
Segera saja kuangkat telepon darinya. "Halo?" jawabku.
"Lama sekali," katanya dari seberang.
"Apanya?" Aku sedikit bingung dengan kata-katanya.
"Laporannya, Cecilia. Kau ingin kugigit baru mengirimkan laporan itu?!" Dia seperti gemas denganku.
Ih, dasar kulkas!
Kulihat ponsel yang tertera namanya, di mana ada logo Samudera Raya terpampang jelas di layar ponselku. Aku pun kembali melanjutkan aktivitasku untuk mengirimkan laporan kepadanya. Dan ya...
"Sudah, Bawel!" Akhirnya aku selesai juga mengirimkan laporan yang dia inginkan.
"Oh ...." Dia hanya berkata oh.
Seketika itu juga aku merasa kesal padanya. Dia ini lama-lama kulumat baru tahu rasa.
"Cecilia." Dia kemudian menyebut namaku.
"Ya?"
"Aku sudah memesan tiket ke Hawai. Kau mau berlibur ke sana?" tanyanya.
Eh?! Aku terperanjat kaget. "Apa hanya kita yang pergi?" tanyaku memastikan.
Terdengar helaan napas darinya. "Tidak, tapi bersama anak kita juga." Dia membuat hatiku terenyuh seketika.
Ternyata dia begitu menyayangi anak ini.
Kuusap perutku saat merasakan tanggung jawab dan kasih sayang darinya. Kuakui jika terkadang dia bersikap kasar padaku. Tapi nyatanya, hatinya tidaklah sekasar sikapnya. Hatinya mampu berlaku lembut walaupun terkadang emosinya belum dapat dikendalikan. Dan kini dia tidak hanya memikirkan hubungan kami, tapi juga janin yang ada di dalam kandunganku ini.
"Baiklah. Rencananya kapan akan berangkat?" tanyaku.
"Nanti malam," jawabnya segera. "Kita naik helikopter saja ke sana," katanya yang membuatku menelan ludah.
"Jackson kau gila!" Aku mendengus kesal.
"Kenapa? Takut ketinggian?" Dia seakan meledekku.
__ADS_1
"Kau!!" Aku pun kesal karena merasa diledek olehnya.
"Hahahaha. Babe, aku rindu ngambekmu. Terus ngambek ya, nanti kuterkam." Dia semakin menjadi-jadi.
"Hei, kau ingin ya?" Aku menggodanya.
"Hm ... tidak."
"Yang benar?" tanyaku lagi.
"Tidak salah lagi. Hahahaha." Jackson tertawa renyah sekali.
Aku tersenyum mendengar tawanya. Rasanya senang sekali bisa bercanda seperti ini. Sudah lama kunantikan momen-momen seperti ini. Aku amat merindukannya.
"Baiklah, nanti kuhubungi lagi. Aku akan menemuimu sore nanti. Sampai jumpa, Babe." Dia ingin mengakhiri panggilan teleponnya.
"Sampai jumpa, Jack," kataku dan tak lama telepon kami pun terputus.
Akhirnya aku bisa bernapas lega kala cahaya kehidupan itu kembali kudapatkan. Aku merasa senang karena Jackson kembali padaku. Dia juga menegaskan jika tidak melakukan apapun bersama Zea waktu itu. Dan aku berharap memang benar adanya. Ya, semoga saja.
Dua jam kemudian di Angkasa Grup...
Aku sedang bersiap-siap untuk kembali ke apartemen. Pekerjaanku sudah selesai sehingga tinggal menantikan liburan bersama Jackson. Dan kini aku sedang merapikan meja kerjaku. Aku pun segera mengecek ruangan sebelum kutinggalkan.
Lekas-lekas aku mengambil tas untuk segera keluar dari ruangan. Dengan senyum semringah kusampirkan tas di pundak lalu berjalan menuju pintu. Aku berniat beristirahat sebelum pergi liburan bersama Jackson. Namun, sebelum sempat meraih gagang pintu, tiba-tiba saja aku melihat seorang wanita berdres hijau datang memasuki ruanganku. Dia datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Nyo-nyonya?!"
Sontak aku terperanjat kaget. Jantungku berdetak kencang, laju napasku pun seolah ikut tidak beraturan. Wanita itu masuk ke ruanganku dengan tatapan tajam. Dia menggandeng tas bermereknya tanpa mengalihkan pandangan dariku. Dia adalah Zea, istri dari Jackson sendiri.
"Halo, Cecilia." Dia menghalangiku keluar dari ruangan.
Sungguh aku terkejut bukan main, tak menyangka jika dia akan datang ke sini. Aku pikir bisa hidup tenang tanpa harus berhadapan dengannya. Tapi ternyata, dia menghampiriku hari ini. Entah apa yang akan dia lakukan di sini.
"Nyonya, senang bisa bertemu kembali." Aku berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa pada kami.
"Cih!" Dia mendecih di depanku. "Jangan pura-pura baik di depanku, Cecilia. Kau semakin berani saja. Apa karena merasa telah berhasil mendapatkan Jackson?" Dia menuduhku.
Aku berusaha tenang. "Aku tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, Nyonya." Aku pura-pura tidak mengerti karena itu lebih baik daripada banyak bicara kepadanya.
__ADS_1
Kami berdiri berhadapan dengan jarak sekitar dua meter. Aku di dekat meja kerja dan dia di dekat pintu. Tak tahu mengapa suasana sekitar seperti terasa hening saat dia datang. Padahal masih ada karyawan Angkasa Grup yang belum pulang. Aku jadi heran di mana mereka semua.
Aku harus berhati-hati.
Wanita di hadapanku ini tidak bisa diremehkan. Sebelumnya dia pernah mengancamku akan menjadi musuh yang paling merepotkan jika aku sampai berkhianat padanya. Dan dia sudah membuktikan ucapannya dengan menyuruh orang-orangnya untuk mengobrak-abrik rumah kontrakanku. Dan hal itu cukup untuk membuatku ketakutan.
"Cecilia, aku tidak peduli pada hubunganmu dengan Jackson. Tapi bisakah kau kembalikan uangku?" tanyanya yang membuatku berpikir cepat.
"Nyonya, bukankah Anda bilang sendiri jika tuan sudah mengembalikan uang Anda?" Aku merasa heran.
"Hah!" Dia mengembuskan napasnya dengan kuat di depanku. "Dua puluh juta kemarin bukanlah apa-apa. Kedatanganku ke sini untuk meminta seratus milyar yang Jackson berikan padamu. Itu uangku! Jadi tolong kembalikan!" Dia mulai menaikkan intonasi bicaranya.
Aku menelan ludah. Sepertinya Jackson belum memberi tahu jika uang seratus milyar itu digunakan untuk membeli saham di perusahaan atas namaku. Nyatanya uang itu tidak ada padaku.
"Maaf, Nyonya. Sepertinya Anda sudah salah paham. Aku tidak menerima uang itu. Tuan Jackson hanya menggunakan namaku untuk membeli saham di perusahaan ini. Aku sendiri tidak menikmati uangnya." Aku menjelaskan.
Dia berjalan mendekatiku. "Kau semakin berani menipuku, Cecilia."
"Nyonya, apa yang Anda laku—"
"Diam!"
Zea menarik rambutku, menjambak rambutku dengan kasar. Aku pun dengan sekuat tenaga melepaskan tangannya dari rambutku. Dia seperti tidak lagi bisa menahan kesabarannya. Aku pun mencoba mengambil parfum biusku dari dalam tas. Kurogoh tasku sambil menahan rasa sakit di kepala ini.
"Kuperingatkan padamu! Cepat kembalikan uang itu atau menyingkirlah dari hidupku! Cukup sudah aku menahan kesabaran atas ulahmu, Cecilia! Karenamu Jackson berani mengancamku! Dia juga berniat untuk memenjarakanku. Jadi rasakan akibat dari ulahmu ini!"
"Aaaghh!"
Zea mendorong kuat tubuhku ke arah meja. Seketika itu juga aku kehilangan keseimbangan. Dahiku membentur sudut meja, tubuhku pun ikut membentur meja kerjaku lalu jatuh ke lantai. Kurasakan dalam sekejap dahi dan kepalaku ini sakit sekali. Mataku pun berkunang-kunang, seperti tidak mampu untuk melihat lagi. Aku tidak kuat untuk bangun sendiri.
Ya Tuhan, apakah ini akhir dari hidupku?
Kulihat samar-samar wanita berdres hijau itu masih berdiri di depanku. Namun, kepalaku sudah terasa amat pusing sehingga tidak mampu berpikir lagi. Kupegang kepalaku ini dan kulihat dahiku mengeluarkan darah. Tak lama kemudian kurasakan ada sesuatu yang mengalir dari selangkaku, entah apa itu.
"Cecilia!"
Samar-samar aku mendengar suara Aurel yang membuka pintu. Samar-samar aku juga melihat Zea yang menoleh ke arah Aurel. Lalu setelahnya aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku tidak sadarkan diri.
.........
__ADS_1
...Zea...