Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Beri Kesempatan


__ADS_3

Aku terdiam, tidak berani menjawabnya. Namun, dia kemudian meraih tangan kananku ini. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi, tolonglah terima niat baikku. Aku tidak akan berbuat macam-macam," katanya, berjanji seraya memegang tanganku ini.


"Tuan, kau terlalu baik padaku. Aku tidak pantas menerima kebaikan itu." Aku merasa tidak enak sendiri.


Dia tersenyum, seperti tidak peduli jika aku selalu menolaknya. Dia begitu gigih untuk mendapatkanku. Sedang aku begitu gigih mempertahankan hatiku. Aku masih saja mengharapkan si pria berwajah muram itu.


"Jangan gunakan kata-kata itu untuk menjauh dariku, Cecilia." Dia mengusap pipiku.


Aku merasa sedih dengan hal yang menimpaku. Mengapa yang kuinginkan tidak kudapatkan? Malah yang tidak kuharapkan menawarkan diri padaku. Rasanya dunia ini tidak adil, selalu saja kenyataan berbanding terbalik dengan harapan.


"Kau tidak ada pekerjaan, Tuan?" Aku mencoba mengingatkannya. Aku tidak mau karenaku pekerjaannya terlantar.


Dia menggelengkan kepala. "Hari ini tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Bagaimana jika kita mengobrol sambil berjalan-jalan di taman rumah sakit. Kulihat rumah sakit ini memiliki taman yang indah." Dia membujukku.


"Tapi aku belum bisa bangun." Aku masih berusaha menolaknya.


Dia kembali tersenyum. "Maaf, ya." Alexander kemudian menggendongku ke kursi roda.


Tuan ...?!


Saat itu juga kurasakan apa yang hilang kembali padaku. Dia menggendongku ala pengantin lalu mendudukkanku di kursi roda. Hatiku pun merasa terenyuh dengan sikapnya. Dia tidak jemu-jemu untuk meminta hatiku.


Tuan, kau memaksaku untuk mencari kontrakan hati yang baru.


Lantas aku mencoba untuk menuruti apa katanya. Dokter bilang aku juga harus didampingi beberapa hari ini. Sedang aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain Angela di sini. Dan Angela pastinya juga mempunyai kesibukan yang tidak bisa ditunda lama. Jadinya aku mencoba menerima kebaikannya untuk mendampingiku di sini, karena Jackson belum juga kemari.


Jack, kau di mana? Kenapa nomormu belum aktif?


Aku sudah berulang kali mengirim pesan kepada Jackson. Aku juga sudah meneleponnya. Tapi, nomor Jackson belum bisa kuhubungi. Entah apa yang terjadi, aku mencoba berpikiran positif saja. Tubuhku belum memungkinkan untuk menemuinya. Meminta tolong Alexander untuk untuk mengantarkan pun tidak mungkin. Jalan satu-satunya adalah menunggu Angela datang. Jadi ya sudah, kunikmati saja kebersamaan ini karena tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Angela bilang pukul delapan baru akan sampai. Jadi aku akan menunggunya sambil berjalan-jalan di sekitar taman rumah sakit. Sekalian berjemur agar tubuhku cepat pulih kembali. Karena kata orang, sinar matahari adalah dokter terbaik yang bisa didapatkan secara gratis.


Di taman rumah sakit...


Aku keluar dari ruangan dengan menaiki kursi roda. Alexander pun membantu mendorongnya agar bisa cepat sampai. Dan saat keluar dari ruangan, kulihat ada petugas kebersihan yang membawa seikat bunga mawar. Entah untuk siapa, tapi aku rasa aku juga menginginkannya.


Kini aku duduk di taman sambil memegang ponselku. Aku masih duduk di kursi roda sambil menatap mentari pagi yang bersinar terang. Cahayanya seakan menghangatkan tubuhku yang membeku. Perlahan-lahan aku pun merasa lebih baik dari sebelumnya.


Udara segar kuhirup dalam-dalam. Baru kali ini bisa merasakan pagi hari yang menenangkan. Suara burung yang bersiulan pun menambah ketenangan jiwaku. Seolah semesta ikut menguatkanku. Aku pun mencoba bangkit dari keterpurukan, mencoba menerima Takdir Tuhan.


Sungguh, aku amat berharap dapat melihat bayiku lahir ke dunia. Tapi mungkin benar apa yang dikatakan Angela, Tuhan lebih menyayanginya dibandingkan diriku. DIA pasti lebih tahu apa yang akan terjadi jika bayiku sampai lahir ke bumi. Dan aku mencoba untuk tetap berprasangka baik kepada-NYA. Aku yakin DIA-lah pemilik skenario terbaik di jagat raya ini.


"Kau sudah merasa lebih baik?"


Pria berkaus hitam itu datang lalu duduk di dekatku. Kami duduk bersampingan sambil melihat pemandangan kolam ikan yang besar. Gemercik air kolam pun seolah meredakan beban pikiranku.


"He-em. Aku rasa cahaya matahari membantuku lebih baikan lagi." Aku menoleh ke arahnya.


"Tuan?"


"Kata orang cokelat bisa mengembalikan suasana hati seseorang. Mungkin kau mau mencobanya." Dia menawarkan.


Aku terdiam, merasa malu sendiri. Dia begitu baik padaku. Walau kata Jackson dia diminta oleh Hadden untuk mendekatiku. Dan harus kuakui, setelah mengetahuinya semua perasaanku terhadapnya seakan sirna terhapus oleh waktu.


"Terima kasih." Aku pun tersenyum menerimanya.


Alexander menatap kekejauhan, entah apa yang dia pikirkan. Aku rasa sekarang tidak perlu kepo lagi terhadapnya. Jackson juga sudah mencukupi kebutuhanku. Tapi masalahnya, di mana dia sekarang? Mengapa tidak juga menemuiku?


Seminggu sudah kami tidak bertemu. Rasanya rindu ini begitu menyesakkan kalbu. Tapi, sampai sekarang nomornya belum juga bisa kuhubungi. Sedang nomor lain aku tidak tahu. Entah apa yang terjadi, sepertinya ada urusan yang lebih penting dariku.

__ADS_1


"Jackson telah mengembalikan uang sewa apartemenmu kepadaku." Alexander membuka percakapan pagi ini.


"Apa?!" Aku terkejut mendengarnya.


"Tidak hanya itu. Dia juga mengembalikan semua uang yang telah kukeluarkan," katanya lagi.


"Tuan?"


"Aku rasa akan sangat sulit untuk mendapatkan hatimu, Cecilia. Kau begitu mencintainya, bukan?" Alexander menebak perasaanku.


Seketika aku terdiam, tidak enak hati padanya.


"Tapi ...," Dia meneruskan kata-katanya. "Aku berharap statusku ini bisa jadi bahan pertimbanganmu. Sungguh aku masih sendiri. Kaulah wanita pertama yang dekat denganku," katanya seraya menoleh ke arahku.


Aku menelan ludah, bingung harus berkata apa. Aku takut salah langkah. Aku tetap harus bertahan pada satu cinta. Aku tidak boleh menjadi pengkhianat seperti Zea. Aku yakin mampu setia apapun keadaannya.


"Tuan, kau terlalu baik. Aku tidak pantas untuk mendapatkanmu." Aku menunduk sambil mengatakannya.


Dia memutar badannya ke arahku. "Cecilia, kau selalu berkata seperti ini. Apa ini hanya alasanmu?" Dia seakan meminta penegasan.


Aku melihatnya. "Tuan, sepertinya kau tahu apa yang terjadi padaku. Aku rasa hal itu bisa menjadi bahan pertimbanganmu untuk dekat denganku. Aku bukanlah wanita baik-baik. Aku tidak sebaik dirimu." Aku menjelaskan siapa diri ini.


Alexander mengangguk. Sepertinya dia mengerti. Namun, dia menatapku lagi. "Apakah ada sesuatu yang membuatmu menjauh dariku, Cecilia." Dia menduga.


Aku terperanjat kaget. "Maksudmu?"


"Ya. Mungkin ada sesuatu yang dikatakan oleh Jackson padamu, sehingga karena hal itu kau menjauh dariku," katanya.


Seketika aku merasa ada petir yang menyambar di pagi ini. Tanpa hujan, tanpa mendung di angkasa. Dugaan Alexander ternyata bisa sampai tepat seperti ini. Aku jadi bingung dari mana dia bisa mengetahuinya?

__ADS_1


Apakah Hadden yang telah memberi tahunya? Ataukah ini hanya sekedar asumsinya saja? Sungguh jika iya, aku bingung bagaimana cara mereka bekerja. Aku merasa hidupku ini semakin menakutkan saja. Aku ingin semuanya cepat berakhir dan tidak meninggalkan luka.


__ADS_2