Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Benar, kah?


__ADS_3

Esok harinya...


Sinar mentari pagi menyambutku saat terjaga dari mimpi. Kulihat di kasurku sudah tidak ada lagi si pria berwajah muram yang kucintai. Sepertinya dia pergi saat aku sudah tertidur. Dan kini hanya aroma tubuhnya saja yang masih tersisa di sekelilingku.


"Masih jam enam."


Kulihat jam di dinding masih menunjukkan pukul enam pagi. Berarti masih ada waktu sekitar satu jam untukku, sebelum pergi ke kantor. Pagi ini aku akan langsung menuju Angkasa Grup sesuai dengan instruksi yang Jackson berikan. Dan ya, aku hanya bisa menurut apa katanya. Tidak bisa tidak.


Lantas aku bangun untuk segera bersiap-siap. Kulihat ponsel sebentar karena khawatir ada pesan penting dari Jackson. Dan ya, ternyata Jackson mengirimkan nomor Jenny kepadaku.


Mungkin dia ingin aku menanyakan langsung kebenaran tentang Alexander kepada Jenny.


Sejujurnya aku penasaran dengan Alexander. Dia seolah-olah menggebu ingin dekat denganku, seperti tidak ada wanita lain. Padahal kemarin dia bertemu dengan Clara yang lebih muda dan cantik dariku. Tapi tatapan matanya selalu saja tertuju padaku. Aku jadi penasaran dan heran, apakah benar dia mempunyai rasa padaku?


Ingat, Cecilia. Sudah ada Jackson!


Aku wanita, kadang kala bisa terbawa perasaan yang diciptakan. Jadi wajar saja jika ada rasa penasaran terhadap pria yang pernah menolongku waktu itu. Walau tidak bisa kupungkiri jika kini aku hanya milik Jackson seutuhnya.


Ya sudah, jalani saja yang ada.


Aku menghela napas panjang. Berusaha untuk tidak memikirkan pria yang menolongku waktu itu. Bagiku cukup hanya Jackson seorang. Aku tidak berani selingkuh apalagi untuk menduakannya. Karena biasanya, jika sudah pernah sekali mendua, akan terulang lagi di masa mendatang.


Kata orang sih jika ada yang pertama, pasti ada yang ke dua, ke tiga dan seterusnya. Dan aku tidak mau memakan karma dari perselingkuhan yang semu. Cukup sudah kehidupan Zea menjadi pelajaran bagiku.


"Baiklah, waktunya mandi."


Kuambil handuk lalu segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Pagi ini aku akan mandi dengan busa sabun beraroma terapi. Aku berharap suasana aktivitasku nanti berjalan dengan tenang, setenang aroma terapi dari sabun yang kupakai. Ya, semoga saja. Apa salahnya berdoa?


Dua jam kemudian...


Pukul tujuh pagi aku berangkat dari rumah menuju ke Angkasa Grup. Seharusnya hanya menempuh setengah jam perjalanan aku bisa sampai di kantor. Tapi, karena macet aku harus tiba di kantor pada pukul delapan kurang beberapa menit. Untung saja masih sempat untuk mengisi absen. Karena kalau tidak, hari ini aku bisa dibilang datang terlambat.


"Selamat pagi, Cecilia." Aurel datang menghampiriku saat baru tiba di depan pintu ruanganku sendiri.


"Aurel?"


"Ini berkas laporan yang kukerjakan kemarin. Kau bisa mengeceknya, Cecilia. Kata tuan Jackson, dia memintamu yang melaporkannya. Aku permisi, ya." Aurel tersenyum padaku.


Wanita berkemeja putih lengan panjang itu segera berpamitan setelah menyerahkan laporannya kepadaku. Entah mengapa aku jadi merasa aneh saat situasi di antara kami seperti ini. Tidak biasanya Aurel bersikap hangat kepadaku. Atau memang Jackson sudah turun tangan sendiri menangani Aurel untukku? Entahlah, aku belum tahu pasti.

__ADS_1


Mari bekerja, Cecilia.


Lantas aku masuk ke ruanganku. Ruangan berukuran 3x2 meter ini cukup untuk menemaniku seharian bekerja. Di dalam ruangan ini juga terdapat brankas dokumen yang mana kode kuncinya hanya aku yang tahu. Sepertinya semua memang telah dipersiapkan oleh Jackson untukku. Jadi ya sudah, mari kita mulai bekerja saja.


Menjelang makan siang...


"Hah ... lelahnya."


Pukul setengah dua belas siang aku baru selesai melaporkan perkembangan proses akuisisi kepada Jackson. Jackson pun hanya membalas email-ku dengan kata OK. Dia simpel sekali. Namun, tak lama kemudian dia meneleponku.


"Halo?" Segera kuangkat teleponnya.


"Kerja yang bagus." Dia memujiku.


Hah, mudahnya dia memuji. Tidak tahu apa jika aku sampai lupa meminum kopi.


"Masih mual?" tanyanya padaku.


Seketika aku teringat dengan hal yang kuderita. "Sudah tidak lagi. Obat dari dokter selalu kuminum saat pagi," jawabku.


"Hanya pagi saja?" tanyanya lagi.


"Hahaha." Dia malah tertawa. "Mau periksa lagi? Aku ingin melihat wajahnya," katanya yang membuat hatiku tiba-tiba terasa syahdu.


Jackson seperti benar-benar memanjakanku. Perubahan sikapnya yang menjadi lembut membuktikan akan kebenaran ucapan Angela tentang pria. Yang mana pria akan sama saja jika sedang jatuh cinta. Dan aku berharap Jackson akan selalu mencintaiku. Aku ingin selalu dimanjakan olehnya. Ingin diperlakukan lembut dan diperhatikan. Karena pada dasarnya, wanita itu memang manja kepada pasangannya.


"Melihat wajah?" Aku mencoba mencerna kata-katanya.


"Ya. Melihat wajah anakku." Dia menegaskan jika aku sedang mengandung anaknya.


Aku tidak tahu siapa sebenarnya yang sudah gila. Jackson ingin melihat wajah anaknya yang belum ada hitungan bulan sama sekali. Bahkan untuk pembuahannya sendiri pun aku belum tahu berhasil atau tidak. Tapi semoga saja pembuahan ini berhasil sehingga Jackson lebih bertanggung jawab kepadaku. Aku berharap dia benar-benar menginginkan anak ini.


"Tuan, mana bisa melihat wajahnya. Baru hitungan minggu," kataku, menjelaskan.


"Dari mana kau tahu?" Dia bertanya padaku.


"Em ...." Aku berpikir sejenak.


"Cecilia."

__ADS_1


"Ya?"


"Kau hamil setelah kita melakukan ke dua kalinya." Jackson mengabarkan.


"Apa?!!" Aku terkejut bukan main.


"Dan sekarang usia kandunganmu sudah tiga minggu," katanya lagi.


Ponselku tanpa sengaja jatuh setelah mendengar kabar darinya. Sungguh aku terkejut bukan main saat mengetahui jika diriku memang sedang hamil. Ternyata pembuahannya berhasil.


Ya Tuhan, aku akan menjadi seorang ibu?


Entah harus senang atau sedih, aku juga tidak tahu. Kudengar Jackson mengajak ku berbicara lagi dari sana. Tapi, kuabaikan. Aku masih syok mendengar kabar ini.


Bayiku ....


Rasa bercampur aduk kian menyelimuti hatiku. Aku juga tidak mengerti mengapa Jackson mengabarkannya lewat telepon, bukan saat bertatapan muka. Mungkin dia ingin memberi kejutan padaku atau memang ada alasan tersendiri yang belum boleh kuketahui.


"Nona Cecilia."


Di tengah-tengah lamunanku, tiba-tiba pintu ruangan diketuk dari luar. Aku pun segera tersadar dari apa yang sedang kupikirkan. Lekas-lekas menyeka air mata yang hampir jatuh ke permukaan.


Kuambil ponsel dan kulihat Jackson sudah mematikan sambungan teleponnya. Dia kemudian mengirimi aku pesan yang membuat hatiku terharu. Foto kami saat berlibur di pantai waktu itu, di mana dia menggendongku ala pengantinnya.


Jackson, aku ... amat mencintaimu.


Aku terharu. Tanpa sadar ada seorang karyawan Angkasa Grup masuk ke dalam ruanganku.


"Maaf, Nona. Ada yang datang mencarimu," katanya, memberi tahuku.


Aku kembali fokus ke pekerjaan. "Siapa?" tanyaku padanya.


"Tuan Hadden." Karyawan itu memberi tahuku.


Hadden? Astaga!


Seketika jantungku berdegup kencang saat mengetahui siapa yang datang. Ternyata Hadden datang untuk menemuiku. Entah apa yang dia inginkan kali ini. Rasa-rasanya dia ingin menanyakan kebenaran mengapa aku ada di sini.


Mungkin saja Hadden sudah mengetahui apa yang terjadi. Dan aku harus segera mengantisipasinya. Aku harus siap menghadapi peperangan ini. Tidak boleh mundur dari medan peperangan, apapun alasannya.

__ADS_1


__ADS_2