Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Pijat Yang Mana?


__ADS_3

"Ti-tidak ada, Tuan," jawabku ragu.


"Tidak ada?" Dia lantas melepas maskerku. Seketika itu juga dia terkejut melihat wajahku yang memar. "Astaga." Dia memegang sudut bibirku yang biru.


"Aw, sakit!" Aku pun segera menepiskan tangannya.


"Cecilia?"


"I-ini tidak sengaja, Tuan," kataku.


"Hm?"


"Ma-maksudku tidak sengaja terkena pena tadi." Aku bingung mencari alasan yang tepat untuk menjawab penyebab luka memar ini.


Aku pikir Jackson akan memarahiku. Tapi ternyata, tidak. "Duduklah, aku obati," katanya yang membuat hatiku tersentak.


Lantas aku menurut, duduk di pinggir kasur lalu Jackson pun mengikuti. Dia membantu mengompres bagian yang memar dengan air hangat lalu memoleskan obat anti memar menggunakan cotton bud. Seketika itu juga aku merasa disayang olehnya.


"Kau bertemu siapa tadi?" tanyanya lembut.


"Tuan ...."


"Jawab saja. Sudah besar masih berkelahi? Ganas sekali." Dia begitu lembut mengoleskan obat ke dahi dan sudut bibirku.


Entah mengapa aku merasa Jackson begitu menyayangiku. Dia amat lembut memperlakukanku. Aku pikir dia akan marah dan melarangku untuk ini dan itu. Tapi ternyata tidak. Aku jadi semakin menyayanginya.


"Ketiga bandit yang mengganggumu sekarang sudah berada di rumah sakit." Jackson beranjak berdiri sambil membawa obatnya. Dia meletakkan obat itu ke atas meja riasku.


"Rumah sakit?"


"Ya ...," Dia melepaskan jasnya. "Mereka tidak mau mengaku siapa yang menyuruhnya. Jadi kupatahkan saja tangannya." Jackson begitu santai mengabarkannya padaku.


"Astaga!" Aku terkejut bukan main mendengarnya.


"Mereka kurang ajar. Berani-beraninya mengganggu wanitaku," katanya sambil menggantung jas di dekat lemari pakaianku.


"Wanitamu?" Aku merasa seperti mendapat angin segar, senang sekali.


"Ya, wanitaku." Dia lalu duduk di sampingku. "Kau wanitaku, bukan priaku, kan?" katanya yang membuatku syok.


Tuan!!!


Aku pikir Jackson sudah mengakui jika aku wanitanya. Tapi ternyata dia malah membuatku kecewa dengan pernyataan selanjutnya. Benar sih apa katanya jika aku memang wanitanya, bukan prianya. Tapi kok rasanya nyesek gitu, ya?

__ADS_1


Tuan, Anda pintar sekali mempermainkan perasaan orang.


"Aku mau mandi dulu. Mau ikut?" tanyanya kemudian.


"Aku sudah mandi," jawabku segera.


"Baiklah, aku sendiri."


"Tapi, Tuan—"


"Apa?"


"Aku lupa membeli sikat gigi," kataku jujur.


"Pakai punyamu saja."


"Hah?!"


"Kemarin juga pakai punyamu." Dia masuk ke kamar mandi, meninggalkanku yang termenung karena ucapannya.


Jackson menggunakan sikat gigiku? Dia jorok sekali.


Entah mengapa aku merasa Jackson seperti sudah menganggapku istrinya. Dia tidak lagi jijik menggunakan sikat gigiku. Mungkin dia merasa tidak mempunyai jarak lagi denganku karena hubungan kami yang sudah terlalu jauh. Entahlah, aku kadang bingung sendiri dengannya.


Jackson sudah mandi dan kini hanya mengenakan kaus oblong dan juga celana pendeknya. Ternyata dia ingin bermalam di apartemenku.


Jangan-jangan dia menginginkanku ...?


Hatiku merasa cemas kala kehadirannya di sini. Aku takut dia memintaku lagi padahal baru tadi pagi dia mendapatkannya. Aku jadi pusing sendiri. Ingin mengusirnya nanti malah marah padaku. Tidak diusir akunya yang kewalahan. Apalagi masih merasa sakit karena keributan tadi.


"Tuan, mau makan apa? Aku buatkan mie, ya?" tanyaku.


"Pijat aku saja, Cecilia." Dia lalu telungkup di sampingku.


Pijat? Mulai, deh.


Entah mengapa firasatku jadi tidak enak. "Tuan, nanti malah minta pijat yang lain. Tubuhku masih sakit, tahu!" Aku menggerutu.


Aku memang menceritakan padanya jika habis berkelahi. Tapi tidak menyebutkan dengan siapa ribut tadi. Aku tidak ingin Jackson bertindak karena hanya akan memunculkan masalah baru. Aku tahu benar siapa Bianca. Bisa-bisa dia semakin memperkeruh suasana jika aku mengadukan hal ini kepada Jackson. Jadi lebih baik kusimpan sendiri.


Dia berbalik melihatku. "Kalau minta yang lain, boleh?" tanyanya seperti menyinggung kebersamaan ini. "Kau takut tergoda oleh tubuhku?" Entah mengapa dia bertanya seperti itu.


"Ih, tidak. Adanya juga dirimu yang tidak bisa diam." Aku menggerutu.

__ADS_1


"Hahaha. Sudah cepat pijat aku. Badanku pegal, Cecilia. Kau amat pintar memijat." Dia merayuku.


Dasar Jackson!


Lantas kuturuti keinginannya. Aku memijat bagian punggungnya sebisaku. Dan ternyata Jackson begitu menikmatinya. Kusadari jika dia membutuhkanku.


Beberapa menit kemudian aku mengakhiri pijatan ini. Jackson pun mengajak ku tidur. Dia memintaku merebahkan diri di sampingnya. Lantas aku menurutinya. Tidur di sisinya sambil menghirup aroma tubuhnya yang manly. Aku pikir Jackson menginginkanku malam ini. Tapi ternyata dia hanya menumpang tidur saja. Sungguh aku sudah seperti menjadi tempat pulangnya.


Esok harinya....


Pagi hari aku terbangun dan ternyata masih berada di pelukan Jackson. Sungguh tidak bisa dipercaya jika semalam kami hanya tidur tanpa melakukan apa-apa. Jackson seakan mengerti keadaanku yang sedang sakit. Seketika persepsiku tentangnya hilang begitu saja. Ternyata Jackson bisa menempatkan diri dan tidak memaksakan kehendaknya padaku. Aku jadi semakin menyayanginya.


Tuan, rasa di hatiku ini semakin tumbuh dan berkembang bagai bunga mawar merah yang merekah indah.


Aku tidak tahu hal ini pertanda apa bagiku. Tapi aku merasa jika Jackson tidak hanya menginginkan tubuhku. Dia menunjukkan sisi gentle-nya padaku, dan aku amat mengaguminya.


Baiklah, Tuan. Sebagai ucapan terima kasih aku akan membuatkanmu nasi goreng pagi ini.


Lantas aku bergegas bangun sambil menggulung rambut. Kubuatkan nasi goreng spesial untuknya pagi ini, agar dia lebih bersemangat lagi dalam bekerja. Semoga saja Jackson bisa menghargai usahaku kembali.


Satu jam kemudian...


Hari ini tanggal 29 Desember. Tak terasa akan segera pergantian tahun. Aku harap tahun depan sudah benar-benar mempunyai gandengan. Dan berharap jika itu adalah Jackson. Aku tidak ingin yang lain karena sudah banyak rugi dengannya.


Kini kami baru saja selesai sarapan dan berniat berangkat ke kantor bersama. Jackson sudah berdandan elegan dengan setelan jas hitamnya. Sedang aku ikut menyesuaikan diri dengan seragam kantoran berwarna hitam putih. Kami seperti pasangan kerja yang begitu serasi.


"Hari ini akan ada rapat, Cecilia. Andreas juga datang," kata Jackson sambil menghidupkan puntung rokoknya.


"Lalu?"


"Bersikap biasa saja. Jangan tunjukkan berpihak padaku. Aku sedang menyusun rencana untuknya." Jackson memberi tahuku.


"Baik." Aku pun mengangguk.


"Kita berangkat sekarang?" tanyanya padaku.


"Tentu, Tuan. Tapi sebelumnya..." Aku segera mendekat ke arahnya. "Mmuach." Aku mengecup bibirnya.


Jackson terkejut dengan sikapku, aku pun tersenyum padanya. Dia kemudian ikut tersenyum lalu memberi kode agar aku membawakan koper kerjanya. Kuambil koper itu lalu kami keluar bersama dari apartemen. Aku menggandeng tangannya dengan mesra layaknya kekasih sungguhan. Tak apalah sekarang pura-pura, semoga saja suatu hari menjadi nyata. Aku berharap waktu itu akan segera tiba.


"Kau yang menyetir mobil," katanya padaku.


"Baik, Pak Bos!" Aku pun mengiyakannya.

__ADS_1


Aku tidak tahu rencana apa yang sedang disusun oleh Jackson untuk Andreas. Aku menurut saja pada semua arahannya. Aku percaya dia tidak akan mencelakaiku setelah apa yang kami lewati bersama. Aku menyayangi Jacksonku. Si pria berwajah muram yang begitu mesum.


__ADS_2