
Alexander meletakkan telapak tanganku di dadanya. Seolah memintaku untuk mendengarkan setiap alunan merdu detak jantungnya. Dia pun memegang pipiku dengan lembut, lalu perlahan-lahan tangannya menyusuri leher ini. Dia memegang tengkuk leherku lalu semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Saat itu juga kurasakan embusan hangat napasnya. Aku pasrah jika diciumnya.
Kudongakkan kepala untuk menyambut ciumannya. Aku pun ikut memejamkan mata saat bibir itu semakin mendekati bibirku. Jarak kami semakin dekat hingga ujung hidungnya menyentuh hidungku. Aku pun menghirup dalam-dalam setiap embusan napasnya. Kubiarkan hangat napasnya memenuhi seluruh rongga di dadaku ini. Aku siap untuk menyalurkan perasaan yang ada di hati. Namun...
Topiku?!
Tiba-tiba saja aku menyadari jika topiku tersenggol olehnya. Topiku pun lepas lalu terbawa angin pantai.
"Topiku!!!"
Saat itu juga aku segera melepaskan diri untuk mengejar topiku. Tak lagi peduli jika dirinya tengah ingin menciumku. Kukejar topiku hingga beberapa meter jauhnya. Tak lama kemudian kulihat topiku hinggap di dahan pohon yang ada di pesisir pantai. Aku pun tak sampai untuk mengambilnya. Aku tidak bisa memanjat pohon karena takut ketinggian.
"Topiku!" Aku pun berteriak saat melihat topiku tersangkut.
Kusadari jika masih ada Alexander di sana. Aku kemudian menoleh ke arahnya. Dan kulihat dia tengah tertawa-tawa sendiri sambil memegangi dahinya. Dia juga memegang pinggangnya, seolah merasa geli dengan kejadian ini. Tak tahu mengapa, aku merasa dia sedikit aneh sekarang.
"Ya Tuhan. Astaga ...." Kudengar dia berkata seperti itu dari kejauhan sambil menahan tawanya.
Aku pun memanggilnya. "Hei, tolong aku! Topiku tersangkut!" seruku dari sini.
Jarak kami mungkin ada sekitar sepuluh sampai lima belas meter. Dan aku berseru sambil memasang wajah kesal karena topiku tidak lekas diambilkan olehnya. Lantas dia pun berlari kecil ke arahku. Aku pun menunggunya datang.
"Cecilia, kau ... benar-benar, ya." Dia seperti tak habis pikir.
"Benar-benar apa? Cepat ambilkan topiku! Aku tidak bisa mengambilnya!" Aku meminta.
"Kau tidak bisa memanjat pohon?" tanyany padaku.
"Tidak." Aku menggelengkan kepala. "Aku hanya bisa memanjat orang. Kalau pohon ketinggian," kataku, ceplos begitu saja.
Dia tertawa lagi. "Astaga kau ini ...." Dia pun menjitak kepalaku dengan kepalan tangannya. Sepertinya dia gemas padaku.
"Sudah, cepat ambilkan!" kataku lagi.
"Ya, ya, baiklah." Akhirnya dia memanjat pohon untuk mengambilkan topiku.
__ADS_1
Topiku pun akhirnya berhasil diambilkan olehnya. Dia kemudian menyerahkannya padaku. Tapi saat ingin kupegang, dia mengambilnya kembali. Membersihkannya lalu memakaikannya di kepalaku.
"Sudah. Apalagi yang kau inginkan?" tanyanya sambil menatapku serius.
"Apalagi?" Aku merasa bingung.
"Kau ingin apa, Cecilia? Kau ingin hatiku? Jiwaku? Ragaku?" Dia bertanya banyak sekali.
"Tuan, kau aneh!" Aku merasa dia sudah mulai aneh sekarang.
"Hah. Ya, aku aneh. Dirimu yang membuatku aneh seperti ini, Cecilia." Dia bertolak pinggang di hadapanku.
"Lalu?"
"Lalu aku minta hatimu. Berikan atau tidak kuantar pulang!" Dia malah mengancamku.
"Eh ...?!!" Aku pun terkejut dengan kata-katanya.
"Cepat berikan!" Dia seperti menodongku atau mungkin ingin mengajak ku berkelahi.
Dia terdiam sejenak sambil memperhatikanku. Entah apa yang ada di pikirannya. Kulihat sinar matanya seperti mengungkapkan sesuatu padaku. Entah apa itu. Dia kemudian mengangguk lalu menuruti permintaanku. Dia berjongkok di depanku. Saat itu juga segera kunaiki punggungnya. Aku pun digendong belakang olehnya.
"Ayo, cepat jalan!" Aku memacunya agar cepat jalan.
"Siap, Putri." Dia pun patuh padaku.
Aku tertawa. Di gendongannya aku tertawa sambil sesekali mengencangkan topiku agar tidak terbawa angin lagi. Kami pun menyusuri pesisir pantai sambil menikmati kebersamaan ini. Dan aku rasa mulai menaruh hati padanya. Aku harap kali ini akan abadi selamanya. Dia mampu meluluhkan hatiku dengan sikapnya. Aku pun tidak lagi peduli dengan apa yang akan terjadi. Aku mencoba untuk menerimanya sepenuh hati.
"Cecilia."
"Hm?"
"Jangan panggil aku dengan sebutan tuan lagi." Dia mengingatkanku.
"Oh, iya. Aku lupa." Aku menepuk dahiku sendiri.
__ADS_1
Alexander terus menggendongku melewati pasir putih pantai. Dia begitu menjagaku agar tidak sampai jatuh. Rasanya hatiku ini semakin berbunga-bunga karenanya.
"Cecilia."
"Ya?"
"Aku ingin jadi yang tersayang, bisa?" tanyanya dari depan.
"Dearest?"
"Ya."
"Baiklah. Tapi dear dulu sekarang ya." Aku menawar.
"Hahaha. Baiklah." Dia tertawa seraya melihat ke arahku. "Lakukanlah apa yang kau mau. Aku pasrah." Dia seperti tidak mempunyai kekuatan untuk menolak keinginanku.
"Baiklah. Jangan ingkar!" Aku pun mencubit hidungnya.
Alexander mengerutkan dahinya. Dia melihat hidungnya yang terkena cubitanku. Bersamaan dengan itu kupeluk dirinya dari belakang. Kurasakan kehangatan yang selama ini aku impikan. Dia terus menggendongku sampai menuju tempat di mana mobil diparkirkan. Sepertinya setelah hari ini semuanya akan berubah. Entahlah, kita lihat saja ke depannya.
Malam harinya...
Hari ini sudah cukup bagiku untuk mendapatkan semangat dalam menjalani kehidupan. Liburan kali ini memang terasa sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Dimana Alexander gagal lagi untuk menciumku. Dan ini adalah ke tiga kalinya bagi kami mengalami kegagalan dalam melampiaskan perasaan yang ada di hati. Entah mengapa aku jadi tertawa sendiri mengingatnya.
Kini aku sedang menyiapkan hal apa saja yang kubutuhkan sebelum melancarkan aksiku esok hari. Dari pakaian, aksesoris sampai perlengkapan lainnya kupersiapkan terlebih dahulu sebelum datang ke acara itu. Tadi saat diantarkan pulang aku sempat meminta Alexander untuk menemaniku berbelanja esok siangnya. Tapi dia bilang ada pertemuan dengan rekan bisnisnya. Aku pun menaruh curiga jika dia akan datang ke sana. Tapi dia bilang sih secepatnya akan segera menemuiku. Jadinya kita lihat saja bagaimana nantinya.
Aku sebenarnya tidak tahu bagaimana prosesi acara di sana. Tapi kata Angela, pesta pantai yang diadakan Queen Club itu tertutup dari pengunjung biasa. Dan mungkin saja memang benar. Karena aku sendiri belum tahu jika belum membuktikannya. Dan aku harap besok bisa mengetahui kebenaran tentang hal yang selama ini membuatku penasaran. Benarkah Alexander seperti yang dikatakan Jackson waktu itu?
Mungkin bisa dibilang jika sekarang sudah bisa melupakan si pria berwajah muram. Kehadiran Alexander tentu saja perlahan tapi pasti menyingkirkan nama Jackson dari hatiku. Sakit itu hanya sementara dan ternyata memang benar adanya. Kini hatiku mulai merasakan kebahagiaan kembali. Dan aku harap Alexander bisa sepenuhnya padaku. Namun, sebelum melangkah lebih jauh lagi, aku harus memastikan kebenaran tentangnya. Ya, kita lihat saja nanti.
"Semuanya sudah siap. Tinggal menunggu esok hari."
Lantas kurebahkan badan ini setelah mempersiapkan perlengkapan yang kubutuhkan. Pagi-pagi nanti sebelum berangkat ke lokasi tujuan, aku harus mampir ke restoran Angela terlebih dulu untuk mengambil semua peralatan yang kubutuhkan. Semoga saja hari esok berjalan lancar tanpa kendala. Dan aku berharap bisa mendapatkan informasi tentang Alexander di sana.
Semangat, Cecilia! Semuanya akan baik-baik saja. Yakinlah kau bisa melaluinya!
__ADS_1