Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Lemas


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


Aku tidak tahu sedang berada di mana. Aku lihat banyak orang berseragam putih berjalan cepat di samping kanan dan kiriku. Mereka seperti ingin membawaku menuju suatu tempat. Aku pun terbujur tak berdaya di hadapan mereka. Seperti sedang berada di atas pembaringan. Suara-suara dari roda pembaringanku juga terdengar melaju cepat.


Aku di mana?


Aku belum bisa melihat dengan jelas di mana keberadaanku. Yang jelas aku seperti bergerak cepat di sebuah koridor ruangan. Lampu-lampu yang berada di atas itu begitu menyilaukan mataku.


"Cepat! Lakukan tindakan darurat!"


Kudengar suara seorang pria berkata seperti itu. Kemudian aku dibawa masuk ke dalam ruangan. Pintu ruangan ditutup lalu seseorang berseragam hijau datang mendekatiku. Dia dengan segera menyuntikkan sesuatu pada tubuhku. Seketika itu juga tubuhku terasa lemas. Aku tidak tahu apa yang disuntikkan olehnya. Aku sudah tidak bisa bergerak sama sekali.


Detik demi detik berlalu, menit demi menit terlewati. Aku pun kembali tersadar setelah melewati beberapa waktu. Entah sudah jam berapa sekarang, pelan-pelan aku bisa mendengar suara Jackson dari sini. Suaranya terdengar kecil sekali. Entah di mana dia berada.


"Tidak mungkin!" Kudengar Jackson marah kepada seseorang.


Tubuhku masih gemetaran. Mungkin karena efek yang disuntikkan tadi sudah mulai menghilang. Aku kemudian mencoba melihat keadaan sekitar untuk menyadari di mana keberadaan diriku. Dan tenyata, selang infus terhubung dengan tubuhku. Aku pun tersadar jika mengenakan selang udara di hidungku. Seketika aku menyadari jika ini di rumah sakit.


"Tuan, mohon kendalikan emosi Anda. Saya tahu ini amat menyakitkan. Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tuhan sudah berkehendak lain." Kata-kata itu kudengar dari seorang pria.


Sepertinya pria itu adalah seorang dokter yang berbicara kepada Jackson. Entah mengapa aku merasa sedih saat memikirkan maksud dari kata-katanya. Ingatanku kembali memutar ulang apa yang terjadi sebelumnya.


Aku ... aku jatuh?


Aku mengingat tubuhku didorong kuat oleh Zea setelah dia menjambak kasar rambutku. Tubuhku kehilangan keseimbangan lalu menumbur meja kerjaku sendiri. Aku pun melihat dahiku berdarah. Dan tak lama kemudian sesuatu mulai keluar dari selangkaku. Entah apa itu.


Apa yang terjadi sebenarnya?


Aku mencoba mengingatnya lagi. Dan tak lama kemudian kudengar suara Aurel berteriak memanggil namaku. Setelah itu pandangan mataku kabur lalu aku tidak mengingat apa-apa lagi.


Ya Tuhan, aku ...?


Sungguh aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi rasanya aku ingin tidur lebih lama lagi. Tubuhku sangat lemas, tidak bertenaga. Aku rasa aku ingin tertidur kembali, entah sampai kapan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian...


Hening, mungkin kata itu yang cocok untuk menggambarkan keadaanku sekarang. Hanya detik jam di dinding dan suara AC yang terdengar di ruangan tempat ku berada. Tak ada suara manusia ataupun orang yang lalu-lalang di sekitar. Sunyi, sepi, sendiri, hal itulah yang kurasakan.


Cahaya lampu ruangan seakan menyorotku yang tengah terbaring di sini. Aku pun menoleh untuk melihat keadaan sekitar. Dan ternyata, selang infus itu masih terhubung dengan tubuhku. Aku juga masih mengenakan selang udara yang perlahan-lahan memberiku sensasi segar pada pernapasan ini. Kini aku menyadari jika aku memang benar-benar tengah berada di rumah sakit.


Apakah aku terluka cukup parah?


Itulah kalimat pertanyaan yang ingin kuajukan saat ini. Tapi kulihat tidak ada satu orang pun di sekitarku. Sedang tubuhku masih sulit untuk digerakkan. Aku membutuhkan seseorang untuk membantuku duduk. Tapi siapa? Kembali kuingat diriku yang hanya sebatang kara.


Jack ... di mana dirimu?


Sepertinya aku menderita luka cukup parah. Pelan-pelan menggerakkan tubuh, saat itu juga aku merasa nyeri pada bagian perutku. Tak tahu apa yang terjadi, aku mencoba untuk berpikiran positif. Walaupun pada kenyataannya aku sedang berada di rumah sakit.


"Aku sudah di sini. Jangan khawatir. Aku yang akan menjaga Cecilia."


Tiba-tiba kudengar suara seorang wanita yang kukenal. Kulihat dia memasuki ruangan ini. Membuka pintunya lalu menutupnya kembali. Dia seperti sedang menelepon seseorang yang tidak kuketahui.


Aku mencoba mengingat siapa gerangan wanita itu. Pandangan mataku masih samar-samar untuk melihatnya dari jauh. Lama-kelamaan aku pun mulai bisa melihat dengan jelas siapa wanita itu. Aku menyadari siapa dirinya.


"An ... gela ...." Kusebut namanya dengan suara yang seperti sulit keluar dari tenggorokan.


"Cecilia?!" Dia pun segera menyadari panggilanku. Dia berjalan cepat ke arahku. "Cecilia, kau sudah sadar? Syukurlah ...." Dia amat bahagia melihatku tersadar.


"Ange ... la, tolong bantu aku duduk," pintaku kepadanya.


Dia mengangguk. Wanita berblus hitam dan jeans biru itu kemudian membantuku untuk bangun lalu duduk di kepala pembaringan. Ingatanku pun kembali pulih walau rasa nyeri di dahi dan perutku masih terasa menyakitkan.


"Cecilia, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyanya setelah membantuku duduk.


"Di mana Jackson?" Orang yang pertama kutanyai adalah dirinya.


Angela memelukku. "Cecilia, maafkan aku. Aku tidak bisa selalu menjagamu." Dia seperti merasa bersalah padaku.

__ADS_1


"Angela ...." Aku pun mencoba membalas pelukannya.


Angela kemudian menatapku penuh perhatian, layaknya seorang kakak kepada adiknya. Dia memegang wajahku dengan kedua tangannya. Menyiratkan jika dia begitu peduli terhadapku.


"Jackson sedang ke Angkasa Grup untuk mengadili semua karyawan di sana. Dia ingin mencari bukti atas hal yang menimpamu." Angela menerangkan.


Seketika aku teringat dengan kejadian itu. "Angela, Zea datang meminta pengembalian uang yang digunakan Jackson untuk membeli saham di Angkasa Grup atas namaku. Dia lalu mendorongku." Aku menceritakan.


"Astaga!" Angela terperanjat kaget.


"Angela, bagaimana keadaan kandunganku? Janinku baik-baik saja, bukan?" tanyaku segera.


Saat ku bertanya, saat itu juga kulihat raut wajah Angela bersedih. Kulihat linangan air mata menggenang di matanya. Dia seperti enggan menceritakan hal yang sebenarnya terjadi padaku.


"Angela ... dia baik-baik saja, bukan?" tanyaku lagi yang sontak membuat Angela memelukku.


"Cecilia, bersabarlah. Mungkin Tuhan lebih menyayangi janinmu," jawabnya yang membuat pikiranku tak karuan.


"Angela, jangan bilang..."


Laju jantungku mulai tidak stabil. Dadaku berdebar karena rasa takut yang menghantui pikiranku. Aku takut terjadi apa-apa pada bayiku. Aku tidak mau kehilangannya.


Angela melepaskan pelukannya, dia menunduk sedih di hadapanku. Saat itu juga pikiranku panik bukan kepalang. Aku takut terjadi sesuatu. Takut sekali.


"Cecilia ...," Angela menarik napas panjang. "Kau keguguran," katanya yang seketika membuat jantungku seakan pecah di dalam.


"Apa?!!!"


Saat itu juga tubuhku terasa lemas sekali. Bumi seperti menarikku ke dalam inti. Aku pun kehilangan kemampuan untuk berpikir. Mataku berkunang-kunang dan pandanganku ikut kabur. Aku merasa sekelilingku berputar dengan cepat sehingga membuat kepalaku terasa sakit sekali. Lantas aku pun tidak kuat untuk menahan lebih lama kesadaran ini.


"Cecilia! Cecilia!"


Aku masih bisa mendengar Angela berteriak memanggil namaku. Tapi aku tidak bisa menjawab panggilannya. Kesadaranku seperti tertarik ke suatu tempat yang tidak kuketahui. Lalu kemudian aku pun tidak ingat apa-apa lagi. Aku tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2