Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Menginginkan Kepastian


__ADS_3

"Halo?"


Aku menjawab panggilan telepon masuk setelah menyediakan teh ke atas meja. Jackson pun memperhatikanku yang duduk di seberangnya.


"Cecilia, aku terkena penyakit kronis. Dokter bilang akan segera meninggal. Bisakah kau datang menemuiku untuk yang terakhir kalinya?" tanya suara dari seberang yang tak lain adalah Angela.


Suara Angela terdengar lemah dan tak bertenaga. Aku harap aktingnya bisa mengusir Jackson dari sini. Setidaknya Jackson percaya jika malam ini aku mempunyai keperluan, sehingga dia bisa lekas pergi.


"Em, tapi ... aku sedang bersama priaku."


Kulirik Jackson yang tengah memperhatikanku. Aku dengan penuh percaya diri menyebut dirinya sebagai priaku.


"Cecilia, apa dia lebih penting dari sahabat lamamu?" Suara Angela terdengar semakin lemah.


"Em, bagaimana ya? Ak-aku ...," Aku melirik lagi ke arah Jackson. Dan kulihat dia mengernyitkan dahinya, seperti merasa curiga. "Em, baiklah. Aku ke sana." Akhirnya aku pura-pura tak enak hati saja kepada Angela.


"Kutunggu, Cecilia."


Telepon langsung terputus. Aku pun berlagak khawatir di depan Jackson. Namun, Jackson menatapku dengan pandangan dingin. Padahal aku telah menyanjungnya malam ini, menyebutnya sebagai priaku.


"Tuan, aku mau pergi sekarang. Aku tinggal dulu." Aku beranjak dari hadapannya.


"Teman yang mana? Apa penipu juga?" tanyanya yang sontak membuat jantungku hampir copot.


Astaga, dia bisa menuduh seperti itu. Apa akting kami kurang meyakinkan?


Kutelan ludahku, berusaha bersikap biasa saja agar tidak menimbulkan rasa curiga. Lantas aku bertanya dalam hati. Aku pikir bisa segera pergi untuk menghindarinya malam ini. Namun nyatanya, dia malah langsung menudingku tanpa basa-basi.


Aku berbalik ke arahnya. "Tuan, sungguh. Ini temanku. Aku ganti pakaian dulu." Aku lekas pergi dari hadapannya.


"Cecilia!" Dia memanggil namaku. "Sekarang sudah jam setengah sebelas malam. Kalau dia tidak bisa bertahan hingga besok, maka kamu juga tidak akan bisa bertemu dengannya saat sampai." Kudengar langkah kaki Jackson mendekati.


Astaga! Astaga! Dia mulai mendekat.


Aku masih membelakanginya, tapi jantungku sudah berdetak tak karuan. Jackson lalu meraih kedua lenganku dan mencium bahuku dari belakang.


"Jangan berbohong lagi," katanya sambil memelukku.

__ADS_1


"Tuan, aku tidak bohong."


Aku berusaha meyakinkan, tapi dia malah menarik tubuhku agar lebih menempel di tubuhnya. Sehingga hangat napasnya bisa kurasakan di tengkuk leherku ini. Seketika itu juga tubuhku merinding dibuatnya.


"Sudah banyak kebohongan yang kau buat. Apa tidak capek?" tanyanya yang seolah menusuk jantungku.


Tangannya mulai bergerilya, menyingkapkan rambutku ke samping. Bibirnya pun mulai menciumi bahuku dari ujung ke ujung. Sontak tubuhku seperti tertarik magnet bumi, tidak punya kekuatan untuk berdiri saat merasakan sensasi geli dari kecupannya. Dia menggodaku malam ini.


Tubuhku bergetar kecil kala bibirnya menciumi tengkuk leherku. Kurasakan hangat bercampur geli saat kumis tipisnya itu menyentuh. Aku pun jadi memejamkan mata saat merasakan sapuan bibirnya. Deru napasku mulai tidak stabil karena sentuhannya.


"Tuan, jangan dilanjutkan." Aku mencoba melepaskan kedua tangannya yang melingkar di perutku.


Malam hari yang sunyi dengan perasaan bercampur aduk menjadi satu. Racun yang dia berikan lewat sentuhan seperti memompa detak jantung dan suhu tubuhku. Dia menjadi dirinya, tidak lagi peduli siapa aku.


Aku ragu untuk waktu yang lama. Haruskah menghentikan ulahnya atau terus melanjutkan permainan yang baru saja dimulai?


Lantas aku bertanya dengan hati-hati. "Tuan Jackson mau nginap?" Aku berusaha menghentikan aksinya yang terus saja menciumi setiap inchi dari permukaan bahuku.


Dia mengangkat wajahnya lalu memutar tubuhku menghadapnya. Dia melihatku dengan jarak yang amat dekat. “Pengen aku nginap?” tanyanya dengan tatapan yang berbeda. Jackson sudah berganti kulit, dia jadi lembut sekarang.


"Nggak," jawabku terus terang padanya.


"Tuan Jackson sudah punya keluarga, nggak seharusnya tidur di sebelahku.” Aku berkata padanya.


Dia tersenyum penuh makna: “Bukannya kamu yang menggodaku?” tanyanya seraya mencolek hidungku ini.


"Tuan, itu hanya ak—"


"Hm?"


Hampir saja kata akting kuucapkan di depannya. Tapi untungnya kata yang sudah berada di sudut bibirku itu tidak sampai terucapkan. Jika terjadi maka tamatlah riwayatku. Jackson pasti mengira aku benar-benar berpihak kepada Zea dan mengkhianatinya. Yang ada dia malah akan semakin menyiksaku, lebih kejam dari ini.


"Tu-tuan, aku akan mengembalikan uang DP kepada nyonya Baldev," kataku segera untuk mengalihkan kata-kata tadi.


Sungguh perasaanku sangat kacau. Di hadapanku tengah berdiri seorang pria yang tidak perlu diragukan lagi akan parasnya. Jackson sangat tampan dan harus kuakui hal itu. Tubuhnya amat maskulin bak roti sobek yang menggugah selera. Dan kini dia sedang menggodaku dengan setiap sentuhan dari bibirnya. Aku jadi bingung harus bagaimana.


"Kau sudah minum obat?" tanyanya lalu menggigit telingaku ini.

__ADS_1


"Tuan ...," Tubuhku merinding seketika karena gigitan kecilnya itu. "Sudah." Aku menjawabnya sambil mengangkat bahu karena geli.


"Apa kau tidak ingin mencari masalah? Apa masalah yang dibuatmu belum cukup?" tanyanya yang membuatku bingung.


"Tuan, masalah hamil dengan yang sebelumnya itu berbeda. Aku tidak ingin menanggung derita karena ulahmu. Kau tidak akan menikahiku jikapun aku hamil, bukan?" Aku bertanya balik padanya.


Kulihat Jackson tersenyum mendengar pertanyaanku. Dia lantas menarik pinggulku agar lebih dekat dengan tubuhnya. Lalu kemudian, dia menciumku.


Tuan ....


Hangat napasnya kurasakan saat mengecup bibir ini, dia memegang lembut wajahku. Dia juga menurunkan tali dasterku. Lalu perlahan menggiringku untuk bersandar di tembok. Dia menyandarkan tubuhku ke dinding ruang tamu sambil mencium bibirku ini.


Aku tidak bisa bergerak. Sedikit saja membuka mulut, lidahnya pasti dengan cepat menelusup ke dalam mulutku.


"Tuan, sudah."


Aku mencoba mendorongnya agar tidak lagi menciumku. Tapi tenaganya tidak mampu kulawan. Dia kemudian meremas pinggulku lalu menggendong depan tubuhku ini. Dan kini kedua pahaku melingkar di pinggangnya.


"Cecilia, kau menyebalkan," katanya sambil menggendongku masuk ke dalam kamar.


Lantas aku berusaha turun dari gendongannya, tapi dia terus menahan tubuhku. Hingga akhirnya pinggulku tanpa sengaja menggosok-gosok perutnya. Saat itu juga kurasakan hasratnya semakin memburu.


"Tuan, jangan lagi!"


Aku melepaskan diri sekuat mungkin. Tubuhku akhirnya bisa terlepas juga darinya. Aku segera menjauh dari pemburu di hadapanku ini. Aku berniat keluar dari kamar.


Ini tidak boleh terjadi lagi.


Jackson seolah tidak peduli. Dia lalu mengejarku, menarikku kembali. Dia lantas menjatuhkanku ke atas kasur. Kulihat wajahnya dipenuhi api yang menggelora. Aku pun memundurkan diri ke belakang, tidak mau didekati olehnya.


"Susah kubilang, kau milikku."


Dia lalu melepas ikat pinggangnya. Dia juga membuka kancing kemeja putih lengan panjangnya satu per satu di hadapanku. Dan kini terlihatlah roti sobeknya yang begitu menggoda. Jackson lalu menerjangku.


"Ach!" Aku berusaha menghindar darinya. "Tuan, ini tidak boleh terjadi. Kita tidak mempunyai hubungan apapun," kataku, sambil memegang dasterku agar tidak turun.


"Jadi kau ingin kepastian dariku?" tanyanya, kemudian berdiri dan mendekatiku yang ada di sudut kamar.

__ADS_1


"Tuan, sebenarnya kau ini menganggapku apa?"


Aku tidak mau berada di situasi seperti ini. Lantas saja aku menanyakan hal itu. Lalu dia pun menjawabnya. Dia menarikku ke kasur kembali.


__ADS_2