Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik

Fall In Love With Lover : Godaan Sekretaris Cantik
Tak Bersuara


__ADS_3

Pukul sepuluh pagi di Angkasa Grup...


Tak terasa waktu semakin berlalu, membuatku melupakan masa lalu. Dan kini aku mencoba membuka lembaran baru hidupku. Walaupun pada kenyataannya masih ada urusan yang belum terselesaikan. Kusadari jika transaksi kali ini memang benar-benar menyulitkanku. Sebelum-sebelumnya aku tidak pernah terjebak ke dalam perangkapku sendiri. Tapi karena Jackson, semuanya berubah. Dan kini jiwa dan ragaku terpaut kepadanya.


Kini aku sedang duduk di depan meja kerja sambil membalas pesan dari Jackson. Dia sedang mengingatkanku akan masa-masa awal kami bertemu. Sepertinya dia sedang senggang sehingga bisa berkirim pesan. Kami pun seperti ABG yang sedang berpacaran saja. Dia merayuku dengan kata-kata yang membuatku geli. Padahal kenyataannya kami sudah sama-sama dewasa.


/Ingat ini?/ tanyanya, lalu mengirimkan fotoku saat bersamanya di kolam renang waktu itu.


Aku terkejut melihat fotoku sendiri. Dimana aku berpose begitu menggodanya. Kedua kakiku melingkar di pinggangnya, sedang kedua tanganku menguncir rambut ini. Di mana kuncir rambut itu kuapit menggunakan bibirku. Aku jadi heran dari mana dia bisa mendapatkan fotonya?


"Nona."


Belum sempat menanyakan kepada Jackson, tiba-tiba pintu ruanganku diketuk dari luar. Aku pun segera menghapus pesan masuk darinya lalu mempersilakan masuk orang yang datang. Aku harus tetap berjaga-jaga sehingga tidak boleh meninggalkan jejak kemesraanku bersama Jackson. Tahu sendiri jika dia masih berstatus suami orang.


"Tuan Oliver?" Kulihat yang datang adalah Oliver.


"Maaf sedikit terlambat, Nona. Aku baru saja menyelesaikan terapi punggungku," katanya dengan penampilan yang sedikit mengkhawatirkan.


Oliver terlihat sedang sakit parah. Dia sampai mengenakan syal di lehernya. Dia juga menggunakan tongkat sebagai alat bantu berjalan. Mungkin dia sedang frustasi atau mungkin penyakitnya sudah sulit tertolong lagi. Aku pun segera mengecilkan suhu AC ruanganku.


"Silakan duduk, Tuan." Aku mempersilakannya duduk.


"Terima kasih." Dia kemudian duduk di depanku.


"Em, begini. Tuan Jackson memintaku untuk mengecek laporan keuangan tahun lalu. Dan kulihat ada pengeluaran ratusan milyar untuk CV Permata Indah." Segera kuutarakan maksud tujuanku sambil menyerahkan laporan keuangan yang kubaca.


"Oh." Oliver seperti mengerti maksud tujuanku memintanya bertemu. "Tarif Permata Indah berdasarkan kesepakatan memang sebesar itu, Nona. Tahun kemarin kami hanya membayar jasa rancangan gedung saja kepada mereka." Oliver menuturkan.


Sontak aku terkejut.


Apa?! Satu rancangan gedung sampai ratusan milyar?! Ini sih gila. Pantas saja Alexander selalu tidak keberatan untuk menraktirku. Pemasukannya ternyata sangatlah besar.

__ADS_1


"Biasanya Permata Indah memasang tarif triliunan untuk satu rancangan gedung. Tapi, tahun kemarin kami meminta keringanan karena terjadi kesalahan administrasi." Oliver menerangkan.


Aku semakin terkejut. "Kalau boleh tahu, di mana letak kesalahan administrasi Angkasa Grup, Tuan?" Aku menyelidik.


Oliver terlihat segan mengatakannya. "Mungkin karena aku yang kurang fokus melakukan perhitungan sehingga perusahaan mengalami kerugian." Oliver menyalahkan dirinya sendiri.


Aku pun jadi tidak enak hati padanya. "Tuan, maaf jika pertanyaanku membebanimu," kataku.


Oliver menghela napasnya. "Hah ... tak apa, Nona. Kita sudah menjadi keluarga besar PT Samudera Raya. Sepertinya tidak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi." Dia sepertinya telah dapat menerima kenyataan.


"Baiklah. Kalau begitu bisa jelaskan padaku mengenai kesalahan administrasinya? Karena aku belum tahu sama sekali tentang hal ini," kataku jujur.


Oliver mengembuskan napasnya dengan berat. "Kemarin pihak investor menandatangani perjanjian kerja sama dengan Angkasa Grup sebesar sepuluh triliun. Tapi ternyata, terjadi kesalahan dalam perhitungan administrasi proyek. Sehingga yang seharusnya untung, kami malah rugi. Total keseluruhan proyek sampai dengan selesai adalah tiga belas triliyun. Sedang kami sudah menandatangani perjanjian kesepakatan sebesar sepuluh triliun. Sehingga mau tak mau kami harus menombok. Pihak investor tidak mau diajak berunding kembali." Oliver menceritakan.


Astaga ....


Saat itu juga kusadari jika pekerjaan ini begitu berisiko. Hal ini jugalah yang dialami oleh Jackson. Sehingga tidak seharusnya aku membebaninya dengan permasalahan pribadi, sedang masalah kantornya saja berisiko seperti ini.


"Baiklah, Tuan Oliver. Aku mengerti." Akhirnya aku menarik kesimpulan untuk kulaporkan kepada Jackson. "Lalu apakah ada perusahaan lain yang bekerja sama dengan Angkasa Grup?" tanyaku lagi.


Mungkin Oliver mengira jika aku ingin mengorek informasi tentang hubungan kerja samanya dengan Hadden. Sehingga dia merasa tersinggung dengan pertanyaanku. Karena jika dia mengatakan yang sesungguhnya, pastilah Jackson akan melakukan tindakan padanya. Sehingga dia menutupinya. Padahal aku memang sudah tahu jika ada kerja sama antara dia dan juga Hadden. Tapi, aku pura-pura tidak tahu saja.


"Em, maaf, Tuan Oliver. Aku hanya sekedar menanyakannya saja karena nominalnya cukup besar. Tidak ada maksud selain itu." Aku menjelaskan.


"Ya, aku juga berharap seperti itu, Nona. Nanti aku akan membicarakan hal ini sendiri kepada tuan Jackson. Karena sepertinya aku akan segera mundur dari jabatan direksi." Dia menuturkan.


"Apa?!" Aku pun terkejut mendengarnya.


"Kondisi tubuhku kurang baik akhir-akhir ini. Aku diminta untuk banyak-banyak beristirahat. Semoga Nona juga bisa menyampaikan hal ini kepada tuan Jackson, sehingga dia bisa memaklumi keadaanku." Oliver berharap pengertian dari kami.


"Em, baiklah. Nanti akan kusampaikan. Lekas sembuh, Tuan." Aku pun mendoakannya.

__ADS_1


"Terima kasih." Pertemuan kami hari ini pun berakhir.


Oliver segera berpamitan pulang setelah perbincangan kami selesai. Aku berharap sakit yang dideritanya segera pulih. Aku tidak tega melihatnya berjalan harus menggunakan alat bantu seperti itu. Aku kasihan melihatnya.


.........


...Oliver...



.........


Jam makan siang...


Dering ponsel menyadarkanku yang masih sibuk mengirimkan laporan kepada Jackson. Kulihat siapa yang menelepon, dan ternyata ... Alexander. Kupikir dia akan pergi menjauh setelah dua hari ini tidak menghubungiku. Tapi nyatanya, dia menghubungiku kembali. Tak tahu apa yang dia inginkan, kucoba saja mengangkat teleponnya. Kali-kali ada urusan pekerjaan. Karena bagaimanapun dia adalah rekan kerja Angkasa Grup sebelumnya.


"Halo?" jawabku.


Kudengar deru kendaraan dari sana. Tapi tidak ada suara darinya. Entah di mana dia berada.


"Halo?" Aku masih mencoba untuk bicara padanya.


Alexander masih diam. Sepertinya dia bingung untuk bicara denganku. Aku pun hanya bisa mendengar suara deru kendaraan dari teleponnya. Atau mungkin dia ingin kembali mengajak ku bertemu tapi merasa segan karena selalu saja kutolak.


"Tuan, jika diam saja, maaf aku akhiri teleponnya."


Lantas aku mengakhiri panggilan telepon darinya. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku.


Semoga dia menyadari mengapa aku bisa bersikap seperti ini. Selama ini dia baik padaku, rasanya salah jika aku tidak bersikap baik padanya. Tetapi maaf, aku tidak bisa memberikan hatiku. Karena hatiku ini sudah ada yang memilikinya.


Kusadari jika sekarang kami tidak mungkin bertemu selain untuk kepentingan pekerjaan. Dan aku berharap Alexander bisa mengerti akan hal itu. Biarlah berlalu apa yang sudah terjadi di antara kami. Aku tidak akan memusuhi atau membencinya. Aku hanya menjaga jarak darinya. Entah bagaimana ke depannya, saat ini aku harus bertahan pada satu hati.

__ADS_1


"Eh! Ada telepon lagi?!"


Selang beberapa menit kemudian, ponselku kembali berdering. Kupikir Alexander yang menelepon kembali. Tapi ternyata ... Jackson.


__ADS_2