
Pukul dua dini hari...
Aku terbangun karena kebelet pipis. Dan kulihat kamarku sudah tidak ada lagi pria berambut pirang itu. Sehabis mendongengkan cerita cinta yang manis, ternyata dia tidak tidur sini. Aku pun lekas-lekas bangun karena sudah tidak bisa menahan kebeletku. Aku berjalan cepat ke kamar mandi.
"Hah ... leganya."
Lantas setelah selesai aku segera membasuh wajah lalu keluar dari kamar. Aku merasa perutku lapar dan ingin sekali menyantap makanan. Aku pun pergi menuju dapur untuk mengambil roti yang tadi dibawakan. Tapi, alangkah terkejutnya diriku saat melihatnya tengah tertidur di sofa ruang tamu. Dia tertidur tanpa selimut dan hanya beralas bantal sofa saja.
"Ya Tuhan!" Aku kasihan melihatnya. Dia ternyata menepati ucapannya untuk tidur di sofa.
Segera kuambil selimut yang ada di dalam kamar lalu kubawakan untuknya. Sesampainya di sofa aku pun segera menyelimutinya agar dia tidak kedinginan. Suhu AC ruangan juga aku kecilkan agar dia bisa lebih nyaman tertidur. Sungguh baru kali ini aku bisa melihat wajah polosnya saat terlelap.
Kasihan sekali dia. Kenapa tidak tidur di kasur bersamaku saja? Kenapa harus tidur di sofa?
Aku tak menyangka jika masih ada pria sepertinya. Padahal dia bisa saja memanfaatkan kesempatan yang kuberikan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi hal itu tidak dilakukan olehnya. Dia benar-benar menepati janjinya. Membuatku haru dan dipenuhi rasa bersalah.
Tuan, maafkan aku ya. Aku akan mencoba untuk membalas perasaanmu. Entah bagaimana ke depannya, kita jalani saja. Toh, aku masih terluka. Tapi aku berharap kau bisa mengobatinya.
Mungkin ini yang dinamakan berharap kepada manusia hanya akan menuai kecewa. Sama seperti yang kurasakan dimana aku kecewa dengan harapanku sendiri. Jackson seolah lepas tangan dan tidak memedulikanku. Membuatku terluka jiwa dan raga karena sikapnya. Aku pun seharusnya tidak menyalahkan dirinya karena yang salah memang aku. Aku yang terlalu berharap kepadanya. Dan pada akhirnya malah menuai kekecewaan.
Tidurlah, Tuan. Mimpi indah bersama bintang.
Lantas aku kembali ke kamar setelah menyelimutinya. Kubawa sepotong roti dan segelas susu untuk menemaniku. Aku ingin beristirahat kembali untuk menyambut hari esok yang lebih baik lagi. Semoga saja keadaan hatiku membaik dan tidak menyimpan dendam kepada siapapun. Termasuk Jackson yang telah menyakiti hati dan perasaanku.
Beberapa jam kemudian...
Sayup-sayup kudengar suara seseorang memanggilku. Suara itu semakin lama semakin terdengar jelas. Aku pun mencoba memfokuskan pendengaran sambil tetap memejamkan mata. Kusadari jika Alexander lah yang memanggil namaku.
"Cecilia, bangunlah."
Kurasakan usapan lembut di kepala ini sampai membuatku tersadarkan dari alam mimpi. Kubuka kedua mata lalu melihat dirinya yang tengah duduk di sampingku. Aku pun kembali memejamkan mata karena masih mengantuk. Kutepiskan tangannya yang mengganggu tidurku.
__ADS_1
"Masih ngantuk," kataku tanpa peduli dia marah atau tidak.
"Cecilia, sudah pukul setengah enam pagi. Aku mau kembali ke apartemen. Hari ini aku harus menyelesaikan pekerjaan sebelum akhir pekan. Nanti kalau aku pergi tidak ada yang mengunci pintunya. Bagaimana jika ada yang datang tanpa diundang?" tanyanya lembut padaku.
Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Benar apa yang dikatakan olehnya. Saat ini aku harus tetap berjaga-jaga karena bisa saja Zea menyuruh orangnya untuk mencelakaiku. Sedang dia tidak berada di sini.
"Gendong," kataku seraya menjulurkan kedua tangan ke arahnya.
Aku masih mengantuk tapi sudah harus bangun. Jadinya aku minta dia menggendongku saja agar bisa tersadar tanpa harus membuka mata. Kuintip dari balik kelopak mataku, kulihat dia tersenyum-senyum sendiri. Sepertinya dia menyadari sifat asliku ini.
"Baiklah, Putri."
Dia lantas menggendongku. Mengangkat lalu membawaku ke ruang tamu. Dia merebahkanku ke sofa lalu duduk di sampingku. Dia mengusap-usap kepalaku lagi. Membuat hati ini semakin terenyuh dengan sikapnya.
"Sudah, ayo bangun," katanya dengan intonasi memanjakan.
Aku pun bangun dengan rasa malas lalu duduk di sofa. Kubuka kedua mata lalu melihatnya. Di saat itu juga dia tertawa.
"Hahahaha." Dia tak lagi bisa menahan tawanya saat melihatku dengan pandangan mata yang masih mengantuk.
"Ehem! Tak apa. Hanya lucu saja. Aku merasa kita sudah sangat dekat, Cecilia." Dia berkata seperti itu.
Sejujurnya bukan hanya dia saja yang merasa sudah sangat dekat. Aku juga merasakan hal yang sama dalam hatiku. Tapi masalahnya, apakah perasaan ini harus berlanjut atau tetap berada di sini? Mungkin julukan teman tapi mesra itu melekat pada kami sekarang. Walaupun pada kenyataannya dia yang selalu mengejarku.
Aku sudah tidak lagi peduli jika dia disuruh Hadden atau bukan. Aku jalani saja. Jika memang disuruh Hadden untuk mendekatiku, aku akan berlagak terjebak ke dalam perangkapnya. Setelah itu aku akan berbalik melawannya. Walaupun tidak mempunyai kekuatan seperti seorang pria, tapi otakku masih bisa untuk diandalkan. Aku akan membuatnya jatuh hati sungguhan lalu membuatnya melawan Hadden. Aku yakin pasti bisa.
"Tuan, jangan berkata seperti itu. Nanti aku banyak maunya, lho." Aku menggodanya.
"Hah, benarkah?" Dia tak percaya.
"Benar. Nanti isi dompetmu terkuras habis karenaku. Sampai kau tidak sanggup lagi untuk membeli air mineral. Mau?" Kugoda lagi dirinya.
__ADS_1
"Hahaha. Kau ini bisa saja, Cecilia." Dia sepertinya paham dengan maksud kata-kataku. "Baiklah. Aku pergi dulu, ya. Jangan lupa kunci pintunya. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku." Dia berpesan seraya beranjak dari duduk.
"Baik, Tuan Arsitek." Aku memberi hormat padanya sambil ikut berdiri.
"Apa?!" Dia terbelalak mendengar ucapanku.
"Baiklah, Dear."
Aku mengganti kata sapaanku sambil melihat ke langit-langit ruangan. Seolah-olah tidak berharap dia mendengarnya.
Alexander pun tersenyum. "Bisakah menjadi yang ter-dear?" tanyanya lalu berjalan menuju pintu.
Aku mengikutinya. "Dearest?" tanyaku.
"Ya." Dia mengangguk senang.
"Asal kau siap memenuhi semua kebutuhanku, bisa-bisa saja." Aku mencandainya.
Dia tertawa seraya melihatku. Mungkin tidak habis pikir dengan sifat asliku ini. Kami pun akhirnya sampai di depan pintu.
Dia menatapku. "Cecilia."
"Ya?"
"Aku menyayangimu," katanya yang membuat hatiku terenyuh seketika.
Aku tersenyum, tidak berani menanggapi ucapannya. Mungkin belum tepat bagiku untuk membalas kata-kata itu.
"Aku pergi, ya. Sampai nanti." Dia kemudian berpamitan.
Kurasakan atmosfer sekitar begitu syahdu saat mendengar dirinya mengatakan aku menyayangimu. Aku pun melihat kepergiannya yang melangkahkan kaki dari apartemenku ini. Dia begitu gentle sekali dalam memperlakukanku. Tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan dan tidak memaksaku untuk melakukan sesuatu. Aku jadi merasa nyaman bersamanya.
__ADS_1
Terima kasih, Tuan. Semoga terbuka jalan untuk kita bersama.
Kulihat dia berbalik sesaat ke arahku lalu melambaikan tangannya. Aku pun membalas lambaian tangannya seraya tersenyum. Tak lama dia pun masuk ke dalam lift apartemen ini. Pintu lift tertutup dan kami pun mengakhiri perjumpaan kali ini dengan perasaan yang berbeda. Aku berharap kebahagiaan ini bisa terus kurasakan tanpa merasa bersalah kepadanya. Yang sudah biarkan berlalu. Mari kita buka lembaran yang baru.