Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Untukmu


__ADS_3

"Cecilia?" Alexander menyebut namaku lagi.


Seketika aku tersadar. Dalam jantung yang berdebar aku mencoba untuk mengatakannya. "Tuan, rumahku ada yang memasukinya. Bisakah tolong aku?" tanyaku ragu.


Kudengar Alexander seperti membelokkan setir mobilnya. Sepertinya dia memutar arah dengan cepat.


"Tunggu aku," katanya lalu membiarkan sambungan telepon kami masih terhubung.


Aku duduk lemas di depan teras karena tidak berani masuk ke dalam. Aku tidak tahu harus bagaimana selain membiarkan sambungan telepon kami tetap terhubung. Aku takut sekali, apalagi setelah melihat isi rumahku diobrak-abrik seseorang.


Saat ini aku hanya bisa meminta bantuan Alexander. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Semoga saja dia benar-benar tulus membantuku tanpa mengharap imbalan apapun. Karena aku tidak bisa memberinya imbalan, apalagi hati ini. Aku masih membutuhkan waktu untuk melupakan masa lalu.


Beberapa menit kemudian...


"Cecilia!"


Alexander berjalan cepat dari mobilnya ke arahku. Dia pun mendekatiku yang sedang duduk di teras seorang diri. Dia menoleh ke dalam rumah dan melihat apa yang terjadi. Saat itu juga kulihat raut wajahnya begitu kesal.


"Kau sudah melaporkan hal ini kepada pihak keamanan setempat?" tanyanya sambil berhati-hati melihat ke dalam.


"Belum." Aku menggelengkan kepala.


"Benda apa saja yang sudah kau sentuh?" tanyanya lagi.


Aku duduk lemas di teras rumah. "Belum ada, Tuan. Aku tidak berani masuk ke dalam," jawabku.


"Bagus. Tenanglah, Cecilia." Alexander lalu menelepon seseorang. "Halo, Tuan. Tolong kirimkan orangmu untuk memeriksa sidik jari yang ada di alamat rumah ini. Rumah ini tiba-tiba ada yang mengobrak-abriknya. Aku tunggu segera." Kudengar Alexander meminta bantuan seseorang yang entah siapa untuk datang memeriksa rumahku.


Sungguh rasanya senang sekali karena Alexander begitu perhatian padaku. Tapi aku juga takut kalau jatuh hati sungguhan padanya. Wanita mana sih yang hatinya tidak luluh saat ada seorang pria yang perhatian? Apalagi Alexander tampan dan juga manis. Terlebih postur tubuhnya amat maskulin. Benar-benar menggoda pandangan.


"Cecilia." Dia lalu duduk di sampingku. "Tenanglah, ada aku," katanya lalu menarikku agar merebahkan kepala di bahunya.

__ADS_1


Sontak aku ingin menolak. Tapi entah mengapa aku seperti tidak kuasa melakukannya. Aku seperti terhipnotis yang mau begitu saja merebahkan kepala di bahunya. Kusadari jika hatiku mulai terbuka untuknya. Dan aku berharap hal ini tidak akan berlanjut ke jenjang selanjutnya. Cukup sudah sampai di sini saja kedekatan kami. Aku tidak ingin membuatnya sakit hati.


Pilihlah yang pasti, Cecilia.


Mungkin saja Alexander benar-benar menyukaiku. Dan mungkin saja hatiku sudah mulai luluh karena kebaikannya. Tapi, lagi-lagi aku tidak boleh terbawa perasaan. Aku harus memikirkan janinku yang sedang tumbuh kembang di dalam sana. Sampai Jackson memberi keputusannya, aku tidak boleh berpaling hati. Aku harus tetap setia pada satu hati. Ya, walaupun itu menyakitkan sekali. Namun, untuk malam ini biarkan aku beristirahat dulu. Biarkan aku merebahkan kepala di bahunya. Di bahu seorang pria yang menolongku malam itu.


Dua jam kemudian...


Hari sudah semakin larut, namun Alexander masih setia menemaniku. Dia membantu petugas keamanan memeriksa apa yang terjadi di rumahku. Sayangnya tidak ada CCTV yang bisa dijadikan bukti. Jadinya pemeriksaan berlangsung lama di rumahku. Ya, maklum saja. Namanya juga rumah sewaan.


"Proses olah sidik jari sudah dilakukan, Tuan. Tapi, tidak ditemukan bekas sidik jari di barang apapun. Sepertinya kejadian ini dilakukan pada sore hari sebelum jam pulang kantor. Kami menduga tidak hanya satu orang yang melakukannya. Dan sepertinya mereka sedang mencari sesuatu yang berharga di sini." Seorang polisi menerangkan kepada Alexander.


Aku terdiam di tempat. Aku berdiri di dekat pintu kamar sambil melihat lemari pakaianku yang acak-acakan. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan oleh polisi itu. Ada seseorang yang ingin mencari sesuatu di dalam rumahku. Tapi apa? Aku tidak punya barang berharga di sini. Semua barang berharga sudah kutitipkan kepada Angela. Di rumah ini tidak ada satupun yang bisa dijual selain pakaianku. Tapi nyatanya, pakaianku tidak ada yang hilang sama sekali.


"Kami sarankan untuk mengosongkan rumah sementara waktu. Kami masih akan menyelidikinya. Kami harap Tuan mau menunggu." Polisi itu berbicara lagi kepada Alexander.


"Baik, aku mengerti." Alexander pun mendekatiku. "Cecilia, malam ini kita tinggalkan dulu rumah ini. Kau bisa tinggal di apartemenku kalau mau." Alexander menawarkan diri.


Sontak aku terkejut. Aku pun tersenyum tipis kepadanya. Aku merasa hubungan kami akan semakin jauh jika sampai tinggal di apartemennya.


Dia seperti menyadari alasan penolakanku ini. "Temanmu sudah berkeluarga?" tanyanya seperti enggan aku pergi dari sisinya.


"Sudah. Tapi rumahnya cukup besar untuk kutempati semalam," jawabku.


Alexander menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tidak pantas seorang wanita lajang tinggal di rumah teman yang sudah bersuami. Apa kata orang nanti?" katanya yang membuat hatiku tersentak seketika.


Alexander membalikkan kata-kataku tadi. Ternyata dia tidaklah sebodoh yang kukira. Diam-diam dia menyimpan kecerdasan intelektual tanpa kusadari. Dan hal ini membuatku semakin mengaguminya saja.


"Em, aku takut merepotkan Anda, Tuan." Aku bingung harus berkata apa.


Dia tersenyum. "Jangan khawatir. Aku tidak merasa direpotkan, Cecilia. Mari," katanya lalu menarik tanganku agar mengikutinya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Ya Tuhan, dia semakin berani saja.


Tak tahu mengapa aku pasrah saat tanganku dipegang olehnya. Debaran jantungku seakan meminta untuk mengikuti alur cerita ini. Entah mau dibawa ke mana, namun satu hal yang pasti saat ini Alexander lah yang setia menemaniku. Sedang Jackson entah ada di mana. Aku jadi semakin pesimis dengan hubungan kami. Entah ujian atau cobaan. Aku berharap dapat segera menemukan jawabannya. Ke manakah hatiku ini akan berlabuh seutuhnya?


Pukul setengah dua belas malam waktu ibu kota dan sekitarnya...


Aku lelah sekali. Seharian ini tenangaku terkuras sampai tidak tersisa lagi. Dan kini aku baru saja sampai di salah satu apartemen kelas elit di ibu kota. Alexander menawarkan agar aku tinggal sementara di sini.


"Untuk berapa kamar, Tuan?" tanya resepsionis berseragam merah kepada pria yang masih segar di sampingku.


"Yang satu kamar saja. Ada?" tanyanya kepada resepsionis wanita itu.


"Sebentar, Tuan. Saya cek dulu." Resepsionis itu mengecek apartemen yang diinginkan Alexander.


Aku menunggu sambil menguap berulang kali. Aku sudah lelah dan tidak sanggup untuk berjalan lagi. Aku ingin tidur. Di sini juga tidak apa-apa asal bisa merebahkan badanku. Tapi pastinya, akan diteriaki orang gila.


"Lantai lima ruangan nomor 55, paling sudut." Resepsionis itu mengatakan.


"Baik. Aku ambil." Alexander setuju.


"Untuk berapa hari, Tuan?" tanya si resepsionis kembali.


Alexander menoleh ke arahku. "Sebulan. Aku bayar dimuka," katanya yang sontak membuatku kaget.


"Tuan, Anda?!!" Mataku tidak jadi ngantuk lagi.


"Tidak apa-apa, Cecilia. Aku yang membayar semuanya." Dia tersenyum padaku.


"Ini, Tuan. Silakan. Jika ada keperluan bisa menelepon layanan kami." Resepsionis berseragam merah itu memberikan kuncinya.


"Terima kasih."

__ADS_1


Alexander pun segera menggesek kartu debitnya untuk membayar tagihan apartemenku selama satu bulan ke depan. Dia sepertinya sudah kehilangan kesadaran.


Ya Tuhan, dia begitu loyal. Apakah dia akan meminta imbalan dari kebaikannya ini?


__ADS_2