Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Amarah Terpendam


__ADS_3

Jackson tidak datang sendiri. Pria berjaket biru itu ternyata datang bersama keempat orangnya. Dia kemudian berjalan cepat mendekatiku. Seketika jantungku pun berdegup kencang tak menentu. Orang-orang Jackson kemudian mengelilingi kami sehingga rasa takutku semakin menjadi. Aku takut terjadi apa-apa di ruangan ini.


"Cecilia!"


Dia menatapku penuh amarah. Menghempaskan gelas jusku hingga jatuh ke lantai. Gelas itu pun pecah dan tak terbentuk lagi. Aku pun kaget dengan hal yang dia lakukan padaku. Aku takut, takut sekali.


"Ikut aku sekarang!" Dia kemudian menarik paksa tanganku.


Alexander segera bertindak melihat sikap kasar Jackson. Dia berdiri lalu menahan tangan Jackson yang menarik paksa tanganku. "Tuan, Anda tidak boleh kasar kepada wanita." Alexander begitu berani mencegah Jackson bersikap kasar padaku.


Jackson kemudian mendorong Alexander, menjauhkan Alexander dariku. "Bukan urusanmu!" Dia menatap tajam ke arah pria bersweter putih itu.


Jackson marah. Wajahnya amat tidak enak dilihat. Dia kemudian menarik paksa tanganku lagi. Sedang keempat orangnya menghalangi Alexander agar tidak ikut campur.


"Tuan, apa yang Anda lakukan?!" Aku tak percaya dia sekasar ini.


"Jangan banyak bicara, ikut aku!" Dia menarik tanganku menuju pintu keluar.


Tak tahu apa yang terjadi pada Alexander, aku lebih memilih mementingkan diriku sendiri. Saat ini tanganku sakit karena dicengkeram kuat oleh Jackson. Aku pun mau tak mau berjalan mengikuti pria berjaket biru ini.


"Tuan, sakit!" Aku masih berusaha melepaskan tangan darinya.


"Cecilia!"


Kudengar Alexander memanggilku. Aku pun menoleh ke arahnya. Tapi, Jackson segera menghentakkan tanganku hingga rasa sakitnya semakin bertambah. Aku pun kembali fokus kepada diriku. Namun, aku masih bisa mendengar apa yang terjadi pada Alexander di sana.


"Tolong jangan halangi aku." Alexander meminta orang-orang Jackson menyingkir dari hadapannya.


"Maaf, Tuan. Tolong jangan melawan. Kami tidak akan segan untuk melakukan tindakan." Kudengar salah satu orang Jackson berkata seperti itu kepada Alexander.


Tamatlah riwayatku saat Alexander tidak dapat menolongku. Saat ini aku hanya bisa mengikuti Jackson keluar dari ruangan. Hingga akhirnya kami sampai di lobi karaoke. Orang-orang pun menujukan pandangannya ke arah kami. Sungguh rasanya malu sekali. Aku seperti tertangkap basah selingkuh oleh suamiku sendiri. Padahal Jackson belum menjadi suami sungguhan.


Aku tidak tahu mengapa Jackson tiba-tiba datang ke tempat ini. Dia juga bertindak kasar terhadapku. Menghempaskan gelas jusku lalu menarik tanganku dengan kuat. Seperti tidak mempunyai perasaan lagi.

__ADS_1


"Tuan, lepaskan!"


Aku masih berontak, berusaha melepaskan diri darinya. Tapi Jackson seakan tidak peduli. Dia terus saja menarikku hingga sampai ke halaman parkir gedung karaoke ini. Lalu akhirnya...


"Masuk!" Dia membuka pintu mobil lalu mendorongku masuk ke dalam.


"Agh!"


Seketika itu juga aku jatuh saat didorong olehnya. Aku terjatuh di kursi mobil ini. Entah mengapa aku merasa seperti sedang berhadapan dengan iblis berbadan manusia. Dia kasar sekali.


"Jackson gila! Aku sedang mengandung anakmu!"


Tak peduli lagi jika ada supir yang mendengarnya. Rasa sakit karena sikap kasarnya seolah merenggut setiap denyut jantungku. Hingga akhirnya dia juga ikut masuk ke dalam mobil lalu duduk di sampingku.


"Jalan!" katanya kepada supir di depan.


Supir itu pun segera melajukan mobilnya keluar dari area parkir gedung karaoke ini.


"Katakan di mana kau tinggal sekarang?" tanyanya, melihatku yang sedang mencoba bangun sehabis didorong olehnya.


"Katakan di mana tempat tinggalmu sekarang, Cecilia!!! Apa kau sudah tuli sehingga tidak mendengar kata-kataku?!!" Dia membentakku.


Sungguh yang kuinginkan bukanlah itu. Yang kuinginkan adalah penjelasan darinya tentang peristiwa yang terjadi kemarin. Tapi dia malah membentakku, seolah-olah aku tidak ada harga dirinya. Saat itu juga aku ingin menangis saja. Mataku sudah berkedut, seakan ingin menumpahkan butiran kristal yang selama ini kupendam. Tapi, aku tidak berdaya. Dia benar-benar kejam terhadapku.


"Apartemen Royal," jawabku dengan suara pelan.


"Ke Apartemen Royal, sekarang!" Dia berkata seperti itu kepada supir pribadinya.


"Baik, Tuan."


Sang supir pun menuruti keinginan Jackson. Laju mobil mulai dipercepat olehnya. Aku pun duduk membelakangi pria berwajah muram ini. Aku tidak ingin melihatnya. Aku takut, takut sekali. Aku tidak mau mati di tangannya.


Dua puluh menit kemudian...

__ADS_1


Kami akhirnya sampai di Royale Apartemen. Jackson pun mengikutiku masuk ke dalam gedung ini. Dia sedari tadi membuntutiku, seolah-olah khawatir jika aku melarikan diri.


Sungguh mencekam suasana di sekitarku. Terlebih pria berwajah muram ini terus saja menatapku dengan tatapan sadis. Dia seperti tidak peduli jika aku sedang mengandung anaknya. Dia berlaku kasar tanpa memedulikan anaknya di dalam kandunganku.


Lantas aku segera membukakan pintu begitu sampai di apartemenku. Jackson pun ikut masuk ke dalam. Dia melihat-lihat sekitar isi apartemenku. Mungkin dia heran mengapa aku bisa tinggal di apartemen ini. Atau mungkin dia berpikir lain tentangku. Dari mana aku bisa mendapatkan uang untuk menyewa tempat tinggal di sini.


Dia kemudian duduk di sofa tamu. "Hei, Rubah. Buatkan aku kopi," katanya saat aku baru saja meletakkan tas kerja ke atas meja TV.


"Tidak ada kopi," jawabku datar.


Dia kemudian bangkit dari duduknya. "Tidak ada kopi? Bisa menyewa apartemen mahal tapi tidak ada kopi? Kau bercanda, Cecilia." Dia mengejekku.


Aku mengepalkan tangan. Sudah cukup sudah hatiku sakit karenanya. Tapi sepertinya dia belum puas juga menyakitiku. Sampai-sampai dia mengejekku kembali.


Aku menghadap ke arahnya. "Kau bisa meminta Zea untuk membuatkannya. Kenapa harus aku?" tanyaku, tak peduli dengan siapa aku bicara.


"Oh ...,"Jackson lalu berjalan mendekatiku. "Rupanya rubahku ini sudah berani membantah. Apakah dia yang mengajarimu?" tanyanya sambil membelai wajahku dengan jari telunjuknya.


Aku menepiskan jarinya. "Jangan sentuh aku! Kau tidak berhak menyentuhku!" Aku begitu berani di hadapannya.


Sontak Jackson terdiam lalu melipat tangannya di depanku. Dia menatapku dengan tatapan heran. Sepertinya dia tidak percaya dengan perubahan sikapku ini.


"Cecilia. Beberapa hari kutinggal kau sudah semakin berani. Apa ini bukti baktimu?" tanyanya yang belum juga mengerti mengapa aku sampai bersikap seperti ini.


"Aku tidak peduli, Jack. Bukan urusanku." Dengan amat berani aku mengatakannya.


Jackson pun bertepuk tangan. Dia kemudian berjalan membelakangiku. Dia mengambil kotak rokoknya lalu menghidupkan sebatang rokok. Dia kemudian kembali duduk di sofa yang jaraknya tidak jauh dariku.


Jackson, aku berhak marah. Karena kau adalah ayah dari janin yang kukandung ini!


Entah apa yang ada di dalam pikirannya, aku tidak peduli. Dia pergi begitu saja dan datang kembali sesuka hati. Dia juga bersikap kasar padaku hari ini. Aku pun tidak bisa menahan amarahku lagi.


.........

__ADS_1


...Jackson...



__ADS_2