
...Cecilia...
.........
Dua jam kemudian...
Aku sedang di belakang panggung bersama para model Queen Club. Dengan bantuan Steve, aku bisa berada di sini dan berkenalan dengan mereka. Aku pun mencoba berbaur untuk menghindari kecurigaan pihak kemanan yang berjaga. Alhasil aku berhasil mendapatkan informasi penting dari beberapa model yang ada di sini. Tentunya tentang Alexander dan keterkaitannya dengan Queen Club.
Mereka bilang pemilik Queen Club mempunyai seorang putra yang akan mewarisi dan meneruskan usaha ayahnya. Aku pun mencoba mencari tahu tentang siapa yang mereka maksud. Dan ternyata memang benar jika pria yang dimaksud adalah Alexander. Tapi kata mereka, sampai sekarang belum pernah bertemu secara langsung. Hanya sebatas mendengar namanya saja.
Mereka juga memuji-muji Alexander di sini. Mereka mengatakan jika berhasil mendapatkan Alexander, tentunya tidak perlu lelah lagi melayani para hidung belang. Pastinya hidup mereka berkecukupan tanpa kekurangan sesuatu apapun. Karena nyatanya, ayah Alexander adalah orang terkaya nomor tiga di kota ini. Pastinya tidak akan pernah mengalami kesulitan keuangan sepanjang hidup. Belum lagi bisnisnya di mana-mana. Lengkap sudah, hidup dengan bergelimpangan materi.
Aku sendiri mulai tertarik dengan cara pandang Alexander karena mengambil jalan yang berbeda dari ayahnya. Dia bekerja keras untuk masa depan tanpa mengandalkan kekayaan sang ayah. Hal itu tentu saja membuatku berasumsi jika dia adalah pria yang bertanggung jawab dan tidak perlu lagi diragukan kesetiaannya. Kalau dia mau, pastinya dia bisa menjelajahi setiap model yang ada di sini. Tapi nyatanya, hal itu tidak dilakukan olehnya.
Kini satu per satu hal yang membuatku penasaran sudah mulai terungkap. Tentang siapa Alexander dan keterkaitannya dengan Queen Club sudah berhasil aku dapatkan. Tinggal mencari tahu apakah benar dia diminta oleh Hadden untuk mendekatiku. Jika iya, kenapa dia mau? Jika tidak, berarti selama ini Jackson berbohong padaku. Dan sepertinya aku tahu mengapa Jackson bisa sampai berkata seperti itu. Secara tidak langsung kemarin dia sudah jujur padaku.
Jackson mengaku cemburu melihat kedekatanku dengan Alexander. Hal itulah yang menguatkan dugaanku jika dia berkata seperti itu karena tidak ingin aku dekat-dekat dengan Alexander. Karena buktinya model-model yang ada di sini tidak pernah bertemu langsung dengan Alexander. Jadi bagaimana bisa dia menjual model jika tidak tatap muka langsung? Tidak mungkin, bukan?
Baiklah, saatnya kembali ke depan panggung.
Seusai mendapatkan informasi tentang Alexander, aku pun segera ingin kembali ke depan panggung. Kukenakan teropongku, kukalungkan di leher agar tidak sampai terjatuh atau hilang. Aku pun berpamitan kepada para model yang ada di sini. Tapi saat ingin keluar, saat itu juga pria berbadan besar datang menghalangi jalanku. Aku pun terhalang olehnya.
"Ayo, semuanya bersiap-siap!"
__ADS_1
Pria berbadan besar itu meminta para model untuk bersiap-siap. Aku pun segera menyadari jika acara sebentar lagi akan dimulai. Segera saja kuundurkan diri dari hadapan mereka lalu melangkahkan kaki menuju depan panggung. Tapi, saat itu juga rambutku ditarik oleh pria berbadan besar itu.
"Hei, mau ke mana?!" Pria berbadan besar itu melarangku untuk pergi.
Astaga. Sepertinya dia telah salah paham denganku.
Pria itu lantas mendekatiku. "Siap-siap. Naik ke atas panggung!" katanya padaku.
"Tap-tapi aku bukan—"
"Sudah, jangan banyak membantah! Dasar betina! Kalau sudah lihat uangnya, nanti lupa juga!" katanya lagi.
Eh? Apa-apaan dia?!
Pria berbadan besar itu menyangka jika aku adalah salah satu model dari Queen Club. Aku juga diminta siap-siap olehnya. Kulihat para model sudah naik ke tangga yang ada di belakang panggung. Mereka berbaris menunggu pembawa acara membuka pesta pantai ini. Sepertinya mereka akan catwalk sambil menebarkan pesona kepada para hadirin yang datang.
Lantas pria berbadan besar itu memberiku nomor urut. Aku diminta olehnya untuk unjuk pesona di atas panggung. Aku pun bingung harus berbuat apa. Aku tidak bisa lari karena pria berbadan besar ini berjaga di pintu keluar. Sepertinya aku memang harus menampakkan diri di hadapan para tamu undangan yang hadir.
Bersikaplah biasa, jangan tunjukkan jika sedang memata-matai di sana. Nanti kau akan ditendang keluar oleh para penjaga.
Saat itu juga aku teringat dengan pesan Angela sebelum datang kemari. Tidak ada yang bisa kulakukan selain mematuhi apa yang diperintahkan pria berbadan besar itu. Aku pun menarik napas panjang sebelum ikut bergabung dengan para model yang akan unjuk pesona. Kupersiapkan diri sebaik mungkin agar tidak kelihatan grogi. Kutunjukkan jika aku juga bisa seperti mereka. Bergaya bak model Queen Club.
"Ayo! Semua siap! Tunjukkan pesona kalian! Buat para tamu undangan terpikat! Semakin banyak yang menawar, semakin tinggi harga kalian! Semakin besar juga uang yang kalian dapatkan! Cepat-cepat!" Pria berbadan besar itu berseru dari belakang kami.
Kudengar suara musik pembuka mulai dimainkan. Deru drum berpadu bas mewarnai panggung pertunjukan model ini. Aku pun bersiap-siap untuk menunjukkan pesonaku. Entah bagaimana nantinya, kupikirkan saja nanti. Karena model pertama sudah mulai keluar dan menunjukkan diri di hadapan para tamu undangan. Diiringi alunan musik bertabuh drum nan eksotis. Aku pun siap untuk ikut unjuk pesona di hadapan mereka.
__ADS_1
.........
...Cecilia...
.........
Beberapa menit kemudian...
Satu per satu model menunjukkan pesonanya di hadapan para tamu undangan. Pakaian yang mereka kenakan tentu saja terbuka dan memamerkan lekuk dada. Dan kini tiba giliranku untuk unjuk pesona. Aku pun mulai memasuki area panggung yang terbuka. Kulangkahkan kaki sambil menghentakkan tubuh ini. Alhasil semua mata tertuju ke arahku. Saat itu juga aku mencari di mana keberadaan Alexander. Apakah dia juga berada di sini?
Aku berjalan mengitari sisi panggung sambil menebarkan senyuman semanis mungkin. Kulambaikan tangan kepada para hadirin lalu berjalan ke tengah panggung. Posisi berdiriku tepat berada di tengah-tengah para model yang berbaris menghadap ke depan. Pembawa acara pun mempersilakan para tamu undangan untuk menuliskan nomor model yang mereka inginkan. Dan aku berharap tidak ada yang menuliskan nomorku, 101.
Ya Tuhan, apa lagi setelah ini?
Setelah kami semua unjuk pesona, pembawa acara meminta kami untuk kembali ke belakang panggung. Aku tidak tahu diminta untuk melakukan apa. Tapi saat melihat panitia busana datang, aku terkejut bukan main melihatnya. Ternyata kami diminta untuk berbikini di hadapan para hadirin yang datang.
Astaga!
Aku terkejut, tidak mau jika diminta untuk berbikini di hadapan orang banyak. Ini sudah sama saja dengan jual diri. Aku harus segera melarikan diri. Tidak boleh tetap berada di sini.
.........
...Cecilia...
__ADS_1