Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Kabar Buruk


__ADS_3

Lima hari kemudian...


Hari ini adalah final akuisisi Angkasa Grup. Aku datang pagi-pagi ke kantor untuk menyelesaikan semuanya. Beberapa hari terakhir Jackson selalu menjemputku pulang. Dia juga membelikanku berbagai macam kebutuhan ibu hamil. Rasanya begitu senang, tak percaya jika Jackson bisa sampai seperti ini.


"Jangan tidur malam-malam. Kujitak kepalamu kalau masih terlihat online!"


Dia begitu memanjakanku. Walaupun kami belum bisa mengumbar kemesraan, tapi seperti ini saja aku sudah merasa sangat bahagia. Dan aku harap Jackson akan selalu seperti ini padaku. Ya, terlepas dari sifat kejamnya saat marah. Aku rasa bisa mengimbanginya. Cukup duduk, diam, mendengarkan, saat dia marah. Setelahnya ajak saja ke kamar. Pasti dia tidak akan marah lagi padaku.


"Terima kasih, Pak."


Aku mengucapkan terima kasih kepada pak supir yang mengantarku. Kalau pagi-pagi seperti ini aku selalu diantar oleh supir pribadi Jackson. Katanya aku tidak boleh mengendarai mobil sendiri. Jackson tidak ingin aku sampai kenapa-kenapa sehingga dia menyuruh supirnya mengantarkanku. Dia peduli sekali.


Baiklah, Cecilia. Mari kita selesaikan pekerjaan hari ini.


Kulangkahkan kaki menuju lift, lalu menekan lantai tujuanku. Aku datang dengan mengenakan setelan seragam bisnis berwarna hitam. Rambut kusanggul agar terlihat lebih elegan. Aku juga menggunakan sepatu pantofel yang tidak terlalu tinggi. Tentunya tanpa lupa mengenakan make up dan juga parfum kesukaanku agar lebih percaya diri.


Kita beraksi.


Sesampainya di lantai lima perusahaan, kulihat ramai karyawan tengah membicarakan seseorang. Aku tidak tahu siapa gerangan yang dibicarakan. Tapi, saat aku menyapa selamat pagi kepada mereka, barulah kuketahui siapa yang mereka bicarakan.


Ternyata mereka tengah membicarakanku.


Aku menyapa, tapi mereka membalas sapaanku dengan tatapan yang kurang mengenakan. Tatapan mereka seperti tatapan merendahkan. Lantas aku tidak ingin ambil pusing atas apa yang tengah mereka bicarakan. Lekas saja aku masuk ke dalam ruangan untuk menyelesaikan urusanku. Aku mencoba tidak peduli apa kata orang. Namun, tak lama kemudian Aurel datang dengan tergesa-gesa ke dalam ruangan. Padahal aku baru saja meletakkan tas di atas meja kerjaku.


"Cecilia." Dia membawa sebuah majalah di tangannya.


"Aurel?"


"Cecilia, tolong jelaskan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?" Tiba-tiba dia menanyakan seperti itu. Dia terlihat cemas sekali.


"Apa yang terjadi? Aku juga tidak mengerti," jawabku.

__ADS_1


"Ini, lihatlah!"


Aurel segera membuka salah satu halaman majalah di depanku. Dan betapa terkejutnya aku di saat melihat ada fotoku dan foto Jackson di majalah itu. Dimana Jackson sedang mencium keningku saat berpamitan pulang. Sontak degup jantungku berpacu kencang. Terlebih keterangan di foto itu seolah-olah menceritakan tentang skandal kami.


"Astaga. Dari mana foto ini?" Aku bertanya kepada wanita berkemeja krim yang berdiri di hadapanku, Aurel.


Sebisa mungkin aku bersikap tenang. Walau nyatanya aku syok sekali. Dari mana majalah ini bisa mendapatkan fotoku dan Jackson. Pastinya beberapa hari kemarin telah ada yang mengikuti kami. Tidak mungkin tidak.


"Aku tidak tahu, Cecilia." Aurel terlihat cemas.


Aku tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi. Namun satu hal yang pasti, aku harus kuat menghadapinya. Mungkin inilah yang dinamakan peperangan sudah dimulai oleh Jackson.


"Cecilia, majalah ini terbit kemarin sore. Berita ini sudah menyebar ke seluruh karyawan perusahaan. Kau harus mengklarifikasinya." Aurel memintaku.


Aku terdiam sejenak, berpikir.


"Banyak chat yang masuk dan menanyakan kebenaran ini kepadaku. Aku jadi pusing, Cecilia." Aurel mengabarkan.


Mau tak mau pikiranku langsung tertuju kepada Bianca, tentang penyebab masalah ini. Siapa lagi orang yang berani bermain-main denganku selain dirinya. Dia masih menyimpan dendam padaku karena waktu itu. Tapi masalahnya, apa dia mempunyai banyak uang untuk memberitakan hal ini? Dia juga amat berani menyinggung Jackson seorang diri. Pastinya Bianca tidak mungkin melakukannya tanpa bekingan yang kuat. Karena Jackson bukanlah orang sembarangan.


Apa Zea? Atau Hadden?


Hatiku bertanya-tanya, pikiranku terus berpikir. Banyak kemungkinan bisa terjadi dalam hal ini. Sampai-sampai memberitakan skandal Jackson denganku. Pastinya orang dibalik berita ini bukanlah orang sembarangan.


"Aurel, aku tidak bisa banyak bicara tentang hal ini. Tanyakan saja pada tuan Jackson, ya." Lagi-lagi aku mengkambinghitamkan Jackson.


"Tapi, Cecilia. Semua karyawan di perusahaan sedang membicarakanmu. Hal itu juga menyeretku ke dalamnya. Bisakah kau beri penjelasan kepada mereka agar diam? Aku pusing sekali ditanyai ini dan itu." Aurel ternyata mendapat tekanan atas kabar ini.


Aku tertegun, memikirkan cara terbaik agar bisa keluar dari situasi. Namun, sayangnya aku belum bisa menemukan cara yang tepat untuk menjelaskannya. Hingga akhirnya aku hanya bisa meminta Aurel untuk tenang. Aku masih bingung untuk mengambil keputusan.


"Aurel, tenangkan dirimu. Ini tidak ada sangkut pautnya denganmu. Aku akan memikirkan cara untuk meredakan semuanya. Kau jangan khawatir," kataku, mencoba menenangkan.

__ADS_1


Kulihat Aurel mengangguk. Mungkin dia juga takut terbongkar pekerjaan sampingannya di hadapan karyawan Angkasa Grup, sehingga dia mendesakku agar segera meredakan kabar ini.


"Ya, sudah. Kita selesaikan dulu proses akuisisinya. Secepatnya aku akan kembali ke Samudera Raya untuk meminta bantuan tuan Jackson." Aku berusaha meredakan kegelisahannya.


"Baik, Cecilia." Aurel akhirnya menyetujui saran dariku.


Kami akhirnya segera memfinalisasi proses akuisisi hari ini. Sengaja mengabaikan kabar yang sedang beredar agar lebih fokus bekerja. Hari ini juga aku harus menemui Jackson di kantornya, untuk melaporkan hasil kinerja kami beberapa hari ini. Semoga saja setelah ini akan ada kabar baik untukku. Aku tidak ingin berlama-lama jadi bahan omongan orang. Tahu sendiri bagaimana mulut orang jika sudah berbicara. Mereka hanya memandang dari sebelah mata.


Sore harinya...


Pekerjaanku hari ini sama sekali tidak begitu menyenangkan. Saat keluar dari ruangan, orang-orang berbisik-bisik membicarakanku. Namun, kuabaikan karena tidak ingin mencari masalah. Tapi nyatanya, tetap saja ada sesuatu yang membuatku tidak bisa menahan kesal. Bianca meneleponku.


"Halo, Cecilia." Nada bicaranya seperti mengejek.


"Ada apa meneleponku?" tanyaku segera.


Berulang kali dia meneleponku, membuatku terganggu dengan teleponnya itu. Mau tak mau aku pun mengangkat teleponnya. Kutunjukkan jika aku tidak akan menghindar darinya. Dia bukanlah orang yang pantas untuk kutakuti.


"Hah? Ada apa? Kau tidak tahu apa dunia perbisnisan sedang heboh karena skandalmu dengan Jackson? Dasar munafik!" Dia mencaciku.


Sontak emosiku naik. Seenaknya dia berbicara seperti itu padaku. "Bukan urusanmu!" kataku lalu ingin mematikan telepon.


"Hei! Tunggu, Cecilia. Bagaimana jika berita ini kutambah dengan foto-foto mesramu saat bersama pria lain? Sepertinya akan sangat seru." Dia mengancamku.


Saat itu juga aku ingin sekali memakinya. Ingin melampiaskan emosi karena ucapannya. Tapi, aku sadar jika sedang mengandung, aku tidak boleh marah-marah karena akan berdampak buruk pada kandunganku. Sehingga sebisa mungkin aku bersabar menghadapinya.


"Urusi saja urusanmu. Aku tidak ada waktu untuk adu bicara dengan seorang pengangguran," kataku lalu segera mematikan teleponnya.


Telepon terputus. Di saat itu juga aku bisa bernapas lega karena tidak lagi mendengar suaranya. Segera kumasukkan ke daftar hitam nomor teleponnya agar tidak lagi bisa meneleponku. Aku tidak ingin berurusan dengan orang sepertinya.


Dia mengancam ingin menyebarkan foto-fotoku dulu? Dia mau bermain api rupanya.

__ADS_1


Bianca memang tidak bisa dibiarkan berkeliaran bebas. Bisa-bisa dia malah menghancurkan reputasiku untuk bersama Jackson. Aku jadi harus memikirkan cara agar bisa melenyapkannya. Aku tidak ingin diganggu lagi olehnya.


__ADS_2