andreas. Saat itu juga aku bingung harus menjawab telepon dari Andreas atau tidak.
"Angkat saja, hidupkan speaker-nya." Jackson tiba-tiba sudah berada di belakangku dan meminta menghidupkan speaker atas panggilan ini.
__ADS_1
Lantas aku menurut lalu menjawab telepon dari Andreas. "Halo?" jawabku sambil menekan tombol speaker.
"Cecilia, kau di mana?" tanya Andreas yang langsung terdengar jelas oleh Jackson.
Jackson menyilangkan kedua tangannya di dada saat aku menerima telepon dari Andreas. Tersirat dia tidak senang jika aku menerima telepon dari pria lain. Kulihat semburat muram muncul di pertengahan alisnya. Dan baru kusadari jika Jackson ternyata seorang pencemburu. Tapi, aku sedang berakting kepada Andreas. Jadi mau tak mau dia harus memakluminya.
"Aku di rumah, Tuan. Ada apa?" tanyaku pura-pura tidak tahu tujuannya menelepon.
"Aku ingin menanyakan hal kemarin yang kau tawarkan padaku. Apa sudah berhasil?" tanyanya.
"Oh, maksud Tuan stempel tuan Jackson?" Aku memastikan.
"Ya, benar. Apa ada perkembangan?" tanyanya lagi.
Aku melirik ke arah Jackson yang seperti sedang menahan kesal. Lantas kumainkan peranku kepada Andreas. "Hari ini aku sibuk sekali, Tuan. Aku belum bisa bertindak apapun. Aku sedang dikejar target pekerjaan," kataku padanya.
Andreas terdiam sejenak. "Kapan kepastiannya akan kudapatkan, Cecilia?" tanyanya kemudian.
Segera kujawab, "Aku tidak tahu pasti. Tapi kuusahakan secepatnya. Setelah urusan pekerjaanku selesai, aku akan mencari cara untuk mendapatkan stempel itu. Tuan Andreas tidak perlu khawatir." Aku meyakinkannya.
Sambungan telepon akhirnya terputus. Jackson mendengar sendiri bagaimana tamaknya seorang Andreas. Mungkin Andreas juga tahu jika prospek Angkasa Grup ke depannya sangatlah bagus. Dan mungkin bisa bersaing dengan PT Samudera Raya suatu hari nanti. Jadi dia juga ngebet ingin mendapatkan perusahaan itu.
"Tuan, kau sudah mendengar sendiri bagaimana GM-mu?" Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas.
"Kemarikan ponselmu," pintanya kemudian.
"Apa?!" Aku terkejut saat Jackson meminta ponselku.
"Sini ponselnya," katanya lagi.
Kutelan ludahku saat aura cemburu itu mulai kurasakan. Wajah Jackson benar-benar tidak enak dipandang saat ini. Dia seperti cemburu sungguhan kepadaku. Aku pun berusaha menahan ponselku darinya.
"Ini privasi, Tuan. Kau tidak boleh memegang ponselku." Aku melarangnya.
__ADS_1
Dia lantas mendekatiku. "Hal privasi mana lagi yang ingin kau sembunyikan dariku, Cecilia? Aku sudah melihat semuanya, sudah menghisap dan menjilatnya. Apa kau masih tetap tidak ingin menyerahkan ponselmu?" Dia berkata dekat sekali dengan wajahku.
Aura kecemburuan ini begitu kuat kurasakan. Atmosfer sekitar berubah kelam saat Jackson menatapku tajam. Dia lantas mengambil paksa ponselku. Aku pun jadi tidak bisa melarangnya. Dia kemudian pergi menjauh sambil membuka-buka isi ponselku. Dia benar-benar egois dan aku membencinya.
Status tak bisa kau berikan tapi bersikap seolah-olah berhak penuh atasku. Aku membencimu, Jackson!
Lantas kutinggalkan saja dirinya. Aku berniat mandi terlebih dahulu. Aku ingin menyegarkan pikiran yang sudah terlanjur penuh dengan rasa kesal akan dirinya. Mungkin memang keahliannya menarik-ulur hatiku. Seperti apa yang dikatakan Zea sebelumnya, Jackson pintar sekali mempermainkan seseorang dengan sikap acuh tak acuhnya. Dan sialnya, aku terkena jebakannya.
Beberapa menit kemudian...
Kini aku sedang mandi dengan berbikini di bawah pancuran air hangat. Kusampokan rambut dan kusabunkan seluruh tubuh dengan sabun cair beraroma terapi untuk merelaksasikan saraf-saraf otakku. Dan ya aku mendapatkannya, tubuhku sedikit relaks setelah memakai sabun cair ini.
Aku masih asik bermain busa sabun dengan shower puff sambil membasuh tubuhku, hingga tak menyadari jika pintu kamar mandi dibuka dari luar. Kamar mandi berukuran 2x3 meter ini menjadi saksi akan kedatangan seorang pria yang menyebalkan. Kusadari kehadirannya saat suara pintu tertutup dari dalam kudengar.
"Tu-tuan?!"
Sungguh aku terkejut saat melihat Jackson masuk dengan hanya mengenakan handuk. Sontak jantungku berdetak kencang. Dia bisa-bisanya tersenyum padaku sambil melepaskan handuknya. Sehingga terlihatlah jika dia hanya mengenakan celana pendek ketatnya saja.
Ini tidak boleh terjadi.
Lantas aku segera mengambil handuk untuk menutupi tubuhku. Aku cepat-cepat memakainya lalu beranjak keluar. Tapi sayang, Jackson menahanku.
"Mau ke mana?" tanyanya seperti tidak mengizinkanku untuk pergi.
"Tu-tuan, tidak baik berdua di kamar mandi. Jika kau ingin mandi, duluanlah." Aku berusaha melepaskan tangannya yang menahan lenganku.
"Cecilia." Tangan Jackson begitu kuat memegang lenganku. Aku jadi tidak bisa bergerak darinya. "Kenapa ingin menjaga jarak dariku?" tanyanya sambil tetap menahan lengan ini.
"Tuan, kita tidak boleh seperti ini. Kita belum—"
"Mmmm..."
Jackson seperti tidak menerima penolakan dariku. Dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Dia membiusku dengan ciumannya. Dia menggelitik tengkuk leherku agar tunduk padanya. Saat itu juga kurasakan jika tenangaku seperti terserap olehnya.
__ADS_1
Tuan ....
Jackson mengajak bibirku beradu sambil terus menggelitik tengkuk leherku. Dia mendorongku ke bawah shower air sambil tetap menciumku. Dia mencumbuku di bawah pancuran air. Aku pun seperti kehilangan udara sesaat.