Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Mau Digendong?


__ADS_3

...Cecilia...



...Jackson...



.........


"Aku tidak pernah jalan bersama Zea selain berkenaan dengan hubungan bisnis," katanya yang membuatku tidak bisa menahan diri untuk bertanya.


"Tuan, apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Mengapa kau mengatakan hal ini padaku? Apa kau berniat menghiburku setelah ditampar oleh istrimu?" tanyaku terus terang.


Jackson tersenyum tipis lalu membalikkan badannya, membelakangiku. "Kau mengerti, Cecilia. Hanya saja pura-pura tidak mengerti." Dia seperti mengetahui bagaimana diriku yang sesungguhnya.


Aku beranjak berdiri, mendekati lalu berdiri di sisinya. Kutatap wajahnya agar mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan juga Zea. Mengapa Jackson seperti segan untuk melakukan perlawanan secara langsung kepada Zea? Ada apa di balik ini semua?


"Tuan, apakah Anda mengetahui hubungan Andreas dengan nyonya sebelumnya?" tanyaku mengorek informasi.


Jackson lantas mengangguk, tetapi dia diam saja, tidak berkata apapun padaku. Aku jadi semakin penasaran ada hal apa yang membuat Jackson seperti ini. Dia seperti memendam kekecewaan namun tidak dapat melakukan perlawanan.


Jangan-jangan ada kontrak bisnis antara Jackson dengan ayah Zea yang melibatkan pernikahan?


Aku tidak mengerti hal apa yang sebenarnya terjadi. Aku juga tidak tahu seberapa khawatir Jackson akan tindakan Zea ke depannya. Yang jelas malam itu Jackson tidak melakukan perlawanan yang berarti untuk membelaku. Hanya sekedar menjelaskan jika dia yang mengajak ku pergi. Aku seperti tidak mendapat pembelaan apapun darinya.


"Tuan, maafkan aku."


Aku mencoba untuk mengerti posisinya saat ini lalu berbalik, berniat masuk ke dalam vila. Tapi, Jackson menahan tanganku.


"Kau tidak ingin memelukku?" tanyanya dengan nada penuh harap.

__ADS_1


Tuan ....


Seketika itu aku merasa jika dia membutuhkanku, sebagaimana aku membutuhkannya. Mungkin kami memang ditakdirkan untuk bertemu dan saling melengkapi. Hanya saja perjalanan panjang harus kami lalui terlebih dahulu.


Lantas aku berbalik, menghadapnya dengan tersenyum. "Tuan, kau begitu tampan. Boleh kah aku memelukmu?" tanyaku mencoba menghiburnya.


Saat itu juga kulihat Jackson tersenyum lalu menarikku ke dalam pelukannya. Dia mengusap kepalaku, menciumnya dengan penuh penghayatan. Aku jadi merasa jika kami memang saling membutuhkan satu sama lain.


Tuan, andai status kau berikan, mungkin cintaku akan semakin besar.


Percakapan siang ini menyiratkan jika Jackson tengah memendam sesuatu yang belum ingin dia ceritakan padaku. Entah apa itu, yang jelas aku tidak ingin kehilangannya. Biarlah waktu yang memberikan jawaban atas semua teka-teki ini. Aku akan berusaha mencari tahu sendiri apa sebenarnya yang terjadi. Karena kuyakin Jackson juga tidak akan diam begitu saja. Selama ini dia bekerja di balik layar. Dia pasti sudah menyiapkan sesuatu untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi.


Tuan, aku bersedia menjadi tempat tinggalmu.


Setengah jam kemudian...


Aku dan Jackson kini sedang bersantap siang di teras belakang vila. Ternyata di sini ada kolam renang berukuran 3x5 meter yang cukup untuk melampiaskan hasrat ingin berenang. Tapi, Jackson tidak mengajak ku berenang di sini, dia hanya mengajak ku makan siang. Kulihat dia sudah kembali ke dirinya sendiri. Di depanku tidak malu-malu lagi untuk meminta disuapi.


"Ayo, makan yang banyak," kataku sambil menyuapinya dengan tumis udang ini.


Setelah mengetahui hal yang sebenarnya terjadi antara Zea dan dirinya, tentu saja aku berpihak kepada pria berwajah muram ini. Apalagi dia telah mengambil sesuatu hal yang paling berharga dari diriku. Bertambahlah rasa cinta yang sedang bersemi di hati.


Sekarang aku takut akan kehilangannya walaupun hal itu tidak pernah kuucapkan. Bagaimanapun ada sesuatu yang tidak harus diungkapkan, cukup disimpan di dalam hati sambil menunggu kepastian. Dan aku berharap Jackson tidak akan pernah mengecewakanku.


Terlepas dari sifat kasarnya padaku, aku menarik kesimpulan jika dia pernah menuai kekecewaan yang begitu besar karena seorang wanita. Entah hal apa itu, tapi mungkin saja masih berhubungan dengan Zea. Aku juga tidak berani bertanya karena hal ini sudah termasuk urusan rumah tangganya. Tapi saat dia bercerita, aku akan selalu siap untuk menjadi pendengar setianya. Kuharap suatu hari nanti akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dengan atau tanpa Jackson sendiri.


"Tuan, aku sudah kenyang. Kau makan sendiri, ya." Aku beranjak berdiri.


Dia lantas menahan tanganku. "Tidak sopan," katanya dengan wajah sinis. "Duduk!" Dia memintaku kembali duduk di hadapannya.


Jackson memang tidak suka ditinggalkan. Dia selalu menahan. Jika berani meninggalkannya, siap-siap saja dikejar olehnya. Dia adalah tipikal pria yang pantang menyerah. Apapun yang diinginkan, harus didapatkannya saat itu juga. Dia begitu berambisi dalam mencapai misinya.

__ADS_1


"Kau ini menyebalkan," gumamku sambil memalingkan pandangan darinya.


"Kau bilang apa?" tanyanya yang masih makan.


"Me-nye-bal-kan!" Aku sengaja mengeja di depannya.


Seketika itu juga dia meneguk air minumnya. "Oh, jadi rubahku sudah berani mengejek?" Dia menarikku.


"Tuan?!" Aku pun terkejut saat dia mendudukkanku ke atas pangkuannya.


"Kau milikku, Cecilia," katanya seraya menatapku.


"Aku tidak peduli." Aku memalingkan pandangan darinya.


Seketika itu juga Jackson menarik daguku. Dia lalu menciumku. Bisa-bisanya dia menciumku dalam keadaan baru saja makan.


Dasar Jackson.


"Aw! Cecilia!"


Kucubit saja dadanya agar dia melepaskan ciumannya. Seketika itu juga aku melepaskan diri darinya. Kulihat dia tertegun melihatku. Mungkin sedang berpikir mengapa kami bisa jadi sedekat ini. Jackson sudah berubah, dia menjadi dirinya sendiri. Bukan lagi menjadi Jackson yang dikenal orang lain.


"Tuan, jangan melamun. Aku mau dianggurkan?" tanyaku menggodanya.


Lantas Jackson bangun lalu menjitak kepalaku. Jitakan dengan kepalan tangannya yang sangat lembut. Aku pun mencoba menghiburnya. Kugembungkan pipi ini, seketika Jackson tertawa melihatnya. Sepertinya aku telah berhasil menghiburnya.


Kini aku sedikit mengerti mengapa Jackson bersikap dingin kepada Zea. Ternyata ada sesuatu hal yang dirahasiakan antara dirinya dan ayah Zea. Yang mana Zea seperti memanfaatkan hal itu untuk kepentingan dirinya sendiri. Entahlah bagaimana yang sebenarnya, kujalani saja yang ada sambil berpikir untuk mencari jalan keluarnya.


Satu jam kemudian...


Setelah makan siang bersama, Jackson mengajak ku untuk berkeliling vila dengan menunggangi kuda. Supirnya diminta pulang, jadi Jackson akan mengendarai mobilnya sendiri nanti. Dia tidak kira-kira kalau sudah memerintah orang. Padahal jarak vila ke kota lumayan jauh dan memakan perjalanan hampir satu jam. Tapi yang namanya bos bisa berkehendak sesuai hati. Tidak akan ada yang marah juga atas sikapnya. Jadi ya bebas-bebas saja.

__ADS_1


"Tuan, aku tidak mau jalan. Aku capek. Semalam habis berlari," kataku saat keluar dari vila bersamanya.


"Mau digendong?" tanyanya yang membuatku terkejut.


__ADS_2