Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Ikut atau Kutinggal?


__ADS_3

Satu setengah jam kemudian...


Setelah mandi aku langsung membuatkan makan malam untuknya. Dan kini kami sedang merebahkan punggung di atas kasur sehabis makan malam bersama. Jackson tengah memperlihatkan foto-foto masa kecilnya padaku. Aku pun dengan amat antusias melihatnya. Kuakui jika rasa cinta ini semakin lama semakin bertambah besar kepadanya.


"Dari kecil sudah tampan, ya?" Aku memujinya.


"Benar, kah?" Jackson seolah tidak percaya dengan ucapanku.


"Sekarang lebih tampan. Tampan sekali," kataku seraya menatapnya.


"Dasar penggoda!" Dia mencubit pipiku.


"Ih, sakit tahu!" Aku memegang pipiku yang dicubitnya.


"Cecilia."


"Hm?"


"Sepertinya aku sudah kecanduan."


"Kecanduan?" Kami pun saling bertatapan.


"Iya, aku kecanduan cintamu," katanya yang membuatku tersipu.


"Tuan, jangan begitu. Aku malu." Aku benar-benar malu karena kata-katanya.


Jackson seperti senang melihatku tersipu. "Kau tahu, Cecilia?"


"Hm, apa?"


"Aku hanya menginginkanmu," katanya seraya mengusap lengan ini.


"Tukang gombal!" Aku mencubit pelan dadanya.


"Sungguh. Kau adalah wanita pertama yang tidur denganku," katanya yang membuatku terkejut.


"Apa?!" Aku benar-benar tak percaya dengan ucapannya.


Dia mengangguk.


"Tuan, kau keterlaluan kalau berbohong." Aku pura-pura ngambek saja.


Jackson mencubit hidungku. "Sudah sejauh ini masih tidak percaya?" tanyanya, yang membuatku menatap kedua bola mata birunya.


Lantas aku ingin mengorek informasi lebih lanjut tentang dirinya dan Zea. "Lalu bagaimana dengan Zea?" tanyaku amat ingin tahu.

__ADS_1


Jackson mencium pipiku. "Aku tidak pernah tidur dengannya," jawabnya yang membuatku terperangah.


Hah? Apa?! Astaga! Ini berarti ...?!


"Dua tahun pernikahan kami, satu kali pun aku belum pernah tidur dengannya. Kau percaya?" Dia bertanya padaku.


Aku menggelengkan kepala.


"Tanya saja sama orangnya. Dia masih hidup." Jackson seperti menantangku untuk bertanya langsung kepada Zea.


Sungguh aku terkejut bukan main mendengar pernyataan ini. Ternyata Zea dan Jackson belum pernah tidur bersama, satu kali juga. Pantas saja jika Zea bersama Andreas. Ternyata dia tidak mendapatkan haknya dari Jackson.


Tapi tunggu, sebelumnya Jackson sudah mengetahui hubungan Andreas dan juga Zea. Itu berarti Zea yang memulai semua ini. Jackson bilang dia tidak mau bekasan. Itu berarti Jackson sudah mengetahui sejauh apa hubungan mereka sebelum pernikahan. Benar-benar kacau.


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan tuan Liandra?" tanyaku lagi.


Aku benar-benar ingin mengorek informasi malam ini. Aku ingin tahu semuanya. Aku ingin kejelasan atas nasibku, akankah ada kesempatan untuk bersama Jackson di masa mendatang?


"Kau sangat penasaran, Baby." Dia tersenyum padaku.


"Tentu aku penasaran. Kau sudah menang banyak," kataku polos.


"Hahaha." Jackson tertawa. "Nanti juga tahu sendiri." Dia menarik tubuhku ke pelukannya.


"Tahu sendiri gimana?" tanyaku lagi.


Sebenarnya aku ngeri mendengar undangan ini. Aku belum tahu siapa Liandra, ayah dari Zea itu. Aku juga belum bertanya banyak kepada Angela tentang Liandra. Angela hanya berpesan untuk terus berhati-hati saat berada di dalam lingkaran ini. Dan saat ini hanya Angela dan Jackson saja yang bisa kupercaya, selainnya tidak ada.


"Kenapa tidak beri tahu sekarang saja, sih?" Aku mengeluh padanya.


"Baby ...," Dia menekan kedua pipiku dengan lembut. "Lebih baik tahu sendiri. Sesampainya di sana, satu per satu hal yang berkaitan denganku dan Zea, akan kau ketahui. Begitu juga dengan hubungan bisnisku dengan ayahnya. Jadi ikutlah." Jackson menjanjikan sesuatu padaku.


Lantas aku berpikir. "Tapi apa boleh masuk?" Aku khawatir orang luar dilarang masuk.


"Itu mudah saja jika kau mau." Dia tersenyum padaku.


"Em, Baiklah." Akhirnya aku mengiyakan karena penasaran.


"Begitu, dong. Sekarang kita siap-siap saja." Jackson melihat jam di tangannya.


"Mau ke mana, Tuan?" tanyaku bingung, melihatnya bangkit dari tempat tidur.


"Ikut saja, jangan banyak bertanya." Dia lalu menelepon seseorang.


Aku tidak tahu Jackson akan mengajak ku ke mana. Aku juga lebih tidak tahu apa yang akan kudapatkan jika ikut ke acara keluarga Liandra nanti. Tapi yang jelas, Jackson seperti menjanjikan padaku jika ada sesuatu hal yang dapat kuketahui dari acara itu. Entah apa, tapi sepertinya sangat menarik.

__ADS_1


Aku sendiri begitu penasaran dengan kebenaran hubungan Jackson dan Zea. Apa benar mereka belum pernah tidur bersama? Lalu alasan apa yang melatarbelakangi hal itu? Apa karena Zea sudah bersama Andreas sebelum menikah dengan Jackson? Tapi kalau dipikir-pikir, dua tahun pernikahan bukanlah waktu yang singkat. Apa iya selama dua tahun Zea selalu tidur bersama Andreas? Ini aneh sekali.


Lantas aku mencoba menepiskan rasa penasaran di hatiku. Jackson pun telah selesai menelepon seseorang. Kulihat dia seperti sedang memperhitungkan waktu.


"Tuan?" Aku mendekatinya.


"Cecilia, kita ke kantor sekarang," katanya yang membuatku terkejut.


"Hah?! Mau ngapain? Bukannya libur?" Aku jadi heran sendiri.


"Sudah, ikut saja. Banyak bicara." Dia seperti mengajak ku ribut.


Jacksoooon!!!


Baru juga bermesraan, dia sudah mengajak ku ribut. Memang dasar cetakannya seperti itu, mau tak mau aku mengalah saja. Lekas-lekas mempersiapkan diri untuk ikut bersamanya.


Sesampainya di kantor...


Jackson menarik tanganku agar cepat masuk ke dalam gedung PT Samudera Raya. Aku jadi bingung sejadi-jadinya.


"Tuan, ada apa?" Entah mengapa pikiranku jadi cemas melihatnya.


"Lihat saja!"


Dia hanya berkata seperti itu sambil terus menarik tanganku agar mengikutinya. Dan akhirnya aku tahu jika dia mau mengajak ku pergi setelah sampai di atap gedung ini.


Astaga ... dia mau mengajak ku naik helikopter lagi?


Kusadari jika helikopter itu memang sengaja ditempatkan di atas gedung PT Samudera Raya. Mungkin Jackson membelinya untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak terduga. Tahu sendiri dunia bisnis bagaimana, terkadang mengerikan bak mafia.


Aku pun baru mengerti mengapa dia mengajak ku ke kantor. Ternyata dia ingin mengajak ku pergi ke suatu tempat dengan menggunakan helikopter. Tapi entah mengapa aku merasa lebih takut sekarang. Kemarin pergi siang saja sudah ketar-ketir tidak karuan, apalagi ini pergi malam.


"Tuan, lihat sudah jam berapa? Langit gelap, apa kau tidak khawatir?" tanyaku dengan penuh rasa cemas.


Dia membuka pintu helikopternya lalu segera naik. "Ikut atau kutinggalkan?" Dia kembali menjadi Jackson yang menyebalkan.


Ya ampun, anak siapa sih dia ini? Kenapa menyebalkan sekali? Baru tadi siang memadu kasih, sekarang sudah memadu racun. Sudah tahu aku takut ketinggian, malah diminta lagi.


Lantas aku menarik napas panjang, berusaha memberanikan diri malam-malam seperti ini. Kulihat kembang api sudah mulai dinyalakan, pastinya Jackson akan lebih tinggi menerbangkan helikopternya. Tapi karena pilihannya hanya ada dua, mau tak mau aku menurutinya.


Ya, sudahlah.


Akhirnya aku naik dan kulihat Jackson tersenyum penuh kemenangan di depanku. Dia segera memakaikan sabuk pengaman dan juga headset kepadaku.


"Tutup pintunya, Baby."

__ADS_1


Dia kembali menyebutku baby. Ternyata Jackson hanya menyayangiku jika aku menuruti keinginannya. Jika tidak, siapa dia, siapa diriku.


Astaga hidupku.


__ADS_2