Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Secangkir Kopi


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Kami sampai di rumah beberapa menit yang lalu. Dan kini sedang duduk di sofa ruang tamu rumah sewaku. Belum berganti pakaian, masih duduk santai sambil rebahan. Namun, tetap berdiaman. Belum ada kata-kata yang terlontar sedikit pun.


Jackson sendiri sedang menghisap puntung rokoknya seraya menatap langit-langit ruangan. Tersirat jika pikiran dan hatinya kini tengah kelelahan. Entah benar atau tidak, dia memang seorang pekerja keras yang amat berdedikasi. Dia tidak akan pulang jika urusannya belum selesai.


"Tuan." Akhirnya aku duluan yang menegur.


Sebisa mungkin aku menghiburnya. Kulepas blezer hitamku, kubuka dua kancing kemejaku di depannya. Aku berharap sikapku ini bisa meredakan rasa lelahnya. Aku pun berpura-pura ingin ikut merokok. Kuambil kotak rokok dari dekatnya.


"Mau ngapain?" Dia segera bertanya padaku.


"Mau merokok," jawabku santai.


"Ingin kubunuh?" Tiba-tiba saja dia berkata seperti itu. Seketika kutelan ludahku karena merasa takut.


Dia ini kalau sudah marah seram sekali.


Aku tidak jadi mengambil kotak rokoknya. Kuletakkan kembali di depannya. Kuambilkan minum untuknya, minuman bersoda yang katanya bisa menghilangkan masuk angin. Ya, siapa tahu Jackson sedang masuk angin makanya dia marah-marah melulu.


"Sayang, minum ya." Aku merayunya.


Aku duduk di sampingnya. Meregangkan dasinya, juga melepas kait sabuk celananya. Jackson memperhatikan setiap hal kecil yang kulakukan. Dia kemudian menjauhkan asap rokok itu dariku dan membiarkan aku melakukan hal apa yang kumau. Dia tidak keberatan sama sekali.


Entah apa yang ada di pikiran Jackson, kurebahkan saja kepalaku di pundaknya. Aku berharap sikap manja seperti ini bisa membuat hatinya luluh dan pikirannya tenang. Habisnya aku bingung mau bagaimana. Hal apa yang harus aku lakukan agar dia tidak marah?


"Kenapa dia ada di sana?" Tiba-tiba dia bertanya sambil menghisap puntung rokoknya.


"Aku juga tidak tahu," jawabku seadanya.


"Kalian janjian?" tanyanya lagi.


Aku lekas duduk tegak di sampingnya. "Tuan, ada urusan apa aku dengannya? Mengapa kau menuduhku seperti itu?" Aku balik bertanya.


Jackson mematikan puntung rokoknya. Dia menarikku agar tiduran di atas pahanya. "Sudah kubilang jangan bandel. Kau ingin kuhukum lagi?" Dia seperti kesal padaku.


Aku berpikir sejenak. "Tuan, selama ini kau suka sekali menghukumku. Bagaimana jika kita gantian?" Aku beranjak berdiri darinya.


"Hm?" Dia menaikkan satu alisnya di depanku.

__ADS_1


Ingin sekali aku membuatnya mabuk agar tidak marah-marah lagi. Katanya sih pria begitu relaks saat mendapatkan hal itu. Dia bisa melupakan segalanya saat sedang menikmati kobaran api di dalam tubuhnya. Jadinya aku akan memakai cara itu kali ini.


Lantas aku duduk di atas pangkuannya. Kulebarkan pahaku sambil menatapnya penuh arti. Kulihat Jackson diam saja saat pantatku mendudukinya. Dia malah memegang pinggulku ini.


"Aku ingin sekali-kali menyiksamu, Tuan. Aku ingin mempermainkanmu sesuka hati." Aku berbicara dekat sekali dengan wajahnya, seolah ingin mencium bibirnya.


"Kau menginginkannya?" Dia bertanya padaku.


Aku mengecup pelan bibirnya. Kuhisap lalu kutarik perlahan. "Anda belum tahu bagaimana aku saat mendominasi permainan. Anda akan menderita kekalahan besar, Tuan." Kuhirup dalam-dalam hangat napasnya.


Jackson terdiam. Dia memperhatikan sikap beraniku malam ini. "Rubah licik," katanya saat aku mulai menaik-turunkan pinggulku di atas pangkuannya.


Aku tersenyum. "Jika kau berkata seperti itu, maka aku akan selamanya menjadi rubahmu." Aku menciumnya kembali.


Jackson diam, dia tidak bergerak sekali. Dia membiarkan aku menciumnya. "Cecilia, kau membuat kesabaranku habis." Dia kemudian mendorongku ke sofa.


Jackson melepas dasinya. Dia juga melepas sabuk celananya. Aku yang sudah terbaring di atas sofa ini seperti tidak dapat berbuat apa-apa. Dia kemudian mendekatiku, menarik kuat kemeja putihku hingga kancingnya terlepas semua. Dan akhirnya buah ranum yang masih terbungkus itu terlihat di depan kedua matanya. Aku pun pasrah dengan apa yang akan dia lakukan padaku. Aku miliknya.


Dua jam kemudian...


Aku baru saja mandi dan kini sedang mengeringkan rambut dengan handuk. Permainan malam ini tidak bisa berlangsung lama karena sepertinya dia sedang kelelahan. Aku juga tidak memaksanya, mencoba mengerti karena kondisinya belum memungkinkan. Toh, masih ada hari lain untuk bersenang-senang. Jadinya kunikmati saja permainan yang sesaat ini. Tidak meminta lebih atau memaksanya.


Lelah sekali.


Malam ini kukenakan daster tipis berwarna hitam sepangkal paha. Sengaja mengenakan pakaian seksi di depannya agar dia tidak mendua. Karena jika hal itu sampai terjadi, aku akan mengalami kerugian besar. Dan aku amat tidak menginginkannya.


Aku sudah berjanji untuk membuat Jackson mengemis cintaku. Jadi harus kulakukan misiku sampai berhasil. Karena kepuasan akan kudapatkan setelah hal itu kesampaian. Dan aku tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang kuinginkan.


"Tumben sebentar malam ini," kataku, lalu duduk di sofa yang berseberangan dengannya.


Dia melihat ke arahku. "Baby, jangan mengejekku." Dia membuang sisa pembakaran puntung rokoknya ke dalam asbak.


"Tidak mengejek. Hanya saja sedikit heran," kataku lagi.


Raut wajahnya berubah seketika. "Aku lelah hari ini. Jadi kurang maksimal." Dia menjelaskan.


"Ingin kupijat?" Aku segera menawarkan diri, padahal lelah sekali.


Jackson menggelengkan kepala. "Aku masih ada urusan. Kemungkinan pulang pagi," katanya lagi.

__ADS_1


"Apa?!" Aku terkejut seketika.


"Investor akan datang. Dan sebelum dia datang, aku ingin mengecek lokasi yang diinginkannya." Dia mematikan puntung rokoknya.


"Aku tidak diajak?" tanyaku kecewa.


Dia menghela napasnya. "Tempatnya sangat jauh dan menyeberang pulau, Babe. Kau beristirahat saja di sini. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu dan dengan kandunganmu." Jackson begitu perhatian padaku.


Pantas saja tadi tidak sampai masuk. Ternyata dia melindungi yang di dalam.


"Besok langsung ke Angkasa Grup saja. Urusan di kantor biar Clara yang mengambil alih." Dia memberi tahuku.


Seketika aku teringat dengan kejadian di pesta dansa perusahaan Hadden. "Tuan, kau tidak menanyakan kepada Clara tentang kebenaran ucapanku?" tanyaku padanya.


"Tidak." Dia menjawab singkat.


"Kau percaya begitu saja padanya ketimbang diriku?" tanyaku lagi.


Dia menoleh ke arahku, memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kemari." Dia memintaku untuk mendekatinya.


Aku mendekat lalu duduk di sampingnya. Tapi segera dia naikkan ke atas pangkuannya.


"Peperangan sudah dimulai, Cecilia. Kau harus fokus terhadap apa yang aku perintahkan. Tidak perlu mengurusi yang lain." Dia menatap dalam mataku.


"Tuan ...."


"Hadden sudah mulai bergerak, dan kini Zea sudah mulai ikut. Kau tidak perlu tahu apa yang terjadi. Cukup turuti apa kataku dan jangan membantah." Dia mencolek hidungku.


"Tap-tapi ... bagaimana dengan Alexander? Apakah Tuan mengenal Alexander?" Aku amat ingin tahu.


Raut wajahnya berubah seketika saat aku membicarakan Alexander di hadapannya. Tersirat jika ada kecemburuan dari dalam hatinya. Aku pun segera memeluknya agar dia tidak terbawa perasaan atas pertanyaanku.


"Aku hanya khawatir jika Alexander memata-mataiku. Itu saja, Tuan." Kuusap lembut rambutnya.


"Kau amat ingin tahu tentang Alexander?" Dia bertanya seraya menatapku.


"Tentu," jawabku segera.


"Hah ... baiklah. Buatkan aku secangkir kopi. Nanti akan kuceritakan siapa dia sebenarnya." Jackson menjanjikan padaku.

__ADS_1


Aku tersenyum senang. "Baik, Tuan. Tunggu, ya."


Dengan segera aku bangkit dari atas pangkuannya, berjalan menuju meja teh untuk membuatkan secangkir kopi. Aku harus mendapatkan informasi tentang Alexander malam ini.


__ADS_2