Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Tolong Aku


__ADS_3

"Alexander, kau sekarang sudah benar-benar sehat, Nak? Sejak kapan mempunyai teman perempuan?" tanya ibu Alexander kepada putranya.


Eh? Jadi selama ini ibu menganggap anaknya tidak sehat?


"Alexander sudah cukup umur, Bu. Lagipula sudah pantas untuk menyusul kakak dan adik." Dia berbicara sambil mencicipi cemilan yang dibawa.


"Hm, ya." Ibunya pun hanya menjawab iya saja.


Tak tahu kenapa, aku merasa ada yang aneh dengan ibu dan anak yang berada di dekatku ini. Si ibu yang merasa anaknya tidak sehat dan Alexander yang bersikap kepada ibunya seperti teman sendiri. Aku rasa aku juga membutuhkan orang tua yang bisa diajak bercengkrama layaknya teman. Tapi sayangnya, aku sebatang kara di sini. Tidak tahu di mana keberadaan mereka.


"Cecilia." Ibu Alexander menyapaku.


"I-iya?" Aku masih kaku untuk memanggilnya dengan sebutan ibu.


"Sudah lama kenal dengan Alexander?" tanya ibunya kepadaku.


"Em ... mungkin ada sekitar satu bulan ini," jawabku sambil berpikir.


"Cecilia sudah siap untuk menikah?" tanyanya lagi.


"Ha? Ap-apa, Bu?!"


Aku terkejut. Tiba-tiba saja aku seperti salah mendengar. Ibu Alexander menanyakan hal yang tabu bagiku. Sontak isi pikiranku langsung hilang dalam sekejap. Aku diberi pertanyaan yang membuatku kelabakan menjawabnya.


"Ibu, sebentar."


Alexander langsung menarik tangan ibunya. Ibunya pun mengikuti putranya itu menuju ruang keluarga yang ada di balik ruang tamu ini. Sepertinya Alexander juga kaget dengan pertanyaan ibunya. Sedang aku ... aku lebih kaget.

__ADS_1


"Ibu, Ibu bicara apa sih?" Kudengar Alexander bertanya seraya berbisik-bisik kepada ibunya.


"Nak, harusnya ibu yang tanya. Kamu sadar tidak dengan hal yang kamu lakukan ini?" tanya ibunya.


Alexander menepuk dahinya sendiri. "Astaga, Ibu. Alexander tersadar penuh. Memangnya tidak boleh membawa Cecilia ke rumah?" Dia bertanya lagi kepada ibunya.


Aku bisa mendengar jelas bisik-bisik mereka dari ruang tamu ini. Telingaku cukup mampu mendengar suara dari jarak yang jauh. Aku juga bisa melihat mereka dari balik dinding yang tak penuh itu. Dan sepertinya sedang terjadi kesalahpahaman di antara mereka. Entahlah, lebih baik kuteguk saja teh yang sudah disediakan ini.


"Alexander, jika kau menyukainya kenapa tidak langsung lamar saja? Kau sudah lama sendiri. Ibu malu, Nak. Punya putra tapi tidak pernah membawa pacar ke rumah." Ibu Alexander menggerutu.


Aku jadi kepo sendiri dengan apa yang mereka bicarakan. Lantas setelah meneguk teh, aku beranjak berdiri untuk mengintip mereka. Dan kulihat Alexander sedang menjelaskan kepada ibunya tentangku. Aku jadi tidak enak hati sendiri karenanya.


"Bu, aku memang menyukainya. Tapi dia belum tentu menyukaiku. Apalagi sainganku berat, Bu. Pastinya Cecilia akan lebih memilih dia daripada aku." Alexander menerangkan.


Astaga ....


Ya Tuhan, jangan sampai ibunya salah paham tentangku.


Lantas aku melihat foto-foto yang dipajang di ruang tamu ini. Kulihat jika hanya ada foto Alexander, ibunya dan juga dua saudara perempuannya. Sedang ayahnya tidak ada. Aku jadi penasaran, sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga Alexander?


Kenapa aku harus selalu penasaran dengan hal yang terjadi? Kini aku seperti kebingungan untuk mengambil langkah selanjutnya. Aku tidak tahu harus bagaimana.


Hujan mulai turun membasahi bumi. Aku pun berdiri di dekat pintu sambil melihat hujan yang turun. Semakin lama hujan turun semakin deras. Membasahi rerumputan dan bunga-bunga yang ada di halaman rumah. Rasanya aku juga rindu rumah. Tapi masalahnya, rumahku di mana? Aku ingin sekali bertemu dengan ibu. Tapi harus ke mana mencari dirinya? Aku tidak tahu sama sekali.


Beberapa jam kemudian, makan malam di rumah ibu Alexander...


Setelah berbasa-basi sebentar, aku ditinggalkan Alexander untuk membantu ibunya melakukan perhitungan nota-nota penjualan bunga hidup. Selama menunggu aku pun melihat-lihat isi ponselku. Namun ternyata, tidak ada satu pesan pun yang masuk. Mungkin ponselku sedang rusak sekarang.

__ADS_1


Jujur saja aku menginginkan keluarga yang utuh dan bahagia. Di mana ada ayah, ibu dan anak-anaknya. Ingin sekali bisa membuat keluarga seperti itu. Tapi sampai sekarang aku tidak tahu harus berlabuh ke mana. Jackson belum juga menghubungiku. Entah ke mana dirinya.


Saat ini aku sedang membantu ibu Alexander menyiapkan makan malam. Aku bantu sebisanya hingga tersaji beberapa hidangan. Pria bersweter krim itu pun turun dari lantai dua. Dia berjalan menuju ke meja makan. Sepertinya dia baru saja mandi karena rambutnya masih basah.


"Kemajuan yang luar biasa," katanya, lalu duduk di kursi yang ada di sampingku.


Aku menoleh ke arahnya. Tidak tahu apa yang dimaksud olehnya itu. Tapi kurasa dia senang melihatku membantu ibunya menyiapkan makan malam.


"Supnya sudah jadi. Mari makan."


Ibu Alexander kemudian datang sambil membawa semangkuk sup ke atas meja. Sedang aku ... aku bingung harus duduk di mana. Aku pun berniat menjauh dari Alexander, tapi saat itu juga dia menahan tanganku.


"Duduk di sampingku saja," katanya yang mana ibunya juga melihat ke arahku.


"Ehem!" Ibu Alexander berdehem melihat anaknya memegang tanganku. "Mari makan." Dia kemudian mengajak kami untuk menyantap makan malam ini.


Aku pun tersenyum lalu duduk di samping Alexander. Entah mengapa aku merasa kikuk sendiri. Mungkin karena ini adalah pertama kalinya bagiku makan malam bersama keluarga. Ya, walaupun bukan keluargaku sendiri, tapi rasanya kehangatan itu mulai dapat kurasakan.


Sebelum-sebelumnya aku belum pernah merasa sehangat ini. Hatiku seolah ingin selalu merasakan hangat kasih sayang dari seorang ibu. Jika ibuku tidak bisa, mungkin ibu Alexander bisa memberikannya. Aku rasa tidak ada yang salah dengan kedekatan kami. Ya, terlepas dari bagaimana perasaan Alexander yang sesungguhnya. Aku ingin sekali mendapatkan kasih sayang itu.


"Makan yang banyak, Cecilia. Jangan sungkan." Alexander berbicara padaku sambil mengambil buah pembuka makan malam.


"Hem, ya." Aku pun menoleh ke arahnya yang duduk di sisi kananku. Aku rasa aku mulai menyukainya.


Tuan, aku kagum padamu.


Beberapa percakapan terjadi di dapur tadi saat aku membantu ibunya menyiapkan makan malam. Dan beberapa di antaranya ada yang membuatku semakin mengagumi sosok Alexander. Andai aku bisa meminta, bisakah beri kepastian akan akhir cerita ini? Dengan siapa aku akan bersanding di altar pelaminan nantinya. Sungguh aku mulai terjebak di perasaanku sendiri. Aku membutuhkan bantuan untuk menentukan pilihan. Jackson atau Alexander? Aku rasa keduanya sama-sama patut diperhitungkan.

__ADS_1


Sudah makan dulu, Cecilia. Kasihan si kecil yang sedang tumbuh-kembang di dalam sana.


__ADS_2